
^^^
Kamar Satria lantai dua.
"Apa mas Satria masih mencintainya?"
"Dulu. Saya sangat-sangat mencintainya." Ucap Satria. Hati Mairah sakit mendengar kejujuran dari mulut duda yang sudah berhasil memperok-poranda hatinya itu.
Jujurmu bikin sakit, mas.
"Apa sekarang mas Satria masih mencintainya?" Tanya Mairah lagi memastikan kelanjutan akan hubungan mereka yang tidak ada kejelasan.
Mau marah bahkan cemburu ia tidak punya hak. Satria bukan siapa-siapanya.
Satria tidak menjawab. Tatapannya sandu, matanya menatap nanar bingkai poto ditangannya, di dalam lembar foto itu berisi laki-laki dan perempuan yang sedang bergandengan tangan di atas pelaminan.
"Kenapa.." jeda cukup lama, Mairah mencoba menguatkan hatinya membahas perempuan yang pernah dicintai Satria dan mungkin hingga sekarang nama Zoya masih melekat, terukir di hati seorang Ksatria Nagara Bhakti.
"Kenapa kalian pisah." Suara Mairah bergetar, matanya berkaca-kaca. Susah payah ia menyelesaikan kalimatnya. Entah Satria sadar atau tidak bahwa dari awal perasaannya sudah terbalaskan.
"Saya mengetahui sebuah pakta."
Flashback enam tahun lalu, saat Satria masih menikah dengan Zoya.
Satria melirik arloji yang melingkar di tangan kanannya. Jam 15.20 berarti istrinya sudah selesai kegiatan Persit. Hari ini Satria pulang cepat karena mendapat kabar dari Tari teman SMA sekaligus mantannya yang bekerja di rumah sakit. Kalo ia tidak sengaja bertemu istrinya yang sedang periksa di dokter kandungan, Tari tidak tahu hasilnya namun hanya dengan mendengar kabar itu cukup membuat Satria bahagia dan berharap lebih pada sang pencipta.
Satria masuk kedalam rumah bercat hijau pupus itu.
"Assalamualaikum." Salamnya namun tidak mendapat balasan.
Kakinya melangkah masuk kedalam rumah, mengecek dapur dan pintu belakang
rumah siapa tahu istri tercinta sedang mengangkit pakaian dari jemuran. Satria tidak menemukan Zoya dimana pun, mungkin istrinya itu masih kegiatan Persit pikirnya.
Satria masuk kedalam kamarnya, menanggalkan semua pakaiannya hendak membersihkan diri setelah berkeringat Seharian karena latihan. Setengah jam kemudian Satria merasa badannya lebih segar setelah membersihkan diri.
"Zoya. Sayang kamu udah pulang." Panggil Satria namun lagi tidak mendapat balasan.
Merasa ada yang janggal dengan istrinya yang belum juga pulang, Satria menjadi khawatir takut terjadi apa-apa.
Di sambarnya kunci mobil yang tergantung di dekat meja rias istrinya. Langkah Satria terhenti saat matanya tak sengaja melirik sebuah amplop putih dengan logo salah satu rumah sakit terkenal di Jakarta.
Di ambilnya amplop tersebut, membukanya dan mengeluarkan isinya. Kertas putih dengan kalimat yang di ketik oleh komputer menuliskan bahwa surat itu berasal dari dokter kandungan.
Satria terus membaca setiap kata yang tertulis disana. Air matanya jatuh tanpa diminta, tidak henti kalimat syukur keluar dari mulutnya.
Berterima kasih kepada Tuhan yang sudah memberinya berkah terindah dengan mendatangkan Zoya menjadi istrinya dan kini dengan pelantaran Zoya ia akan menimang seorang malaikat kecil yang di titipkan tuhan untuk keluarga kecilnya.
"Alhamdulillah Ya Allah, engkau telah memberikan kepercayaan kepada hamba. Alhamdulillah.. hamba bersyukur Ya Allah.." Isak tangis Satria terdengar memenuhi seisi kamar.
Ia begitu bahagia dan ingin sekali segera memeluk istri tercintanya.
Cling.
Sebuah notip pesan masuk.
__ADS_1
Cling.
Cling.
Lagi-lagi notip pesan masuk berurutan dari nomor tidak dikenal.
Satria mengusap wajahnya sebelum membuka ponselnya untuk melihat siapa yang mengirimkan pesan padanya.
Rahang Satria mengeras, matanya menatap nanar pesan yang di kirim oleh orang tidak dikenal. Tangannya terkepal erat meremas kertas putih ditangannya hingga lecek tidak berbentuk.
Dengan tergesa-gesa Satria berlari menuju mobilnya. Sangking buru-burunya ia sampai lupa menutup pintu.
Sertu Heru yang lewat, menyapa terkena imbasnya.
"Sore Dangki."
Satria yang baru masuk mobil menoleh kearah Heru. "Heru titip rumah saya. Jangan ditinggal." Pintanya sekaligus perintah bagi anak buahnya.
"Siap komandan."
Mobil yang Satria kendarai melaju keluar
dari lingkungan kodam. Dengan ugal-ugalan Satria mengendarai mobil tersebut, tangannya terkepal kuat mencengkeram kemudi mobil. Jika pesan yang ia terima berasal dari orang iseng dan hanya prank semata, ia bersumpah akan menghabisi siapa pun orang yang berani mengirimkan pesan tersebut.
Mobil milik Satria melaju membela jalan kota Jakarta disore hari. Mobil putih itu berhenti didepan sebuah cafe ternama di dekat alunalun kota. Edelweis Cafe tempat paporit dan langganan istrinya, Zoya.
Satria setengah berlari turun dari mobil dan masuk kedalam cafe.
Ting.
