Tentangku & Hatiku

Tentangku & Hatiku
Dia.


__ADS_3

Di dalam bus. Karin menatap layar ponselnya, ia ingin sekali mengatakan hal yang sebenarnya pada Herul tentang dirinya dan anak mahasiswa itu. Namun ia ragu untuk menghubungi nomor yang tertera nama 'Kak Herul' itu. Ia akhirnya mengurungkan niatnya untuk menghubungi laki-laki itu dan kembali meletakkan ponselnya ke dalam tas kecil miliknya. Namun beberapa saat kemudian bunyi pesan masuk dari ponsel miliknya berbunyi, Karin menoleh lalu mengambilnya bermaksud ingin membuka pesan tersebut.


Namun Karin terdiam saat melihat nama pengirim pesan tersebut.


"Kak Herul?" gumam Karin. Lalu ia membuka pesan itu dan membacanya, di mana di dalam pesan tersebut Herul mengatakan kata maaf sebesar-besarnya kepada Karin karena telah mengganggunya selama ini. Dan laki-laki itu mengatakan bahwa ini adalah pesan terakhir untuk Karin karena laki-laki itu tak ingin mengganggu hubungan yang ia percaya akan perkataan Musleh anak mahasiswa itu.


Karin menutup kembali ponselnya dan meletakkan barang tersebut pada tasnya kembali. Gadis itu menyandarkan kepalanya yang terasa sakit pada kursi, lalu ia memijat pelipisnya. Entah kenapa hari ini adalah hari yang menurutnya sangat melelahkan.


Bagaimana tidak melelahkan ... ia selalu di ganggu oleh laki-laki yang tidak ingin ia temui (Musleh) lalu beberapa saat kemudian. Ia malah harus bertemu dengan seseorang yang juga ingin dia hindari dan malah berakhir dengan kesalahpahaman diantara keduanya.


"Aku pulang ..."


"Dek ... ikut mbak yuk kebawah!" ujar mbak Wenah yang tiba-tiba menarik tangan Karin.


"Mau ngapain mbak? Bisakah aku tidak ikut? Kepala ku sedikit sakit," sahutku menolak ajakan mbak.


Mbak Wenah membalikkan badannya dan menempelkan tangannya pada dahi Karin. "Kulitmu hangat dek, ya sudah kamu istirahat saja. Nanti mbak belikan obat untukmu."


Karin pun mengangguk. "Makasih mbak."


"Ya sudah, kamu istirahat gih!! Mbak ke bawah dulu," ucap mbak seraya berjalan menuju pintu.


Karin pun memasuki kamarnya dan segera menidurkan tubuhnya, tanpa membersihkan diri terlebih dahulu. Karin menutup matanya dan terlelap tidur.


Musleh POV ...


Musleh telah sampai di Bas Stop pemberhentian tempat biasa Karin turun. Laki-laki itu telah berada di kawasan tempat tinggal gadis itu. "Apa dia sudah sampai?" gumamnya.


Laki-laki mengetuk-ngetuk helm yang ia pegang seraya mengelilingi pandangannya pada sekitar kawasan itu. Siapa tau ia dapat bertemu dengan Karin.


"Aku harus bagaimana ini? Aku sendiri tidak tahu rumah dia kat mana," gumam ku pada diri sendiri. Sampai aku melihat sekelebat seseorang yang pernah aku lihat, "Itu bukannya laki-laki yang hari tu bersama dengan Karin?"


Tanpa menunggu lama, aku pun berlari menghampiri laki-laki berkulit putih itu. "Permisi bang ... maaf saya bole tanya sesuatu?"


Laki-laki itu menoleh. "Iya, tanya apa?"


"Emm ... maaf sebelumnya jika saya lancang, Abang kenal yang namanya Karin?" tanyaku pada laki-laki di hadapanku.


Laki-laki itu nampak menyipitkan matanya atas pertanyaanku. "Karin? He Karin kah?"

__ADS_1


Aku mengangguk cepat. "Iya, apa Abang kenal dia?"


"Dia adikku."


Aku membulatkan mata tak percaya. Rupanya laki-laki ini adalah Abang Karin?


"Karin, adik Abang? betul ker?" tanyaku tak percaya.


"Betul ... dia adikku," ucapnya sembari tersenyum, "Kamu ... yang waktu itu yang bersama Karin betul?"


"Iya, itu saya," balasku.


Terlihat abangnya Karin menatap lamat ke arahku, lalu tersenyum hangat. "Kamu ingin bertemu dengannya?"


Aku hanya menggaruk tengkukku yang tak gatal. "Bo-boleh bang?"


