
Happy reading ^^
Pagi-pagi seperti ini Vania sudah melihat wajah kusut Tita. Apa jangan-jangan karena semalam ya? Kok Tita dendaman banget sih sama teman? Kalau Tita masih marah sama Vania dan tiba-tiba mengamuk karena melihat Vania bagaimana? Duh, Vania jadi takut nih.
Tidak! Tita tidak mungkin sejahat itu sama Vania, kan? Tita sahabat yang baik kok suer, deh. Cuma emang Vania aja yang rada gak tahu diri.
"Ta, lo enggak marah kan sama gue?" tanya Vania dengan pelan, "masa cuma gitu doang lo marah sih."
Gitu doang ... cuma gitu doang katanya. Tapi yang cuma gitu doang yang bikin kesal. Tita saja sampai heran kenapa sampai sekarang dia masih mau berteman dengan Vania. Ngeselin banget padahal tuh anak.
"Ta ..." Vania merajuk, menyenggol pelan lengan Tita membuat Tita menoleh ke arahnya.
"Apaan?" Ini pendengaran Vania yang bermasalah atau enggak sih? Kok Tita masih ketus aja ngomongnya?
"Maafin gue deh, enggak lagi-lagi kayak gitu." Trik terakhir, merajuk dan menunjukkan puppy eyes-nya. Dijamin Tita pasti luluh.
Tita mendengus. "Hm ... gue maafin."
Yes. Maaf sudah di tangan, jadi Vania masih bisa dong minjem akun instagram Tita.
"Ta, berarti gue boleh kan pake akun lo?"
"Serah."
Asik. Sekarang waktunya stalking kak Gamma lagi, Vania langsung mengeluarkan ponselnya, membuka akun Tita lalu mengetikkan beberapa huruf pada kolom pencarian di instagram. Dan langsunglah terpampang profil kak Gamma.
But wait ... di sana ada satu foto yang baru diposting. Foto itu adalah foto kak Gamma dengan seorang cewek, lengan kak Gamma merangkul bahu cewek itu. Vania tidak begitu mengenali cewek itu. tapi sepertinya mereka masih di satu sekolah yang sama. Dipost sekitar beberapa jam yang lalu, berarti saat tengah malam.
Tapi kira-kira, siapa cewek itu?
Saat Vania masih asik dengan pemikirannya, di depan kelas sudah terdengar ribut-ribut. Biasa. Pasti si Duo R.
"GUE DULUAN YANG MASUK!" Suara cempreng Raina mulai terdengar. Di sana terlihat Rangga dan Raina sedang berada tepat di depan pintu. Tubuh mereka saling berhimpitan, ditambah dengan tas yang mereka bawa.
"Gak! Gue duluan yang dateng juga!"
Wong edan. Masuk kelas aja pakai rebutan. Vania tuh kadang heran sama couple duo R itu. Mereka tuh ribut terus, kan jadi pengeng nih kuping dengernya.
__ADS_1
"LO NGALAH KEK SAMA CEWEK!"
"Gak! Ngapain gue ngalah sama cewek kayak lo!"
Tuhkan, mereka tuh kalau ngomong emang suka pakai urat. Padahal lebih enak pakai telor, apalagi sambalnya yang banyak.
"RANGGA, ISH. GUE MAU MASUK!"
"Gue juga, emang lo doang. minggir sono babon."
Wah, Rangga mulutnya jahat banget. Yakin deh yakin, pasti sebentar lagi kepalanya Rangga kena sasaran empuk pukulan Raina. Tinggal hitung mundur aja.
Tiga...
Dua...
Satu...
PLAK.
Kan benar, untung saja sih bukan kepala yang kena, tapi bahu. Tetap saja pasti sakit, bunyinya sampai nyaring begitu sih.
Rangga menghampiri Raina, "Na, maaf Na. Gak sengaja." Raina menghindar dan langsung duduk di bangkunya. Sebenarnya saat ini Raina tuh malas buat duduk sama Rangga, tapi yaudahlah. Raina hanya akan mendiamkan Rangga, masih sebel nih soalnya.
