TENTANG JODOH

TENTANG JODOH
13 | ARINDA ZOYA.


__ADS_3

^^^


Jakarta, 20 Maret 2014.


Hujan deras mengguyur kota Jakarta, tepat di sore hari.


Mobil sedan hitam itu melaju menembus guyuran hujan dan berhenti di depan rumah minimalis dua tingkat bercat kuning cerah. Mudah bagi sang pengemudi menemukan alamat rumah tersebut.


Seorang pria awal 20an turun dari mobil dengan payung biru navy ditangannya. Langkahnya santai, sedikitpun tidak terganggu dengan air hujan yang jatuh bergenang di sekitar jalannya menuju teras rumah tersebut.


"Lebih deras.. lebih deras.." teriakan seorang gadis dibawah guyuran hujan menarik perhatiannya.


Langkahnya terhenti dengan raut wajah menatap penuh minat hal yang sedang dilakukan gadis itu.


Gadis dengan gaun hitam babydoll selutut itu tampak bersenang-senang di bawah guyuran hujan. Ia berputar-putar, melompat, tertawa dan berteriak sesuka hatinya. Senyumnya mengembang cerah dengan badan yang sudah basah kuyup dan bibir yang mulai pucat karena kelamaan dibawah guyuran air hujan.


Umur tidak mencerminkan kedewasaan, itulah pikiran pria itu.


"Nak Gara ngapain di situ?" Seorang ibu paru baya berdiri di depan teras.


Gara yang merasa dirinya dipanggil mengalihkan perhatiannya dari gadis itu kearah ibu-ibu yang melambai-lambaikan tangannya menyuruhnya untuk segera berteduh dari guyuran hujan.


"Eh, iya Tante."


Kembali kakinya melangkah menuju teras rumah tempat ibu itu berdiri. Badannya sedikit membungkuk saat menyalami ibu Ami, pemilik rumah.


"Assalamualaikum. Tante."


"Wa'alaikumussalam, kamu kapan datang. Kok nggak masuk malah diam aja dari tadi Tante panggil." Ucap Tante Ami kepada Nagara keponakan dari calon besannya.


"Baru kok Tante, tadi udah mau masuk Kok." Sahut Gara, matanya masih sesekali melirik gadis yang masih bermain air hujan di taman samping rumah Tante Ami.


"Ayok masuk, kita bicara di dalam aja nggak enak di luar dingin." Ajak Tante Ami yang di jawab gelengan dari gara.


"Nggak usah Tante, saya cuma mau nganterin titipan Mami Tita aja." Gara menyerahkan paperback yang ia sendiri tidak tahu apa isinya.


"Lah hujannya masih deras. Nggak usah sungkan mending masuk aja kita ngopi-ngopi dulu." Lagi-lagi gara menolak dengan halus.


"Nggak usah Tante, beneran. Saya masih ada urusan." Jelas Gara, matanya masih melirik kearah yang sama.


"Ya udah kalo gitu, Tante nggak bisa maksa."


"Kalo gitu saya pamit dulu tan."

__ADS_1


Gara berjalan menuju mobilnya dengan menggunakan payung navynya, kepalanya menengok kearah gadis itu berada. Entah ada apa dengan detak jantungnya yang berdetak tak beraturan setiap kali merperhatikan gadis yang sedang bermain hujan itu. Ini kali pertama mereka bertemu dan seakan ada magnet yang menariknya untuk terus memperhatikan gadis dengan senyum manis itu.


Tante Ami yang dari tadi memperhatikan gelagat gara yang terus menengok kearah taman samping rumahnya, ikut melihat kearah yang sama yang di lihat gara.


Seketika mata ibu paru baya itu melotot sempurna. "Masya Allah, Zoya!! Kamu bisa sakit kalo kelamaan mandi hujan." Teriaknya memanggil nama gadis yang masih setia bermain hujan.


"Iya ma, Zoya udahan." Gadis itu berlari masuk kedalam rumah tidak sedikitpun menoleh kearah pria yang sedari tadi memperhatikan interaksinya.


Gara terus memperhatikan gadis itu hingga masuk kedalam rumah.


"Zoya. Nama yang indah."


**


Sudan tiga hari terlewatkan semenjak Gara melihat gadis bernama Zoya yang membuat malamnya larut dengan mengingat senyum manis gadis itu.


Hari ini kedua keluarga besar akan melangsungkan lamaran pertunangan dari Max sepupu gara dari sebelah papanya, untuk Arin anak dari Tante Ami.


Berarti hari ini gara memiliki kesempatan untuk kembali melihat gadis hujan itu, ya Gara menjuluki Zoya gadis hujan.


