
^^^
09.10 WIB.
Hampir setengah jam lebih Mairah berjalan tidak tentu arah, lebih tepatnya sedari tadi ia hanya mutar-mutar keliling batalyon dengan mulut yang tidak henti mendumel mengutuki sang kakak yang membuatnya sebal.
"Kalo gak niat buat ijinin, ya gak usah di beri harapan. Ini orang udah seneng malah dirampas! Dasar Dugong sialan." Makinya masih tidak terima acara tunjuk kemampuan menembaknya yang sudah di depan mata, harus gagal.
Mairah yang sedang khusyuk memaki menghentikan kegiatan memisunya saat mendengar suara tangis seseorang, tanpa sadar kakinya berhenti melangkah tepat di depan pohon beringin besar pinggir lapangan voli batalyon.
Di balik pohon seorang perempuan tengah menangis dengan menekuk lututnya, rambut panjangnya menjuntai menutupi wajah. Mairah mendekat kearah sosok tersebut.
"Kamu kenapa nangis?" Tanya Mairah, tangannya menyentuh rambut yang menjuntai di punggung perempuan yang tidak ia ketahui siapa namanya.
"Hiks.. hiks.." perempuan itu tidak bergeming, ia sibuk menangis seolah keberadaan Mairah tidak ada.
"Hey, kok kamu nangis terus sih. Aku nanya loh." Ucapnya jengkel merasa terabaikan.
Puk.
"Citon Belanda Jepang." Mairah terlonjak kaget saat merasakan seseorang menepuk bahunya.
Badannya berbalik menatap orang yang menepuk bahunya. Seorang pria dengan celana pendek dan kaos lengan pendek yang dilapisi manset hitam khas pakaian olahraga voli berdiri dihadapannya.
"Loh ngomong sama siapa?"
"Itu sama.." Mairah berbalik menoleh kearah perempuan yang menangis tadi. Namun kosong.
"Loh kemana ngilangnya." Ucapnya bingung.
Kepalanya celingukan mencari sosok perempuan tadi. Ia yakin penglihatannya nggak salah, atau jangan-jangan itu tadi..
"Sialan, gue di kibulin." Dengus Mairah, sampai sekarang ia masih tak bisa membedakan mana manusia mana setan karena itu ia sering kali di kibuli kayak tadi atau lebih tepatnya ia yang mudah tertipu.
"Loh gak papa?"
"Eh, gimana tadi?" Mairah mengerjapkan matanya, otaknya belum konek epek dikibulin.
Pria itu tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya bersalaman. "Kenalin, gue Reza."
"Mairah." Tentu saja sifat ganjennya yang mendorongnya menerima jabatan tangan pria manis macam Reza.
Modus dikit boleh lah.
__ADS_1
Reza itu nggak tampan macam Satria, tapi wajahnya manis dan khas lelaki humoris.
"Loh mau main voli?" Tanya Mairah memperhatikan bola voli yang dibawa Reza.
"Iya loh mau ikut."
"Mau banget.." tentu saja itu suara hati Mairah yang berteriak ganjen.
"Emang boleh."
"Kenapa enggak. Ikut aja biar rame makin seru." Reza mengajak Mairah mendekat kearah lapangan voli yang sudah banyak om-om tentara yang menunggu untuk bermain voli.
"Woy za, cepetan elah. Malah pacaran dia." Teriak salah satu pria yang Mairah yakini adalah sahabat Reza, karena pria itu langsung menghampirinya dan memiting kepala orang yang meneriakinya.
"Mairah sini."
Mairah melangkah mendekat kearah kumpulan om-om tentara itu saat Reza melambaikan tangan sebagai isyarat.
"Wih, sapa nih za. Bojo anyar?" Goda Sarwok sahabat Reza.
"Bojo anyar raimu. Ini Mairah gak sengaja tadi ketemu, katanya dia mau ikut main juga makannya gue ajakin." Jelas Reza.
Mairah memperkenalkan diri. "Mairah."
"Gak usahlah Mai kau ikut Sarwok, tukang patahin hati wanita dia itu. Mending di kubu Abang aja." Timpal Riyo tidak mau kalah menggoda Mairah.
Mairah yang di modusin cuma bisa haha-hihi dan sesekali membalas.
"Udah-udah, jadi main nggak nih." Lerai Reza merasa gombalan teman selentingnya tidak akan ada habisnya hingga besok.
