Tentang Kita

Tentang Kita
Part 02.


__ADS_3

Sejak Tita menunjukkan foto Gamma padanya, saat itu Vania tidak bisa berhenti memikirkan Gamma. Suara Gamma saat membaca Al-Qur'an tadi langsung terngiang-ngiang di indra pendengar Vania. Dengerin suaranya dari speaker aja sudah bikin melting, apalagi kalo dengerin secara live?


"Ta, kak Gamma tuh udah punya pacar belum, sih?" Vania bertanya sambil menoleh ke arah Tita yang sedang sibuk menulis.


Tita menghentikan kegiatannya sejenak, "Kayaknya sih udah, tapi gue belum pernah liat dia sama cewek. Lo suka sama kak Gamma?" Vania membalas pertanyaan Tita dengan senyuman, lalu menganggukkan kepalanya singkat.


"Ta, kantin yuk!" lagi-lagi Tita menghentikan kegiatan menulisnya.


"Van, lo nggak liat tugas gue belum selesai?" kata Tita, "lagian tugas lo aja belum lo kerjain sama sekali."


Vania hanya menunjukkan cengiran lebarnya. Tita ini temannya yang paling rajin. Kalau ada tugas ya harus dikerjakan dari pada ditunda-tunda. Tidak seperti Vania yang ya-agak-malas-mengerjakannya.


"Ta, lo kan tau gue. Kalo lagi laper gue tuh susah mikir. Jadi gue ngerjainnya nanti aja ya, abis makan sekalian nunggu tugas lo selesai."


Tita mendengus pelan mendengar jawaban Vania. Sebenarnya ia sendiri heran kenapa bisa berteman dengan Vania. Vania tuh, kadang malas ya kadang enggak. Cuma kalau mengerjakan sesuatu harus pake mood. Lah wong ini tugas dari guru masa ngerjainnya pake mood? Telat ngumpulin tugas terus dimarahin guru baru tahu rasa dia.


Melihat Tita yang malah melanjutkan tugasnya membuat Vania kesal, lalu menarik buku sahabatnya itu menjauh dari Tita. "Ta, plis kali ini aja yuk ke kantin. Siapa tau gue bisa ketemu kak Gamma." Lagi-lagi Vania berbicara sambil menunjukkan cengiran mautnya, yang membuat Tita malah jijik melihatnya.


"Iya-iya. Puas lo?" 


Dan cengiran di bibir Vania semakin lebar.


*********


"Bu Baks soto 2 ya," kata Vania menghampiri kedai Bu Bambang.


"Sip," balas bu Baks sambil mengangkat jempolnya, "oke."


"Lo nggak pesen minum sekalian?" tanya Tita saat Vania sudah duduk di sebelahnya.


"Lo aja sana yang mesen, gue nunggu sini aja."


Setelah kepergian Tita yang sedang memesan minuman, Vania mengedarkan matanya ke seluruh penjuru kantin. Suasana kantin saat ini sepi, hanya beberapa siswa yang membeli makanan lalu lekas pergi. Maklum saat ini masih jam pelajaran. Sedangkan guru yang mengajar di kelas Vania tidak masuk, karena ada urusan di luar. Itu artinya kebebasan untuk para murid. Ya walau tetap saja ada tugas.

__ADS_1


Tak lama Tita datang dengan 2 gelas es eh manis di tangannya, lalu meletakkan satu di hadapan Vania. Tita diam, sedangkan Vania kembali mengedarkan pandangannya.


Di tukang es, enggak ada. Di tukang gorengan juga sepi. Di tempat Bu baks apalagi. Duh, kak Gamma dimana ya?


"Ta- Ta, kok kak Gamma enggak ada ya?" Vania menyenggol-nyenggol pelan lengan Tita, matanya masih memandangi pintu kantin.


"Van, sekarang tuh masih jam pelajaran. Dan kak Gamma enggak kayak lo, ya udah pastilah kak Gamma masih di kelas."


Duh, Tita kalo ngomong suka bener. Tapi sebandel apa sih Vania ini? Toh, menurut Vania, dia ini enggak bandel kok. Pergi ke kantin saat jam kosong itu wajar bagi pelajar. Enggak haram hukumnya.


"Yaelah Ta, biasa aja dong." Vania bersungut kesal. Ya kesal lah, Tita bicara seakan-akan Vania itu parah banget kalau disandingin dengan kak Gamma. Lagian Vania yakin kok, sebaik-baiknya seorang murid pasti pernah ke kantin saat jamkos begini, termasuk kak Gamma.


