
Malamnya, saat selesai makan malam danum menghampiri sang adik Karin. "Dek?"
Karin sendiri menoleh ke arah sang kakak. "Iya, kenapa bang?"
"Belikan Abang roti di warung mamak, boleh?"
"Bukannya, sepuluh menit yang lalu baru selesai makan malam? Untuk apa beli roti?" tanya Karin bingung. Soalnya baru beberapa menit yang lalu sang kakak sudah makan malam bersama dengan mbak dan juga dirinya.
"Abang cuma pengen aja makan roti, udah deh dik! Jangan banyak bertanya belikan Abang roti ya, ya?" ucap danum dengan rengekannya.
Karin yang selesai dengan cucian piring hanya menarik nafas pelan dan mengulurkan tangannya pada sang kakak. Sang kakak pun menyipitkan matanya dengan tatapan bertanya. "Abang menyuruhku untuk beli roti kan? Mana uangnya!"
Danum terkekeh kecil saat menyadari bahwa ia belum memberikan uang sepeser pun pada Karin. "Hehehe ... Abang lupa neng," ucap danum sembari memberikan uang sebesar sepuluh ringgit, "Nah, jangan lupa tau belikan yang rasa vanilla."
"Iya, sudah tau kok."
...****...
"Hai ... kita ketemu lagi," sapaan seseorang membuat Karin yang sedang memilih roti menolehkan kepalanya ke belakang, "Kamu!"
"Ku rasa kita memang berjodoh, buktinya kita berjumpa lagi," ucap orang tersebut yang berdiri di depan Karin.
"Ka-kamu, belum pulang?" ucap Karin, saat melihat orang di depannya masih berada di daerahnya.
Laki-laki itu yang tak lain adalah Musleh yang berdiri tepat di depan Karin dengan baju tadi pagi. "Belum, aku masih mau makan di situ. Kamu sendiri untuk turun ke bawah?"
"Aku ... di suruh bang Danum buat beli roti," sahut Karin dengan tetap menatap laki-laki itu.
Musleh hanya manggut-manggut. "Benarkah?"
Karin mengangguk sebagai respon. Sebelum ia mengerti maksud dari sang kakak yang menyuruhnya untuk turun beli roti. "Apakah, perlu ku temani kamu makan?"
"HAH?!"
"Jika kamu tidak mau, yasudah!" Karin berniat untuk pergi dari warung itu saat dirinya sudah selesai membayar roti tersebut. Namun tangan laki-laki itu menahan tangan Karin.
"Tu-tunggu! Aku belum mengucapkan sesuatu," ucap laki-laki itu, "Aku tadi hanya terkejut saja saat kamu ingin menemani ku makan malam," lanjutnya.
Karin hanya diam menatap wajah laki-laki itu. Lalu ia pun berucap. "Di mana kamu memesan makanan?"
__ADS_1
"Di situ ...," ucap Musleh seraya menunjuk ke arah warung rujak di samping toko nasi goreng.
Karin pun pergi ke tempat yang di tunjuk, mendahului laki-laki yang menahan tangannya tadi.
"Bi ... aku mau pesan rujaknya satu ya," ucap Karin pada penjual rujaknya.
"Baik, nak. Di tunggu ya," sahut penjual rujak itu sambil tersenyum.
Karin dan Musleh pun duduk di meja yang telah disediakan di sana, dengan posisi mereka yang berhadapan. Di sana tidak ada yang saling membuka pembicaraan, sehingga beberapa saat Musleh yang memulai pembicaraan terlebih dahulu. "Rin ...?"
Karin melihat ke arah laki-laki itu. "Kenapa?"
"Tidak, aku hanya memanggil," ucapnya. sungguh konyol.
"Terimakasih, sudah membantu menemukan bang Danum," ucap Karin saat keheningan melanda mereka berdua.
"Tidak usah berterimakasih, aku ikhlas membantu."
Karin melirik ke arah wajah tampan itu, lalu mengalihkan pandangannya ke arah bawah. "Tapi jika bukan karena mu, mungkin bang Danum belum di temukan. Terimakasih banyak atas bantuannya."
Laki-laki itu nampak tersenyum kecil melihat Karin yang mengucapkannya tanpa melihat ke arahnya. "Jadi ... apakah kamu mau menjadi makwe ku?"
