Tentangku & Hatiku

Tentangku & Hatiku
Oh! Otakku.


__ADS_3

"Rin, kamu sudah selesai?"


"Emm, sudah."


"Kamu belanja apa?" tanya Sofia saat ia telah selesai dengan belanjaan yang memenuhi keranjang belanjanya. Karin pun menunjukkan barang yang diambilnya.


"Hah? Roti? Roti saja, gak ada yang lain?" tanya Sofia yang heran akan belanjaan yang Karin ambil yaitu hanya dua buah roti tawar.


Karin mengangguk kecil. "Tidak, kok. Sebenarnya aku masih kurang satu barang lagi."


Karin pun segera mengambil satu kaleng susu kental manis dan satu selai rasa kacang. Setelah selesai mengambilnya, Karin segera menuju ke arah Sofia yang sudah berbaris di antrian kasir. Karin pun segera memberikan dua barang yang diambilnya ke Sofia untuk di titipnya, karena ia tidak ingin menuju di barisan tersebut.


"Dasar! Maunya enak mulu kau Rin," ucap Sofia dengan ketus. Karin pun hanya membalasnya dengan tersenyum.


"Aow nah, suruh siapa juga kamu mengajak ku kemari, lagipula belanjaan ku hanya itu saja dan itu tidak akan memberatkan bawaanmu," ucap Karin sembari keluar meninggalkan tempat tersebut.


"Eh, kamu mau kemana?" ucap Sofia dengan suara sedikit nyaring, sehingga petugas di sana memberi sebuah kedipan mata yang memberi kode untuk tidak berisik.


Karin hanya memberi isyarat kepada temannya itu, bahwa ia akan menunggunya di luar sembari menunggu barang miliknya. Karin pun keluar berharap diluar tidak seramai di dalam, namun nyatanya ia salah di luar justru lebi ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang menuju ke tempat tujuannya masing-masing.

__ADS_1


Karena sudah di luar, Karin pun memutuskan untuk duduk di salah satu anak tangga di sana sembari menunggu Sofia selesai. Di saat ia telah terduduk, ia mengingat kembali tentang nenek yang dilihatnya tadi. "Apakah, nenek itu tidak memiliki rumah disini?" gumam Karin pada dirinya sendiri.


Setelah beberapa menit karin menunggu di luar. Sofia pun datang dan langsung menghampiri Karin yang masih dengan posisi duduknya. "Hei, kenapa bengong disini? Nanti di hampiri India loh! Yuk ah, kita balik! panas nih."


Karin pun mengangguk menyetujui perkataan temannya, karena memang pada dasarnya hari itu begitu terasa panas. Mereka berdua segera kembali menuju ke tempat kerjanya. Di perjalanan saat hendak melewati tempat nenek yang di temui Karin tadi, gadis itu menyapa sang nenek dan memberikan barang belanjaannya tadi kepada nenek itu. Setelah menyerahkan bingkisan tersebut Karin pun pamit.


"Rin, kenapa kamu memberikan belanjaan mu kepada si nenek?"


"Aku hanya ingin memberikannya saja."


"Tapi kan setidaknya kamu beri saja satu jangan semua, gaji masih lama loh."


"Aku tau, tapi aku memang ingin membelikan nenek itu makanan saja tidak lebih kok, lagipula barang tadi tidak semahal harga mobil, kan? Aku hanya berfikir bahwa nenek tadi belum makan siang Sof," ucap Karin sembari mengembalikan uang untuk belanjaan yang tadi dibelinya. Karena tadi dia Sofia yang membayarkan. Sofia pun mengambil uang yang di berikan oleh Karin.


Karin dan Sofia melihat ke arah laki-laki yang telah menghampiri kedua. Lagi-lagi Musleh menghampiri gadis itu saat gadis itu telah sampai di pintu gerbang universitas. "Apakah sudah selesai belanjanya?"


Karin mengangguk. "Sudah, emm, sebaiknya aku masuk karena sebentar lagi start kerja."


"Baiklah, sayang hati-hati dalam buat kerja ya?" ucap Musleh sembari mengusap lengan Karin. Karin melirik ke arah temannya lalu melepaskan tangan Musleh yang mencoba mengelusnya.

__ADS_1


"Emm, kalau begitu aku masuk dulu," ucap Karin sambil tersenyum. Lalu ia dan temannya meninggalkan laki-laki itu.


Di perjalanan menuju stor, Sofia bertanya. "Rin ...?"


"Emm."


"Sejak kapan kalian berpacaran? Bukannya kemarin-kemarin kamu tidak suka ya sama si Mus, tapi kok sekarang kalian bisa bersama?" tanya Sofia penasaran akan temannya itu.


Karin pun mencoba berfikir untuk memberikan jawaban apa yang akan ia berikan kepada Sofia. "Aku tidak tau Sof, yang jelas sepertinya dia baik."


"Astaga, Rin. Bukannya emang dari hari itu kami mengatakannya kepadamu bahwa Mus orang baik. Tapi kamu saja yang tidak percaya, bahwa langsung mengatakan bahwa kamu tidak mau mengenalnya."


Karin pun tersenyum. "Emm, maaf karena aku tidak mempercayai kalian pada hari itu."


"Haaaiisss, sudah! Jangan dipikirkan. Aku senang kalau kamu jadian sama Mus. Semoga kalian segera memperdalam hubungannya ya."


Langkah Karin terhenti, ia menatap temannya yang juga menghentikan langkah kakinya. "Apa maksudmu memperdalam hubungan?" (Otak Karin mulai pergi kemana-mana).


"Iya, memperdalam hubungan lah, semacam memperkenalkan satu sama lain dari masing-masing keluarga dan segera menikah gitu, apalagi," sahut Sofia, sembari menyipitkan matanya, "Heiiih, jangan bilang bahwa maksud perkataan ku di salah fahami oleh mu ya Rin?"

__ADS_1


Karin yang awalnya memang berfikir ke arah situ (Itu ya ... itu). Ingin meng-geplak kepala temannya itu, namun ia salah. Dan seketika itu pula Karin tertawa lepas sembari memegang perutnya. "Maaf ... Sofia aku tidak bermaksud begitu."


"Astaga, kenapa kau memiliki otak mesum di saat umurmu sudah delapan belas tahun Rin." ucap Sofia kesal, sembari menggelengkan kepalanya.


__ADS_2