TENTANG JODOH

TENTANG JODOH
8 | GAGAL TEMBAK.


__ADS_3

^^^


Kamar Mairah // 08.16 WIB.


Tidak terasa sudah satu bulan terlewatkan semenjak hari dimana Satria menyatakan perasaannya. Bukan pernyataan cinta melainkan ungkapan ketertarikan seorang Satria kepada Adiba Humairah.


Di hari minggu ini, Mairah dan Kenzo memilih menghabiskan waktu libur dengan bermalas-malasan di atas tempat tidur dengan ditemani beberapa chiki milik Mairah yang ia beli di minimarket sewaktu menemani Gita belanja keperluan dapur.


Kenzo yang kembali di titipkan pada Mairah karena Satria yang ada tugas keluar kota selama dua hari semakin dekat. Bukan hanya hubungan Mairah dan Kenzo, dengan bapak bocah laki-laki itu juga hubungan mereka semakin dekat walau tanpa setatus yang jelas.


Keduanya sering bertukar kabar pia wa maupun telepon, menghabiskan waktu bersama dengan Kenzo tentunya.


Seperti saat ini Mairah sedang melakukan vc dengan Satria. Awalnya bapak satu anak itu menghubunginya dengan alasan kangen Kenzo tapi ujung-ujungnya malah mentok ingin berbicara dengannya.


"Bilang kangen aja pake gengsi." Sindirnya.


Satria tertawa di sebrang telpon, wajahnya terpampang jelas dilayar ponsel.


"Emang kalo saya bilang kena penyakit malarindu karena nggak ketemu kamu, kamu bakal percaya?" Goda Satria, menaikturunkan alisnya.


Mairah mencebikan bibirnya. "Emang ada penyakit kayak gitu?"


"Ada. Buktinya saya terjangkit penyakit malarindu."


"Nggak percaya. Mas sat bohong ya!" Tuding Mairah, jarinya menunjuk ke layar ponsel tepatnya didepan wajah Satria.


Satria mengangkat tangan kanannya "Beneran. Mana berani saya bohong sama kamu."


"Masak.."


"Beneran, bundanya Kenzo." Wajah Mairah sudah pasti merah hanya dengan panggilan singkat Itu.


Duda edan, bisa aja bikin anak orang baper.


Satria tergelak melihat Mairah yang berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya yang menurutnya sangat menggemaskan.


"Kenapa tuh pipinya merah-merah?"


Bibir Mairah mengerucut kesal karena Satria yang terus menggodanya. "Tahu tuh, abis di godain abang-abang loreng."


"Emang ada abang loreng yang mau godain kamu?" Ejek Satria, matanya tak lepas memperhatikan wajah Mairah yang sedang berbaring di kasur.


"Ye gini-gini Mairah laku kali. Ada tuh ayah Kenzo, duda ganteng buntut satu yang suka godain pas ketemu."


"Pepet teroos, jangan kasih kendor." Ucap Kimberly, hantu bule itu sedang bermain dengan Kenzo di karpet samping ranjang Mairah.

__ADS_1


Kenzo menolehkan kepalanya kearah Mairah dengan mata berbinar, tubuh kecilnya merangkak naik keatas kasur.


"Bunda, kenzo juga mau pepes." Serunya bersemangat.


Mairah yang asik haha-hihi dengan bapak bocah itu, mengernyitkan kening bingung.


"Pepes? Pepes apaan, bunda nggak ada pepes."


"Tadi kata kak Kim, pepes teros. Bunda makan pepes ikan ya?!"


Mairah melongo sedangkan Kimberly menepuk jidatnya, hantu bule itu tidak habis pikir dengan pendengaran bocah balita lima tahun itu.


Mengabaikan Mairah dan Kimberly. Kenzo beralih menatap sang ayah yang masih berada di sambungan video call.


"Ayah. Ayah kapan pulang?" Tanyanya antusias, tubuh gempalnya dengan seenak jidat merangkak naik keatas tubuh Mairah yang sedang berbaring.


"Ya Allah nak berat kali badan kau ini."


Mairah mengganti posisinya duduk dengan Kenzo yang ia letakkan di sampingnya.


"Bisa encok pinggang gue lama-lama." Kelunya.


Kimberly hanya melirik sekilas kearah Mairah, hantu bule berseragam itu sibuk dengan kegiatannya memainkan mobil-mobilan truk milik Kenzo.


