
"Gimana ... dia sudah pulang?" ujar Danum dari arah dapur.
Karin mengangguk dan hendak pergi ke kamarnya, namun sang kakak bersuara kembali. "Dek ... apakah dia menyukaimu?"
"Benarkah ...? Laki-laki tadi yang kamu maksud num?" ucap mbak dari arah kamarnya yang menuju dapur.
Karin menghentikan langkahnya dan menatap kedua kakaknya bersamaan. "Jangan sembarang!" ucap Karin lalu segera membuka pintu kamarnya dan segera memasukinya.
Karin terduduk di lantai kamarnya lalu menatap kotak kecil yang masih ia genggam di tangannya. Ia pun segera membuka kotak tersebut, saat telah terbuka ia melihat sebuah kalung emas yang bertuliskan 'Karin' di dalam kotak kecil itu. Karin mengambilnya, menatapnya dengan lekat. Jujur gadis itu akui, kalung yang ia lihat itu sangatlah cantik.
"Untuk apa dia memberikannya kepada ku?" gumam Karin pada diri sendiri.
Karin pun meletakkannya kembali pada kotak kecil itu dan menaruhnya di meja kecil di samping kasur. Lalu ia segera mengambil handuk untuk membersihkan diri, sebelum mbaknya memanggilnya untuk makan malam.
...
"Wat ... kamu sudah menelfon bapak belum?" tanya mbak Wenah di sela-sela waktu makan.
Karin menoleh lalu menggeleng pelan. "Belum mbak, tapi lusa kemarin aku sudah mengabarinya."
Mbak Wenah hanya manggut-manggut saja, lalu terdengar suara kakak ipar berucap yang membuat karin menghentikan kunyahannya. "Apa pentingnya sih setiap hari di telfon terus! Apa untungnya? Merugikan iya."
Karin yang sudah terlihat kesal menatap wajah kakak iparnya. "Tentu saja ada untungnya, karena dia adalah orang terpenting dalam hidup. Tidak seperti orang lain yang hanya mementingkan diri sendiri sehingga tidak dapat merasakan yang namanya orang tua masih hidup!" Karin pun langsung berdiri saat mengatakan kata-kata yang membuat kakak iparnya mengerang kesal pada gadis itu.
"Kamu lihat adikmu! Dia kurang ajar padaku, kau tau!" ucap kakak ipar Karin.
BRAAKK!!
Danum mengebrak meja hingga terdengar begitu nyaring. "Tutup mulut anda! Adikku tidak akan mengatakan hal seperti itu jika bukan anda yang memancingnya lebih dulu."
"Mas ... kamu bisa tidak jangan membuat obat setiap makan!" sahut mbak Wenah juga merasa kesal terhadap suaminya itu.
"Ck." kakak ipar ku pun keluar dengan membanting pintu rumah sehingga terdengar menggema di sudut rumah.
__ADS_1
Karin yang berada di balik pintu kamarnya hanya menahan emosinya untuk tidak mengumpat akan kakak iparnya yang begitu ketara sekali bahwa ia membenci orang tuanya sekaligus mertua laki-laki ****** itu. Karin menutup matanya sembari menarik nafasnya pelan.
Drttt ...
Karin membuka mata dan menatap ke arah ponselnya yang berbunyi menunjukkan ada pesan masuk. Ia mengambilnya lalu melihat siapa yang mengirimnya pesan.
'Kak Herul'
Karin melempar ponselnya pada tempat tidur saat tahu siapa pengirim pesan tersebut. Ia pun lalu menidurkan diri sembari menatap langit-langit kamarnya yang terlihat putih kosong dan hanya ada cahaya lampu yang menghiasi langit-langit kamarnya. Lama kelamaan ia pun terlelap.
Karin pun sampai di Bas Stop pemberhentian tempat kerjanya. Ia menuju ke ruang Pas Kad' saat ia membuka pintu ia melihat Sofia telah selesai melakukan Pas Kad'.
"Eh, Rin kau sudah sampai?"
Karin mengangguk lalu ia melakukan hal yang sama seperti Sofia lakukan yaitu Pas Kad' rutin sebelum memasuki area setor. Setelah berhasil ia dan teman kerjanya itu menuju setor sembari melewati area parking (parkir mobil).
