TENTANG JODOH

TENTANG JODOH
5 | PERTEMUAN KEDUA


__ADS_3

^^^


Suasana warteg Mbok Jum siang itu begitu ramai oleh para pengunjung yang kebanyakan ABG labil, anak bau kencur yang ganjen nya nggak ketulungan.


Warteg Mbok Jum memang selalu ramai oleh pengunjung yang manyoritas nya cewek, karena letak warteg tersebut yang bersebrangan langsung dengan porles metro jaya Jakarta Selatan. Membuat para kaum hawa yang mengidamkan memiliki suami berseragam polisi, sering seliweran di sekitar situ hanya untuk melihat dan memandang abang-abang polisi yang masih bujangan sering berkumpul di situ. Siapa tahu ketemu jodoh..


"Aciee pak komandan, yang baru dapat promosi! Ekhem.. ekhem.."


AKP Dwi Rangga Septian yang sedang menyesap kopi miliknya melirik sekilas kesamping tempat duduk Iptu Budi sahabat sekaligus rekan seperjuangan di Akpol dulu. Mereka satu leting walaupun pangkat Rangga satu tingkat lebih tinggi dari Budi.


Rangga duduk menyamping menghadap Budi sambil menaikkan alisnya.


"Siapa?"


"Eloh!. Ya kali gue kampret! Mau ngina ya loh.?" Geram Budi, sahabatnya itu terkenal suka misu-misu nggak jelas.


Rangga mengangkat bahunya acuh. "Gue kira siapa." Sahutnya enteng yang disambut makian bapak polisi satu ini.


"JANCOK!!"


Jangan di tiru ya man-temen pakpol di atas..


"Bang Rangga!"


Rangga yang merasa namannya dipanggil menoleh ke belakang di mana Bripda Jodi salah satu anak buahnya yang berlari menghampiri nya dari depan gerbang porles dengan sebuah kertas di tangannya.


"Bang Rangga. Di cariin dari tadi ternyata disini."


"Bang Rangga.. bang Rangga.. dia ini komandan loh. Yang sopan dong manggilnya!" Bentak Budi tegas.


Jodi yang di bentak salah satu senior paling di segani di kesatuan mereka hanya nyengir memperlihatkan gigi behelnya yang baru di pasang kemaren.


Jika Budi terkenal garang dan tidak sabaran bedahal dengan Jodi yang pentikilan dan cengengesan.


"Hehehehe.. siap salah."


Mengabaikan Budi, Rangga beralih menatap Jodi yang berdiri dihadapan mereka.


"Kamu ngapain nyari saya?"


Jodi menyodorkan sepucuk surat berwarna hijau kearahnya. Sebuah undangan di tangan kanannya.


Belum sempat Rangga menerima nya Budi lebih dulu menyerobot undangan tersebut.


GINA & TIAN


"*****, KOMANDAN DITINGGAL KAWIN SAMA MBAK CANTIK YANG SERING BIKIN KITA GIGIT JARI GENKS!!!" Suara Toa Budi sampai menggema ke setiap sudut warteg Mbok Jum membuat para anak buahnya dan pengunjung lain langsung menatap kearahnya dengan tatapan bermacam-macam.


Tidak ada yang berani berkomentar. Takut di suruh pus up 100 kali.


"Hahahaha,, namanya sama. Tapi bukan loh mempelainya. Wkwkwk.. komandan di tinggal kawin! Hahahaha.." Budi ngakak, tertawa di atas penderitaan sahabat sekaligus atasannya.


"Ketawa aja teroos!! tak bawa polwan cantik ke hadapan mamak mu, mau?!!" Ucap Rangga.


Budi kicep tidak berani mengejek lebih jauh. "Siap salah." Unjarnya masam.


"Hahahaha.." gantian Jodi yang ngakak sambil memegangi perutnya saat melihat senior galaknya yang kicep hanya karena satu ancaman ringan.

__ADS_1


Rangga bangkit dari duduknya, berdiri sambil menepuk-nepuk kedua pahanya yang di ikuti oleh Budi.


"Mau kemana?"


"Nyari kado buat hadiah. Nih Mbok uangnya." Diletakkan nya uang specahan sepuluh ribu di bawah cangkir bekas kopinya.


"Iya Den, tarok situ aja."


"Oh, mau nyari kado buat jodoh orang." Kelakar Budi jumawa.


"Gue sama Gina nggak ada hubungan kali. Kita berdua murni cuma sahabatan. Lagian, gue udah anggap dia kayak adek sendiri." Jelasnya agar Budi berhenti menggodanya.


"Halah blushit!! Nggak ada cewek sama cowok murni temenan tanpa ada rasa di antara keduanya. Dan juga! Apaan tuh, gue udah anggap dia kayak adek sendiri. Omong kosong! Nggak ada ceritanya adek kakak ketemu gede!" Celoteh Budi panjang lebar.


Rangga mendengus. "Kayak udah pengalaman aja loh. Pacaran aja jarang." Timpal Rangga telak yang disambut makian dari sahabatnya itu.


Beruntung mereka duduk di meja jauh dari para anak buahnya jadi sedikit kemungkinan orang-orang mendengar makian Budi yang tidak sedikitpun mencerminkan profesi nya.


"Dah gue mau pergi. Assalamualaikum.."


Tanpa menunggu jawaban salamnya Rangga pergi menuju mobilnya. Sekali lagi dibacanya nama yang tertulis di sana. Beberapa hari lalu Gina sudah mengundang nya melalui telpon dan mengatakan bahwa mungkin undangan resminya akan sedikit terlambat. Hatinya bimbang apakah ia harus datang atau tidak.


Jujur perkataan Budi benar. Bahkan sampai saat ini ia masih tidak yakin dengan perasaan nya. Apakah ia menyayangi Gina sebagai adik atau seorang perempuan.


