
Karin, memasuki setornya dan langsung di sapa hangat oleh teman-temannya. "Pagi Karin."
"Selamat pagi neng."
"Eh, Karin sudah datang, sini kita makan bersama, sini!" ucap Mak Bi sambil mengarah tangannya ke arah tempat duduk.
Karin langsung melepaskan dan meletakkan tas miliknya di gantungan yang sudah tersedia di sana. Dan menghampiri ke enam temannya untuk sarapan pagi. Karin membuka bekal makanan yang ia bawa, seperti biasa nasi dan beberapa lauk pauk tertata rapi oleh sang kakak. Karin pun memakannya dengan lahap.
Tok ... tok ...
"Permisi," tiba-tiba dari arah pintu setor terdengar suara seseorang, ke tujuh orang yang sedang menikmati sarapannya mengalihkan atensi mereka ke arah orang tersebut termasuk Karin.
"Iya, cari siapa dik?" ucap Mak Bi pada gadis berbaju hitam yang berdiri di pintu setor.
"Begini akak, saya datang kesini mencari orang yang bernama Karin ... apakah ada nama Karin kat sini?" ucapnya membalas pertanyaan Mak Bi.
"Karin?" ucap Sofia pada gadis Melayu itu.
"Iya, ada tak?"
Ke enam teman Karin tersebut langsung menoleh ke arah gadis itu. Karin yang di tatap oleh ke enam temannya hanya menatap pada gadis di depan pintu. Lalu mengangkat tangannya. "Saya Karin kak, apa ada?"
"Ah, jadi akak yang bernama Karin, betul?" tanyanya memastikan.
Karin hanya mengangguk. "Iya."
Lalu gadis itu mendekatkan dirinya pada Karin yang masih dengan posisinya. "Saya hanya mau mengantarkan barang ini kepada akak yang bernama akak Karin." gadis itu menyodorkan barang tersebut pada Karin.
Karin meraih barang tersebut, dan melihat note yang menyelip di sisi lipatan kotak berukuran kecil itu. "Terimakasih."
"Sama-sama, kalau begitu saya pamit dulu," ucapnya sembari pamit pada ke tujuh orang itu lalu keluar dari setor.
__ADS_1
Setelah kepergian gadis itu, Sofia selaku yang memiliki perbedaan mulut itu pun berucap. "Huaaaaw, kotak apa itu? Aku jadi penasaran saja isi di dalamnya."
"Hooh, aku juga ... buka dong Rin kita penasaran nih," ucap mereka yang penasaran akan isi kotak itu.
Karin hanya meletakkan kotak itu. "Buka saja!"
Di rasa mendapatkan izin. Sofia berniat ingin mengambil kotak tersebut dan membukanya namun di cegat oleh Mak Bi. "Kamu ini asal ambil saja, kotak ini sudah jelas-jelas di tujukan untuk Karin, kenapa kamu malah ingin membukanya?"
"Iya kan, Karin sudah mengizinkannya Mak," ucap Sofia membela diri.
"Hanya karena dia memberikan izin, kau malah ingin membukanya," ucap Mak Bi makin meninggikan suaranya.
"Tidak apa-apa Mak Bi, biarkan Sofia membukanya. Aku juga tidak berniat dengan kotak itu," ucap Karin yang melihat keduanya meributkan kotak yang menurutnya tidaklah penting.
"Tuh, orangnya aja gak apa-apa," ucap Sofia membela diri.
"Mak Bi, bilang jangan ya jangan!" Mak Bi mempelototi Sofia dengan mata yang membesar.
...****...
Setelah seharian melaksanakan kegiatan tugas menjadi klina (cleaning servis). Waktu pulang pun akhirnya tiba, di mana teman-teman Karin sudah meninggalkan area setor, dan hanya menyisakan Karin di sana. Ia memang sengaja pulang belakangan karena tugas yang ia kerjakan tadi sedikit melelahkan, sehingga ia memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya sebentar.
Di rasa sudah cukup. Karin mengedarkan pandangannya pada jam yang terdapat di dalam setor itu. Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam. Ia pun membereskan semua bawaannya dan langsung menuju ke arah pass Kad'.
