TENTANG JODOH

TENTANG JODOH
16 | WELCOME TO BANDUNG.


__ADS_3

^^^


Bandung, bandara Husein Sastranegara // 20.00 WIB.


Setelah menempuh perjalanan di udara selama kurang lebih 2 jam, Mairah dan Satria turun dari pesawat menuju mobil penjemput yang akan mengantarkan mereka ke kediaman keluarga Satria di Bandung.


"Yank, masih ngambek." Satria mencoba mengambil alih koper di tangan Mairah.


"Yank! Yank! Congor loh kayang." Sewot Mairah, ia berjalan meninggalkan Satria yang mengusap wajahnya prustasi.


"Mai, jangan gitu dong. Saya jangan di ambekin."


Mairah masih tidak perduli pada duda buntut satu itu, ia masih kesal pada Satria.


Flashback di mobil menuju bandara.


"Mas, cepetan nyetirnya. Lambat kali kayak siput kau ini. Itu Kenzo keserempet motor mas Satria kok masih santai aja. Aku aja udah kayak kucing ke sirem aer.." crocos Mairah jengkel.


"Ini udah ngebut cantik."


Masih sempat-sempatnya Satria menggoda di saat genting seperti ini.


Mairah menatap curiga Satria yang duduk anteng disampingnya, kayak nggak khawatir anaknya abis di serempet motor.


"Curiga aku, jangan-jangan ini gimik ya. Akal-akalan mas aja biar di kasih ijin bang Gavin bawa aku ke Bandung.." todong Mairah.


Jleb! Tuduhan Mairah tepat sasaran. Satria cengengesan tangannya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Nggak usah cengar-cengir kau mas." Sewot Mairah, ia masih menanti jawaban duda disampingnya.


"Hehehe,, sebenernya. Kenzo nggak keserempet motor tapi dia yang nyerempet motor." Jelas Satria.


Mairah bingung. Otaknya lambat mencerna penjelasan Satria.


"Itu gimana? Kenzo di serempet motor apa enggak?"


Satria menghentikan mobilnya tepat di lampu merah.


"Jadi gini.." ucapnya menggantung.


Mairah memasang telinga tajam-tajam tidak ingin ketinggalan sepatah katapun. Roman-romannya ia di kibulin.


"Tadi siang mama telpon katanya Kenzo keserempet motor. Ralat! Lebih tepatnya Kenzo nyerempet motornya Raka yang lagi parkir di depan rumah. Terus di periksa ke rumah sakit, lututnya aja yang berdarah. Selebihnya Kenzo baik-baik aja." Jelas Satria lembut, takut-takut kalo Mairah marah.


Bisa habis ia kalo Mairah ngamuk.


Mairah mencerna penjelasan Satria. Kenzo nyerempet motor yang lagi parkir, lututnya berdarah karena jatuh setelah nabrak motor, selebihnya nggak papa. Jadi kesimpulannya..


Kenzo nggak papa.


Kenzo baik-baik aja.


Jadi ia tadi panik nggak jelas, sampe ngemas baju sama sholat Maghrib kebut-kebutan udah kayak orang trek-trekan itu Kenzo nggak apa apa. Jadi Mairah dikibulin dong. Paniknya nggak ada dasarnya. Jadi yang tadi mas Satria bilang 'Kenzo keserempet motor masuk rumah sakit' bohongan dong.

__ADS_1


Mata Mairah melotot sempurna jadi dia kibulin. Dikibulin saudara-saudara!!


"*******! ****! ******! Bengkoang! Anjing. Gue di kibulin!! MATI AJA LOH SONO!!" Mairah memaki, berteriak sambil memukul punggung Satria menggunakan tasnya.


Jangan heran. Gitu-gitu Mairah kalo ngamuk satu kebun bintang bisa di apsen sekaligus.


Satria sudah mendengar dari Gavin kalo Mairah marah segala macam kata kasar dan barang mahal bisa melayang, terlempar tanpa pikir panjang.


Satria meringis tidak menyangka bibir mungil wanitanya begitu khatam menyumpahi dengan bermacam kata kasar.


"Ya Allah yank mulutnya.. Nanti lambat dapat jodoh kalo suka ngomong kasar." Ucap Satria menenangkan.


"BODOH AMAT!!"


Flashback end.


Mobil yang mereka tumpangi berhenti didepan rumah besar dua tingkat dengan insruktur bergaya modern.


Satria menggenggam tangan Mairah menariknya untuk masuk kedalam rumah.


"Nggak usah pegang-pegang. Aku masih marah ya mas." Ketus Mairah.


Satria mengangguk. Tangannya tidak lagi menarik tangan Mairah tapi merangkul pinggangnya sebagai gantinya.


"Mas Satria apaan sih, lepas nggak. Di liatin orang nanti." Protes Mairah, tubuhnya berontak menolak perlakuan Satria.


