Tentangku & Hatiku

Tentangku & Hatiku
Berangkat dan Pulang Bersama.


__ADS_3

Karin pun telah sampai di tempatnya, ia masuki rumahnya dan menyerahkan bingkisan yang telah di pesan oleh abangnya Danum. "Ini kak rotinya."


"Rasa vanilla, kan?" Danum mengambil bingkisan tersebut dan segera mengeceknya.


Karin hanya mengangguk kecil sembari berkata. "Itu rencana bang Danum, 'kan?"


Danum menoleh ke arah sang adik. "Maksudmu?"


"Bang Danum menyuruh ku untuk turun supaya aku bertemu dengannya, iya, 'kan?" tanya Karin penasaran.


Danum terlihat mengernyitkan dahinya. "Tidak kok, lagian siapa yang kamu maksud?"


"Mus ...."


"Mus ...? Laki-laki yang menolong Abang itu? Emang dia belum pulang?" ucap Danum membalikkan pertanyaan.


"Jangan mengeles bang, aku tau bang Danum kan yang merencanakannya agar aku dapat bertemu dengannya?"


"Tidak kok, sungguh! Abang tidak tau Rin. Lagipula Abang mana ada pergi ke bawah rumah," ucap Danum menjelaskan tentang dirinya yang memang tidak tau akan laki-laki itu masih di bawah bloknya.


"Yasudah, abaikan!" Karin pun akhirnya masuk ke dalam kamarnya, dan dirinya menidurkan kembali tubuhnya pada kasur kecil miliknya. Ia pun menutup kembali matanya karena saat itu ia memang sangat mengantuk. Namun bunyi pesan dari ponsel miliknya berbunyi menandakan bahwa ada yang sedang mengirim pesan kepadanya.


Mata yang tadi sempat terpejam harus terbuka kembali lantaran suara ponselnya. Karin pun mengambil ponselnya tersebut dan melihat siapa yang mengirimnya pesan itu. "Nomor tidak dikenal?" gumam Karin.


Karin pun membukanya dan melihat isi pesan tersebut, rupanya yang mengirimkan pesan kepadanya adalah laki-laki yang baru saja di temuinya, lebih tepatnya beberapa menit yang lalu telah menjadi kekasihnya.


'Esok, aku akan menjemputmu dirumahmu, aku akan tunggu dibawah. Sampai jumpa esok pagi sayang.'


Karin yang melihat isi pesan tersebut langsung bergidik ngeri. "Kenapa harus semengerikan itu dia," gumam Karin sembari mengelus tangannya karena geli.


...****...

__ADS_1


"Pagi sayang." sapa laki-laki yang telah menunggunya di bawah rumah Karin. Karin yang melihatnya hanya menghampirinya dengan senyuman tipis. "Sudah lama menunggu?"


"Tidak, baru saja sampai." ucapnya, "Mau berangkat sekarang?" ucapnya kembali sembari tersenyum.


Karin mengangguk. Lalu ia pun menaiki sepeda motor yang di bawa oleh Musleh kekasihnya itu. Di perjalanan, dengan kecepatan sedang mereka hanya berdiam tanpa ada yang mengucapkan sepatah katapun. Entah apa yang sedang mereka pikirkan sehingga tidak yang membuka suara kala itu, sehingga tiba di university.


Musleh pun menghentikan sepeda motornya di area parking di belakang gedung university itu. Karin segera turun dan melepaskan helmet yang dipakainya, lalu membagikannya kepada Musleh. Musleh pun mengambilnya dan meletakkannya di spion motor. "Buat kerjanya, hati-hati ya ... jangan terlalu ambil pekerjaan yang terlalu berat oke!"


Wati mengangguk sebagai responnya. Dan hendak pergi namun gadis itu malah di cegat oleh laki-laki di hadapannya. "Ada apa?"


"Tidak ada," ucap laki-laki itu dan segera meraih tangan Karin. Karin yang melihat tangannya di pegang segera melepaskan genggaman tangan tersebut sehingga membuat Musleh membalikkan badannya dan menatap Karin penuh tanya. "Kenapa?"


"Tidak ada, hanya saja kamu tidak malu jika dilihat teman-teman mu?"


Musleh tersenyum sembari menggenggam kembali tangan Karin. "Justru aku mau teman-teman ku tau, kalau aku dah ada kekasih." Setelah mengucapkan kata-kata tersebut Musleh mengantarkan Karin ke tempat gadis itu melakukan Pass Kad'.


"Ehem ... pagi-pagi dah buat orang pegang-pegang tangan tuh."


"Aduh, mataku ternodai Mus."


