
"Terimakasih banyak," teriak laki-laki itu sembari melambaikan tangannya.
Karin tak mempedulikan teriakan tersebut, ia terus berjalan hingga ia bertemu dengan sang kakak. "Dek ...."
"Bang Danum ...?"
"Kenapa kamu pulang terlambat? Lalu ... siapa dia dik?" tanya Danum saat ia melihat seorang laki-laki menahan tangan adiknya.
Wati menoleh ke arah laki-laki yang bernama Musleh itu. "Bukan siapa-siapa, sebaiknya kita naik saja kak keburu ada polis," Karin mengajak sang kakak agar kembali ke rumah karena ia tak ingin berlama-lama di luar.
Danum pun hanya mengangguk kecil sambil terus menatap laki-laki di seberang jalan itu. 'Siapa laki-laki itu?'
Saat Karin dan kakaknya menjauh, laki-laki yang bernama Musleh itu membuka helm yang sempat ia pasang tadi, lalu berkata. "Siapa laki-laki itu? Kenapa Karin begitu sangat dekat dengannya?"
....
"Mbak, aku pulang."
"Karin, kenapa kamu pulangnya terlambat? Mbak kira kamu kenapa-kenapa di jalan," ujar mbak Wenah khawatir.
"Maaf mbak, tadi di bulatan jalan (aku lupa alamatnya) itu macet jadi sampai sininya terlambat," ucapku jujur.
"Lebih lambat lagi itu, Karin lagi asyik mengobrol dengan seorang cowok mbak, makanya dia jadi makin terlambat pulangnya," sahut Danum yang tiba-tiba cerewet mulut (minta di gorok).
Mbak Wenah menoleh ke arah bang Danum lalu kembali menoleh ke arahku. "Bener, Rin ...?"
Karin mengangguk. "Iya mbak, ia mahasiswa di tempat aku bekerja."
"Hmm ...? Lalu ... kenapa dia ada di Bas Stop bersamamu, apa dia juga rumahnya di dekat sini?" tanya bang Danum.
Aku menggeleng kecil. "Aku tidak tahu, dan tak ingin tahu. Lagian bang Danum jangan terlalu banyak berceloteh di hadapan ku saja! Cobalah berceloteh di depan umum," ucapku seraya masuk ke dalam kamar. Dapat Karin dengar bahwa sang kakak tengah meneriakkan namanya.
__ADS_1
Karin langsung merebahkan tubuhnya pada ranjang tipis yang menjadi tempatnya terlelap.
"Aku hanya ingin mengenal akak lebih jauh, itu saja."
Ucapan laki-laki itu terus berputar di otak Karin saat itu. Gadis itu hanya menarik nafasnya pelan, lalu membuangnya secara kasar.
CLING ...
Terdengar suara pesan masuk dari ponselnya, gadis itu bangun dari tidurnya dan mengambil ponselnya yang ada di dalam tas kecilnya itu. Lalu ia membukanya dan menampilkan nama "Kak Herul" Karin pun membukanya.
Kak Herul:
'Karin ...?'
^^^Karin:^^^
^^^'Iya, kenapa kak ...?'^^^
Kak Herul:
^^^Karin:^^^
^^^'Aku hanya ingin berhenti saja kak.'^^^
Kak Herul:
'Kamu berhenti, karena ingin menjauhiku, 'kan?'
^^^Karin:^^^
^^^(Read).^^^
__ADS_1
...
Karin mematikan ponselnya tak berniat ingin membalas pesan laki-laki itu, ia merasa tidak enak terhadap laki-laki itu. Beberapa saat ia pun memilih untuk mengambil handuk dan bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Malamnya ...
Tok ... tok ... tok ... "Karin?"
"Iya ...?"
"Ayo, makan malam bersama dik," suara bang Danum terdengar sangat samar namun dapat di dengar di telinga. Karin pun langsung membuka pintu kamarnya dan menuju ke arah saudaranya yang berada di depan TV dengan berbagai hidangan masakan yang di masak oleh mbak Wenah.
"Nah, makanlah." bang Danum memberikan tumis kangkung ke piring Karin yang telah berisikan nasi. "Makasih bang."
Kami pun makan bersama di tambah oleh penghuni rumah di sana yang Karin belum mengenalnya. Bagaimana gadis itu mengenal penghuni yang ada di sana? Saat ia sudah berada di rumah, ia akan memilih untuk berdiam diri di dalam kamarnya.
"Selamat pagi akak." sapa Musleh saat melihat Karin telah sampai di depan pintu gerbang universitas nya.
Karin tak menjawab sapaan laki-laki itu, ia terus mengayunkan langkah mengabaikan laki-laki itu. Mungkin merasa tak dipedulikan oleh gadis itu. Musleh menarik tangan Karin hingga membuat gadis itu hampir menabrak dada laki-laki itu jika ia tak menahannya dengan tangan kanannya. Sehingga wajah mereka bertatapan dengan sangat dekat.
Karin segera mendorong tubuh laki-laki di depannya saat suara seseorang terdengar di telinga keduanya. "Cie ... cie ... Mus kau dah pandai menggoda awek ey?"
Karin yang tak berekspresi itu menatap dingin ke arah laki-laki itu, ia lalu mengambil tasnya yang sempat terjatuh ke lantai dan segera pergi dari tempatnya. Musleh memanggilnya namanya berulang kali tapi tidak di gubris oleh Karin.
"Ini semua gara-gara kau lah. Sekarang tengok Karin dah lari dah," ucap Musleh kesal pada temannya yang tiba-tiba mengacaukan pertemuannya dengan Karin.
"Sudahlah, nanti kau juga dapat melihatnya lagi ya, 'kan?" ucap teman Musleh itu sambil merangkul pundak Musleh.
"Tak tahulah," ucap Musleh seraya menghempaskan rangkulan temannya.
"Heii ... mau pergi kemana?" panggil Azmi pada Musleh yang sudah menjauh.
__ADS_1
"Lubang pantat," balas Musleh dengan sedikit berteriak.