Setelah selesai melakukan pass Kad'. Karin menuju ke luar universitas itu dengan headset di telinganya, yang ia pakai untuk menjauhi pembicaraan orang-orang yang menurutnya tidak penting untuk di dengarkan. Sehingga Karin menghentikan langkahnya dan mencabut headset yang bertengger di telinganya itu. Saat seorang yang sedari kemarin ia jauhi tengah berdiri di ambang pintu universitas itu.
'Kak Herul?'
Laki-laki itu menoleh ke arah gadis itu dengan senyuman kecil. Lalu menghampiri Karin yang hanya mematung menatapnya. "Karin."
Karin yang melihat mata teduh itu, segera mengalihkannya ke arah lain. "Kak Herul, kenapa ada di sini?"
__ADS_1
"Aku, aku hanya ingin bertemu denganmu," ucapnya.
Karin yang melihat ke arah lain, lalu menatap laki-laki di depannya itu. "Kakak, tahu dari siapa jika aku bekerja di sini?"
"Itu tidak penting! Yang terpenting sekarang, aku sudah bertemu denganmu," ucapnya sembari terus menatap ke arah gadis itu.
Karin, yang mulai merasa sedikit tidak nyaman akan tatapan laki-laki di hadapannya hanya menunduk seraya berkata. "Kak Herul, jika kakak tidak ada yang ingin di bicarakan. Aku pamit pulang duluan."
Karin yang berniat ingin pergi, segera di tahan oleh laki-laki itu. "Tunggu!"
Karin melirik ke arah kirinya dan melirik tangannya yang telah di pegang oleh lelaki yang bernama Herul itu. "Karin, apa benar kamu berhenti bekerja karena aku?"
Seperti dugaannya, Karin menutup matanya sembari menarik nafasnya sebelum ia membuka suara. "Kak ... jika kak Herul ingin membahas hal itu, lebih baik kakak pulang saja. lagipula ini sudah lewat jam pulang, aku takut saudaraku nanti malah mengkhawatirkan aku jika aku pulang terlambat."
"Tapi aku ingin membahasnya sekarang Karin!" ucap Herul sembari mengeratkan genggamannya pada tangan Karin.
"Kak Herul, lepas!" Karin berusaha melepaskan tangannya yang di genggam oleh laki-laki itu.
Namun, tiba-tiba sebuah tangan lain menghempaskan tangan Herul yang menggenggam tangan Karin, sehingga tangan itu akhirnya terlepas. Karin menoleh ke arah laki-laki yang menolongnya itu. Rupanya Musleh sudah berada di sampingnya dengan memegang kedua bahu gadis itu.
"Jangan, coba-coba memaksanya!" ucap Musleh dengan nada dingin pada Herul.
"Siapa, kamu? Jangan berani mencampuri urusanku dengannya!" sahut Herul tak kalah dingin.
Laki-laki bernama Musleh itu terkekeh sembari berucap. "Seharusnya ... aku yang tanya siapa kamu, kenapa kamu mendekati pacarku?"
Karin menoleh ke arah laki-laki di sampingnya. Apa dia sudah gila? Kenal saja tidak, bagaimana mungkin dia bisa berkata seperti itu?
Karin melihat laki-laki di depannya yang sudah menundukkan kepalanya, entah apa yang dia pikirkan? Namun beberapa saat, laki-laki itu tersenyum. "Jadi ... kamu berhenti bekerja dan memilih tempat ini karena kamu ingin lebih dekat dengan pacarmu ya?" ucap Herul dengan lirih.
Karin ingin sekali mengatakan bahwa yang di bilang laki-laki di sampingnya ini tidak benar. Tapi entah kenapa, gadis itu memilih untuk diam dan tak mengatakan apa-apa. Sehingga ia dapat melihat laki-laki itu mengangguk. "Baiklah, maaf jika selama ini aku sudah mengganggumu Rin."
__ADS_1
Tanpa menunggu lama. Herul pun pergi meninggalkan keduanya yang dengan posisi Musleh masih merangkul pundak Karin. Setelah Herul sudah tidak terlihat, Karin melepaskan rangkulan laki-laki itu dan meninggalkannya yang sudah memanggil-manggil namanya.