Tentangku & Hatiku

Tentangku & Hatiku
Kedatangan Kakak Ipar.


__ADS_3

Sorenya harinya, mereka terbangun dari tidur siang mereka. Mereka berdua dengan segera masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri mereka. Setelah beberapa saat, mereka pun selesai dan bersiap siap untuk pergi mencari sesuatu untuk di makan buat nanti malamnya.


Namun sebelum membeli makanan, mereka menyempatkan diri mereka berdua untuk pergi berkeliling di daerah tempat tinggalnya. Musleh membawa Karin ke taman yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka tinggal. Mereka segera turun dari motor dan duduk di sebuah kursi yang terdapat di taman tersebut sembari menikmati keindahan taman.


"Sayang ...," panggil Musleh pada sang istri. Sang istri pun menoleh ke arahnya.


"Iya ...?" sahut Karin dengan senyuman yang terukir di bibirnya. Ia meraih tangan sang suami dan meletakkannya di bahunya untuk dengan mudah ia menyenderkan kepalanya kepada Musleh suaminya itu.


Musleh pun tersenyum, lalu membenarkan posisinya agar Karin merasa jauh lebih nyaman saat ia menyenderkan kepalanya, ia pun menarik sedikit tubuh Karin agar menempel kepadanya dan memeluknya erat seraya menciumi rambut sang istri. "Abang mau tetap seperti ini sampai kita tua nanti."


Karin yang mendengar itu hanya mengangguk kecil sembari tersenyum manis. Ia merasa pilihannya menjadikan seorang Musleh suaminya adalah pilihan tepat untuknya. Ia pun dengan bahagia membalas pelukan suaminya.


Mereka berpelukan di taman itu hingga tak terasa senja sudah menampakkan dirinya, dimana mereka berdua harus segera mencari makanan dan segera membawanya pulang. Setelah mendapatkan beberapa makanan yang mereka pilih, mereka segera pulang.


Setelah beberapa menit kemudian, mereka akhirnya sampai di tempat tinggalnya. Namun saat mereka turun mereka melihat sebuah Kereta (mobil) terpampang di depan rumah mereka, Karin yang bingung menghampiri suaminya. "Bang ... ini kereta milik siapa?" tanya Karin saat melihat mobil tersebut.


"Kakak." balas Musleh singkat.


Karin mengernyitkan keningnya. "Kakak ...? Kakak ipar?"


Musleh mengangguk lalu menatap wajah Karin. "Sepertinya, kakak Abang akan menginap di sini sayang. Sayang tidak apa-apa?"


Karin tersenyum hangat kepada suaminya itu. "Aku tidak apa-apa, justru bagus jika ada kakak ipar datang bertamu."


Sang suami tersenyum lalu mengusap pipi Karin lembut sembari berkata. "Terimakasih sayang sudah mengizinkan."


Mereka pun segera masuk dan menemukan kakak-kakak telah menunggu mereka di kursi depan. Mereka berdua pun akhirnya menyapa kakak-kakaknya dan menyuruh mereka untuk masuk, Karin selaku istri Musleh ia berusaha bersikap seperti layaknya adik ipar. Karin membuatkan minuman untuk mereka lalu membagikannya.


"Kalian tidak pergi mana-mana kah? (honeymoon)" ucap Satuna kakak pertama Musleh. Ia melihat ke arah Karin dengan tatapan yang sulit diartikan oleh gadis itu. Karin pun hanya tersenyum menanggapinya.

__ADS_1


"Emm, kami tidak memikirkan hal itu kak, karena kami esok sudah mulai dengan aktivitas kami." sahut Musleh.


"Esok? Esok kalian sudah masuk university?"


Karin dan sang suami mengangguk bersamaan. "Iya, kak kami hanya ambil cuti tiga hari saja. Kami tidak ingin mengambil cuti lama-lama."


"Baguslah, dengan begitu kalian bisa belajar dan menghasilkan uang daripada hanya berdiam diri di rumah buang-buang waktu," ucap kakak pertamanya dengan tatapan dingin ke arah Karin.


Karin yang melihat kakak iparnya seperti itu hanya menundukkan kepala, ia merasa tidak nyaman atas tatapan kakak iparnya itu. Ada apa gerangan? Sehingga membuat kakak iparnya seperti itu terhadap Karin?


"Kakak, ada apa datang ke sini malam?" tanya Musleh sembari meraih tangan istrinya.


"Kami datang kesini buat berkunjung lah, apalagi."


Musleh pun hanya mengangguk kecil, sembari melihat ke arah istrinya, Karin yang mengetahui suaminya menatapnya ia segera mengangkat kepalanya dan membalas senyuman Musleh lalu menganggu. Ia tahu suaminya merasa tidak nyaman kepadanya atas datangnya sang kakak, namun Karin memberikan kepercayaan bahwa ia tidak apa-apa akan hal itu.


