Tentangku & Hatiku

Tentangku & Hatiku
Ada Apa Denganku?


__ADS_3

Hari demi hari, dan bulan demi bulan telah berlalu. Dimana hubungan Karin dan Musleh semakin dalam. Keduanya pun juga mengetahui tentang perbedaan agama yang mereka jalani. Meskipun demikian, hubungan antara mereka berdua semakin dalam. Karin pun telah mengubah panggilannya kepada Musleh, yang awalnya 'Kamu sekarang gadis itu telah memanggilnya dengan sebutan Abang.'


"Sayang, kapan ya kita bisa menikah?" ucap Musleh saat mereka berdua berada di taman dekat rumah Karin.


Karin menoleh ke arah kekasihnya. "Mengapa Abang bertanya seperti itu?"


"Tidak, aku hanya bertanya kepada diri sendiri, bila lah Abang boleh halalkan sayang. Abang mau sayang menjadi milik Abang seutuhnya," kata Musleh sembari tersenyum kepada Karin. Karin pun membalasnya dengan senyuman manis.


"Eh, sayang kita pergi jalan-jalan jom."


"Kemana bang ...?" tanya Karin saat Musleh mengajaknya pergi.


"Emm ... tak tahu, gimana kalau kita putar-putar taman Medan ini saja? Lalu kita cari makan, jom."


Mereka berdua pun akhirnya pergi menggunakan moto yang Musleh bawa, awalnya Karin menolak untuk naik motor karena gadis itu takut akan bertemu dengan polis yang selalu mengintai di daerah tempat tinggalnya itu. Namun Musleh mencoba membujuknya, karena lelaki itu juga tidak mau naik bus. Entahlah author juga tidak tau mengapa ia tidak mau menaiki bus setiap gadis itu ingin naik.


Saat sedang asik berkeliling di daerah tempat Karin, terdengar suara adzan. Musleh pun berhenti di musholla dekat dengan jalan raya tersebut. Keduanya pun turun dari motor. "Sayang Abang sholat dulu ya? Kamu tunggu di sini atau sayang mau masuk?"


Karin menolak dengan cepat. "Tidak! Aku tunggu di sini saja."


"Baiklah, sayang tunggu sebentar ya."


Karin mengangguk sambil tersenyum tipis kepada Musleh, gadis itu pun akhirnya menunggu kekasihnya di kursi yang ada disana. Karin melihat-lihat keadaan takut-takut gadis itu malah kena sapa orang berbaju biru kehitaman pulak (polis) itu kan tak seru guys.


Sambil menunggu kekasihnya selesai sholat. Karin menghampiri seorang penjual minuman ia merasa sangat haus lantaran hari itu sangatlah panas. Ia membeli minuman rasa limau nipis dan rasa orang2. Setelah membelinya gadis itu kembali ke tempat semula, dimana ia duduk tadi.


Setelah beberapa saat, Musleh pun selesai. "Sayang, kamu beli apa?"


"Air," ucap Karin singkat, "Ini untukmu."


"Terimakasih sayang."


Mereka pun menikmati minuman yang di beli oleh Karin. Setelah menghabiskan minuman itu, keduanya kembali berlanjut bberkeliling. Setelah beberapa saat Musleh dan Karin telah kembali. "Sayang, Abang balik dulu ya?"


"Abang tidak mau masuk dulu ker?" ucap Karin menawarkan kekasihnya itu untuk masuk.


Tetapi Musleh menggelengkan kepalanya sembari melihat ke arah jam miliknya. "Sepertinya Abang balik saja, Abang juga ada pertemuan dengan kawan Abang. Sayang tidak apa-apa kan kalau Abang bertemu kawan?"

__ADS_1


Karin menyipitkan matanya heran. "Kenapa pulak aku tidak memperbolehkan Abang bertemu dengan kawan Abang? Aku tidak ada hak akan hal itu."


Lelaki itu terdengar menghela nafasnya, lalu memegang Kedua puncak Karin. "Sayang, Abang tak suka kalau sayang berkata seperti itu. Sayang adalah segalanya bagi Abang, jikalau sayang tidak mengizinkan Abang untuk bertemu dengan kawan. Abang boleh bilang ke mereka. Ingat! Sayang itu pacar Abang bukan kawan Abang."


Karin meraih tangan laki-laki itu. "Abang sepertinya salah faham, maksud aku, aku mana boleh melarang Abang berjumpa dengan kawan Abang. Abang juga berhak meluangkan waktu bersama keluarga dan juga kawan abang, tidak hanya kepada saya saja. Jadi aku hanya tidak ingin mengekang Abang terlalu jauh." terang Karin, "Sekarang Abang faham kan maksud aku?"


Musleh tersenyum lalu mengangguk sambil mengusap lembut rambut sang kekasih. "Abang faham dah, terimakasih ya sudah mau mengerti Abang."


Setelah selesai nge-drama di depan blok tempat Karin. Akhirnya Musleh pulang dan Karin pun naik ke lantai dua. "Sudah pulang ...? Darimana saja, adik tau mbak Wenah khawatir tau."


