
^^^
07.46 WIB.
Mobil milik Satria melaju, meninggalkan lingkungan batalyon. Keluar menuju gerbang, lalu membela kerumunan kendaraan bermotor lainnya. Dari dalam mobil hanya terdengar suara deru mesin kendaraan yang saling bersahutan dan suara dari tablet Kenzo yang sedang memutar video film Upin Ipin.
Lompat si katak, lompat..🎵
Lompat lah tinggi tinggi...🎵
Cepatlah Adek cepat, kita bangun pagi-pagi..🎵
Mairah melirik Satria di sebelahnya yang sedang pokus menyetir. Sampai akhirnya ia berani bersuara.
"Aku minta maaf, Mas. Kalo lancang." Ucap Mairah, sesekali ia melirik Satria.
Beruntung Kenzo yang sedang duduk di kursi belakang terlalu asik dengan tablet di pangkuannya jadi bocah laki-laki itu tidak akan ikut nimbrung percakapan kedua orang dewasa itu.
"Maaf untuk apa?" Tanya Satria cuek, tidak sedikitpun menoleh kearah Mairah membuat gadis itu semakin merasa tidak enak hati.
"Karena Kenzo manggil saya bunda." Mairah menunduk, menautkan kedua jari-jarinya.
Pikirnya melayang ke beberapa menit sebelumnya.
Flashback saat Mairah, Gavin dan Gita sedang bercengkraman di teras rumah. 07.00 wib.
Kenzo turun dari mobil dengan Satria yang membuntuti di belakangnya.
"Bunda.." panggilannya penuh semangat.
Gita, Gavin bahkan Mairah yang sedang duduk di teras rumah terkejut mendengar panggilan Kenzo. Sangking kagetnya tanpa sadar Gavin sampai menyemburkan kopi dari mulutnya kearah Gita yang di balas makian dan teriakan medok istrinya.
"******. Kuntilanak gang pituuu, dasare uaasuuuu!! Iki raiku yo mas, ora ****** e mimi periii."
Gita mencak-mencak memisu dengan bahasa Jawa andalannya. Gavin kelabakan mencoba meredam makian bininya yang tidak patut di dengar telinga, apalagi saat ini Gita sedang hamil yang banyak pantangannya.
"Bunda kok diam aja sih?" Kenzo menarik-narik ujung baju Mairah.
Mairah bingung harus bersikap bagaimana, bukannya ia minta Kenzo untuk memanggilnya Mama bukan bunda. Mau membantah ia takut menyakiti hati kecil bocah laki-laki tembem di hadapannya ini.
"I-iya, kenapa sayang?" Mairah terbata, bingung.
__ADS_1
Gita dan Gavin menatap tajam penuh selidik kearahnya, seolah mengatakan.
"Mairah, Kau hutang penjelasan!"
Mengabaikan semua reaksi orang-orang, Mairah lebih tertarik menatap ekspresi yang ditunjukkan Satria. Bapak satu itu diam tidak berbicara sepatah katapun, tatapannya dingin dengan rahang mengeras.
Mairah tidak tahu apa yang sedang pria tampan itu pikirkan, karena Satria tidak sedikitpun menunjukkan reaksi menolak atau mensetujui.
Sampai mobil melaju meninggalkan batalyon bapak satu anak itu tidak mengatakan sepatah katapun, ia hanya berpamitan meminta ijin pada Gita dan Gavin untuk mengajak Mairah menemaninya membeli perlengkapan sekolah Kenzo.
Flashback off.
Kelamaan melamun Mairah sampai tidak sadar kalo mobil yang mereka tumpangi sudah berada di parkiran mall, Mobil berhenti. Mairah melihat Satria disebelahnya.
Satria menghela nafas, kepalanya menoleh kearahnya. "Kamu nggak perlu minta maaf, Mairah. Kamu nggak salah.."
Mairah hanya diam menunggu kelanjutan ucapan Satria.
"Saya hanya bingung harus menempatkan diri sebagai apa. Sebagai ayah yang senang melihat putranya bahagia, atau sebagai duda yang menaruh harapan pada seorang wanita." Ucap Satria, matanya tepat menatap kearah manik hitam milik Mairah.
Mairah diam, bingung akan jawaban Satria yang begitu terang-terangan menyampaikan maksudnya.
"Maksud Mas Satria." Tanyanya memastikan.
"Kamu tahu maksud Mas. Dari awal saat bang Gavin menceritakan tentang kamu yang rela keteteran merawat Kenzo yang saya titipkan padahal kamu baru kenal Kenzo, mulai saat itu hati saya tertarik pada kamu, Mairah." Kekeh Satria di akhir kalimat, kepalanya menoleh kearah depan tidak lagi menatap wajah gadis disampingnya.
