TENTANG JODOH

TENTANG JODOH
5 | SATRIA.


__ADS_3

^^^


Kamar Mairah // 21.00 WIB.


"Kamu belum mau tidur, Ken?" Mairah menepuk-nepuk pantat Kenzo yang berbaring memeluknya.


"Ken, belum ngantuk Tante."


Sudah jam sembilan malam dan Kenzo belum juga tertidur. Seharian Mairah habiskan mengajak Kenzo bermain di Amazon family, Mairah pikir tempat bermain untuk anak usia lima tahun Amazon family adalah pilihan yang tepat. Dengan berbekal aplikasi Google Mairah memesan grabcar yang siap mengantarkan nya ke mana saja.


Tangan kecil Kenzo memainkan kerah baju tidur Mairah.


"Tante.." panggilannya.


"Hem."


"Tante percaya gak di dunia ini kalo ada hantu?" Mairah menghentikan puk-pukannya pada pantat Kenzo, beralih menatap wajah tampan bocah laki-laki itu.


"Kok kamu nanya gitu?"


Kenzo mengubah posisinya duduk yang diikuti oleh Mairah, kini posisi keduanya duduk berhadapan diatas kasur.


"Kalo Kenzo bilang. Kenzo bisa lihat hantu, Tante percaya?" Tanyanya penuh harap.


Mairah tersenyum sambil mencubit gemas pipi chubby Kenzo.


"Emang Kenzo bisa liat hantu." Tanya Mairah lembut.


Kenzo mengangguk semangat, tangannya menunjuk sudut kamar dekat lemari yang akhir-akhir ini menjadi tempat nongkrong Kim sahabat gaibnya.


"Disana ada kakak cantik." Celotehnya.


Mairah terbelalak, gila nih anak bisa liat juga. Pikirnya.


"Emang kakak cantiknya kayak apa?" Pancingnya, meminta Kenzo untuk menjelaskan rupa Kim.


"Kakak itu, wajahnya cantik. Dia pakai baju kayak ratu, rambutnya panjang ada poninya, matanya bulat kayak burung hantu hidungnya mancung kayak ayah, pipinya tembem kayak Kenzo, terus bibirnya imut kayak Tante." Jelas Kenzo dengan wajah menggemaskan.


Mairah mengkode Kim untuk mendekat. "Sekarang kakak cantiknya lagi apa?"


Kenzo menoleh kearah Kim yang duduk di ujung ranjang.


"Kakak cantiknya lagi duduk di situ." Tunjuknya kearah tempat Kim duduk.


"Tante percaya." Mata hitam milik Kenzo mengerjab menunggu jawaban.


"Tante percaya kok, emang sejak kapan Kenzo bisa liat mereka."


Kenzo tampak berpikir cukup lama. "Gak tahu, yang Kenzo ingat Kenzo bisa liat mereka. Kata kakek sama nenek Kenzo bisa liat dari lahir persis kayak almarhum eyang."


Mairah mengangguk merapikan rambut Kenzo yang beberapa menutupi mata.

__ADS_1


"Kalo Tante bilang tante juga bisa liat. Kenzo percaya." Wajah Kenzo sumbringan, matanya berbinar.


"Beneran Tante?"


Mairah tersenyum. "Iya Tante juga bisa liat. Itu sahabat Tante namanya Kim. Mau kenalan." Tawarnya.


"Mau Tante."


"Kim sini loh." Kimberly yang dipanggil lantas mendekat dengan cara melayang, duduk disamping Mairah.


"Hay Kenzo. Nama aku Kimberly." Wajah Kenzo nampak tidak percaya ia bisa bersalaman dengan hantu.


Selama ini yang dia tahu ia bisa melihat mereka, tidak percaya kalau dia juga bisa menyentuh mereka layaknya manusia biasa.


"Tante, Kenzo bisa salaman sama hantu bule." Teriaknya heboh.


Kimberly merenggut jengkel. Kim tidak suka dipanggil hantu apalagi setan, menurutnya panggilan itu terlalu kasar. Ia lebih suka dipanggil arwah.


Awal pertama kali Mairah bertemu Kimberly adalah saat hantu itu tengah ke centilan menciumi pipi bang Gavin yang saat itu berusia 17 tahun. Saat itu Mairah sekeluarga baru pindah ke rumah dinas ayahnya yang baru di Medan, Kimberly adalah penghuni rumah disamping rumah barunya. Mairah yang berusia 9 tahun dengan polosnya memberitahu Gavin bahwa ada hantu centil yang terus menciumi pipinya, membuat satu rumah heboh karena Gavin yang pingsan karena ketakutan.


"Udah dipanggil hantu, di kitain bule pula." Kimberly mendumel tidak suka.


"Kan dirimu memang bule. Bule kesandung medan maksudnya." Kekeh Mairah.


