
^^^
Bandung, kediaman keluarga Satria //05.50 WIB.
Mairah turun dari lantai dua kamar Sisil yang ia tempati selama menginap di kediaman keluarga Satria.
"Pagi semua."
Kakinya melangkah menuruni tangga menuju dapur. Anin yang sedang sibuk bercakap-cakap dengan mami Tita, bunda Mery dan seorang wanita mudah sesuai Satria menoleh kearahnya.
"Wah, calon nya Satria udah bangun ternyata." Mairah tersenyum saat mami Tita menggoda nya.
"Iya, mbak. Calon mantu saya itu." Timpal Anin menyetujui.
"Ini pasti Mairah kan." Perempuan cantik dengan Khimar abu-abu itu menghampiri Mairah dengan ramah.
Mairah tersenyum, mengulurkan tangan. "Iya mbak, Mairah. Salam kenal."
"Kenalin, aku Renata sepupu ipar Satria biasa di panggil Rena. Menantu kesayangan mami Tita dan papi Julio." Kenalnya menyambut uluran tangan Mairah.
Mairah tersenyum, berarti Rena adalah istri sepupu tertua Satria.
"Dia itu istrinya Rendra anak mami, Mai." Timpal mami Tita.
Mairah mengangguk, kakinya melangkah mendekati ketiga ibu-ibu yang sedang sibuk dengan segala macam jenis bumbu dapur.
"Mairah bisa bantu?" Tanya nya menawarkan diri.
Bunda Mery menggeleng. "Nggak usah, duduk saja. Kamu tamu kami."
Mairah tidak enak jika berkunjung dan menginap ke rumah seseorang tanpa membantu sang tuan rumah, ia merasa seperti tidak berterimakasih.
"Tapi, Mairah nggak enak Bun. Kalo diam aja." Semalam Mery dan Tita juga memintanya memanggil mereka dengan panggilan yang sama seperti Satria memanggil bibi dan tantenya.
Anin tersenyum. "Ya udah kamu bantu Rena tusukin daging ayam buat sate nanti malam." Tunjuknya kearah Rena yang sedang sibuk menusuk daging ayam.
"Iya Mai, kamu bantuin mbak aja."
Akhirnya Mairah ikut Rena menusuk daging ayam yang akan di jadikan sate bakar nanti malam.
"Ini daging apa mbak?" Mairah mengangkat daging yang warnanya gelap di antara yang lain.
Rena ikut melihat kearah daging yang di tunjuk Mairah. "Oh, itu kambing. Kayaknya kecampur pas tadi di cuci."
Mairah mengangguk, tangannya meletakkan kembali daging kambing tersebut.
"Kamu suka kambing?" Mairah menggeleng.
"Sapi?"
__ADS_1
"Nggak doyan."
"Kamu vegetarian?"
"Nggak."
"Terus kenapa nggak suka daging.?"
Mairah menolah sekilas kearah Rena yang menghentikan kegiatannya.
"Aku makan daging ayam. Kalo sapi sama kambing, nggak deh. Bikin dara tinggi! Biasanya kalo habis makan sapi sama kambing, kepala aku suka pusing terus nggak enak badan. Makannya nggak mau makan!" Jelasnya.
Rena mengangguk-angguk mengerti. "Baru denger aku lho, kalo sapi sama kambing bisa bikin dara tinggi."
Mairah meletakkan daging ayam yang sudah ia tusuki. "Awalnya nggak percaya. Tapi udah kebukti! Mbak Rena suka kambing?"
"Suka banget. Aku itu pemakan segalanya, apalagi hal yang berbau daging aku suka banget."
"Kalo kamu suka makanan jenis apa?"
"Apa aja, asal jangan kambing sama sapi."
Mami Tita, bunda Mery dan Mama Anin yang baru saja menyelesaikan masakan untuk sarapan semua orang menghampiri Mairah dan Rena yang duduk bersila di lantai samping meja makan sambil bercakap riang. Keduanya tampak dekat.
"Seru banget kayaknya. Kalian bahas apa aja."
Ketiga wanita paru baya itu ikut duduk bersilah di samping Mairah.
"Terus?" Mery ikut mengambil lidi dan mulai menusuki potongan daging ayam.
"Kata Mairah dia nggak suka daging, kecuali ayam. Bikin dara tinggi katanya!"
Tita menoleh kearah Mairah. "Beneran Mai?"
"Iya mi."
"Lho kok sama kayak suami kamu, Mbak." Timpal Anin yang di setujui Tita.
"Iya nih, Mairah dan Julio sama-sama nggak suka daging. Alasannya juga sama bikin dara tinggi."
