Tentang Kita

Tentang Kita
Part 06.


__ADS_3

Vania masuk ke dalam kelas dengan binar kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya. Ya iyalah, bahagia, wong tadi dia ketemu kak Gamma. Bahkan ngobrol sama kak Gamma. Ya memang, sih, mereka nggak ngobrol berdua. Tapi kan tadi Vania berdekatan dengan kak Gamma. Dia jadi tau, kalau kak Gamma terlihat semakin tampan berkali-kali lipat kalau dilihat dari dekat.


Ah, Vania bisa deh lama-lama berdekatan dengan kak Gamma.


Jadi, kepingin bawa kak Gamma pulang, hehe.


Tita yang melihat sikap Vania hanya mengernyitkan dahinya bingung. Ada apa dengan temannya yang satu ini? Bahkan Tita sempat berpikir bahwa Vania kesambet jin penunggu sekolah. Soalnya makin aneh saja tingkahnya.


"Ta, lo tau nggak?" Masih dengan senyuman yang menurut Tita gaje, Vania bertanya.


"Nggak." tukas Tita. Ya, lagian aneh, kan. Emang Tita tau apa? Orang Tita nggak tau apa-apa.


"Ish, lo mah. Tunggu bentar napa, kan gw belom ngomong."


Tita memutar bola matanya, "Ya udah, ngomong cepet. Kenapa?"


Vania cengegesan, terus senyum-senyum gaje lagi. Tita jadi yakin deh, kalo Vania bener-bener kesambet jin.


"Tadi, tuh, gue ketemu kak Gamma. Bahkan gue sempet ngomong sama dia. Ya Allah, Ta, ternyata kak Gamma makin cakep kalo diliat dari deket. Ah, kan, Makin suka gue sama dia."


Oalah, jadi karena Gamma toh Vania jadi kayak gini. Eh, tapi Tita heran, kok cuma karena ngobrol doang Vania bisa sesenang ini? Apa emang setiap orang jatuh cinta gitu, ya?


"Terus?" Tita bertanya. Dan akhirnya Vania menceritakan kejadian tadi saat ia bisa bertatap muka dengan Gamma.


********


Satu jam pelajaran menuju bell berakhirnya sekolah berbunyi. Tapi, satu jam itu terasa begitu lama sekali seperti satu abad lamanya.


Vania mendengarkan Pak Agung yang sedang menjelaskan materi di depan kelas. Sekarang adalah jam pelajaran produktif untuk akuntansi dasar.


Tapi Vania merasa bodo amat dengan pelajaran yang satu ini. Selain karena nanti pelajaran itu tidak akan dipelajari lagi saat ujian kelulusan nanti, Bidang yang Vania ambil juga bukan jurusan Akuntansi.

__ADS_1


Vania nggak akan mau repot menghitung uang yang bukan miliknya. Mana uangnya ga berbentuk lagi.


Kalau ada tugas akuntansi, Vania malah tenang-tenang saja karena ada Tita. Mana Pak Agung baik banget lagi. Sumpah ya, pak Agung itu wujud dari dewa maha baik. Tugas nggak akan ditagih, kecuali saat akan ada ulangan semester.


Kalau nilai ulangan jelek? Ya tinggal remedial. Pokoknya Pak Agung itu guru super baik dan ramah, deh. Nggak seperti guru-guru lainnya. Tapi beda lagi kalau masalah uang kas yang nggak lunas-lunas. Entah dia wali kelas atau bukan, dia akan meminta laporan bendahara. Dan kalau ada yang nunggak terus, langsung dijewer telinganya.


Kemudian Pak Agung memberikan tugas yang harus di salin di buku besar, itu lhoo buku wajibnya anak akuntansi. Vania nggak tahu apa nama bukunya, tugasnya ngapain pun nggak tau. Pokoknya bukunya beda sendiri deh, ini buku yang gede kayak buku buat mencatat kas di kelas.


Vania menutup bukunya saat Pak Agung izin keluar dari kelas terlebih dahulu. Walaupun Vania tau bahwa tugas ini harus dikumpulkan saat bell pulang nanti, tapi lagi-lagi Vania merasa tidak peduli.


