
^^^
11.10 WIB.
Gita melenggang masuk kedalam kamar Mairah mencari kebenaran gadis itu yang hilang bagai ditelan bumi sesaat setelah Gavin pulang, kakak beradik itu menghilang entah kemana. Mobil dan motor yang biasa Gavin gunakan masih bertengger cantik di garasi, sepasang sandal keramat andalan suaminya masih berada di teras rumah, menandakan suaminya itu masih berada di lingkungan sekitaran rumah.
"Kemana sih mereka di cari pas butuh, kompak banget ngilangnya." Gita mendumel, kakinya melangkah kearah dapur hendak menutup pintu belakang yang terbuka.
"Hihihi.." Gita merinding, kepalanya menengok kiri-kanan.
"Temennya Mairah kayaknya."
Saat mendekati pintu belakang, suara cekikikan terdengar makin jelas membuat bulu kuduknya naik.
"Ya kali, setan nongol siang hari." Dengan rasa penasaran bercampur takut Gita keluar ke teras belakang rumah yang langsung berhadapan dengan rimbunnya pepohonan.
Saat melewati batang rambutan samping rumah, ia melihat banyak sekali kulit rambutan dan bijinya yang berceceran di tanah. Tanpa sadar kepalanya mendongak keatas.
"Ya Allah Mairah. Kamu ngapain nangkring di atas pohon?" Gita menggeleng tidak percaya dengan kelakuan adik iparnya.
“Itu lagi mas Gavin kenapa ikut-ikutan." Geramnya, kepalanya pusing melihat kelakuan suami dan adik iparnya.
"Heran? Aku yang hamil kalian berdua yang ngidam."
Ya, mbak Gita tersayang sedang mengandung anak pertamanya. Horee..
Usia kandungannya baru masuk bulan ke empat, bisa kalian bayangkan bagaimana hebohnya Gavin mengetahui prihal kehamilan istrinya itu. Bapak-bapak kurang gaul itu sampai nangis sangking bahagianya. Sudah tiga tahun jalan empat tahun umur pernikahan Gita dan Gavin, dan ini adalah kehamilan pertamanya setelah pasca keguguran saat awal-awal pernikahan dulu.
Bahkan keluarga besar yang ada di Medan dan kedua orangtua mereka, heboh menyambut kedatangan cucu pertama mereka.
"Kalian berdua kenapa makan rambutan pake nangkring segala diatas pohon. Kan makan dibawah juga bisa, kalo jatuh gimana?"
Gavin menggeleng. "Makan rambutan dari sumbernya itu lebih enak. Lebih maknyus.. iya gak Mai?" Ucapanya meminta persetujuan Mairah.
Mairah mengangguk. "Betul kali bang. Makanan enak itu harus dari sumbernya, kayak minum susu. Enaknya itu dari sumbernya langsung."
Mairah menggigit rambutan ditangannya, memakan isinya dan membuang kulit serta merta bijinya yang ada didalam mulutnya langsung.
"Mas Gavin, Mairah. TURUN GAK LOH BERDUA!!" Gita berkacak pinggang dengan wajah berang melototi dua insan manusia yang asik ngegadon rambutan di atas pohon.
Krasak! Krusuk! Brakk!
Mairah dan Gavin meloncat dari atas dahan pohon, mendarat ke tanah dengan posisi saling tindih. Keduanya berdiri dengan wajah tegang persis anak kecil yang ketahuan nyolong duit emaknya.
Ingatkan Mairah jika ia belum mengatakan bagaimana galaknya Gita saat marah. Kakak iparnya itu yang memiliki wajah cantik dan sifat yang lemah lembut persis orang Jawa asli, namun jangan sekali-kali memancing kemarahannya. Kimberly sahabat gaib Mairah, percaya bahwa ia bisa mati untuk kedua kalinya hanya karena mendengar amukan seorang Regita Cahyani.
"SIAPAKAH DIANTARA KALIAN BERDUA INSAN TIDAK BERAKHLAK YANG SUDAH BERANI MENGHABISKAN BROWNIES YANG ADA DI DALAM KULKAS!!"
Baik Gavin atau Mairah tidak ada yang berani mengaku, karena keduanya turut andil dalam ludesnya brownies kesukaan Gita.
"Itu, anu. Itu, anu.. mbak."
__ADS_1
"APA!!"
Gavin mendorong pundak Mairah. "Itu Mairah Yank, yang habisin brownies kesukaan kamu." Bohongnya.
Mairah melotot tidak terima. Enak kali abangnya ini, mereka berdua yang makan, ia sendirian yang kena getahnya.
"Gak kok Mbak. Mairah gak sendirian ngabisinnya, bang Gavin juga ikut andil." Protesnya tidak terima.
Gavin menggeleng, matanya kedap-kedip memberi kode. Ia tidak mau mengambil konsekuensi tidur di luar.
Sorry bang, di saat seperti ini kita harus bersama.