Biarlah waktu yang menjawab. Siapa yang akan jadi takdirnya.


**


Di sinilah Rangga berdiri sekarang, di barisan menuju panggung mempelai, ingin memberikan selamat dan amplop tentunya. Dalam paperbag yang ada di tangan kanannya terdapat hadiah untuk mempelai wanita.


Sudah diputuskan oleh kakak perempuan nya, Rena. Bahwa ia harus gentel datang dan memberikan selamat kepada Gina yang notabenya adalah wanita yang pernah mengisi hatinya.


"Loh harus datang. Buktikan pada diri loh sendiri kalo perasaan yang selama ini loh rasa sama Gina hanya sebatas sayang seorang kakak pada adiknya, nggak lebih." Ucapan Rena. kakak tertua nya beberapa jam lalu terlintas di kepalanya.


"Aku kira kamu nggak datang mas?"


Kini giliran Rangga yang menyalami mempelai. Gina tampak menawan dengan gaun merah menyala dan hijab yang menutupi mahkotanya.


"Mana mungkin aku nggak datang di hari bahagia kamu ini, Gin!"


Dari Gina. Rangga beralih pada Tian suami Gina. "Titip Gina ya, Yan. Dia udah kayak adek gue sendiri." Ucapnya tulus.


Sekarang ia yakin kalo perasaannya selama ini murni sebagai seorang kakak.


Tian mengangguk. "Iya bang, itu pasti! Makasih udah nyempetin datang." Setelah menyalami pengantin Rangga turun dari panggung.


Matanya menyipit menatap satu objek yang sedari tadi sudah menarik perhatiannya. Gadis dengan dress putih motip bunga-bunga dengan rambut hitam di cat silver bagian bawahnya teramat sangat menarik di mata Rangga. Tatapannya tidak lepas mengikuti setiap pergerakan gadis itu.


Rangga memperhatikan bagaimana gadis itu berbicara, tertawa dan berpamitan. Tatapannya tidak lepas mengikuti pergerakan gadis itu yang dengan mata berbinar menyantap hidangan di hadapannya.


Seulas senyum tipis mampir di sudut bibirnya. Rangga tahu perasaan ini. Perasaan tertarik kepada lawan jenis.


Wanita itu! Gadis yang sama yang beberapa hari lalu melamarnya. Ia tidak menyangka akan kembali bertemu disini. Apakah ini takdir tuhan?


Dengan langkah mantap Rangga menghampiri gadis itu. Langkahnya berhenti tepat dua langkah di belakangnya. Dari tempatnya Rangga dapat mendengar ucapan senang gadisnya pada jamuan konsumsi yang menentramkan dahaga.


Gadisnya? Bolehkah Rangga mengklaim gadis itu miliknya.

__ADS_1


"Akhirnya saya menemukan kamu."


Perlahan tubuh itu berbalik menghadapnya dengan mata membulat sempurna. Dari tatapannya Rangga tahu gadis ini sedang mengagumi ketampanan nya.


Pupil matanya menatap dalam iris mata abu-abu gadis dihadapannya. Rangga mengernyit, apakah itu warna mata aslinya. Lama mereka berpandangan hingga gadis itu memutuskan pandangannya.


"Mau kemana kamu? Mau pergi tanpa tanggung jawab lagi."


Rangga menahan tangan gadis itu. Menghentikan langkahnya.


"Heh, tanggung jawab apa maksud loh? Emang gue udah melecehkan loh! Enggak kan. Lagian, kalo gue perkosa loh yang ada gue yang rugi, pecah perawan. Jadi, tanggung jawab apa maksud loh.?" Ucapnya nyolot.


Cara bicaranya angkuh, bahkan dengan berani di tatapnya mata hitam pekat milik Rangga.


Mata gadis itu menyipit membentuk bulan sabit, wajahnya maju memperhatikan wajahnya.


Tatapan Rangga datar. Ia yakin sebentar lagi gadis ini akan mengingat nya.


Puk!


"Sudah ingat saya.?!"


Rangga menaikan alisnya. Menatap wajah gadis yang nyengir dihadapannya. Secepat kilat ia berbalik hendak berlari menjauh, namu Rangga lebih tanggap menahan tangannya hingga membuat gadis itu berbalik membentur dadanya.


"Mau lari kemana, Hem."


Dengan santai Rangga melingkarkan tangan kanannya di pinggang ramping gadis itu. Mengikis jarak antara mereka.


Rangga menikmati setiap ekspresi yang terlukis di wajah gadis ini. Termasuk saat ia menggeleng kan kepalanya.


"Pantasi kamu boleh juga."


Tatapannya berubah tajam. "Tadi maksud loh tanggung jawab apaan?" Tanyanya sinis.


"Tanggung jawab karena kamu sudah melamar saya."


Bibirnya tertawa meremehkan. "Kan saya sudah bilang. Itu cuma bercanda. Gue kasi tahu ya- siapa sih nama loh?"


"Rangga."


"Rangga! Gue ingetin ya kita itu nggak ada urusan apa-apa dan gue nggak perlu tanggung jawab sama loh. Loh hamil juga enggak."


Rangga maju selangkah, mengikis jarak antara dirinya dengan gadis yang masih belum ia ketahui namanya.


"Kamu harus tanggung jawab!"


"Gue nggak mau."


"Saya tidak menerima penolakan."


Tanpa pikir panjang di tariknya gadis itu menuju meja dimana sahabatnya berkumpul.


Keduanya berhenti tepat di depan kerumunan itu. Semua orang menaruh perhatian atas kedatangan mereka.


"Hay guys. Kenalin ini tunangan gue."


*

__ADS_1


*


BERSAMBUNG


__ADS_2