"Jangan galak-galak bunda nanti cepat hamil." Ucap Satria ngawur tepat di telinga Mairah yang bikin merinding.


Keduanya melangkah memasuki rumah.


Satria mengangkat bahunya acuh. "Nggak ah biasa aja."


"Pake panggil yank-yank segala, ini malah peluk-peluk nggak jelas. Kalo aku ketagihan gimana."


"Ka--"


"ANAK KU BAWA MANTU." Teriakan Tante Anin menginterupsi ucapan Satria. Semua orang yang sedang berbincang di ruang keluarga menoleh kearah mereka sesaat setelah teriakan menggelegar dari sang pemilik rumah.


Tante Anin berjalan cepat kearah mereka, atau lebih tepatnya kearah Mairah.


"Ini beneran kamu kan Mai?" Anin membolak-balik tubuh Mairah memastikan bahwa ini bukan ilusinya.


"Ya Tante. Ini Mairah." Dengan sopan Mairah menyalami tangan Anin.


"Ih kamu tuh Mai. Udah mama bilang manggilnya Mama bukan Tante." Protesnya.


Mairah menyengir canggung. "I-iya Tan. Eh, mama maksudnya."


"Nah gitu dong. Ayok mama kenalin sama yang lain." Anin menarik Mairah menuju ruang keluarga yang ramai oleh keluarga Satria.


"Kanalin Mai, ini mami Tita kakak iparnya mama, sebelahnya Om Julio, suaminya. Nah yang paling mudah ini Bunda Mery adek iparnya mama, disampingnya itu Om Sean suaminya." Jelas Tante Anin.


Dengan sopan Mairah langsung menyalami ke empat orang yang dikenalkan oleh tante Anin.

__ADS_1


"Waaah,, calon bundanya Kenzo ya sat?" Seloroh Om Julio, membuat Satria tersipu malu.


"Doa'in aja Om lamaran Satria di terima." Sahut Satria cengengesan yang mendapat pro dan kontra dari keluarganya.


"Udah Mairah, jangan di terima. Gantungin aja kayak jemuran." Ucap bunda Mery. Yang diangguki mami Tita.


"Jangan dong Bun, nanti Kenzo nggak dapat adeknya."


"Emang Mairah mau punya anak dari kamu." Timpal Om Sean. Mulut omnya itu terkenal paling sadis dalam keluarga.


Satria manyun merasa kalah serangan.


"Udah-udah, anak ku udah ijo tuh wajahnya. Kasian di bully terus, tinggalin jatah besok." Lerai om Adam.


Bukannya berhenti para tetua itu malah tertawa senang melihat wajah dongkol Satria.


Gini nih kalo kumpul keluarga, selalu Satria yang dibully. Karena Satria itu mudah kehasut dan membuli Satria itu menyenangkan kata para orangtuanya.


Ini baru para orangtua belum ditambah para sepupunya yang baru datang besok.


"Udah-udah. Satria mending kamu antar Mairah ke kamarnya Sisil sana. Sepupu kamu besok datangnya." Satria mengangguk lantas mengajak Mairah menuju kamar adeknya yang akan Mairah tempati selama dua hari disini.


"Awas sampai nanti kamu ikut bobok disana, Mama potong ***** kamu.." ancam Tante Anin memperingati.


Mairah terkekeh mendengar ancaman Tante Anin.


"Tenang aja ma. Kalo mas Satria ikut bobok nggak bakal aku terima lamarannya." Sahut Mairah yang diancungi jempol oleh semua orang.


Satria mengajak Mairah ke lantai dua, masuk ke kamar dengan pintu bercat pink terang dengan tulisan terpampang di muka pintu.


[ AWAS KAMAR CEWEK CANTIK!! ]


Mairah masuk di ikuti Satria yang meletakkan koper Mairah di samping lemari.


"Kamu bersih-bersih gih, abis itu istirahat. Kalo butuh apa-apa kamar aku ada disamping, panggil aja." Mairah mengangguk, kepalanya menoleh memperhatikan setiap sudut kamar dengan nuansa grily.


"Kenzo mana mas?" Mairah baru ingat alasannya ada disini karena Kenzo.


"Udah bobok sama Sisil di kamar mama."


"Oh, mas keluar sana aku mau istirahat." Usir Mairah.


Satria menggeleng. Bukannya pergi ia malah berbaring tengkurap di atas kasur. "Nggak mau, saya mau bobok sini." Unjarnya santai.


"Mas Satria keluar sana. Kalo nggak aku teriak nih."


"Teriak aja sana. Nggak takut tuh."


"MAMA MAS SATRIA MAU IKUT BOBOK!!"


Satria meloncat dari tempat tidur, berlari keluar kamar sebelum mamanya datang membawa parang.


"Awas besok mas balas kamu."

__ADS_1


"Balas aja siapa takut." Tantang nya.


__ADS_2