
^^^
Dapur Rumah Satria //10.31 WIB.
Mairah dan Tante Anin mama Satria sedang berkutat di dapur, menyiapkan makan siang.
Tante Anin itu anak tunggal. Dan Om Adam papanya Satria itu anak nomor dua, punya kakak dan adek cewek.
Dari cerita yang Mairah dengar langsung dari Tante Anin, keluarga besar Satria itu berasal dari Jogja. Tante Anin dan Om Adam asli orang Jogja yang tinggal dan menetap di Bandung.
Dari cerita Tante Anin juga Mairah tahu kalo Satria itu tiga bersaudara dan ia anak tertua, Satria punya dua adik satu laki-laki dan satu perempuan. Raka yang seumuran dengan Mairah berpropesi sama seperti Satria yakni TNI, bedanya Raka mengambil Matra Udara. Dan Sisil adik bungsu Satria yang kata Tante Anin kerjaannya cuma minta uang sama nonton Drakor masih bersekolah kelas XII. Om Adam, papa Satria juga berprofesi seperti kedua anaknya yakni TNI Matra Udara satu Matra dengan Raka. Marsekal Adam Handoko dari Lanud Husein Sastranegara.
"Kalau urusan makan siang gini tante yang turun tangan sendiri. Punya anak cewek, masak air aja gosong apalagi mau masak nasi, bisa gosong satu rumah. Takut tante, pas nikah nanti dia dibalikin karena nggak bisa masak." Ucap Tante Anin, tangannya sibuk memotong daun sop dengan sangat tipis dan cepat.
Mairah mengangguk. "Jadi kalo masak tante sendirian?"
"Yah gitu. Tapi kalo di Bandung ada mbok Yem yang suka bantu."
"MAMA BINI SONG JONG KI PULANG!"
"Nah, itu anaknya." Ucap Tante Anin, matanya melirik kearah ruang keluarga. Mairah mengikuti arah mata Tante Anin, ia mendapati seorang remaja yang sedang di bekap Satria mulutnya.
"Namanya juga remaja Tan, saya juga senang banget sama drama." Sahut Mairah. Tangannya sibuk menggoreng ayam.
"Wih.. wih.. cwiwittt.. cewek godain aku yuk, nanti ta sun." Sisil datang dari arah ruang keluarga, bersender di pintu kulkas dengan tampang tengil. Bibirnya bersiul dengan mata yang tidak henti mengedip centil kearah Mairah.
"Nih sun dari mama." Bukan sun berupa ciuman yang Sisil dapat melainkan ketokan centong nasi yang mendarat di keningnya.
"Ih mama kok aku di ketok sih?" Protesnya memberengut tidak terima.
"Kamu sih gak punya pacar cowok, cewek di embat juga."
"Ye gak papa tahu ma. Itu salah satu bentuk sila ke tiga Pancasila ma."
"Mana ada suka sesama jenis, bentuk dari sila ke tiga. Sisil!" Anin pusing meladeni kebobrokan Sisil.
Mairah terkekeh melihat kelakuan Sisil yang persis mencerminkan kelakuannya sendiri.
"Siapa yang suka sesama jenis si ma. Mama kali ya?" Ceplosnya asal yang mendapat cubitan dari mamanya.
"Kangen mama." batin Mairah sedih.
__ADS_1
Biasanya pagi di rumah mereka akan diawali dengan cekcok antara Mairah dan mamanya. Persis seperti yang terjadi sekarang.
"PAPA! SISIL DI GEBUKIN MAMA." Gadis belasan tahun itu berteriak mengadu pada ayahnya yang sedang duduk di sopa ruang keluarga bersama Satria.
Teriakan Sisil menarik Mairah kedunia nyata.
"Enak aja, pitnah itu pitnah." Anin berseru heboh tidak terima atas tuduhan anak gadisnya yang tak mendasar.
Anin beralih kearah Mairah. "Ya ampun Mai, jadi nggak enak tante. Kamu baru datang udah di suguhin drama malu-maluin kayak tadi." Ucapnya merasa tidak enak.
Bukannya merasa risih Mairah malah tergeletak. "Nggak papa tante. Di rumah Mairah sama mama juga kayak gitu, bahkan kadang lebih para." Jelasnya. Tante Anin tersenyum lega.
"Iya ya. Kalo di pikir-pikir punya anak cewek itu hiburan tersendiri, kayak tadi bisa jadi partner berantem yang handal." Tawanya yang mengundang tawa Mairah.