"Kamu tidak perlu mengatakannya sekarang, aku bisa menunggunya," ucap Musleh sembari meraih tangan Karin yang berada di atas meja tempat mereka duduk, "Tapi ... jika kamu tidak mau, atau mau menolaknya tidak apa-apa. Kamu bisa mengatakannya sekarang."
Karin masih dengan diamnya, hingga beberapa saat. Saat rujak yang mereka pesan akhirnya datang. "Makanlah, nanti keburu dingin," ucap Musleh.
Karin pun hanya mengangguk dan segera memakan makanan yang ia pesan, meskipun di bilang saat ini ia sudah terlalu kenyang karena sebelum gadis itu turun, ia sudah makan bersama kedua saudaranya. Namun ia tetap harus memakannya, mengingat bahwa laki-laki di depannya ini sudah membantu menemukan saudaranya yang sempat di tangkap polis tadi sore.
....
"Eee ... terimakasih eyy sudah mau temankan aku makan malam," ucap Musleh saat ia sudah berada di dekat motornya.
Karin hanya mengangguk kecil sembari menunggu kepergian laki-laki itu. Namun laki-laki itu tak kunjung pergi sehingga membuat Karin menoleh ke arahnya. "Apa, ada yang ketinggalan?"
"Tidak ada," sahutnya, "Kalau begitu aku pergi dulu."
Saat telah menghidupkan motor dan ingin meninggalkan tempat itu. Karin segera menghentikannya. Musleh pun membuka kaca helmnya lalu bertanya. "Ada apa Karin?"
Terdengar tarikan nafas panjang yang keluar dari mulut Karin. "Aku ...."
__ADS_1
"Hah? Mau apa?" tanya Musleh yang tidak faham maksud dari kata yang dikatakan oleh gadis itu.
"Aku ... aku ...."
Musleh yang berada di atas motornya, mematikan motor tersebut dan menghampiri Karin. "Ada apa?" ucapnya dengan lembut.
Karin melirik laki-laki yang berada di depannya dengan wajah yang memerah merona. "Aku ... aku mau jadi makwe mu."
Musleh terlihat terkejut dengan ucapan Karin. Ia meraih kedua bahu gadis itu dan bertanya untuk memastikan apakah ia tak salah dengar. "Karin ... be-betul ke ni? Aku tak salah dengar kan? Betul?"
Karin hanya tersenyum tipis. "Em."
Tanpa aba-aba, Musleh pun memeluk Karin tepat saat gadis itu mengangguk. "Terimakasih, terimakasih."
Beberapa saat kemudian, Musleh pun melepaskan pelukannya pada Karin dan meraih pipi Karin. "Oke ... mulai esok kamu tak payah lagi naik bas key! Aku akan ambil kamu kesini."
"Besok hari Sabtu," balas Karin singkat.
"Ah, iya esok cuti, baik kalau begitu hari isnin aku akan ambil kamu disini, kamu mengerti sayang?"
'D-dia bilang apa? Sa-sayang?' batin Karin. Gadis itu tak percaya dengan laki-laki di hadapannya itu. Baru beberapa menit yang lalu ia telah menjadi kekasihnya. Tapi haruskah laki-laki itu langsung mengucapkan kata sayang?
"Sayang? Kamu tidak apa-apa?"
"Ah, ak-aku ... tidak apa-apa."
"Baiklah, kalau begitu aku antar sayang sampai rumah oke!" ucap Musleh.
"Ah, tidak! Tidak! Kamu sebaiknya balik saja, aku tidak apa-apa naik sendiri nanti," balas Karin mencoba menolaknya secara halus pada laki-laki itu.
"Tapi sayang-"
"Baiknya, kamu cepat pergi! Biar aku langsung naik. Diujung sana aku nampak polis lah," ucap Karin mencoba membohongi laki-laki itu.
"Baiklah, kamu hati-hati eyy."
Karin pun mengangguk. "Emm."
Musleh pun pergi meninggalkan Karin yang masih berdiri di tempatnya dengan bingkisan yang masih di pegangnya itu. "Apakah, orang Malaysia seperti itu saat mendapatkan kekasih? Sayang? Astaga."
__ADS_1
Karin pun akhirnya segera pergi untuk pulang karena takut akan ada polis yang lewat jika ia terus berdiri di tempat itu.