Tentangku & Hatiku

Tentangku & Hatiku
Selalu Menolak.


__ADS_3

Keesokan paginya Karin terbangun dari tidurnya, ia menggeliatkan tubuhnya serta tangannya ke berbagai arah sehingga ... gadis itu menyentuh benda kenyal, ia pun menekan benda tersebut pelan-pelan.


'Apa ini? kenapa bentuknya seperti pisang?' batin Karin di sela-sela penasarannya.


Karena penasaran akan benda apa itu. Ia pun membuka matanya, ia mengangkat kepalanya mencoba melihat ke arah benda apa yang di pegangnya itu. Namun saat ia telah melihatnya, matanya langsung membelalak. Bagaimana tidak! Ternyata yang di pegangnya sedari tadi itu rupanya adalah anak tunggal sang suami. Karin pun melepaskannya dengan cepat.


"Sial! Kenapa aku memegangnya," gumam Karin sembari memegangi tangannya. Ia pun berdiri dan segera menuju ke dapur untuk mencuci tangannya.


Di saat dirinya sedang termenung meratapi nasib tangannya yang ternodai secara tidak sengaja, Karin malah kembali terperanjat saat mendengar suara sapaan dari seseorang. Siapa lagi kalau bukan Musleh suaminya.


"Sayang ...," sapa Musleh sembari memeluk istrinya dari belakang. Karin pun hanya bisa tersenyum kikuk karena ia merasa malu atas kejadian tadi.


'Apakah, dia tahu tentang kejadian tadi,' batin Karin dengan perasaan takut. Ia takut kalau anak tunggal suaminya terbangun, bisa bahaya!


"Sayang, kenapa sudah bangun?" ucap Musleh sembari melihat jam di tangannya, "Ini masih jam enam sayang, masih pagi tapi kenapa kamu sudah bangun? Apakah semalam tidurmu nyenyak?" sambungnya lagi.


Karin mengangguk sambil menunduk. "Iya."


Musleh melirik ke arah istrinya. "Sayang? Kenapa kamu mencuci tangan?"


Karin kembali membulatkan matanya, ia tidak tahu bagaimana akan menjawab pertanyaan suaminya. Ia tak akan mungkin kan, berkata bahwa dirinya tadi telah memegang anak tunggal suaminya. Astaga, "Emm ... t-tadi aku ...," Karin merasa gugup sebelum akhirnya ia berkata kembali, "Tadi aku ileran jadi aku mengelapnya dengan tanganku lalu aku segera mencucinya," ucapnya bohong.


Musleh percaya, ia hanya manggut-manggut. "Baiklah, kalau begitu sayang cepatlah mandi! Karena selepas itu kita pergi mencari sarapan."


Karin mengangguk sambil melepaskan pelukan Musleh, ia segera masuk ke dalam kamarnya sebelum laki-laki itu menyadari ke canggungan istrinya itu.


Setelah beberapa saat kemudian Karin pun selesai dengan pakaiannya. Sebelum keluar mencari sarapan di luar, Karin mengambil tas kerja miliknya lalu keluar untuk menemui suaminya yang sudah menunggunya di depan.


"Sudah siap?" ucap Musleh sembari menutup ponselnya.

__ADS_1


Karin mengangguk. "Iya."


Musleh melihat tas milik istrinya itu, lalu menghampirinya dan bertanya. "Sayang kenapa kamu memakai tas kerjamu?"


"Kan setelah sarapan bukannya langsung berangkat kerja?" balas Karin.


Terlihat sang suami terkekeh kecil sembari melihat ke arah Karin. Lalu menyentuh kedua bahu istrinya. "Sayang, kita ini sedang cuti, mana boleh bekerja."


"Kenapa?" tanya Karin tak mengerti.


"Sayang, kitakan semalam baru kahwin. Jadi bos sayang memberikan sayang cuti tiga hari." ucap Musleh menjelaskan.


"Kenapa aku tidak tahu bang, bahwa aku cuti?"


"Karena Abang yang mengajukan permohonan cuti sayang, maaf juga Abang lupa bagi tahu sayang semalam," ucap Musleh sembari mengusap rambut Karin lembut.


Karin pun mengerti lalu menatap suaminya sembari tersenyum. "Baiklah."


Wajah itu seakan terus maju sehingga membuat Karin faham akan jalan pikiran suaminya itu, Karin pun langsung mendorong tubuh Musleh untuk me jauh. "Ak-aku tunggu di luar!"


