
^^^
Keesokan harinya // 06.24 WIB.
"Mairah!! Bangun kau."
Gavin dengan logat bataknya berteriak di depan pintu kamar sang adik.
Brak.
Kening mulus Mairah berhasil mencium lantai meninggalkan rasa panas. Dengan posisi kepala di lantai dan kaki yang menggantung di tempat tidur Mairah sukses menjadi badut lawak abangnya yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
Gita datang tergopoh-gopoh dari arah dapur. "Ya Allah Mairah kamu gak papa dek?" Mairah meringis. Bibirnya mengerucut menatap sinis kearah Gavin.
"Aku gak papa kok Mbak."
"Ini juga Mas Gavin. Adeknya nyungsep malah di ketawain."
****** kau bang dimarahi ibu negara loh.
Mairah menjulurkan lidahnya mengejek Gavin yang mukanya mumpeng dimarahin mbak Gita.
"Kok Mas yang kena sih. Mairah kan--"
"Gak usah ngeles. Mas tuh ya masih pagi juga adeknya udah digangguin." Potong Gita. Tangannya berkacak pinggang.
"Habisnya.. habisnya.. anak cewek kok bangunnya siang." Gavin mencoba mencari pembenaran.
"Mairah baru datang kemarin sore Mas, mungkin dia masih capek."
Gita berbalik menatap Mairah yang masih menjulurkan lidahnya dengan tampang mengejek kearah Gavin.
"Aduh mbak kok aku di cubit." Gita mencubit pipi tembem Mairah. Yang dicubit malah merenggut, ia menggosok pipinya yang memerah dicubit Gita.
"Kamu juga dari tadi ngejek Abang mu. Dikira mbak gak tahu apa." Mairah meringis dengan cengiran tanpa dosa.
Gita itu tipikal ibu-ibu sejati. Siapa yang salah wajib dimarahi, tidak pernah pilih kasih.
Jika besok Gita jadi seorang ibu Mairah yakin kakak iparnya itu akan menjadi seorang ibu yang baik.
"Mending kamu mandi gih. Abis itu bantuin mbak di dapur."
Gita beralih menatap Gavin. "Bukannya Mas ada apel jam 9 nanti. Siap-siap gih nanti telat."
__ADS_1
Gavin berlalu ke kamarnya setelah berhasil menarik rambut panjang Mairah. Membuat sang punya rambut memberengut kesal dan Gita yang geleng-geleng kepala.
Suaminya itu memang suka jahil.
Setelah membersihkan diri dan berpakaian santai Mairah menghampiri Gita yang sedang berkutat dengan bumbu-bumbu dapur.
"Ada yang bisa Mairah bantu mbak."
Gita menoleh kearahnya dengan senyum manis.
"Kamu tumis kangkung sama goreng tempe aja. Mbak mau masak ayam kecap."
"Siap laksanakan."
Dengan cekatan Mairah mulai memotong bawang dan menumisnya. Setelah menyelesaikan masakannya Mairah dan Gita duduk lesehan di karpet ruang keluarga sambil berbincang santai.
Gita melirik jam dinding. "Udah jam setengah dua belas bentar lagi Mas Gavin pulang." Unjarnya.
Suara pintu dibuka menarik perhatian keduanya terutama Gita yang sedari tadi menunggu suaminya itu.
"Baru juga di omongin. Udah pulang aja sih Masnya." Balas Mairah dengan senyum menggoda.
Setelah memberi salam Gavin masuk kedalam rumah dengan wajah masam. Membuat tanda tanya besar di benak Mairah dan Gita.
“Adiba. Abang mau ngomong sama kamu!" Suara Gavin dingin bikin merinding sampai ke tulang sum-sum.
Susah payah Mairah meneguk ludahnya. Kalo panggilan keramat itu sudah keluar berarti abangnya itu sedang marah besar. Kedua abangnya, adeknya bahkan kedua orangtuanya kalo sudah memanggilnya dengan panggilan 'Adiba' berarti ia dalam masalah besar.
****** gue, bang Gavin marah. Gak marah aja abangnya itu udah nyeremin apalagi marah.
Takut-takut Mairah menatap Gavin "Mau ngomong apa bang?"
"Kamu kabur dari rumah!" Gita terbelalak mengetahui alasan Adik iparnya itu datang jauh-jauh ke Kalimantan.
