Tentang Kita

Tentang Kita
Part 12.


__ADS_3

Remedial. Kata yang sangat Vania benci, tapi bersahabat baik dengannya. Siapa sih yang suka dengan remedial? Jujur nih, ya. Biarpun Vania bego, -ya nggak bego-bego amatlah- Tapi Vania tuh paling males kalau disuruh remedial. Apalagi remedial matematika.


Huft. Capek sumpah. Soal, rumus, plus jawaban. Harus jabarin! Begitu sih kata Bu Ida.


Iya, tadi setelah istirahat kedua, hasil ulangan matematika yang kemarin sudah dibagikan. Tapi yang paling menyebalkan itu, Bu Ida menyuruh untuk mengumpulkan tugas remedialnya nanti sore setelah pulang sekolah, bagi yang remedial.


Sudah tahu dong, Vania mah pasti remedial.


Sebenarnya remedial tidak begitu menakutkan kalau ada teman yang juga ikutan remedial, atau paling tidak, bisa memberi tahu jawabannya alias contekan.


Tapi diantara mereka berempat -Vania, Tita, Raina, dan Rangga- cuma Vania dan Rangga yang remedial. Tita udah pasti nggak mungkin, impossible remedial. Dia kan pintar.


Kalau Raina, mendapat angka 75 yang pas dengan KKM aja sudah syukur. Terus Vania harus mencontek dengan siapa dong?


Rangga? Haha, nggak. Big No. Yang ada harus remedial dua kali.


"Taa, plis ajarin gue dong." Vania sudah memohon dengan puppy eyes-nya. Tapi emang dasarnya Tita nggak punya hati, jadi nggak mau mendengar permohonan Vania.


"Uda sih, lo liat punya gue aja." Rangga menyodorkan kertas jawabannya.


Vania melirik sekilas, "Dapet dari mana lo?"

__ADS_1


"Adit." Balas Rangga sekenanya, lalu melanjutkan kegiatan bermain game di ponsel.


"ADIT!" Vania sedikit berteriak. Setelah si empunya nama menoleh, Vania kembali bertanya. "Lo jawaban MTK dapet dari mana?"


Adit hanya membalasnya dengan menujuk seseorang yang duduk di depannya. Vero. Dikenal sebagai biang kerusuhan kelas, selain Rangga. Dan begonya pun sama dengan Rangga. Jelas berbeda dengan Vania, karena Vania merasa lebih -sedikit- pintar dari pada mereka berdua.


"VERO!" Lagi-lagi si empunya nama menoleh mendengar suara cempreng yang memanggilnya.


"Apaan si!"


"Jawaban lo dapet dari mana?"


"Dari gue sendiri lah."


"Lo kira gue sebego apa? Udh tulis kalau mau ikutin jawaban gue, jangan banyak nanya!"


Vania memberenggut, kesal. Tapi tak urung ikut menuliskan jawaban yang dipinjamnya dari Rangga yang bersumber dari Varo.


"Ga, tungguin ya. Nanti sekalian kumpulin punya gue."


Kesel ga? Kesel ga? Rangga sih kesel. Udah nyontek, minta sekalian ngumpulin bareng lagi. Bilang aja males.

__ADS_1


*******


Bell pulang baru saja berbunyi, saat ini anak-anak dikelas sudah membereskan barang-barang mereka. Begitu juga halnya Vania dan Tita.


"Ta, pulang bareng ya?" Tita hanya mengangguk.


"Lo aja yang nyetir, nanti gue sekalian mau maen ke rumah lo."


Sekarang gantian Vania yang mengangguk.


Mereka beriringan berjalan ke arah parkiran dan mengambil motor Tita. Lalu menyalakan mesin, dan bergegas meninggalkan parkiran sekolah.


Seperti kata Tita tadi, akhirnya Vania yang mengendarai motor milik Tita. Padahal Tita tahu, Vania kalau naik motor kayak ngajak mati. Tapi masih saja menyuruh Vania untuk mengendarainya.


"Van, ati-ati gila! Hampir nabrak tadi!" Tita reflek berteriak, soalnya Vania tadi hampir saja menabrak mobil yang ada di depan mereka.


Iya, Vania lupa untuk mengerem. Bodoh kan?


"Iya-iya bawel lu ah!"


Lah, kok malah Vania yang marah?

__ADS_1


A/N : GUYSSSS, MAAP YAA BARU APDET😭


Keep reading this story ya^^ aku akan lebih rajin update lagi kok


__ADS_2