Tentang Kita

Tentang Kita
Part 05.


__ADS_3

Happy Reading^^


Saat ini Vania sedang berada di kelas, matanya sibuk memperhatikan papan tulis. Di sana, Bu Ida sedang menjelaskan materi logaritma yang sampai saat ini belum Vania mengerti.


Lalu sesekali pandangannya jatuh pada jam dinding yang berada beberapa centi di atas papan tulis. Waktu menunjukan pukul sebelas. Masih ada satu jam lagi sampai istirahat kedua.


Huft, masih lama.


Vania benar-benar sudah bosan mendengarkan materi yang disampaikan oleh Bu Ida. Percuma, Vania tidak akan mengerti.


Entah karena otaknya yang bodoh, atau memang Bu Ida yang menyampaikan materi bikin orang mengantuk. Angka-angka yang berjejer di papan tulis membuat kepala Vania semakin pusing saja.


Vania meletakkan wajahnya pada pangkuan tangannya, celotehan-celothan Bu Ida tak lagi didengar. Satu hal yang Vania inginkan, jam belajar lekas berakhir.


"Karena setelah ini ibu ada keperluan sebentar, kalian lanjutkan dengan mengerjakan tugas yang ada bab ini ya, halaman 75. Saat bell istirahat, kumpulkan tugasnya di meja ibu."


Tuhan seperinya mengabulkan doa Vania, karena setelah mengatakan itu, Bu Ida menutup bukunya dan lekas keluar dari kelas. Entahlah, Vania tidak mau pusing dengan urusan Bu Ida, yang penting saat ini kelas free untuk satu jam kedepan sampai istirahat.


Vania kembali memikirkan rencananya untuk ikut mendaftar OSIS. Tapi bagaimana, ya? Seakan nampak efek lampu di atas kepalanya. Vania mendapat ide. Vania memutar badannya ke belakang, tempat dimana Raina duduk.


"Ran," kata Vania seraya menepuk pelan lengan Raina yang ada di atas meja. Raina mengangkat kepalanya ke atas, karena sedari tadi dia sibuk mengerjakan tugas. Tidak seperti Vania.


"Lo katanya mau daftar jadi OSIS, kan?"


Raina mengangguk, "iya, kenapa?"


"Gue juga mau ikut dong, gimana daftarnya?"


Raina membulatkan matanya kaget, yakin Vania mau daftar menjadi anggota OSIS? Nggak salah nih? Kesambet apaan tuh anak? Raina langsung menempelkan punggung tangannya pada kening Vania.


"Van, lo baik-baik aja, kan? Nggak salah makan tadi pagi? Nggak kesambet jin iprit, kan?"


Vania hanya menggeleng-gelengkan kepalanya bingung. Setelah mendengar omongan Vania, kok Raina jadi kaget begini sih? Padahalkan niat Vania ikut OSIS itu baik lho, biar jadi anak rajin. Biar pinter plus biar bisa ketemu kak Gamma.


"Ih, gue serius, Raina!" Vania gregetan, orang lagi serius juga malah diajak bercanda.


"Ya, gue kaget lah Van, orang kayak lo mau ikutan OSIS. Jawab jujur sama gue, lo kesambet apaan?"


Astaghfirullahaladzim. Niat baik malah dibilang kesambet. Dasar teman lucknut.

__ADS_1


"Yaudah gini aja, kalo lo serius mau ikutan OSIS ayuk bareng gue. Nanti kita ke ruang OSIS minta formulir pendaftarannya."


Vania pun mengangguk-anggukkan kepalanya penuh semangat. Bayang-bayang untuk bisa berdekatan dengan kak Gamma semakin besar di pelupuk matanya. Tentu saja dia akan menggunakan kesempatan emas ini.


"Cewek males kayak lo, jadi anggota OSIS? Mau jadi apa sekolah kita ini. Ckckck ... " sindiran Rangga mengaburkan bayangan yang ada di kepala Vania. Lalu gadis itu menatap Rangga dengan tatapan sinis.


"Suka-suka gue, sih, orang cantik mah bebas." Lalu Vania mengibaskan rambutnya sambil membuang pandangannya dari Rangga.


Enak saja cowok itu mengatai Vania malas. Sudah tau itu benar.


**********


Bell istirahat kedua sudah berbunyi. Tidak seperti istirahat pertama yang hanya 20 menit, waktu istirahat kedua sangat panjang, yaitu satu jam. Dari jam dua belas siang sampai pukul satu nanti.


Biasanya para murid menggunakan waktu istirahat untuk sholat dzuhur berjamaah. Tidak seperti Vania yang lebih memilih untuk melarikan kakinya ke arah kantin, dan memesan kentang goreng dan es teh manis.