Mery menghitung daging ayam yang sudah di tusuk. "Banyak nih, cukup buat nanti malam." Tangannya mengangkat piring berisi daging yang sudah di tusuk untuk di letakkan di dalam kulkas biar awet untuk nanti malam.
Anin mengangguk. "Ya udah kalo cukup. Ini di simpan aja, buat jaga-jaga kalo kurang tinggal di tusuk lagi." Usulnya yang disetujui oleh Rena dan Mairah.
"Kalian cuci tangan gih. Ini biar mami yang urus." Tita mengambil alih, membereskan panci berisi potongan ayam.
"Ya udah, semuanya. Rena ke atas dulu bangunin Tasya." Pamit Rena sebelum berlalu ke kamarnya untuk membangun kan Tasya putri kecilnya.
Mery dan Tita juga ikut berlalu pamit hendak menemui suami masing-masing. Kini tinggal Mairah dan Anin di dapur.
__ADS_1
"Mai, kamu nggak mau bangunin Satria sana?" Tanya Anin dengan nada menggoda.
Mairah menggaruk tengkuknya, salah tingkah. "Tadi habis subuh, Mairah ngecek kamar mas Satria. Niatnya mau bangunin, tapi kamarnya kosong." Hati-hati ia menjawab, takut Anin salah tanggap. Bisa berabe kalo Anin mengira Mairah keganjenan ke kamar Satria subuh-subuh.
Anin terdiam, tangannya yang hendak membuka kran air terhenti sebelum berpindah tempat menepuk jidatnya sendiri.
Puk.
"Oh iya, mama lupa! Satria sama yang lain pamit joging bareng tadi pagi. Mungkin sekarang mereka lagi ada di gazebo samping. Kamu cek aja sana." Jelas Anin.
Kening Mairah mengernyit. "Mas Satria joging?"
"Hem. Niatnya dia mau ngajak kamu, tapi nggak mama bolehin."
"Kenapa?"
"Kamu baru datang, pasti lelah karena itu mama suruh Satria joging sama yang lain aja."
"Yang lain siapa ma? Papa Adam, papi Julio sama ayah Sean?" Mairah penasaran dengan yang lain, yang di maksud Anin itu siapa.
"Yang lain maksud mama itu, sepupu Satria. Tadi malam mereka datang, nggak lama pas kamu masuk kamar." Sekarang Mairah paham.
"Terus mereka dimana?"
"Kamu liat di gazebo taman samping. Paling lagi duduk-duduk mereka!" Anin melepas apron dari tubuhnya.
"Kamu liat sana. Mama mau bangunin Sisil sama Kenzo dulu." Anin berlalu menuju kamarnya yang berada di lantai satu.
Mairah beranjak hendak ke gazebo taman, samping rumah yang di maksud Anin. Saat tubuhnya melewati tangga ia berpapasan dengan Rena yang baru turun dari lantai dua kamarnya dengan menggendong bayi perempuan menggemaskan.
"Eh Mai, kamu mau kemana?"
"Mau ke gazebo, mbak." Tangan Mairah tidak tinggal diam untuk mencubit pipi chubby bayi dalam gendongan Rena.
"Ini Tasya mbak, Ya Allah cantik banget." Dengan senang hati Mairah menggendong Tasya yang di sodorkan mbak Rena padanya.
"Kita bareng aja. Aku juga mau kesana, yuk Mai." Rena mengajak Mairah menuju gazebo.
Suasana taman samping kediaman keluarga Satria jauh lebih menyenangkan dan santai. Sisil yang ternyata juga berada di gazebo bersama beberapa orang berseru senang saat melihat Mairah datang bersama Rena dan Tasya dalam gendongan nya. Dengan antusias Sisil membawa Mairah duduk di sampingnya. Dia juga memperkenalkan Mairah pada sepupunya yang lain.
Ada si kembar Alda dan Aldo anak bunda Mery yang seumuran dengan Sisil, Raka adik kedua Satria yang juga kakak Sisil, dan terakhir ada mas Rendra suami mbak Rena. Sisil juga mengatakan ada Clara adik mas Rendra yang mungkin sedikit terlambat karena ada urusan.
"Jadi beneran ya? Gue kira bang Satria halu aja, bilang bakal bawah cewek ke rumah. Hahahaha..."
Satria yang baru saja ikut duduk di samping Mairah melotot kesal ke arah Raka yang mengoloknya.
"Sialan loh!" Tangannya dengan asal melempar botol susu milik Tasya.
"Satria itu botol susu Tasya!" Protes Rena tidak terima.
__ADS_1
Mairah hanya menggeleng melihat kelakuan Satria.
"Hehehehe,, sorry mbak."