Tentang Kita

Tentang Kita
Part 03.


__ADS_3

Saat ini Vania sedang berbaring di kasurnya yang empuk, memang ya kasur itu tempat ternyaman sepanjang masa. Handphone-nya bergetar menandakan ada pesan masuk. Vania segera membukanya.


Sial, cuma operator ternyata.


Vania kembali menatap benda pipih itu, layar sudah berganti dan kini tengah menunjukan profil instagram seseorang dengan nama akun @gamma_satria. Niatnya Vania akan melancarkan aksinya yaitu stalking akun sosial media Gamma. Tapi apa daya, tulisan di layar ponselnya mengatakan bahwa akun itu dikunci. Shit!


This account is private, follow this account to see their photos and videos.


Double shit.


Vania harus gimana dong?


Oke, tenang Vania, tenang. Follow aja, gak usah ribet.


Tapi gengsi dong kalo cewek duluan yang follow!


Dasar harga diri sok jual mahal. Follow aja sih kalau lo kepo. Dari pada mati penasaran.


Vania mulai bimbang, kalau mengikuti harga diri yang katanya mengharuskan cewek itu dikejar bukannya mengejar membuat Vania bingung sendiri. Kalau gak mau gerak berarti gak maju-maju dong.


Emansipasi.


Dengan satu tarikan napas, Vania meng-klik tombol berwarna biru yang ada di layar ponselnya. Lalu Vania menutup matanya, dan membukanya kembali satu menit kemudian. Berhasil. Vania sudah berhasil mengirimkan follow request ke akun kak Gamma. Betapa bangga dia pada dirinya sendiri.


Setelah sadar dari kekagumannya akan dirinya sendiri, Vania berniat untuk menelpon Tita. Dia harus tahu kabar bahagia ini. Lalu Vania mulai men-dial nomor Tita.


Tut...


Tut...


Tut...


Di nada sambung yang ketiga Tita baru mengangkat teleponnya. 


"Halo," kata Tita di sebrang sana, "ada apa, Van?"


"Ta, gue udah nge-follow kak Gamma!" Seru Vania senang. Pokoknya Tita harus tahu bahwa Vania berhasil mengikuti Gamma di instagram tanpa ada embel-embel gengsi. Emansipasi cuy.


"Ya terus?" Nada suara Tita terdengar tidak tertarik. Duh, kok Tita gini banget sih. seharusnya kan dia ikutan seneng kalau temen lagi seneng.

__ADS_1


"Lo seharusnya seneng dong!"


Di sebrang sana Tita menghela napas pelan. Temannya ini ada-ada saja ya, follow kak Gamma saja pakai laporan segala. Gak sekalian tuh bikin laporannya pakai kata pengantar, daftar isi, pembuka, isi, dan penutup? Terus diprint deh.


"Iya-iya gue seneng. Terus gimana, udah di follow back sama kak Gamma?"


Tita masih menunggu jawaban Vania. Sebenarnya ia juga penasaran, soalnya Vania keliatan seneng banget gitu. Pasti udah di follow back kan?


"Ta ... gue aja belum di acc sama kak Gamma, gimana mau di follow back."


"SERIOUSLY VAN?!" 


Tita kesal, lalu mematikan panggilannya sepihak. Bagaimana tidak kesal, Vania repot-repot mengganggunya cuma buat bilang begitu?  Ngajak berantem nih ceritanya? Yang di omongin Vania itu nggak penting banget. Padahal Tita lagi asik baca novel tadi dan itu lagi puncak konflik hampir mendekati klimaks cerita, tapi Vania malah menghentikan kegiatannya hanya untuk bilang "Ta, gue udah nge-follow kak Gamma. Tapi belum di acc."


Demi Tuhan. Itu buang-buang waktu doang.


Sedangkan Vania sudah ketar-ketir di tempatya. Duh, gawat nih gawat. Tita pasti kesal deh. Vania yakin Tita pasti kesal banget sama dia. Kok bisa-bisanya sih Tita kesal sama Vania. Emang apa salahnya sih kalau Vania mau berbagi kebahagiaan sama Tita?


Vania mondar mandir di dalam kamarnya. Dia tuh lagi mikirin gimana caranya untuk ngebujuk Tita biar enggak marah lagi. Lagian Tita kenapa pake kesal segala, sih? Kan Vania jadi repot nih.


Telepon lagi gak ya? Tapi kalau Vania telepon, nanti Tita marah-marah lagi. Kalau gak ditelepon, Vania gak bisa minta bantuan Tita dong?


Tut ... bunyi nada sambung yang panjang. Namun tak lama setelah itu suara Tita terdengar, "apa lagi?" Sumpah, kenapa suara Tita bisa ketus begitu?