Benar sekali, anak cewek itu pelita rumah.
"Asik banget kayaknya, lagi bahas apaan sih ma?" Satria datang, bersender di dinding dapur.
"Iya nih, dari ruang tamu sampe kedengaran tawanya." Om Adam ikut nimbrung, berdiri di samping Satria dengan Sisil yang berada di rangkulannya.
Mairah dan Tante Anin yang sedang menata meja makan hanya tersenyum.
"Nggak perlu tahu itu urusan antar wanita. Iya nggak Mai?" Mairah mengangguk sambil terkikik menyetujui ucapan Tante Anin yang sok misterius.
Om Adam dan Sisil mengangkat bahunya acuh. Sedangkan Satria memicing menatap penuh tanda tanya kearah Mairah.
"Jadi penasaran."
"Udahlah ayok makan." Om Adam Sisil, dan Satria digiring duduk di meja makan oleh Tante Anin. Mairah duduk di kursi samping Satria atas permintaan bapak satu anak itu.
Ngomong-ngomong tentang anak. Mairah belum melihat Kenzo semenjak datang tadi. Kemana anak itu? Pikirnya.
"Bunda.." belum sempat bertanya, teriakan bocah lima tahun itu menjawab pertanyaan.
Kenzo datang dengan bola di tangannya, yang ia lempar sembarangan saat melihat Mairah duduk anteng di meja makan.
"Bunda kapan datang, kok nggak nyariin Kenzo?" Kenzo merangkak hendak naik ke pangkuan Mairah yang langsung di ambil alih oleh Satria.
"Tadi bunda datang. Bunda nyariin Kenzo kok." Mairah mengelus kepala Kenzo yang ada di pangkuan Satria.
"Ayah. Kenzo mau duduk sama bunda."
__ADS_1
"Duduk sama ayah aja, bunda mau ambilin mamam." Jelas Satria. Tante Anin dan Om Adam saling berpandangan.
Mairah menarik piring Satria hendak mengisinya dengan nasi dan lauk.
"Mas mau aku ambilin apa?"
"Apa aja asal kamu yang ngambilin, aku makan kok." Sahut Satria dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.
Anin dan Adam yang sedari tadi menyaksikan interaksi antara Mairah dengan anak dan cucunya ikut tersenyum dengan hati yang memanjatkan doa. Ia berharap Mairah adalah pilihan yang tepat untuk anaknya.
Ya Rab, limpahi mereka dengan kebahagiaan.
Sisil, gadis itu sibuk dengan dunia nya. Suasana makan siang itu begitu hangat di isi dengan celotehan Kenzo dan cerita pengalaman Om Adam saat melakukan latihan satgas di Ambon bersama tim polri. Tak jarang Mairah dibuat terbahak-bahak mendengar ceritanya yang penuh dengan lelucon.
Mairah memang suka gitu kalo ketawa nggak mikirin imets.
Setelah makan, Mairah di ajak Tante Anin untuk keruangan tamu. "Tapi tante, piringnya belum di cuci."
Anin mengibaskan tangannya. "Biarin aja, biar Sisil yang cuci." Ucapnya santai.
Sisil yang hendak melangkah meninggalkan dapur, menghentikan langkahnya terpaksa. Kerah baju belakangnya ditarik oleh Anin.
"Mama kok Sisil ditarik-tarik, mama!" Sisil protes dengan posisi persis anak kucing yang hendak dikarungi.
"Kamu yang cuci piring." Perintah Anin tidak mau di bantah.
"Kok aku sih ma."
"Yang bersih ya sil." Meninggalkan Sisil yang merenggut kesal. Mairah di ajak Anin ke gazebo kolam depan yang sudah ada Om Adam dan Satria yang sedang duduk menikmati secangkir kopi.
Mairah duduk di samping Satria.
"Mama mana?"
"Katanya mau terima telpon dulu." Satria mengangguk.
Tidak lama Tante Anin datang menghampiri Satria dengan wajah gelisah.
"Sat.." panggilnya menggantung. "Tadi Yesi telpon, katanya Zoya kecelakaan dan meninggal saat di perjalanan menuju ke rumah sakit." Jelasnya.
Raut wajah Satria datar, rahangnya mengeras. Ia tidak berucap sepatah katapun sebelum akhirnya beranjak meninggalkan Mairah yang benaknya di penuhi tanda tanya besar.
__ADS_1
"Siapa Zoya? Apa hubungannya dengan Satria?"