Alasannya karena ia lapar tentu saja. Saat menghadap sang Khalik kita itu harus Khusyuk, kalau kelaparan Vania tidak akan bisa berkonsentrasi dalam menjalankan ibadah. Jadinya nggak khusyuk deh. Lagipula, mushola saat ini pasti ramai, tempat wudhu apalagi. Vania malas berlama-lama dalam antrian, nanti saja saat sudah lebih senggang.


Yeah ... alasan akan tetap menjadi alasan.


Oh ya, saat ini Vania sedang tidak bersama Tita. Tita sedang menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim di tempat ibadah. Tentu saja sifat Tita selalu berkebalikan dengan Vania.


"Jadi lo bener-bener serius mau jadi anggota OSIS?" Tanya Raina seraya mengambil potongan kentang dan menyuapkan ke mulutnya.


Sedangkan yang ditanya hanya mengangguk-anggukkan kepala. "Eh, Ra. Rangga kemana?"


Dilihatnya Raina mencibir mendengar pertanyaan Vania. "Kenapa nanya sama gue? Lo kangen sama tuh anak?"


Kali ini giliran Vania yang mencibir, "Najis gue kangen sama tuh anak. Lagian kan biasanya dia ngintilin lo terus."


"Lagi sholat kali, tadi gue liat dia ke mushola."


Vania hampir tersedak mendengar ucapan Raina. "seriusan? Seorang Rangga sholat?"


Lalu setelahnya Vania mendapatkan jitakkan di kepalanya, ternyata Rangga datang dari arah belakang. "Gini-gini gue masih beriman, emangnya lo."


Rangga tuh lama-lama sudah kayak jalangkung ya, kedatangannya tak diundang dan diketahui.


"Ih, gue tuh bukannya nggak mau sholat. Tapi, emang lagi nggak sholat tau!"

__ADS_1


"Lagi nggak sholat apa emang males?"


Rangga mendapatkan pelototan plus pukulan keras di lengannya.


Mampus! Rasain tuh!


*********


Sehabis istirahat di kantin, Vania dan Raina langsung menuju kembali ke ruang OSIS. Mereka ingin langsung memberikan formulir pendaftaran yang sudah mereka isi. Untungnya tadi Raina membawa pulpen di kantongnya. Jadi mereka bisa langsung menyerahkan formulir tersebut setelah selesai mengisinya.


Oh iya, ruang OSIS itu berada di lantai 2 tepat saat berbelok kanan di sebelah tangga. Dan sekarang Mereka berdua sudah sampai di depan pintu ruang OSIS.


Raina mulai mengetuk pintu pelan, "permisi kak."


Tak lama, suara kenop pintu dibuka, memunculkan sosok yang membuat Vania gugup saat melihat wajahnya. Di depannya, Kak Gamma memasang senyuman manis.


Ini beneran kak Gamma? Kok lebih cakep kalau ngeliat langsung, sih.


Asdfghjkl- ah, Vania ingin berteriak saja rasanya.


Kak Gamma itu tinggi, kira-kira tinggi badan Vania hanya mencapai pundaknya saja. Sedangkan tinggi Vania sendiri itu 158 cm. Bayangin sendiri saja, deh, tinggi kak Gamma berapa.


Dan badannya kak Gamma itu, minta banget buat dipeluk. Seakan-akan menggoda Vania untuk segera mendekapnya erat.


"Oh, kalian yang mau daftar OSIS, ya?" Pertanyaan kak Gamma menyentak Vania. Menyadarkannya dari segala bayangan yang ada di pikirannya.


"Iya, kak. Ini formulirnya." Vania segera menyerahkan dua lembar formulir yang dia pegang kepada Gamma.


"Kalau boleh, gue boleh minta nomor kalian? Atau kalian catet nomor gue aja dulu, nanti PC gue aja, ya. Biar gue masukin ke grup OSIS."


Setelah Gamma menyebutkan nomornya, dan Vania dengan semangat 45 memasukkan nomor Gamma dengan nama kontak soon to be pacar di ponselnya.


"Nanti kalian pc gue aja, ya." Lagi Gamma memberikan senyuman yang bisa memporak-porandakan akal sehat Vania.


"Iya, kak. Kalau gitu kita permisi dulu mau ke kelas. Thanks ya, kak." Vania masih ingin berlama-lama disini dengan kak Gamma, tapi Raina langsung menarik tangannya dengan tidak manusiawi.


Ah, Tita harus tau hal ini!


A/N : Gamma sudah muncul, Vania kayaknya udah mulai melancarkan serangan-serangan bucinnya deh wkwk.

__ADS_1


__ADS_2