"Eh, Rin?" panggil Sofia yang mendapat lirikan dari Karin, "Kemarin pas kamu pulang itu, Mus si cowok yang memberimu minuman itu datang lagi loh. Dia menanyakan nama dan asalmu darimana."
"Lalu?"
"Kamu ngomong apa Sofia? Jangan menambah-nambahkan! Dia tidak mungkin menyukaiku, dan aku juga tak menyukainya," balas Karin dan mempercepat jalannya agar cepat sampai sekaligus menghindari pertanyaan temannya itu.
"Hai guys ... selamat pagi," sapa Sofia saat tiba di tempat setor.
"Pagi."
"Karin ...."
"Iya Mak Bi?"
"Nah, dari Mus." Mak Bi memberikan sekotak nasi lemak yang berisikan banyak isian lauk pauk.
Karin menatap kotak tersebut lalu mengambilnya. "Mak Bi ...? Bisakah Mak Bi tidak menerima apapun lagi darinya."
__ADS_1
"Kenapa Karin ...? Kau tidak menyukai nasi kotaknya? Nanti Mak Bi bagi tahu ya kalau kamu tidak menyukai nasi lemak," ucap Mak Bi seraya kembali menyantap sarapannya.
Karin menggeleng. "Bukan itu maksudku Mak Bi, maksudku Mak Bi jangan terima lagi pemberiannya."
Teman-temannya yang berada di sana menatap Karin bersama. "Memangnya kenapa rin?" ucap Mina penasaran.
"Tidak apa-apa kak, hanya saja aku tidak ingin menerima apapun lagi darinya!" sahutku.
"Kau yakin Karin? Dia baik loh nak sama kamu. Lagipula kayanya dia menyuka-" sebelum Mak Bi menyelesaikan kalimatnya Karin lebih dulu memotongnya.
"Aku yakin Mak Bi ... lagipula aku tak ingin mengenalnya," ucapnya dengan menampakkan wajah tanpa ekspresi.
Mak Bi menatap para anak-anak di sana secara bergantian, lalu kembali menatap Karin yang masih berdiri di depannya. "A-ah, baiklah ... baiklah ... Mak Bi tak akan menerima pemberiannya lagi. Maafkan Mak Bi ya nak Karin, Mak Bi tidak tau kalau kamu tidak menyukai segala pemberian Mus. Maafkan Mak Bi ya?"
"Tak apa Mak, justru aku yang minta maaf atas perkataan ku barusan," ucap Karin.
Mak Bi mengibaskan tangannya. "Tidak! Tidak! Ini Mak Bi yang salah membuatmu merasa tidak nyaman. Baiklah Mak Bi janji menolak pemberiannya."
Karin mengangguk dan tersenyum tipis. "Terimakasih Mak Bi karena sudah mengerti. Nah, kotak ini buat Mak Bi ... aku tidak bisa memakannya karena aku sudah bawa sendiri," ucap Karin seraya memberikan kotak pemberiannya laki-laki itu kepada Mak Bi supervisor nya. Karena ia tidak ingin menyia-nyiakan bekal yang sudah mbaknya berikan.
...****...
"Hai Karin."
Karin menoleh ke belakang saat seseorang memanggilnya. Namun gadis itu tak mengabaikan sapaan orang itu, ia kembali memfokuskan membersihkan tempat tissue yang kotor.
"Kamu mengabaikan ku? Hei ... Karin halooo." laki-laki itu menghampiri Karin yang membersihkan kotak tissue sambil dirinya membasuh tangannya di dekat gadis itu.
"Karin."
Karin yang mulai jengah membalikkan badannya dan menatap laki-laki di depannya itu yang tak lain adalah Musleh. "Boleh tak, satu hari saja kau tak mengganggu ku?!"
Laki-laki itu tersenyum saat melihat wajah Karin yang terlihat kesal padanya. "Cantik."
__ADS_1
Karin yang mendengar ucapan laki-laki itu segera menggelengkan kepalanya lalu kembali membalikkan badannya, kembali mengelap kotak tadi dan mencoba mengabaikan laki-laki itu.
Laki-laki itu pun tak bersuara lagi. Dan langsung keluar dari tandas tersebut. Karin yang mendengar pintu tertutup menoleh ke arah belakangnya, rupanya laki-laki itu telah keluar dengan sendirinya tanpa ia suruh. "Akhirnya dia keluar ... mengganggu sekali," gumam Karin. Lalu kembali melakukan pekerjaannya agar cepat selesai.