Dan tak lama kemudian Bu baks datang dengan membawa pesanan Vania. Lalu meletakkan 2 mangkuk soto di meja. "Ini pesenan lo berdua."


"Sip, makasih Bu baks." Bu baks mengangguk, "tar kalo udah selesai makan, lo taro aja mangkuknya di meja."


Jangan heran sih kenapa Bu baks ber-lo-gue sama setiap murid yang beli dagangannya dia. Dia tuh orangnya asik dan up to date banget, apalagi sama gosip. Dari gosip guru yang belum kawin dan jadi perawan tua, sampai siswi yang di keluarkan karena bunting duluan aja dia tahu. Padahal rahasia kayak gitu udah di tutup rapat-rapat sama para guru.


Nah kalau untuk panggilan Bu baks, itu khusus kami yang memanggil. Iya kami, aku, Tita, Rangga, dan Raina. Jangan tanya tentang mereka berdua ya, karena sudah pasti Raina sedang asik streaming oppa-oppa Korea dan Rangga sedang berada di alam mimpinya. FYI, Rangga dan Raina itu duduk satu bangku di belakang Vania. Mereka biasa disebut sebagai duo R.


Loh, kok jadi ngomongin Bu baks, sih? 


Kak Gammanya mana ya? Kok enggak muncul-muncul, sih?


**********


Vania dan Tita kembali ke kelas. Tentu saja karena Vania sudah merasa kenyang. Lagi-lagi saat dalam perjalanan pun Vania menolehkan kepalanya ke setiap kelas yang mereka lewati. Alasannya satu, siapa tahu dia bisa lihat kak Gamma.


Tapi sedari tadi, dia tidak melihat kak Gamma di ruangan manapun. Padahal sebentar lagi mereka sudah sampai ke kelas. Tunggu, kenapa enggak nanya sama Tita aja ya? Duh, Vania bego.


"Ta, kelas kak Gamma di mana, sih?"


"Di ruangan 2.10," balas Tita.

__ADS_1


"Loh, barusan kita ngelewatin ruang 2.10, tapi ruangannya sepi." Vania mengernyit heran sekaligus penasaran.


"Ya udah berarti mereka lagi di lab."


Vania hanya ber-oh ria, dan kembali melanjutkan langkahnya. Saat mereka sampai di kelas, Vania menyaksikan pertengkaran antara Rangga dan Raina. Well yeah, drama rumah tangga mereka dimulai.


"RANGGA KAMPRET! BUKU GUE KENAPA LO ILERIN SIH!"


"BAU KAN JADINYA!"


"GUE GAK MAU TAU, LO HARUS GANTI!"


Suara Raina yang berteriak memenuhi ruang kelas mereka, sedangkan anak kelas yang lain sedang asik menonton pertengkaran yang lagi-lagi terjadi antara pasangan duo R itu. Raina sendiri sedang sibuk mengejar Rangga dengan membawa buku paket tebal yang siap dilemparkan ke wajah Rangga.


"Ampun Na, ampun."


"Enggak lagi-lagi deh, Na."


Tetap saja Raina mengamuk, sekuat tenaga Rangga pun menghindar dari amukan Raina. Bisa gawat wajah tampannya jika terkena pukulan Raina. Nanti wajahnya bisa rusak. Tidak! Rangga enggak akan membiarkan hal itu.


"SINI LO! JANGAN LARI KAMPPRET!"


Rangga semakin gesit berlari mengelilingi kelas, sesekali naik ke atas meja di saat Raina sudah berada di dekatnya dan melompat ke meja lain untuk menghindari Raina.


"TURUN ENGGAK LO!" Raina yang kesal ikut naik ke atas meja, "RANGGA GUE KESEL SAMA LO!" Dan saat itu pula Rangga turun dari meja dan segera berlari keluar dari kelas.


"RANGGA KAMPRETTT!" Teriak Raina untuk yang terakhir kali, karena di detik berikutnya ia kembali mengejar Rangga.


Vania menatap kedua pasangan aneh yang entah kemana itu dengan tatapan kagum. Karena dimata Vania mereka itu sweet.


"Wah, mereka lucu ya!"


Tita yang mendengarnya hanya mendengus. Lucu dari mananya coba?

__ADS_1


Sebenarnya mereka berdua tidak pacaran. Hanya saja karena mereka sangat akrab, banyak yang menyebut mereka sebagai pasangan yang serasi. Iya, serasi dalam pertengkaran. Lagipula, mana mungkin Raina mau sama orang seperti Rangga?


Masih dalam tahap percobaan, semoga kalian sudah jatuh cinta ya dengan cerita ini^^


__ADS_2