Bagi Mairah dan Kenzo yang memiliki keistimewaan bisa melihat mereka, pasti akan biasa saja melihat mobil-mobilan itu yang di mainkan oleh hantu seperti Kim. Namun lain halnya jika orang awam seperti Gavin dan Gita yang melihatnya, Mairah yakin Gavin akan berteriak heboh bahkan langsung pingsan ditempat jika sampai melihat benda-benda melayang dan bergeser berpindah tempat dari asalnya tanpa campur tangan seseorang yang nyata.


"Main mobil-mobilan tak tengok kau!!"


Garang kali jawabnya, kek mau betumbok kita.


"Biasa aja kali."


Mairah manyun, sahabat gaibnya itu akan berubah sinis dan sensian jika ada orang yang menganggu kesenangannya.


^^^


Lapangan tembak Batalyon // 08.30 WIB.


Kaki jenjang di balut celana training navy itu ia ayun-ayunkan karena bosan, kepalanya menoleh ke segala arah mencoba mencari hal menarik yang bisa menarik perhatiannya agar tidak bosan.


Sudah lebih dari sejam ia duduk di atas kursi kayu buatan prajurit yang tepat berada di bawah pohon.


"Kesini kau Mai." Teriak Gavin dari atas menara menarik kepalanya menoleh ketempat pria itu berdiri dengan memegang senapannya.


Mairah melangkah menaiki tangga, mendekat kearah Gavin.

__ADS_1


"Kenapa bang?"


"Kau gantikan Abang lah Mai, abang mau selonjoran lah sebentar." Ucap Gavin, sambil menyerahkan senapan Laras panjangnya.


Mairah yang belum siap menerima senapan tersebut terlihat kesusahan mengangkatnya, mengingat beratnya senjata tersebut.


"Lah kok di kasih aku sih bang?"


Wajah Mairah berubah cerah berbanding terbalik dengan ketiga prajurit yang sedari tadi memperhatikan interaksi kakak beradik itu. Mata ketiganya melotot apalagi Satria yang sudah ingin protes lebih dulu.


Saat ini sedang dilakukan latihan ketangkasan menggunakan seragam lengkap tidak lupa membawa senjata bagi prajurit, mereka di suruh merayap di kolam lumpur dengan ditembaki oleh komandan dan pelatih.


"Kau gantikan Abang tembaki itu prajurit." Ucap Gavin kelewat santai.


"APA!!"


Percayalah itu bukan teriakan Mairah melainkan Lettu Hengga yang ada disampingnya.


Gavin menatap tajam Lettu Hengga. "Kenapa kau tak senang?!"


"Siap, salah komandan." Lettu Hengga dan Serma Asmir tidak berani lagi protes, hanya Satria yang masih tidak terima atas perintah sang komandan.


"Izin komandan. Apa tidak sebaiknya saya saja yang menggantikan." Ucap Satria memberi usul.


"Kau tak percaya sat, sama jelmaan siren ini." Tunjuk Gavin kearah Mairah yang mendumel tidak terima dikatai jelmaan siren.


"Siap. Bukan begitu komandan."


"Sudahlah, bilang saja kau tidak percaya. Tunjukin Mai keahlian kau." Kompor Gavin mengabaikan protesan anak buahnya.


Mairah yang sudah lama tidak latihan menembak karena dilarang oleh papa mereka tersenyum senang. Wajah Mairah cerah dengan mata berbinar, ini kesempatan emas. Jarang-jarang abangnya mau repot-repot menyalah gunakan kuasa hanya untuknya.


"Siap bang." Ucapnya kelewat semangat.


Satria, Lettu Hengga dan Serma Asmir menatap cemas kearah Mairah. Bahkan para prajurit yang sedang merayap dibawah sana sampai berkeringat dengan muka pucat mengingat peluru yang digunakan untuk menembaki mereka adalah peluru asli dan hanya dilakukan oleh propesional.


Bukan tidak percaya pada kemampuan Mairah, tapi ini menyangkut hidup dan mati.


Gavin yang kasian melihat wajah anak buahnya jadi tidak tega. "Sudahlah Mai, tidak usah kau gantikan Abang biar kau tengok saja." Putusnya merampas senapan dari tangan Mairah, mengabaikan raut wajah kecewa sang adik.


"Kok gak jadi sih bang?" Kelunya sedih.


"Abang tak tegalah tengok muka anak buah Abang yang udah kayak nahan berak."


Mairah mendengus, bibirnya manyun menandakan ia sedang kesal. Kakinya melangkah turun tangga dengan menghentak-hentak.

__ADS_1


"Mairah mau kemana kau?"


"NYARI LAKI BUAT MBAK GITA!!"


__ADS_2