Mairah hanya diam membiarkan Satria menyelesaikan ucapannya, jujur ia sendiri juga tertarik dengan bapak satu anak itu. Bukan karena parasnya tapi karena kegigihannya yang dengan segenap jiwa membesarkan Kenzo sendirian walaupun ja tahu, ia tidak akan pernah bisa menjadi orang tua yang selalu ada untuk Kenzo mengingat pekerjaannya yang harus siap pergi kapan saja untuk menjalankan tugas, jika ibu Pertiwi sudah memanggil.
"Kenapa harus aku." Mairah angkat bicara setelah lama terdiam.
"Saya tidak butuh alasan untuk menyukai kamu. Mendengar cerita tentang kamu, saya tertarik untuk mengenal kamu. Bertemu kamu, melihat pribadi kamu yang ceria dengan gombalan receh dan apa adanya, membuat saya menyukai kamu."
Mairah tidak percaya Satria benar mengatakan ketertarikannya.
"Mungkin kamu pikir ini kedengaran gila, tapi itu kebenarannya. Saya menyukai kamu walau saat ini saya belum mencintai kamu tapi saya yakin parasaan itu mulai tumbuh seiring saya mengenal kamu, Mairah."
Ini bapak satu kok manis banget, boleh di karungin nggak sih.
"Tapi, aku nggak tahu harus jawab apa."
Satria tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipinya.
__ADS_1
Dag! Dig! Dug!
Duh, suara dangdutan dari mana itu.
Tidak! Mairah harus tetap sadar, itu senyum manis banget Ya Allah Mairah takut kilab, nyosor duluan.
Satria menggenggam tangan Mairah, mumpung nggak ada abangnya. Aman.
"Kamu nggak perlu jawab sekarang, cukup beri saya kesempatan untuk menyakinkan kamu dan menyakinkan perasaan saya bahwa saya mencintai kamu dan hati saya memilih kamu untuk jadi ibu sambung Kenzo."
Mairah melele, bapak satu anak ini benar-benar fakboy.
Anak e sopo iki. Lambenyo lamis pisan oy.
"Bunda, ayah. Cepat turun Kenzo udah galau nungguin kalian." Teriak Kenzo dari luar mobil.
Bahkan Mairah dan Satria sampai tidak sadar kalo bocah itu sudah keluar dari mobil.
Satria berdecak. "Merusak suasana romantis saja kau, nak."
"Udahlah Mas, yuk turun. Nanti kita dikira pasangan mesum nggak keluar-keluar mobil." Kekeh Mairah, ia tidak bisa membayangkan jika besok wajahnya terpampang jelas dihalaman utama berita akun gosip dengan judul. Anak petinggi TNI diciduk lagi endehoy di dalam mobil.
Tidak, itu mimpi buruk. Bisa habis ia dibantai papa dan ketiga saudara laki-lakinya kalo sampai itu terjadi.
"Ayok turun." Mairah tersentak, kaget saat Satria sudah berdiri dihadapannya dengan pintu mobil yang terbuka lalu menarik tangannya keluar dari mobil.
Tangan mereka bertaubat lebih tepatnya Satria yang menggenggam tangannya sepanjang jalan masuk menuju mall. Tidak bisa dipungkiri oleh Mairah perasaannya menghangat bagai musim semi saat matanya tak sengaja melihat tangan Satria yang menggandengnya dan raut wajah bahagia Kenzo yang berada di gandengannya.
Posisi Mairah berada ditengah-tengah antara bapak dan anak itu. Mereka seperti keluarga kecil bahagia.
"Mas sat." Panggilan Mairah.
"Hem."
"Karena hari ini mas Satria udah jadi ayah yang baik dan udah bikin jantung aku dangdutan. Mas Satria dapat servis dari aku." Ucapnya mengedipkan mata kearah Satria.
Langkah Satria terhenti otomatis Mairah dan Kenzo ikut berhenti, mukanya mumpeng tampak menggemaskan. Ucapan Mairah tampak ambigu didengar telinga.
"Mukanya biasa aja kali mas. Nggak biasa di godain anak gadis orang ya." Mairah masih melancarkan aksi menggodanya. Ia tidak percaya hanya dengan menggoda Satria bisa membuatnya sebahagia ini.
"Kamu harus tanggung jawab atas ucapan kamu, Mairah."
__ADS_1
Seketika tawa Mairah mengecil, nyalinya langsung ciut. Saat mendengar kalimat itu meluncur bebas dari mulut Satria.
Alamak salah cari lawan gue.