Terlepas dari duo R yang lagi berantem, Vania sendiri lagi galau nih. Tiba-tiba kepikiran sama cewek yang ada dipostingan kak Gamma, itu siapa ya?
Apa jangan-jangan kak Gamma udah punya pacar ya?
Eh, masa sih itu pacarnya kak Gamma?
*************
"Ta liat deh, itu kak Gamma!" Seru Vania sambil menepuk-nepuk lengan Tita kencang saat melihat Gamma sudah berada di ujung koridor. Sepertinya Gamma baru saja berolahraga, terlihat dari pakaian yang dipakainya, juga dari wajahnya yang penuh keringat.
Kalau keringetan gitu, kok, jadi makin cakep ya?
"Ya terus kenapa?"
__ADS_1
Vania heboh sendiri saat melihat Gamma, terlihat dari wajahnya yang berseri-seri.
"Ta, mereka mau ke kantin tuh. Yuk kita ikutin!" Vania jalan terlebih dahulu dengan langkah yang lebih cepat. Padahal tanpa harus mengikuti Gamma, tujuan awal mereka memang ingin ke kantin, kan?
Sedangkan Tita hanya mengikuti dari belakang, enggan untuk menambah kecepatan langkahnya. Ngapain juga, bikin capek aja.
Kantin sekolah berada di ujung koridor lantai dasar, dekat dengan toilet. Sedangkan kalau ingin menuju musholla, cukup berbelok kanan. Jadi jaraknya berdekatan, sehingga memudahkan siswi yang ingin mengambil wudhu. Juga memudahkan siswa yang bolos untuk alasan sholat -bagi-yang-belum-sholat, lalu membelokkan diri ke kantin setelahnya.
Vania langsung mengambil posisi di warung Bu baks, kali ini memesan bakso 2 porsi, sedangkan Tita yang membeli minum.
"Bu, tambahin masako dong," kata Vania saat tangannya hendak menerima mangkuk bakso miliknya.
"Tambahin sendiri, noh, tiati tar kebanyakan micin jadi bego dah lo."
Ia hanya bisa mencibir mendengar balasan Bu baks. Seorang Vania bego? Hello, udah dari sananya kali.
Lalu Vania menerima mangkuk keduanya dan meletakkan kedua mangkuk yang berisi bakso itu ke meja yang berada didekatnya. Tak lama Tita muncul dengan 2 gelas es teh manis.
"Ta, kok gue nggak ngeliat kak Gamma ya? Perasaan tadi dia ke kantin, deh." Vania celangak-celinguk mencari keberadaan Gamma yang tidak ditemukan oleh inderanya.
"Tadi sih, gue liat dia di warung teh Ita. Lagi beli mie kayaknya." Balas Tita sambil mengaduk-aduk kuah baksonya.
"Yah, kalau tau kayak gitu, tadi kita beli mie aja."
"Lu aja yang beli mie, gue mah maunya bakso."
"Ya, tapi kan gue udah beli bakso, Titaa!"
"Yaudah, dimakan!"
Vania mengerucutkan bibirnya kesal, kok tadi dia lewat di warung teh Ita tapi nggak melihat keberadaan Gamma, sih?
"Ta, gimana ya caranya biar gue bisa deketin kak Gamma?" Tanya Vania seraya menyuapkan bakso yang sudah dipotongnya ke dalam mulut.
Tita menyeruput sejenak es teh manisnya, "Kenapa lo nggak masuk OSIS aja? Kan kak Gamma anak OSIS tuh, gue denger-denger juga pendaftaran OSIS bakal dibuka."
Binar di mata Vania kembali hadir, wajanya berseri-seri. "Bener juga, gue ikut OSIS aja deh. Ta, makasih ya, tumben lo pinter."
__ADS_1
Tekat Vania sudah bulat. Sepertinya menjadi anggota OSIS bukan suatu pilihan yang buruk. Toh, saat Vania jadi anggota OSIS nanti, dia jadi punya alasan untuk keluar kelas saat jam pelajaran. Plus, bisa melancarkan aksi pedekate-nya sama kak Gamma.
Ah ... indahnya hidup. Apalagi kalau harus berdampingan dengan kak Gamma.