"Benar itu dek?" Gita ikut bertanya. Mairah menunduk tidak menjawab membuat Gavin semakin meradang.
"Kamu itu sudah dewasa Adiba!! Gak perlu kabur-kaburan kayak anak kecil gini. Mama sama papa di jakarta khawatir nyariin kamu!!"
Gita terlonjak kaget mendengar bentakan suaminya.
"Kakak marah-marah gak jelas tanpa tanya dulu kenapa Adiba sampai kabur dari rumah!! Adiba tuh kesepian dirumah, mama sama papa selalu sibuk. Bang Zaki sama Adit jarang pulang ke rumah sedangkan kak Gavin sendiri dinas disini!! Adiba gak bisa curhat tentang perasaan Adiba. Adiba gak bisa kasih tahu seberapa tertekannya Adiba sama perjodohan egois mama sama papa. Tapi gak ada yang peduli sama Adiba. GAK ADA!!" Mairah berteriak memberi tahu segala unek-unek yang dirasakannya.
Ia tidak peduli kalo sampai tetangga mendengar teriakannya. Ia tidak peduli dengan gosip yang akan tersebar tentang kakaknya, ia tidak peduli. Hatinya sakit mendengar bentakan Gavin yang ia kira bisa mengerti alasannya kabur dari rumah bukan malah membentaknya.
__ADS_1
Dengan air mata yang mengalir deras tanpa bisa lagi ia bendung Mairah berlari masuk kedalam kamarnya untuk menangis sepuas-sepuasnya.
Gita menahan lengan suaminya yang hendak mengejar Mairah.
"Biarin dulu, jangan di susul. Mairah butuh sendiri." Unjarnya. Gavin menggenggam tangan istrinya yang sedari tadi mengelus tangannya.
"Mas yang salah udah bentak dia." Lirihnya.
Gita menggeleng membawa Gavin untuk duduk disopa santai ruang keluarga.
"Mas gak salah kok. Mas tadi cuma kebawa suasana." Tentu saja Gita tidak akan menghakimi. Ia tahu suaminya itu tidak berniat sedikitpun untuk membentak adiknya dan ia juga tidak menyalakan Mairah karena gadis itu memiliki alasannya sendiri.
Setelah masuk kedalam kamar yang ditempatinya selama tinggal dirumah dinas Gavin. Mairah menangis sejadi-jadinya hingga ia kelelahan dan tertidur.
Cukup lama Mairah tertidur hingga saat ia membuka mata dan menoleh keluar melalui jendela kamarnya langit sudah berwarna jingga menandakan hari sudah sore dan sebentar lagi gelap.
"Udah bangun dek?" Gita berdiri di pintu kamarnya membawa nampan dengan senyum manisnya.
Mairah bangkit mengubah posisi baringnya menjadi duduk bersandar pada kepala ranjang. Seketika kepalanya pusing membuatnya meringis memegangi kepalanya.
"Kamu sih kebanyakan nangis jadi pusingakan kepalanya. Nih mbak bawain obat sama makanan, kamu belum makan siang kan." Gita duduk ditepi ranjang Mairah, menyerahkan segelas air putih.
Mairah memang sering mengalami sakit kepala setelah menangis karena itu Gita sudah hapal betul adik iparnya membutuhkan obat dan makanan setelah energinya dia habiskan untuk menangis.
"Mairah bisa makan sendiri, mbak." Tolaknya saat Gita hendak menyuapinya.
"Ya udah kamu habisin buburnya. Itu Abang kamu loh yang buat."
Di tatapnya nanar bubur ayam ditangannya. "Abang Gavin kemana mbak gak kelihatan?"
"Abang kamu ada di ayunan belakang. Lagi galau dia abis marahin kamu." Kekeh nya. Memang setelah Mairah tertidur sehabis menangis, Gavin masuk melihat keadaan adiknya yang tertidur dengan mata sembab dan hidung memerah membuat suaminya itu kalang kabut merasa bersalah.
"Sampai nangis dia Mai liat kamu ketiduran dengan mata sembab."
Mairah sangat tertarik mendengar cerita Gita.
"Beneran mbak?"
"Gak percaya liat aja sendiri. Noh abang mu ada di taman belakang."
"Ngapain mbak?"
"Jualan cilok.! Yah mana mbak tahu Mairah." Gita jengkel. Mairah ngakak dibuatnya.
__ADS_1
Begitulah Mairah selera humornya anjlok.