Tentu saja Mairah tidak mau salah sendiri, bisa berabe urusannya kalo sampai Gita ngamuk dan melakukan mogok masak. No! Big no. Mairah bisa masak tapi ia paling anti jika harus berkutat di dapur.
"Bilang saja kau malas Mai." Ucapan Gavin tempo hari terlintas di otaknya.
Mairah ingat saat Gavin mengajaknya masak dengan dibumbui alasan maut bin meyakinkan Mairah agar kakaknya itu tidak mengikut sertakan dirinya dalam pembuatan sambal ngidam ala mbak Gita.
"Aku gak mau tahu, pokoknya kalian berdua salah! Dan kalian berdua harus di hukum."
Keputusan sudah pinal. Hukum gantung akan di tetapkan, bersiap-siaplah kalian wahai anak manusia.
Baik Mairah maupun Gavin, manut saja saat di giring masuk kedalam rumah.
Mairah berharap Tuhan segera mengirim penyelamat untuknya.
^^^
"Makasih ya dek, udah di antarin kuenya. Sebenarnya mau ta ambil sendiri tapi gak ada yang jaga warung." Mairah tersenyum, tangannya menerima uang bayaran kue kemarin.
Berterimakasih lah pada sifat pelupa Gavin. Karena kelalaian kakaknya itu Mairah bebas dari hukuman Gita.
"Sama-sama mbak, sekalian cuci mata liat mas-mas loreng." Kekeh nya.
Mbak Rudi tertawa, kepalanya mendekat kearah Mairah membisikkan sesuatu.
"Sering-sering kesini ya dek, jadi rame warung saya kalo ada Adek."
Mairah mengangguk, mengancungkan jempolnya. "Beres itu mah, asal ada seserannya." Kelakarnya jumawa.
"Ya udah mbak, saya pamit dulu. Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumussalam."
Mairah melangkah santai, sesekali membalas sapaan ibu-ibu Persit dan beberapa om-om loreng yang mengenalnya.
"Tante!!"
Kepala Mairah menoleh ke kiri dan kanan mencari arah sumber suara melengking milik bocah yang dikenalnya.
Dari kejauhan tampak bocah laki-laki berusia lima tahun tengah berlari kearahnya dengan tangan terentang.
__ADS_1
Mairah menggeleng, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. Di posisikannya badannya jongkok menyamai tinggi bocah tembem tersebut.
"Dapat."
Tubrukan badan Kenzo yang nggak ada adab itu hampir saja membuat Mairah terjengkang.
Kenzo tergeletak, entah apa yang bocah itu tertawakan.
"Tante abis dari mana?" Tanya Kenzo, tangan kecilnya sibuk mengelap keringat di keningnya.
"Tante abis dari warung mbak Rudi, nganterin pesanan kue dari mbak Gita." Jelasnya, tangannya sibuk mengipasi bocah tembem itu.
"Kenzo tadi abis dari mana?"
Seakan teringat sesuatu, Kenzo berbalik menoleh kearah tempat tadi ia bermain.
"Aca sini!!" Teriaknya memanggil seorang bocah perempuan seumurannya.
"Gak usah teriak-teriak. Aca juga mau kesini." Kesal bocah perempuan tersebut. Mairah tersenyum melihat Sasa yang mencak-mencak memarahi Kenzo karena meninggalkannya.
"Aca kenalin ini Tante Mai, yang tadi Ken ceritain."
Ayo loh, cerita apa kamu tentang Tante.
Binar di wajah Sasa tercetak jelas. "Ini Tante Mairah yang bisa liat hantu kayak Kenzo." Tanyanya kelewat antusias.
Skak Mat! Mairah meringis, kenapa diantara semua pertanyaan gadis kecil itu malah menanyakan hal horor.
Belum sempat Mairah menjawab, Sasa lebih dulu sudah dipanggil ibunya untuk pulang.
"Kenzo mama udah manggil, aku pulang dulu ya. Dah Kenzo, dah Tante." Sasa berlari kecil kearah mamanya yang sudah menunggunya, keduanya bergandengan.
Mairah masih memperhatikan raut wajah Kenzo yang nampak sedih.
"Kapan ya Kenzo bisa di gandeng sama bunda." Lirihnya.
Mata Mairah memanas, mendengar sebersit permohonan kecil Kenzo yang tidak seberapa bagi anak-anak yang memiliki orang tua lengkap.
"Kenzo mau di gandeng Tante? Kenzo bisa loh anggap Tante mama Kenzo." Tawarnya.
"Beneran Tante?" Binar wajah Kenzo bertambah saat Mairah mengangguk setuju.
"Iya sayang.."
"Hore Kenzo punya mama." Soraknya senang.
Mairah tidak percaya hanya dengan kalimat pendek itu, ia bisa membahagiakan seorang bocah kecil yang belum tersentuh dosa membuat hatinya tentram.
Dari kejauhan seorang yang sedari tadi memperhatikan interaksi keduanya ikut tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah bocah berusia lima tahun itu.
"Ku harap Tuhan mendengarkan doa mu."
__ADS_1