"Tentu saja boleh. Mari ikut aku," ucap Danum seraya memperbolehkan aku ikut dengannya.


Musleh POV Off ...


Tok ... tok ... tok ...


Karin yang tertidur menggeliat sesaat sebelum bangun dari tempat tidur dan membuka pintu kamarnya. "Ada apa bang?"


"Kamu tidur? Maaf Abang tak tahu, tapi ada kawan kamu yang ingin bertemu denganmu," ucap Danum merasa tidak enak karena sudah membangunkan sang adik.


"Siap-" ucapan Karin terhenti saat ia melihat laki-laki tengah terduduk di kursi di belakang sang kakak. Lalu Karin menatap wajah Danum untuk meminta penjelasan.


Danum hanya menoleh ke belakang dan kembali menoleh ke arah Karin. "Dia laki-laki tempo hari kan? Tadi dia menyapa Abang dan menanyakan mu, jadi Abang membawanya ke sini."


Karin menatap wajah sang kakak, lalu memalingkannya ke arah lain. Gadis itu menunduk seraya berkata. "Ya sudah, makasih bang."


Danum mengangguk dan mengusap bahu Karin lembut. "Temui saja, jangan pasang wajah seperti itu."


Setelah mengucapkan itu Danum akhirnya masuk ke dalam kamarnya sendiri dan mengunci pintu kamarnya. Karin yang masih berdiri di pintunya menarik nafasnya pelan, lalu menghampiri laki-laki itu. "Sejak kapan kamu ada di Bas Stop?"


"Sejak tadi," sahutnya sembari tersenyum manis.


"Dan untuk apa kamu pergi sini?" tanya Karin dengan ekspresi datar pada orang di depannya.

__ADS_1


"Ingin bertemu denganmu," balasnya.


Karin yang sudah menyipitkan matanya merasa muak dengan semua perkataan laki-laki itu. "Sebaiknya kamu pulang saja! Ini pula sudah malam, tidak baik rasanya jika ada laki-laki bertamu di rumah perempuan di saat malam," ucap Karin beralasan agar laki-laki itu cepat pergi dari tempat tinggalnya.


Musleh terlihat melihat ke arah jam tangannya. "Ini masih jam tujuh ... aku rasa tidak apa-apa jika hanya bertamu."


"Sebaiknya kamu pulang saja," ucap Karin dengan tatapan dingin.


Laki-laki itu terdiam sesaat melihat wajah Karin. "Apa aku mengganggu mu?"


"Aku sedang istirahat."


Terlihat laki-laki itu mengangguk-angguk mengerti. "Baiklah, kalau begitu aku akan balik! Tapi kamu kena antar aku kat Bas Stop!"


Karin menoleh. "Untuk apa aku harus mengantarkan mu? Kamu sendiri yang datang bertamu."


"Justru kerana bertamu, kamu kena hantar aku balik sampai Bas Stop," ucapnya.


"Kau pergi sendiri lah," ucap Karin mulai jengah.


"Kalau macam tuh, aku tak balek!!" Laki-laki itu menduduki kembali kursi yang ia tadi duduki sambil menatap gadis itu sembari tersenyum.


Karin yang sudah menahan sakit di kepalanya dan harus bertambah menahan rasa kesalnya terhadap laki-laki di hadapannya itu, ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa selain harus menuruti kemauan lelaki tersebut.


"Baiklah ... mari aku hantarkan kau balek," Karin pun akhirnya mengantarkan Musleh sampai Bas Stop, "Sudah ... kalau begitu aku balek."


"Tunggu!!" cegat Musleh menahan tangan Karin yang hendak pergi.


Karin menoleh ke arah tangan yang di pegang oleh laki-laki itu dan segera melepaskannya.


"Ini untukmu."


Karin menoleh ke arah Musleh dan beralih pada kotak yang di sodorkan oleh lelaki itu. "Apa ini?"


"Kamu buka saja, saat tiba di bilik (kamar)," sahutnya sembari memasang helmet miliknya, "Aku pergi ... semuga kamu menyukainya."


Musleh pun pergi meninggalkan Karin yang berdiri di Bas Stop dengan kotak yang ia beri barusan. Karin pun kembali menatap barang yang laki-laki itu berikan, gadis itu menyipitkan matanya saat sebuah note terselip di bagian lipatan kotak di sana. Lalu ia membukanya.


'Semuga kamu menyukainya ... aku berharap dengan sangat! Kamu dapat memakainya mulai esok.' ucap dalam isi note tersebut.

__ADS_1


__ADS_2