
^^^
Kamar Mairah // 20.10 WIB.
Mairah baru selesai menunaikan ibadah sholat isya, agak telat karena ia yang terlalu asyik bermain ponsel.
"Ya Allah, lulukan lah hati mas Satria agar tidak ngambek lagi. Hamba galau Ya Allah sudah tiga hari nggak di apelin." Lihatlah bagaimana ajaibnya seorang Mairah, bahkan saat menghadap sang pencipta gadis itu masih saja pencicilan.
Perkara Satria, bapak satu anak itu sudah tiga hari tidak menemuinya. Hanya Kenzo yang tidak pernah apsen mengunjunginya, Satria masih ngambek atau lebih tepatnya cemburu, pasal karena Mairah yang keciduk lagi asik haha-hihi dengan om-om loreng.
Tok. Tok. Tok.
Mairah yang sedang melipat mukenanya menoleh kearah pintu kamarnya yang diketuk.
"Kenapa mbak?" Tanyanya pada Gita yang tadi mengetuk pintu kamarnya.
“Pake hiiab kamu. Itu ada Satria di depan." Ucap Gita, kemudian mbaknya itu berlalu keruangan tamu.
Tumben doa gue dijawabnya cepet.
Mairah menyambar hijab instan yang tergantung di balik pintu lantas keluar menemui Satria yang sedang mengobrol dengan mbak dan abangnya.
"Ekhem." Ia sengaja berdehem untuk menarik perhatian ketiga orang dewasa itu, matanya mengkode mbak Gita untuk meninggalkan mereka berdua.
Gita yang paham dengan kode yang diberikan adik iparnya langsung menarik Gavin untuk undur diri dengan alasan pengen kelonan.
"Yuk mas ke kamar kelonan." Rayu Gita di selingi dengan kedipan mautnya.
Gavin yang ngeces, galpok dengan ajakan Gita langsung mengiyakan dengan semangat 45.
Bau-bau gaya terbaru kayaknya.
Mengabaikan pasutri yang sedang dimabuk kepayang itu, Mairah beralih menatap Satria yang juga menatapnya. Di hempasannya bokong cantiknya di sopa singgel samping Satria, dengan badan menyerong menghadap sang pujaan hati.
"Baru nyampe mas?" Satria mengangguk dan kembali sibuk dengan ponselnya.
Cukup lama Mairah dan Satria diam-diaman. Sebenarnya hanya Satria saja yang betah tidak bersuara lain halnya dengan Mairah yang sedari tadi kedip sana kedip sini, lenggok sana lenggok sini, segala macam goyangan ia peragakan mulai dari goyang gayung sampai goyang gribel sudah ia lakukan untuk menarik perhatian duda buntut satu dihadapannya.
Namun hasilnya nihil, Satria tidak tertarik memperhatikannya.
"Apa bodi gue kurang semok ya?" Batin Mairah, otaknya berputar mencari ide yang dapat menarik perhatian Satria.
__ADS_1
"Apa gue ***** aja nih duda." Tentu saja lagi-lagi pernikiran itu hanya nyangkut di otaknya tidak sampai ia peraktekan, takut ke greb bang Gavin katanya.
Mairah mengangkat kedua tangannya. "Gue nyerah. Mas loh nggak bosen apa diam-diaman?"
Satria melotot mendengar panggilan loh gue yang keluar dari bibir manis calon istri masa depannya.
"Mairah, kamu kok make loh gue sih." Protesnya tidak terima.
"Abisnya.. abisnya.. dari tadi aku dikacangin." Unjarnya mencari pembenaran.
"Mas masih sebel sama kamu."
Mairah memutar matanya malas, ia tidak sanggup lagi kalo harus di diamkan seperti beberapa hari belakangan ini.
"Oke aku ngaku salah, maafin aku ya mas." Mairah mengedip-ngedipkan matanya dengan raut wajah memelas.
"Saya maafin tapi ada syaratnya." Satria menyentil kening Mairah, bisa-bisa ia lepas kendali kalo terus di suguhkan wajah menggemaskan Mairah.
"Apa? Apa syaratnya, ta lakuin sekarang juga." Sahutnya antusias.
"Nikah sama saya mau!?"
Duar! Angin topan dan ****** beliung saling beradu. Tawa nenek sihir menggelegar di dalam otak Mairah membayangkan amukan sang mama yang tahu anaknya nikah sama duda. Bukan apa-apa Mairah belum memberitahu tentang Satria kepada kedua orangtuanya, ia tidak tahu bagaimana reaksi mereka.