Dan berbagai seruan godaan yang dilontarkan oleh para teman-temannya. Karin yang mendengar godaan tersebut hanya menunduk, sejujurnya gadis itu terlihat begitu risih akan hal itu. Namun ia tidak ingin membuat laki-laki di depannya atau lebih tepatnya kekasihnya itu, bersedih jika ia menolak ajakannya.


Setelah sampai di tempat Pass Kad' Karin segera menyuruh kekasihnya untuk mengantarnya sampai di tempat itu saja. Awalnya Musleh menolak dan akan menunggunya dan juga akan mengantarkannya ke tempat stor. Namun Karin mencoba untuk membujuknya bahwa ia ingin ke stor sendiri, hingga beberapa saat kekasihnya menurut dan pergi meninggalkan Karin di tempat itu.


"Selamat pagi." sapa Karin saat ia tiba di tempat stornya.


"Pagi juga Karin, cie ... cie ... yang dah punya kekasih bagaimana apakah hatimu sudah berbunga-bunga seperti bunga Kamboja yang akan harum bila ia sudah jatuh dari tangkainya di kuburan?" ucap Sofia. Kenapa harus embel-embel Kamboja di kuburan coba?


Karin menjitak kepala teman cerewetnya itu. "Kamu pikir aku hantu yang suka harumnya bunga Kamboja? hm?"


"Hahahahah, siapa tau kau suka keharuman bunga itu. Seperti mana kau telah berbunga-bunga karena sudah menjadi pacarnya Mus. Si cowok ganteng itu." celoteh Sofia yang membuat teman-teman yang lain hanya menggelengkan kepalanya termasuk Karin.

__ADS_1


"Sofia, sebaiknya kamu makan, kamu terlihat sangat kelaparan sehingga membuatmu terus mengoceh," ucap Mak Bi saat ia melihat celotehan Sofia yang begitu tidak bisa diam.


Karin dan teman-teman yang lain hanya tertawa kecil sembari memakan sarapannya, sebelum jam kerja dimulai.


Setelah semua telah selesai dengan sarapannya, mereka semua bergegas untuk melakukan aktivitas seperti biasa. Karin telah membawa barang bawaannya seperti ember dan pengepel lantai. Ia hari ini bertugas mengepel lantai di area lift menggantikan temannya yang tidak masuk kerja.


Setelah beberapa jam kemudian, pekerjaan Karin pun selesai dan gadis itu melihat ke arah ponselnya untuk melihat sudah jam berapa. Dan ternyata jam sudah menunjukkan pukul peristirahatan. Karin pun bergegas turun menuju stor. Tapi saat ia tiba di depan stornya sebuah suara menghentikan langkahnya dan melihat ke arah sumber suara.


Rupanya suara itu datang dari arah belakang gadis itu yang ternyata adalah suara kekasihnya Musleh. Karin melihat ke arah laki-laki itu yang telah menghampirinya. "Sayang, kamu sudah selesai?"


Karin mengangguk. "Emm, baru saja. Ada apa?"


"Aku membawakan ini untukmu, makanlah." Musleh memberikan sekotak nasi krabu. (Aku tidak tau nama nasi itu disini apa, jadi harap maklum)


"Aku membawa bekal sendiri kok, lebih baik kamu makan sendiri saja," ucap Karin sembari mengembalikan kotak tersebut.


"Sayang, aku membelikannya buat kamu, jadi aku tidak mungkin mengambilnya kembali. Kamu ambil saja ya, meski kamu tidak memakannya tidak apa-apa," ucap laki-laki itu sembari tersenyum manis ke arah Karin.


Akhirnya Karin mengangguk dan mengatakan terimakasih atas bingkisan yang Musleh bawa. Musleh pun akhirnya pamit dan Karin masuk ke dalam stornya. "Apa itu Rin ...?"


"Sekotak nasi krabu Mak Bi."


"Dari Mus ya ...?"


"Emm."


_______________


Jam sudah menunjukkan pukul lima petang, dimana Karin sudah berada di belakang university bersama Musleh. Mereka hendak pulang karena pada waktu itu jam kepulangan Musleh dan Karin bersamaan jadi Musleh mengantarkan kekasihnya pulang.


Setelah sampai di taman Medan Karin pun turun dan melepaskan helmet nya. "Terimakasih."

__ADS_1


"Iya, kalau begitu aku pulang ya. Kamu cepatlah naik nanti ada polis pulak nampak kamu," ucap Musleh. Karin pun tersenyum tipis dan segera menaiki anak tangga di tempat tinggalnya. Saat Karin menaiki tangga, ia sempat membalikkan badannya untuk melihat ke arah laki-laki itu. Laki-laki itu pun melambaikan tangannya dan segera melesat pergi meninggalkan tempat itu.


__ADS_2