Karin segera keluar untuk menjauh dari suaminya itu, ia terlihat menarik nafasnya yang memburu. "Astaga, apa dia mau mencium ku? Pagi-pagi begini?"


"Ayo!" Musleh pun menghidupkan mesin motornya. Lalu akhirnya mereka berdua meninggalkan pekarangan rumah.


Setelah beberapa saat, mereka tiba di sebuah restoran mamak yang terletak di dekat tempat tinggalnya. Mereka pun masuk dan segera memesan makanan yang ingin di makannya.


Setelah selesai dengan sarapannya, mereka langsung kembali kekediamannya. Mereka menghabiskan masa cuti mereka dengan beres-beres rumah, Karin senang karena suaminya itu membantunya melakukan aktivitas tersebut. Setelah beberapa saat mereka akhirnya selesai dengan pekerjaan yang mereka buat.


Mereka menidurkan tubuh lelahnya di atas lantai yang berlapis kan kain karpet. Musleh menyalahkan TV dan kembali menidurkan tubuhnya di dekat sang istri, sang istri pun hanya melirik sang suami sesaat. Entahlah, apa yang ada di pikiran Karin.

__ADS_1


Saat sedang menonton TV tiba-tiba Karin tanpa sengaja paha karin menyenggol paha Musleh dan membuat suaminya terbangun dari tidurnya. Ia memegang paha tersebut.


'Apakah sesakit itu ...?'


Karin yang melihat suaminya menggosok-gosok pahanya, ia segera bangkit dari tidurnya. "Maaf bang, aku tidak sengaja sungguh! Apakah sakit?" ucap Karin khawatir. Ia turut menggosok-gosok paha suaminya sehingga beberapa saat sang suami menghentikan tangan Karin.


Karin yang melihat tangannya di tahan oleh tangan suaminya mengernyitkan dahi lalu menatap suaminya heran. "Kenapa?"


"Jangan! Aku tidak ingin melakukannya siang-siang," ucap sang suami yang membuat Karin semakin kebingungan.


Karena tak ingin banyak bertanya, Karin pun hanya mengangguk kecil sembari menjauhkan tangannya dari paha suaminya. Ia menatap wajah suaminya sesaat terlihat sangat tampan.


"Sayang ... kenapa?"


Karin menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa."


Musleh hanya manggut-manggut saja, lalu kembali menidurkan tubuhnya dan menatap TV yang menayangkan serial drama (Melayu).


Mereka menonton hingga siang jam sudah menunjukkan pukul satu. Di mana Musleh meraih tangan Karin dan menciumnya, Karin yang tangannya di cium membuatnya malu, namun meskipun seorang Karin merasa dirinya malu tapi ia sangat senang akan perbuatan suaminya itu.


Sehingga beberapa saat, ciuman yang sedari tadi hanya berlaku di tangannya. Sekarang berpindah ke arah kening pipinya, lalu ...? Saat sang suami ingin mendaratkan ciuman tersebut di bibir sang istri. Gadis itu malah langsung menahan bahu Musleh sehingga laki-laki itu menatapnya dengan tatapan bertanya. "Kenapa sayang selalu menolak?"


Karin yang mengerti akan ucapan sang suami, langsung membalasnya. "Aku belum pernah melakukannya bang, aku juga tidak ingin melakukannya." ucap Karin jujur sembari menutup matanya takut.


Musleh yang mendengar perkataan jujur sang istri hanya mengangguk kecil, lalu ia segera bangkit dan menatap wajah istri sembari tersenyum lembut. "Maaf ya, Abang tidak tahu jika sayang tidak suka hal seperti itu. Abang janji, Abang tidak akan melakukannya lagi."


Karin pun ikut bangkit dan membalas tatapan suaminya. "Maafkan aku Abang," ucap Karin lirih, sembari menundukkan kepalanya. Gadis itu takut membuat suaminya kecewa akan dirinya.


"Sayang ...? Kamu kenapa menundukkan kepala, hm?" Musleh menangkup wajah istrinya. Ia mungkin tahu istrinya tidak enak hati kepadanya, "Sayang, Abang tidak apa-apa sungguh."

__ADS_1


Karin pun akhirnya menatap wajah sang suami dan melihat senyuman tulus yang Musleh berikan kepadanya. Karin membalas senyuman tersebut.


__ADS_2