"Anu, Ta ..." Vania menggantungkan omongannya, menggigit bibir ragu. Haruskah Vania bilang?


"Apaan Vania?" Tuhkan tuhkan, Vania belum bilang apa-apa Tita sudah marah. Duh!


"Van!" Tita mulai menaikkan nada suaranya, ya sudahlah Vania bilang aja. Dari pada Tita semakin marah.


"Ta, gue boleh pinjem akun lo gak buat stalk kak Gamma?"


Tita tidak menjawab. Lama dalam keheningan, lalu terdengar suara tut....


Sialan, Tita mematikan sambungannya.


**********


Pernah enggak sih, kalian tuh mengalami apa yang Vania alami hari ini. Serius deh Vania nanya. Hari ini Vania kayak sial banget gitu. Pertama kak Gamma belum acc follow request Vania, kedua Tita kesal sama Vania, terus Tita juga enggak mau meminjamkan akunnya ke Vania.

__ADS_1


Baru kali ini ya ngerasain  mau stalking orang aja susah. Padahal biasanya Vania tuh ahli lho buat yang kayak beginian.


Pintu kamar Vania diketuk dari luar. "Kak turun dulu, mama udah siapin makan malem." Itu suara Reza, adik Vania.


Reza dan Vania hanya berjarak 2 tahun. Jadi saat ini Reza kelas 2 SMP.


"Iya. Nanti gue turun," balas Vania berteriak.


Yaudahlah, sekarang mah makan aja dulu. Mengisi energi sebelum kembali memikirkan bagaimana caranya untuk stalk akun kak Gamma. Baru ingin membuka pintu kamarnya, teriakan kembali terdengar. Kali ini sang mama yang berteriak.


"Kak, turun cepetan!"


"Iya ma, ini udah mau turun kok." Saat membuka pintu kamarnya, wajah sang Mama lah yang pertama kali Vania lihat. Ternyata mamanya sudah berdiri di depan kamar Vania.


Vania kini tengah duduk di ruang makan bersama keluarganya. Ada mama dan papa serta Reza yang duduk di hadapannya. Well, keluarga Vania bukanlah yang selalu makan malam bersama. Ada kalanya sang papa harus lembur dan pulang larut. Atau saat Reza dengan asiknya bermalam minggu dengan teman-temannya. Dan ya, bisa jadi dirinya yang kadang harus pulang malam karena kerja kelompok.


"Van, kamu belum punya pacar kan?" Tiba-tiba Mamanya bertanya sambil menatap Vania.


"Belum kok Ma, lagian Vania belum kepikiran buat punya pacar." 


"Bagus itu, kamu bisa lebih fokus untuk belajar. Jangan kebanyakan main, boleh asal enggak lupa waktu dan ingat belajar. Apalagi pacaran yang enggak jelas ujungnya gimana, cuma buat seneng-seneng doang."


Papa mulai ceramah. Tidak jarang papa kayak gini, bahkan karena seringnya papa ceramah, Vania jadi ingat setiap kata yang akan keluar dari bibir sang papa.


"Iya pa," Vania hanya menjawab seadanya. Karena memang sebenarnya ia tak ada pemikiran untuk memiliki pacar. Umurnya masih muda, ia tidak siap untuk terlalu jatuh pada seseorang dan berakhir patah hati. Menyedihkan.


Eh, tapi sekarangkan dia lagi suka sama kak Gamma ya?


"Bohong ma, pa, kak Van pasti udah punya pacar. Atau minimal pasti lagi deket sama cowok." Reza kurang ajar, minta dihajar memang. Asal nyeletuk aja kalo ngomong.


"Benar itu Vania?" Gawat, papanya sudah menatap Vania dengan tatapan tajamnya. Semua gara-gara Reza memang. Reza sialan!


"Enggak kok pa."


Dari pada mama dan papanya bertanya hal-hal yang aneh lagi, selesai makan Vania segera menuju kamarnya. Alasannya sih karena mau mengerjakan tugas. Dan yang terjadi adalah saat ini dia sedang memandang benda pipih di hadapannya.


Ya Tuhan, kapan sih kak Gamma acc follow request dari Vania?


Tunggu- tunggu, sepertinya Vania ingat sesuatu. Akun Tita kan masih nyangkut di handphone Vania. Yassalam, kenapa bisa sebodoh ini sih? Lalu Vania melihat akun siapa saja yang ada di ponselnya. Tuh kan, benar, masih ada akun Tita di sana.

__ADS_1


Kak Gamma, I'm comming....


__ADS_2