"Sudah diputuskan Mairah ada di kubu kita, ayok mulai biar Sarwok yang servis." Sudah di putuskan Mairah berada di kubu Reza, Sarwok melakukan servis ke kubu bang Riyo sebagai permulaan.
Permainan berlangsung sengit baik kubu Reza dan bang Riyo sama-sama bermain dengan lihai, dua set permainan sudah dimainkan dengan skor 1 sama, sekarang set yang ketiga penentuan kubu pemenang. Kini giliran Mairah yang melakukan servis karena set kedua dimenangkan oleh kubu bang Riyo.
"Ayo Mairah aku menyemangatimu." Teriak Sarwok yang dibalas sorakan yang lain.
Mairah melakukan servis yang telak mencetak poin untuk kubunya, lengannya panas karena lagi-lagi melakukan servis. Kulit putihnya memerah padam.
"Ayok Mai lagi, semangat." Mairah mengangguk dan kembali melakukan servis yang disambut bang Riyo. Permainan kembali sengit dengan bola yang terus bermain, berpindah tangan.
Mairah yang berganti posisi menjadi tosser menyambut dengan baik bola yang melambung kearahnya, mengopor dengan apik bola tersebut kearah reza.
"Ayo za." Teriaknya kearah Reza yang posisi menjadi smasher.
__ADS_1
Reza menyambut umpan Mairah dan melakukan smash dengan melompat. Bola voli menukik menyentuh tanah.
"Goll.."
Reza, Sarwok dan yang lain tergeletak mendengar teriakan heboh Mairah. Gadis itu berteriak gol pada permainan bola voli.
Permainan dimenangkan oleh kubu Reza.
Mairah menyeka keringat di wajahnya menggunakan ujung hijab instan nya. Kenapa Mairah mau ikut main voli karena pakaian yang ia kenakan mendukung, gadis itu mengenakan kaos oblong abu-abu lengan panjang dengan dipadukan celana training navy dan hijab instan warna senada yang menutupi dada, membebaskan ia untuk bergerak dengan bebas.
Tidak menyesal Mairah gagal latihan tembak kalo sebagai gantinya ia akan bebas bermain voli seperti ini.
Untung Gavin dan Satria tidak tahu kelakuannya, kalo tidak bhew.. bisa heboh mereka berdua. Apalagi Satria yang mulai posesif terhadapnya semenjak pengakuan perasaan hari itu, bapak satu anak itu akan heboh kalo tahu Mairah melakukan hal-hal yang menurutnya anarkis.
"Karena kita menang bang Riyo yang teraktir." Unjar Sarwok yang disambut sorakan.
"Yes makan gratis." Diantara yang lain Mairah lah yang paling bersemangat.
"Semangat banget Mai." Ejek Reza, tangannya merangkul bahu Sarwok yang berjalan disampingnya.
"Yok'i makan gratis coy." Sahutnya jumawa.
Memang sebelum permainan dimulai sudah di beri tahu kubu yang kalah akan menteraktir kubu yang menang.
Mairah dan rombongan berjalan menuju kantin mbak Rudi tempat melaksanakan teraktiran.
"Bisa nambah sepuasnya kan bang." Tanya Eka, om loreng yang paling subur diantara yang lain.
Percayalah Mairah belum hapal betul nama-nama om loreng yang berjumlah sekitar 12 orang itu, ia hanya tahu beberapa yang mencolok saja. Apalagi sampai tahu pangkat mereka menilik dari pakaian olahraga yang mereka kenakan tidak memiliki atribut yang bisa jadi petunjuk.
"Boleh kok nambah sepuasnya, iya kan bang." Bukan bang Riyo yang menyahut melainkan Sarwok yang memutuskan tidak peduli wajah masam bang Riyo.
"Semerdeka kau lah Sujarwok." Ucap bang Riyo, mukanya masam membayangkan isi kartu merah putihnya yang buncas untuk menteraktir 12 orang sekaligus ditambah porsi makan Eka yang bisa untuk makan satu minggu.
"Mairah!"
Langkah Mairah dan ke 12 pria itu terhenti mendengar suara orang paling berpengaruh dan disegani di batalyon tersebut.
Tubuh Mairah rasanya kaku, waktu seperti berjalan lambat dan gerakan kepala Mairah yang menoleh kebelakang seolah di slow motion.
Dibelakang sana tengah berdiri dua orang pria dewasa dengan tampang mengerikan. Gavin yang berkacak pinggang garang dan Satria yang bertampang masam.
Habislah kau mai, tamat riwayat mu.
__ADS_1
"Balek kau Mai!!"