"Baiklah, kakak boleh tinggal di kamar sebelah kanan disana ada dua kamar yang tidak di tempati, dan kamu dik mol kamu tidurlah di ruang ini karena Abang tidak ada kamar lagi," ucap Musleh kepada kakak dan adiknya.


Karin tersenyum ke arah adik laki-laki suaminya itu. Ia baru tahu kalau suaminya itu memiliki adik, karena seingatnya saat ia di pertemukan kepada keluarganya Karin hanya melihat kedua orangtua Musleh dan kedua kakak ipar serta kedua suami dari kakak iparnya itu, namun Karin tak melihat adiknya ini. Atau mungkin saat ia kesana dulu adiknya itu sedang berada di luar.


"Baguslah, kalau begitu. Sebaiknya kami berdua masuk dulu ya kak, dik," ucap Musleh setelah itu ia mengajak Karin untuk mengikutinya ke kamar.


...****...


Malamnya, mereka semua berkumpul di depan meja makan untuk makan malam. Karin dan kedua kakak iparnya berada di dapur untuk menyiapkan makanan yang mereka bawa dari rumah dan Karin membuka bingkisan makanan yang ia beli tadi lalu memanaskannya. Saat Karin tengah menyiapkan makanan sang kakak ipar pertama menghampirinya dan bertanya. "Karin, kenapa kalian hanya membeli makanan dari luar? Kenapa tidak memasaknya saja lebih hemat juga?"


Karin melihat kakak iparnya sembari tersenyum. "Iya kak kami membelinya di luar, sebab saya tidak pandai memasak," balas Karin sembari tersenyum tipis ke arah kakak iparnya itu.


Kakak iparnya seperti menggelengkan kepalanya lalu kembali ke tempatnya tadi tanpa mengatakan apa-apa lagi kepada Karin, sehingga membuat gadis itu menatapnya dengan pandangan penuh tanya.

__ADS_1


Sesaatnya ... mereka semua memulai makan malam bersama-sama. Hanya terdengar suara dentingan sendok yang menemani makan malam mereka, sehingga Satiye kakak kedua Musleh bersuara. "Dik Karin ...?"


Karin yang sedang menyantap makanannya mengalihkan pandangannya ke arah suara. "Iya, kak?"


"Sejak bila adik datang ke Malaysia?" ucap Satiye kakak ipar kedua.


"Oktober, tahun lalu kak."


Kakak ipar kedua hanya mengangguk mengerti lalu kembali bertanya. "Lalu bertemu dengan Mus di mana? Di university nya?"


"Iya kak, aku bertemu dengan Karin di university ku. Dia bekerja di sana," sahut Musleh, ia mencoba menjawabnya sendiri pertanyaan sang kakak.


Sang kakak menoleh ke arah Musleh. "Begitu, lalu kau terpincut kepada adik Karin?" goda sang kakak ipar kedua sehingga membuat Musleh tersimpuh malu.


Karin melihat ke arah kakak ipar keduanya, lalu beralih ke arah kakak ipar pertama. Karin dapat melihat pandangan mereka yang berbeda saat menatapnya, entah kenapa Karin merasa ada ketidaksukaan dari sang kakak ipar terhadapnya.


"Karin, kalau boleh tau kamu umur berapa?" tanya Satuna tiba-tiba. Membuat Karin yang melamun tersadar dan langsung menjawab pertanyaan tersebut.


"Emm ... bulan depan ni saya sudah delapan belas tahun kak," balas Karin.


"Delapan belas tahun?" ucap Satuna tidak percaya, Karin pun menganggukkan kepalanya dan menatap wajah wajah mereka yang sedang melihat satu sama lain kecuali Musleh suaminya.


"Wah, ternyata lebih tua adik Karin ya daripada Mus."


Ucapan kakak ipar keduanya itu, membuat Karin mengernyitkan dahi lalu mencoba bertanya kepada kakak iparnya itu. "Benarkah? Lalu ... Abang Mus umurnya berapa kak?" tanya Karin sembari melihat ke arah suaminya yang sudah terlihat menundukkan kepalanya.


"Mus ...? Heeih kamu tidak tahu umur suami sendiri? Mus masih muda lah dia baru umur enam belas tahun," ucap Satiye kakak kedua.


Karin yang mendengar itu langsung membulatkan matanya tak percaya. Apa? Enam belas tahun? Betulkah? Karin terdiam saat balasan kakak iparnya itu. Ia hanya terlalu kaget tentang kebenaran bahwa suaminya itu ternyata masih dua tahun lebih muda darinya.

__ADS_1


'Jadi ... aku menikah dengan seorang brondong?' batin Karin.


__ADS_2