Pandangan Satria menilik Setiap sudut cafe mencari orang yang menjadi alasan ia kebut-kebutan datang kemari.
Disana. Di meja nomor tujuh, tepat di sudut kanan cafe yang berdampingan dengan jendela tengah duduk seorang wanita dan pria yang juga menatap kearahnya. Sepasang mata milik wanita itu menatapnya dengan tatapan terkejut dan sang pria tampak santai bahkan dari tempat Satria berdiri ia dapat melihat senyum mengejek dari orang yang sudah ia anggap kakaknya itu.
Kaki Satria melangkah mendekati meja kedua pasangan tersebut, tatapannya dingin dengan tangan terkepal.
Bug.
Tanpa ba-bi-bu di layangkannya satu bogaman mentah kearah wajah tampan Max sepupunya, di barangi dengan umpatan yang keras.
"Brengsek loh bang! Tega loh sama gue!!"
Bug.
Lagi.
Satu bogaman menghantam wajah Max yang terkapar dilantai, tidak berniat membalas. Para pengunjung cafe berkerumunan menyaksikan pertikaian yang terjadi.
Zoya yang melihat Satria mengamuk memukul Max tanpa henti berteriak meminta orang-orang untuk melerainya. Namun tidak ada yang berani mendekat.
"Mas. Udah mas! Mas Satria." Susah payah Zoya menarik Satria untuk menghentikan aksinya.
Zoya meringis menatap max yang terkapar dilantai dengan wajah babak belur.
"Kita pulang." Ajaknya menarik tangan Satria meninggalkan Max dan kerumunan orangorang yang mulai membubarkan diri."
__ADS_1
Selama perjalanan pulang menuju rumah dinas Satria, Zoya hanya diam pandangan menatap keluar jendela. Mobil berhenti didepan rumah dinas Satria dengan Heru yang menyambut kedatangan mereka.
"Sore, Bu Dangki." Sapanya pada Zoya yang diabadikan.
Satria menepuk bahu Heru. "Makasih ru. Loh bisa pulang sekarang." Heru mengangguk lekas berpamitan lalu pergi.
Satria masuk kedalam rumah menyusul istrinya.
"Kamu ngapain." Bentaknya marah merampas pakaian dari tangan Zoya.
Istrinya itu sedang mengemasi semua pakaiannya kedalam koper.
"Aku minta kita pisah."
Mata Satria melotot. "Maksud kamu apa? Aku nggak bakal cerain kamu."
"Pokoknya aku minta kita pisah. Dari
awal hubungan ini memang salah. Nggak seharusnya kamu nikahin aku." Zoya dengan keras kepalanya ngotot meminta Satria untuk menceraikannya.
"Aku nggak akan menceraikan kamu, karena kamu sedang mengandung anak aku."
Zoya diam, tidak mampu menjawab lagi.
"Aku nggak cinta sama kamu dan aku nggak mau anak ini!!" Zoya berteriak lepas kendali memukul-mukul perutnya yang masih rata.
Satria yang tidak menyangka dengan apa yang dilakukan istrinya menarik paksa tangan Zoya agar berhenti memukul perutnya karena itu bisa membahayakan calon bayinya.
"Kamu gila! Kamu bisa bunuh anak kita Zoya!!" Bentak Satria.
"AKU NGGAK PEDULI. SEKARANG KAMU PILIH CERAIKAN AKU ATAU KEHILANGAN ANAK KAMU!!"
"Baiklah. Kita pisah."
Pinal. Hanya tiga kata, semuanya hancur. Semuanya berakhir, kisah yang orang pikir akan berakhir bahagia hancur sudah.
Flashback end.
"Itu alasan kenapa saya pisah sama Zoya. Dan alasan Kenzo yang mengira bundanya sudah nggak ada."
Mairah diam mendengarkan Satria yang menceritakan kisahnya.
"Berbulan-bulan selama masa kehamilan Zoya. Saya berusaha membujuk dia membatalkan niatnya untuk pisah dari saya, namun Tuhan berkehendak lain. Sesaat setelah Kenzo dilahirkan Zoya memberitahukan keputusannya, membuat orang tua saya dan orang tua Zoya kecewa akan keputusan sepihak Zoya yang tidak memikirkan sedikitpun tentang Kenzo. Setelah ucapan Zoya itu, saya tidak pernah lagi melihatnya hingga sekarang. Ia tidak sedikitpun ingin berkunjung untuk melihat Kenzo atau bahkan menanyakan kabarnya." Satria menunduk, tangannya terkepal.
Mairah yang melihat tangan Satria terkepal di genggamnya tangan itu dengan penuh sayang. Mencoba memberi tahu bahwa itu semua sudah berlalu.
"Mami Tita yang mendengar keputusan Zoya syok sampai masuk rumah sakit, alasan Zoya minta pisah itu karena ia mau balikan lagi sama Max." Jeda, Satria terdiam begitu juga Mairah yang bingung harus beraksi bagaimana.
Baginya cukup menjadi pendengar yang baik tentang kisah Satria bisa sedikit mengurangi beban bapak satu anak itu.
"Satu bulan, saya dan Zoya resmi bercerai dengan hak asuh jatuh ketangan saya. Entah apa yang dilakukan Om Julio dan Papa Zandoko hingga perceraian dalam militer bisa terjadi." Jelas Satria, tatapannya sandu menatap gadis berkerudung yang duduk disampingnya.
"Berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkan saya. Mairah." Ucap Satria, matanya memancarkan harapan yang besar.
Mairah menggenggam kedua tangan Satria, mencium punggung tangannya bergantian.
__ADS_1
"Aku nggak akan pernah lepasin dan ninggalin kamu Mas. Kecuali, kamu sendiri yang minta aku untuk pergi baru aku akan lepasin kamu." Janji Mairah.