Tentang Kita

Tentang Kita
Part 01.


__ADS_3

Vania dan hari Senin memang bukanlah perpaduan yang menarik. Bangun kesiangan, datang ke sekolah terlambat, dilanjut upacara. Hari Senin sama saja dengan kesialan Vania. Kalau berhasil masuk sebelum waktu bell berbunyi alhamdulillah, tapi kalau bell masuk sudah terdengar dan Vania telat lebih dari 5 menit ya wassalam.


Hari ini bisa dibilang salah satu keberuntungan Vania, karena tadi saat ia menginjakan kaki di sekolah saat itulah bell masuk baru berbunyi dan Vania lolos dari para guru yang berjaga piket.


"Lagian kenapa sih, lo bisa kesiangan terus?" Tita tampak melepaskan almamaternya. Sehabis upacara dan berdesak-desakkan dengan siswa siswi lainnya memang membuat badan menjadi gerah.


"Kan lo tau sendiri, jadwal gue kalo hari libur itu streaming atau nonton youtube sampe malem. Sayang kuota midnight kalau nggak dipake," balas Vania.


"Makanya kalau beli kuota tuh, jangan yang ada midnightnya."


Vania hanya mengangguk, lalu ikut melepaskan almamater yang dipakainya. Vania langsung merasakan udara dingin yang keluar dari penyejuk ruangan yang ada di ruang kelas Vania.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," kata seseorang melalui pengeras suara, "mari teman-teman kita membaca surah An- Nahl ayat 30."

__ADS_1


Oh sudah waktunya untuk tadarus ternyata. Murid-murid pun mulai mengeluarkan Al-Qur'an mereka masing-masing.


"Bismillahirrahmanirrahim," Suara itu mengalun indah, dan entah karena apa Vania terhanyut untuk mendengarkan suara itu. Tentu tidak lupa untuk mengikuti setiap kalimat yang dia dengar dari pengeras suara seraya membaca Al-Qur'an miliknya.


Vania harus mengakui bahwa selain terdengar merdu, orang yang membacakan Qur'an kali ini sangat fasih dalam membacanya. Tidak seperti siswa lain yang akan membaca sekadarnya saja. Vania sendiri bukanlah orang yang terlalu baik dalam membaca Al-Qur'an. Panjang pendek masih bisa diperhatikan. Tapi untuk membacanya semerdu itu? Vania tidak yakin.


"Shadaqallahul 'azhim." Orang itu mengakhiri bacaannya.


Tadarus pun selesai. Vania hanya bisa menahan rasa penasaran akan siapa yang tadi memimpin tadarus. Serius deh, Vania benar-benar penasaran. Kalau bertanya dengan Tita, kira-kira dia tau nggak ya?


"Kenapa emang? Lo suka ya?"


Suka? Emang segitu kelihatannya, ya? Dibilang suka, sih, ya Vania suka mendengar suaranya. Tapi, kan, Vania belum melihat wujud orang itu. Kalau dalam bayangan Vania, sih, kayaknya yang baca Al-Qur'an tadi tuh good boy deh. Soalnya cara baca Al-Qur'annya itu fasih banget. Bisa jadi yang tadi membaca Al-Qur'an itu anak Rohis, kan?

__ADS_1


"Ish, apaan sih," kata Vania, "gue tuh suka aja denger suaranya tadi!" Ini bener lhoo, Vania cuma suka sama suaranya aja. Kalau sosoknya tampan dan manis baru, deh, Vania mau menjatuhkan hatinya untuk orang itu.


Eh, tapi serius. Vania penasaran Maksimal ini.


"Kalaupun lo suka ya nggak papa, sih." Tita lalu membuka ponselnya. Menggeser-geser layar, lalu mengetikkan sesuatu di layar ponsel.


"Nih orangnya," kata Tita sambil menunjukkan salah satu postingan instagram kepada Vania, "namanya Gamma. Anak kelas sebelas."


Anak kelas sebelas? Berarti kakak kelasnya dong?


"Ta, kirimin profil akunnya kak Gamma ke gue dong."


Dan sejak mendengar suara Gamma tadi, sepertinya hari Senin sudah bukan suatu kesialan lagi buat Vania.

__ADS_1


Emm ... Gamma ya ... Kok cakep sih?


Tbc....


__ADS_2