"Apa menikah dengan saya adalah sebuah mimpi buruk." Satria berucap liri dari nada suaranya pria itu sedang kecewa.
Mairah kelabakan. "Bukan gitu. Bukan. Ini anu-anu, apa itu. Anu.. tahu ah geleb.."
"Pokoknya mas percaya aja, aku sayang dan cinta sama mas Satria dan nerima Kenzo juga. Tapi, untuk menikah kayaknya aku belum siap. Makannya mas Satria yakini aku." Ucap Mairah, tangannya menggenggam tangan Satria yang duduk dihadapannya.
Satria mengangguk melihat kesungguhan dimata Mairah. "Mas pegang ucapan kamu. Dan untuk syarat permintaan maaf kamu, mas kasih tahu besok."
Ak'elah masih ingat aja nih duda.
^^^
Taman kota // 07.00 WIB.
"Semangat Mairah demi pujaan hati tercinta." Orang-orang yang mendengar teriakan gadis berhijab itu hanya menggeleng.
Cewek aneh, pikir mereka.
__ADS_1
Satria yang joging santai dibelakang Mairah terkekeh melihat kelakuan ajaib wanita yang dicintainya. Hari ini ia mengajak Mairah joging keliling taman kota, Kenzo? Bocah itu ia tinggal dengan kedua orangtuanya yang sedang berkunjung ke Kalimantan.
"Ayo mas cepat." Mairah berteriak jauh didepan sana, tangannya melambai-lambai kearahnya.
Satria tersenyum dengan tangan memberi isyarat agar Mairah kembali melanjutkan larinya.
Satria terus berlari mengelilingi taman, entah sudah putaran yang keberapa ia lupa. Terlalu asyik berlari ia sampai tidak sadar kalo Mairah sudah tidak berlari lagi di depannya.
Dimana gadis itu? Pikirnya. Tidak mungkin Mairah di culik, mana ada penculik yang mau menculik gadis pencicilan macam Mairah yang ada bikin pening.
Satria kembali berlari sambil melihat bahu jalan taman siapa tahu Mairah sedang selonjoran, namun nihil gadis itu hilang entah kemana membuat Satria cemas bukan kepalang.
"Itu anak kemana aih.?"
Saat lagi asyiknya berkeliling mencari sosok Mairah, ada satu objek yang menarik perhatiannya.
Disana. Di bawah pohon tepatnya disamping Abang jualan cilok, tengah berkumpul rame-rame anak jalanan yang mengamen dan bermain. Namun bukan itu yang menarik perhatiannya tapi sesosok manusia berjenis kelamin wanita dengan hijab di kepalanya yang menarik perhatian Satria.
Satria mendekat kearah kumpulan anak-anak itu yang membuat pormasi lingkaran seperti mengerumuni sesuatu.
Kening Satria mengerut mengetahui Mairah lah yang menjadi objek dari kerumunan tersebut. Gadis itu berjongkok, berhadapan dengan dua bocah laki-laki yang sekiranya berusia 12 dan 13 tahun. Di masing-masing tangan kanan ketiganya memegang botol kosong air mineral ukuran sedang.
"Ayok, kak Mairah.. Mairah." Sorak anak-anak kecil yang mengelilingi mereka.
"Batu Gunting Kertas." Ucap ketiganya berbarangan.
Mairah memberi gunting dan kedua bocah laki-laki itu kompak memberi kertas.
"Yes, gue menang. Sini serahkan sesajen atas jiwa kalian anak manusia." Sorak Mairah girang. Tangannya terangkat memukulkan botol kosong air mineral itu ke kepala kedua bocah dihadapannya.
Duk. Duk.
Satria melotot sempurna tidak percaya dengan apa yang dilakukan wanita 23 tahun itu.
"Mairah." Panggil Satria tegas.
Mairah menoleh kepalanya kearah Satria dengan cengiran khasnya.
"Eh mas Satria. Udah lama mas?" Tanyanya cengengesan.
Satria memicing sinis kearah tangan Mairah yang sibuk menyembunyikan bukti botol air mineral yang menjadi senjata utama untuk melancarkan aksi penindasan nya kepada dua anak manusia di hadapannya.
__ADS_1
"Ayok pulang." Ucap Satria dingin sebelum berlalu meninggalkan Mairah yang membuntuti di belakangnya.
Nah loh **M**ai, ngambek lagi itu bapak satu.