Pak Agung baik, kok. Bisa besok ngumpulin tugasnya, hehe. Itu juga kalau Vania ingat.


"Ta," Vania menyenggol pelan lengan Tita. Padahal Tita sedang asik mengerjakan tugasnya.


"Pulang sekolah ke toko buku, yuk. Lagi ada diskon tau. Murah-murah lagi harga bukunya." Mendengar ucapan Vania, Tita langsung menghentikan kegiatan menulisnya.


"Eh, serius? Diskon berapa emang?"


"Nggak tau sih diskon berapa, yang gue liat di-ig, sih, up to 50%. Tapi ada juga novel-novel terbitan lama, harganya dimulai dari sepuluh ribuan, Ta."


"Seriusan? Ya udah, ayo. Nanti langsung aja, ya, kita pesen taksi online dari sini. Atau mau naik transportasi lain?"


Tuh, kan, Tita semangat banget kalau ngomongin buku dan sebangsanya.


"Naik taksi online ajalah, males naik yang lain. Tapi pake diskon, biar murah."


Tak lama bell berbunyi, berarti kegiatan sekolah untuk hari ini berakhir. Vania dan Tita membereskan peralatannya kemudian dimasukkan ke dalam tas. Lalu beranjak pergi meninggalkan kelas.


Saat menunggu taksi online pesanan Tita, tiba-tiba bahunya ditepuk dari arah belakang. Lalu Vania menoleh, dan mendapati duo R di belakangnya.


"Eh, kalian berdua. Kenapa? Kok, tumben kalian akur?"

__ADS_1


Raina mendengus, enggan menoleh pada Rangga. "Gue akur sama dia? Deket-deket dia aja gue ogah!"


"Yee, kutil badak. Siapa juga yang mau akur sama lo!" Rangga balik mencibir Raina. Emang ya, mereka tuh susah banget buat akur. Ribut mulu kerjaannya.


"Kalian mau kemana?" Raina bertanya pada Tita dan Vania.


"Kita mau ke toko buku nih, kalian berdua mau ikut?" Vania bertanya kepada duo R. Siapa tau mereka ingin ikut, jadi patungan taksi online-nya semakin murah,kan?


Hanya Raina yang menganggukkan kepalanya, sedangkan Rangga memilih untuk tidak ikut ke toko buku katanya, "Males, ah, ke toko buku bareng anak alay kayak kalian."


Sialan, memang.


******


Vania, Tita, dan Raina akhirnya sampai di toko buku terdekat setelah melewati 30 menit waktu perjalanan. Sesampainya mereka di sana, mereka langsung menuju stand yang menyediakan obralan buku-buku murah. Biasanya standnya terletak di halaman parkir. Tapi sekarang tempatnya berubah, menjadi tepat di halaman depan pintu masuk toko buku tersebut.


Harganya bervariasi, mulai dari harga sepuluh ribu rupiah, sampai tiga puluh ribu rupiah.


Kesempatan seperti ini mana boleh disia-siakan. Memang, sih, kebanyakan novel yang dijual di obralan seperti ini novel-novel terbitan lama. Tapi, banyak juga kok novel-novel yang bagus. Jadi sayangkan kalau dilewatkan?


Saat sedang asik-asik mencari novel yang menarik Vania melihat sosok siluet yang sangat dikenalinya. Sosok itu tinggi, menggunakan jaket berwarna hitam dengan celana abu-abu khas murid SMA. Sosok itu saat ini tengah membelakanginya.


Tunggu, itukan kak Gamma. Vania yakin itu pasti kak Gamma, soalnya sejak pertama kali bertemu dengan dia sejak itu pula Vania sangat mengenali kak Gamma.


Baru saja Vania ingin menghampiri sosok itu, tapi kak Gamma sudah lebih dulu pergi ke arah kasir. Lalu tak lama seorang perempuan ikut menghapirinya.


Perempuan itu siapanya kak Gamma?


A/N : Guys, kalau kalian suka sama ceritanya kasih like and comment yaa....


Thanks😊

__ADS_1


__ADS_2