"Maaf bang, tadi aku hanya jalan-jalan di daerah sini aja kok. Lagipula aku dah izin pada mbak Wenah," ucap Karin pada sang kakak, danum.


Danum yang berdiri bersandar di dinding tepat di depan pintu. Terus mengintrogasi sang adik yang pulang terlambat. "Ya sudah, kamu masuk dan segeralah mandi. Lepas itu makan."


Karin menuruti perintah sang kakak, ia hanya tidak ingin berdebat terlalu lama dengan saudaranya itu. Karena ia tau jika ia memang pulang terlambat sebagaimana telah melewati batas waktu yang telah di berikan oleh sang kakak.


****


Setelah selesai mandi dan makan. Karin memilih masuk kamar. Gadis itu merenungkan ucapan Musleh siang tadi.


'Sayang, kapan ya kita bisa menikah?'


"Apakah, aku harus mengakhiri hubungan ini? Aku yakin semua ini tidak akan berjalan dengan baik," lirihnya. Karin mencoba selalu berfikir positif akan hubungannya dengan Musleh. Meskipun ia tahu kedua orang tua kekasihnya tidak merestui hubungannya lantaran perbedaan toleransi.


Gadis itu memejamkan matanya sembari menutupi wajahnya dengan tangan. Ia terlalu lelah akan pemikirannya. "Sebaiknya aku tidur, besok aku harus kerja."


Keesokan harinya. Karin telah tiba di tempat kerjanya dan telah berdiri di depan Pass Kad'. Setelah selesai dengan Pass Kad' tersebut Karin segera menuju stor untuk bersiap-siap.


____________


Jam pun akhirnya telah menunjukkan pukul delapan. Semua teman-teman Karin beserta Mak Bi keluar dari stor untuk melakukan aktivitasnya sebagai Klina.


Hampir tiga jam bergelut dengan pekerjaan masing-masing. Akhirnya Karin dan para teman lainnya selesai. Mereka segera memasuki area stor di mana mereka ingin mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah akan pekerjaan yang mereka lakukan. Begitu juga dengan Karin gadis itu juga ingin mengistirahatkan tubuhnya sebelum sebuah suara menghentikan aktivitas peristirahatan gadis itu.


"Karin ...?"


Karin yang tau siapa pemilik suara tersebut hanya melirik singkat lalu kembali menutup matanya.

__ADS_1


"Karin ... bangun dong! Yuk ikut aku sebentar!!" ucap Sofia mencoba menarik-narik lengan Karin.


"Apa sih? Ada apa?" ucap Karin sembari bangun dari tidurnya.


"Ikut aku."


"Iya kemana Sofi ...?"


"Ke Giant," sahut Sofia.


"Ngapain kesana panas-panas sof?" tanya Karin, ia terlalu malas jika harus keluar dari tempat itu. Apalagi harus ketempat umum.


"Aku mau beli sesuatu di sana, lagipula di Giant ada diskon-diskonan."


"Aku malas Sofia, sebaiknya kamu sendiri saja yang kesana."


"Ayolah Rin. Masak kamu tega sama aku," ucap Sofi sembari mengerucutkan bibirnya.


Karin menarik nafasnya pelan. "Ya sudah ayok."


"Nah, gitu dong."


Akhirnya keduanya pun keluar dari stor, saat tiba di luar Karin bertemu dengan Musleh yang sedang berbicara dengan sahabatnya. Karin berjalan melewati kekasihnya itu namun Musleh malah menahan tangannya. "Sayang, kamu mau kemana?" ucap Musleh sembari melihat ke arah Sofia.


"Saya mau pergi ke Giant bang, Sofia ingin berbelanja di sana."


"Oh, mau berbelanja ya. Apakah mau Abang hantar sampai Giant?" tawar Musleh pada kekasihnya dan Sofia.


Namun Karin menolaknya, ia bilang bahwa dirinya ingin berjalan kaki saja tanpa merepotkan kekasihnya. Musleh pun menuruti keinginan Karin jadi lelaki itu membiarkannya. Saat mereka sedang berjalan di jalan raya, Karin melihat seorang nenek tengah berdiri di samping jalan yang keduanya lewati.


"Sofi, nenek itu sedang apa?" tanya Karin kepada temannya.


Sofia melihat ke arah yang di tunjukkan oleh Karin kepadanya. "Oh, itu ... nenek itu sedang sholat Karin."


"Kok sholatnya di jalan raya?" tanya Karin penasaran akan nenek tersebut.


"Sholat itu tidak memilih tempat Rin, asalkan tempat itu bersih dan yang paling utama itu adalah niat kita," terang Sofia.

__ADS_1


Saat mendengar penuturan temannya, entah kenapa Karin meneteskan air matanya. Air matanya mengalir dengan sendirinya dengan deras. Karin segera mengelap air mata tersebut.


'Ada apa denganku? Kenapa aku malah menangis saat melihat nenek itu sedang melaksanakan kewajibannya?' gumam Karin dalam hati.


__ADS_2