Tentang Kita

Tentang Kita
Part 13.


__ADS_3

Ada satu hal yang mengusik pemikiran Vania. Dia kan mendaftarkan diri menjadi anggota OSIS, yang mana tujuan utamanya adalah untuk mendekati Gamma. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, saat ia menjabat nanti Kak Gamma kan sudah turun jabatan, alias pensiun, alias udah nggak jadi OSIS lagi kan?


Vania bener nggak?


Terus ngapain dia capek-capek mencalonkan diri sebagai anggota OSIS? -mencalonkan, asek banget bahasa lu, Van.


Vania tuh bener-bener buta dalam organisasi. Ya nggak buta-buta amat sih, waktu SMP ia pernah ikut Paskibra. Eh, tapi itu kan bukan OSIS. Ya sama saja lah, sama-sama organisasi, ekstrakurikuler atau apalah itu namanya.


Nanti dia di-OSIS ngapain? Masa iya dia baris berbaris sendirian?


Siap grak! Gitu?


Terus kenapa nggak lanjutin jadi Paskibra aja?


Oh iya, kenapa ya? Alasan sebenarnya sih karena malas plus capek. Tapi sumpah, jadi anggota paskibra itu seru lho. Bahkan dulu dia sempet naksir sama seniornya hehe.


"Kak, ajarin gue dong." Tiba-tiba ada bocah sialan yang memasuki kamarnya, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Sopan amat yak!


"Nggak salah minta ajarin sama gue?"


Adiknya tampak menghela napas lelah, "Sebenarnya gue juga nggak yakin kak, tapi kan lo suka baca novel tuh. Pasti ngerti cara meresensi novel. Gue ada tugas nih.

__ADS_1


"Yaelah gitu aja lo nggak ngerti, bego amat sih."


"Begoan juga lo!"


Vania mendelik. Ada tidak sih adik yang lebih kurang ajar dari adiknya? Kok bisa dia punya adik bentukannya kayak Reza begini ya.


"Sana pergi lo, nggak bakal gue bantuin tugas lo. Enak aja pake ngatain gue bego."


Reza hanya bisa memberikan cengiran lebar digiginya. Setelahnya, Vania melempari Reza dengan bantal karena kekesalannya bertambah melihat wajah menyebalkan Reza.


"Kak, please... bantuin gue." Reza sialan. Kenapa pakai menunjukkan puppy eyes segala sih? Eneg nih Vania melihatnya.


Tentu saja ia akan membantu, tapi tidak gratis.


*******


"Za, ice cream rasa coklat kayaknya enak deh." Vania menghentikan acara 'mengerjakan' tugasnya Reza sesaat. Ia menatap adiknya.


"Terus maksud lo ngomong gitu apaan?" Reza menjawab tanpa melihat kearah Vania, matanya sibuk menatap ponsel. Pasti lagi nge-game.


Vania memutar bola matanya, "Ya beliin sana, buat gue!"

__ADS_1


Enak saja, Vania capek-capek mengerjakan tugas bocah itu, tapi adiknya malah asik bermain game. Dia nggak tau ya, Vania bisa saja berbuat sesuatu sama tugasnya. Seru kali ya kalau nilai tugas Reza kali ini ia buat merah. Dibawah KKM kalau bisa.


Karena katanya nih, nilai tugas ini bisa menjadi nilai tambahan saat ulangan nanti.


"Enggak ah, males."


Vania melotot. "Ya udah, tugas lo ga bakal gue kerjain. Biarin aja lo dapet nilai jelek. Emang gue peduli?"


Vania melempar lembaran kertas porto folio itu.


"Ya udah gue beliin." Reza beranjak dari tempatnya.


Yes, selama Reza keluar Vania bisa mengistirahatkan tubuhnya sembari nge-stalk instagram kak Gamma.


Sebenarnya saat ada Reza tidak masalah sih, cuma adiknya itu cerewet. Padahal itu tugasnya dia, waktu dikumpulkannya juga masih lama.


Mana tugasnya ribet lagi, resensi novel. Resensi! Beuh, butuh berapa kertas?


Eh, tapi kenapa Vania mau ya disuruh ngerjain tugasnya Reza?


Bodo ah, yang penting dapet ice cream.

__ADS_1


__ADS_2