Mairah tahu betul Kim paling tidak suka dipanggil bule, padahal dari paras dan wajahnya saja sudah menunjukkan garis keturunannya. Sudah terduga, kalo menyangkut Kimberly pasti ribet urusannya.


^^^


Beskem Mairah // 16.15 WIB.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam, tunggu bentar." Susah payah Mairah keluar dari tempat persembunyiannya.


"Eh ada mas ganteng, cari siapa mas?" Tanya Mairah. Wajahnya tengil minta di gaplok.


Kim yang berdiri di samping ayunan mendumel mengatai Mairah ganjen.


Lelaki itu tersenyum melihat gadis dihadapannya, kemudian mengulurkan tangannya bersalaman.


"Satria, ayahnya Kenzo."


Dibandingkan meneriaki atau merutuki status duda buntut satu Satria, Mairah malah terkesima dengan rupa tampan bapak satu anak ini.


"Anak e sopo iki, ngguwanteeng tenan!." Tentu saja itu Mairah ucapkan dalam hati, karena keseringan bergaul dengan Gita yang orang Jawa asli, Mairah sedikit banyaknya bisa berbahasa Jawa.


"Ah iya, nama aku Mairah." Mairah merutuki mulutnya, nampaknya perkenalannya terlihat kaku.


"Duduk mas silakan, gak papa kalo aku panggil mas kan?" Satria menggeleng tidak keberatan.


"Mau minum apa mas, kopi, teh, air dingin, jus atau air putih. Air putih aja ya biar sehat, tunggu bentar." Satria menggeleng melihat tingkah Mairah, sudut bibirnya terangkat.

__ADS_1


"Lucu." Unjarnya tanpa sadar, Satria menggeleng mengusir pikirannya.


Tak berapa lama Mairah datang dengan nampan ditangannya.


"Ini minumannya, dimakan juga cemilannya." Mairah meletakkan jus leci dan cemilan di atas meja kecil antara kursi yang Satria dan Mairah duduki.


"Bukannya kamu mau kasih saya air putih." Bingungnya.


"Lah itukan air putih, air putih itu cuma jus leci sama susu putih. Kalo yang itu air bening." Jelasnya. Satria tergeletak tak habis pikir dengan jalan pikir gadis dihadapannya.


Mairah melongo, matanya tak berkedip sama sekali, untung mulutnya nggak sampai ileran.


"Kenapa?" Satria bertanya bingung.


"Sekarang aku percaya.." ucapnya tidak nyambung.


"Apa."


"Kalo malaikat itu memang ada." Blus, kedua pipi Satria memerah hanya karena gombalan receh Mairah.


"HEH! Pelecehan terhadap orang yang lebih tua kamu, ya! Dasar mba-mba jomblo kegatelan!" Tiba-tiba Gita datang dan menimpuk kepala Mairah menggunakan paper bag belanjaannya.


"Woy, sakit mbak!" Mairah mengelus kepalanya, bibirnya memberengut kesal. Gita datang disaat yang tidak tepat, disaat gombalan berselubung pdkt sedang berlangsung.


Satria bangkit dari duduknya, memberi hormat kepada Gavin yang datang bersama Kenzo dalam gendongannya.


"Ayah.." Kenzo melompat kearah Satria, membuat tubuh Satria mundur beberapa langkah menerima beban berat badan Kenzo yang tidak ada adapnya.


"Ayah, Kenzo abis di ajak jalan-jalan sama Om Gavin dan Tante Gita. Kenzo di beliin banyak mainan." Tunjuk Kenzo, tangannya terangkat memamerkan beberapa kantong belanjaan.


"Oh ya, terus Kenzo bilang apa sama Om dan Tante."


"Makasih om, tante." Ucap Kenzo bersemangat.


"Iya sayang sama-sama." Gita melirik Mairah yang sedari tadi saling sikut-sikutan dengan Gavin.


"Kalian berdua kenapa sih." Bingung Gita. Tangannya berkacak pinggang menunggu jawaban.


Satria dan Kenzo yang penasaran juga menatap kekak beradik itu.


"Mairah tuh, mau minta nomornya Satria katanya." Bohong Gavin, Mairah melotot.


"Hoak itu, hoak. Jangan percaya mas. Jangan percaya!" Mairah menggeleng heboh, kedua tangannya mengibas cepat.


"Beneran juga gak papa." Balas Satria santai.


Blus! Kini gantian kedua pipi Mairah memerah.


Sialan, bisa aja nih bapak satu.


"Cie.. cie.."

__ADS_1


"Kenapa tuh mai pipinya merah kayak kepiting." Goda Gavin, tawanya paling kencang karena berhasil menjaili adik gadisnya.


"Bodoh amat!!"


__ADS_2