Tentangku & Hatiku

Tentangku & Hatiku
Mengikuti Karin.


__ADS_3

Saat Karin sedang berdiam diri sambil menunggu teman-temannya selesai dengan acara makannya. Tiba-tiba seseorang menyodorkan sebuah minuman ke meja tempat Karin duduk. Karin menoleh ke arah orang itu dan melirik ke arah teman-temannya yang telah melihat ke arahnya.


"Makasih," ucap Karin pada orang yang berdiri di sampingnya yang tak lain adalah orang yang memberinya masker.


"Kenapa kau tidak makan? Apa kau mau aku pesankan sesuatu?" tawar laki-laki itu.


"Tidak."


"Dia bilang masih kenyang nak Mus," sahut Mak Bi dengan mulutnya yang masih di penuhi oleh makanan.


Yang bernama Mus tersebut sesaat melihat Mak Bi lalu kembali menatap ke arah Karin. "Benarkah?"


Karin tak menjawab pertanyaannya. Ia memilih untuk tetap diam dan menundukkan kepalanya. Laki-laki itu terlihat sedang tersenyum tipis ke arah gadis itu yang membuat Karin merasa tidak nyaman. Karin pun berniat pamit pulang duluan karena ia ingin cepat-cepat pergi dari sana. Karena jam pun sudah menunjukkan pukul lima jadi ia bisa pulang saat itu.


Karin sesaat melihat ke arah laki-laki itu yang rupanya masih menatapnya. Ia pun menyipitkan matanya lalu segera keluar dari kantin itu dan menuju ke lantai bawah karena ingin mengambil tas beserta kotak bekalnya. Saat ia ingin keluar dari setor tersebut ia di hadang oleh laki-laki yang baru saja memberinya minuman.


"Kakak mau kemana? Kenapa terburu-buru sekali?" ucapnya sambil tersenyum manis ke arah gadis itu.


Karin malah membalasnya dengan wajah dinginnya. Lalu menggeser ke kanan agar dapat dari hadangan laki-laki itu. Laki-laki itu malah mengikutinya hingga sampai di ruang Pass Kad'.


"Kakak ... kenapa kakak tidak menjawab pertanyaanku?" ucapnya yang terus mengekor di belakangnya.


Karin yang kesal dengan tingkahnya yang menurutnya sedikit mengganggu itu mengepalkan tangannya. "Jangan mengikutiku!! Aku mau pulang, dasar kekanak-kanakan."


Mendengar jawaban yang di keluarkan oleh Karin, laki-laki itu tak mengikutinya lagi. Setelah beberapa saat Karin menoleh ke belakang dan tidak melihat laki-laki itu, ia pun menarik nafas lega lalu buru-buru menuju ke arah Bas Stop.


Sedangkan di posisi lain ...

__ADS_1


Laki-laki yang kerap di panggil Musleh itu kembali menuju ke lantai atas di mana para teman-teman Karin masih berada di sana.


"Mak Bi ...?" panggil laki-laki itu.


Mak Bi menoleh ke arahnya. "Iya Mus, kenapa?"


"Mak Bi ... boleh tahu awek tadi siapa dan dari mana dia?" laki-laki itu bertanya kepada Mak Bi.


"Siapa? Awek yang bagian toilet yang kamu tanyakan tadi itu?" sahut Mak Bi.


Laki-laki itu mengangguk. "Iya awek tadi yang saya tanyakan kat Mak Bi."


"Oh, yang kata Mak Bi ada yang menanyakan Karin itu, dia ya Mak Bi?" ucap Sofia.


Mak Bi mengangguk. "Iya dia, nak Musleh yang bertanya tentang Karin anak baru itu."


"Awek tadi itu namanya Karin dari kampung Madura nak Mus, sepertinya ia juga seumuran denganmu," ujar Mak Bi.


"Ah, benarkah?" balas laki-laki dengan senyuman yang melebar hingga menampilkan giginya yang putih.


Mak Bi hanya mengangguk. "Iya, Karin juga anak yang baik. Dia tidak banyak bicara juga."