Iya sadar akan perasaannya, Gara bukanlah remaja labil seperti Raka yang tidak mengerti arti dari detak jantungnya yang berdetak kencang saat mengingat senyum manis Zoya.


Rombongan mobil beriringan datang berbondong-bondong dari sanak keluarga dan kerabat, datang meramaikan acara lamaran sekaligus pertunangan Max dan Arin.


Keluarga Satria dan max di sambut dengan baik oleh keluarga calon tunangan max.


Suasana rumah ramai oleh kerabat dan sahabat dari kedua keluarga yang akan melangsungkan lamaran pertunangan dan penentuan tanggal pernikahan.


Para tetua di persilahkan duduk di sopa ruang keluarga yang disiapkan langsung oleh keluarga Tante Ami dan Om Doko suami Tante Ami. Setengah jam berbincang-bincang, max calon mempelai belum juga datang membuat Mami Tita dan Om Julio mulai cemas.


Mami Tita terus melirik ponsel ditangannya.


"Ini gimana jeng, acaranya udah mau dimulai?" Tanya Tante Ami saat menatap gelagat gelisah dari keluarga calon besannya.


"Maaf jeng saya permisi sebentar boleh." Mami Tita dan Mama Anin beranjak dari sopa tidak lupa menarik Gara ikut serta menjauh dari kerumunan.


"Ada apa sih Ma? Mi?" Gara bertanya bingung.


"Gara kamu bantuin mami ya sayang." Pinta mami tita penuh harap.


"Bantuin apa mi?"


Anin yang sedari tadi diam ikut membujuk gara. "Pokoknya kamu harus mau ya sayang. Jangan nolak, ini demi martabat keluarga."

__ADS_1


"Ini mami sama mama ngomong apaan sih. Aku nggak ngerti sumpah."


Mami tita menghela nafas kasar, kepalanya pusing dengan kelakuan putranya yang akan membuat malu keluarga.


"Max kabur sama pacarnya keluar negeri. Jadi kamu yang harus gantiin posisi max untuk tunangan sama Arin." Seketika mata Gara melotot sempurna, ingin menolak namun tidak tega.


"Tapi mi.."


Tita berlutut dihadapan Gara. "Mami mohon sama kamu sayang. Max anak satu-satunya dan cuma kamu sepupunya yang bisa gantiin, nggak mungkin Raka yang masih duduk di bangku SMA yang gantiin." Pintanya menangkupkan kedua tangannya.


Anin yang melihat iparnya bersimpuh segera menarik kakak iparnya itu untuk berdiri.


"Mbak nggak perlu Kayak gini, gara pasti mau kok."


"*Tapi profesi gara tentara Tante."


"Keluarga Arin nggak masalah dengan itu*."


Gara dilema di satu sisi ia menyukai wanita lain dan di satu sisi ia dipaksa untuk menerima menggantikan posisi sepupunya.


"Gara mau.." Ucap gara menggantung. "Kalo calon tunangan bang max nerima Gara." Lanjutnya.


"Pasti. Pasti itu sayang, pasti Arin nerima kamu."


Gara bersama mama dan maminya, kembali keruang keluarga dan melangsungkan acara lamaran yang sempat tertunda. Keluarga Tante Ami sudah di beritahu oleh Om Julio dan papa gara tentang kaburnya max dan Arin sendiri sudah tahu kabar kaburnya calon tunangan. Arin yang dimaksud adalah Zoya gadis hujan.


Arinda Zoya nama lengkapnya hanya diam saat acara lamaran dan pertunangan dilangsungkan.


Hari ini pertunangannya terjadi, namun bukan orang yang ia harapkan yang melamarnya dan menjadi tunangannya melainkan sepupu dari Max, pria yang ia cintai.


"Alhamdulillah... sudah ditentukan, berarti acara pernikahan akan dilaksanakan lima hari lagi." Kedua keluarga tampak bahagia tidak sedikitpun peduli akan perasaan gadis yang sedari tadi terduduk diam dengan tatapan kosong.


Hatinya sedih, perasaan hancur.


Gara memperhatikan gadis itu dengan seksama. Tidak ada air mata hanya tatapan kosong dan raut wajah dingin tanpa ekspresi.


"Ku harap pilihanku tidak salah."


Nasi sudah jadi bubur, tidak ada jalan lagi untuk mundur.


Waktu berjalan dengan cepat, matahari terbit dan tenggelam secepat kedipan mata. Dan hari ini pernikahan dilangsungkan.


"Ksatria Nagara Bhakti Bin Adam Handoko. Saya nikahkan dan kawinan engkau dengan putri saya Arinda Zoya dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai."

__ADS_1


"Saya terima nikah dan kawinnya Arinda Zoya Binti Zandoko dengan seperangkat alat sholat tersebut. Dibayar tunai."


"SAH."


__ADS_2