"Tapi emang iya sih Mak Bi, si Karin tidak banyak ngomong gak seru tau kalau gak punya bibir," ucap Sofia sembari tersenyum ke arah laki-laki itu.


Laki-laki itu akhirnya memutuskan untuk pergi dari hadapan enam orang itu dan bergegas turun menuju area parking dan menyalakan moto yang ia bawa. Ia segera meninggalkan area university nya menuju ke arah Bas Stop di mana Karin berada. Namun saat sampai di Bas Stop tersebut ia tak menemukan gadis itu, mungkin gadis itu telah menaiki Bus nya. Ia pun segera menancapkan gas berniat mengejar gadis itu.


Sedangkan di dalam bus ...

__ADS_1


Karin memandangi pemandangan di luar kaca bus tersebut dengan headset di telinganya sambil menikmati musik yang mengalun merdu di setiap perjalanan pulangnya. Hingga di bulatan jalan di mana jalan itu selalu terjadi kemacetan sehingga membuat bus itu tetap terdiam di tempatnya.


Karin yang sedang menikmati pemandangan sekaligus musik yang dia dengarkan. Malah terusik dengan pemandangan di samping luar jendelanya, rupanya laki-laki itu mengikutinya hingga sejauh itu. Karin melihat ke arah laki-laki dan sedang melambaikan tangannya seraya tersenyum lebar.


Karin yang semula menikmati pemandangan luar. Harus kesal gara-gara laki-laki yang baru-baru ini di temuinya. 'Untuk apa dia ada di sini? Apakah rumahnya searah dengan bus ini?'


Karin memilih menundukkan kepalanya dan membuka layar ponselnya untuk mengalihkan perhatiannya pada laki-laki itu. Hingga setengah jam dengan kemacetan akhirnya bus tersebut berjalan kembali dan melajukannya dengan kecepatan sedang.


Tepat enam sore Karin tiba di tempat pemberhentian. Ia segera menyebrang jalan karena bus itu berhenti di jalan sebelah kiri sehingga membuatnya harus menyeberang jalan untuk menuju ke tempat tinggalnya. Saat sudah menyeberang jalan tiba-tiba sebuah moto menghadangnya tepat di depannya. Karin menatap dingin ke arah orang tersebut.


"Akak jangan menatapku seperti itu! Aku hanya mau ingin memastikan bahwa akak baik-baik saja sampai tujuan," ucapnya sembari tersenyum manis ke arah Karin.


Karin yang hanya menatap wajah laki-laki yang di baluti dengan helmet itu dengan tatapan mata yang jengah.


"Kamu tinggal di daerah ini?" ucap Karin beberapa saat.


Laki-laki itu tersenyum seraya menggeleng. "Tidak. Aku tinggal di daerah Pucong batu enam sembilan sana."


"Jadi ... untuk apa kau datang ke daerah sini?" tanya Karin dengan ekspresi datar.


"Kan aku dah bilang, aku ingin memastikan bahwa akak baik-baik saja sampai tujuan," sahutnya. Lalu beranjak dari tempat moto nya, sukses membuat Karin menjauh dari laki-laki itu.


"Ah, aku tidak akan macam-macam, tenang saja," ucapnya sembari memberikan penjelasan kepada Karin yang mencoba waspada terhadapnya.


Lalu tiba-tiba ia mengulurkan tangannya dan berkata. "Aku hanya ingin mengenal akak lebih jauh itu saja," ucapnya sembari kembali berucap, "Namaku Musleh, kalau boleh tahu nama akak siapa? Sebetulnya aku dah tahu nama akak dari Mak Bi. Tapi aku nak tahu dari akak langsung," imbuhnya.


Karin yang tadinya menatap wajah laki-laki akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah tangan yang laki-laki itu ulurkan padanya. Melihat jam sudah lewat dari pukul enam takut saudaranya menunggu kedatangannya. Ia pun akhirnya meraih tangan laki-laki yang bernama Musleh itu. "Karin."

__ADS_1


Setelah menyebutkan namanya, Karin pun bergegas meninggalkan laki-laki itu.


__ADS_2