
Di dalam kamar Karin dan Musleh mulai berdebat, karena saat di meja makan tadi saat mereka sedang sarapan ponsel Musleh berbunyi menandakan sebuah pesan masuk. Saat Musleh membukanya sembari memakan roti canai yang di belinya tiba-tiba mengepalkan tangannya. Karin yang melihat suaminya seperti sedang menahan amarah langsung bertanya kepadanya dengan hati-hati.
"Bang ... kamu kenapa?" tanya Karin dengan suara pelan. Ia takut jika panggilannya akan membuat sang suami tambah kesal.
Musleh pun melirik ke arah Karin dengan tatapan tajam. "Ikut aku ke kamar sekarang!"
Musleh segera berdiri untuk menuju kamarnya. Karin dan adik iparnya saling pandang satu sama lain. "Kakak ke kamar dulu ya. Kamu habisin saja sarapannya Mol."
"Bang Mus kenapa kak Rin? Kenapa tiba-tiba dia terlihat sangat marah kepada kakak?" ucap Mol sembari tak lepas pandangannya ke arah kamar kakaknya itu.
Karin pun berpikiran hal yang sama, namun ia berusaha untuk menenangkan sang adik. "Tidak apa-apa, mungkin Abang mu ingin berbicara dengan kakak. Yasudah kakak kekamar dulu ya."
Mol pun hanya mengangguk sambil menatap wajah kakak iparnya itu. "Kak Karin ... jika bang Mus mengatakan hal yang tidak-tidak, kakak jangan mencoba memasukkannya ke dalam hati ya. Aku percaya sama kak Karin."
Karin menatap adik iparnya itu dengan tatapan terharu. Ia senang karena Mol tidak membencinya. "Iya."
Karin pun masuk ke dalam kamarnya dan menemukan suaminya sedang berdiri di depannya, menatapnya dengan tajam. "Ada apa bang? Kita kan belum selesai dengan sarapan pagi kena-"
"Persetan dengan sarapan pagi!!" bentak Musleh tepat di hadapan Karin. Karin pun terkejut dengan bentakan tersebut. Ada apa gerangan sampai suaminya itu bentaknya? Apakah gadis itu membuat suatu kesalahan?
"Ada apa bang? Kenapa kamu tiba-tiba marah sama aku?" tanya Karin yang tidak mengerti apa kesalahannya.
"Dengar!!! Aku tidak mengajarkan mu untuk menjadi seorang pencuri Karin. SIAPA YANG MENGAJARIMU MENJADI SEORANG PENCURI!!"
Pyaaar!!!
Karin secara refleks menampar pipi sang suami tanpa sadar. Gadis itu melihat ke arah tangannya sendiri yang telah menampar suaminya. "Bang ... apa maksudmu berkata kalau aku seorang pencuri? Aku mencuri apa?" ujar Karin dengan mata yang berkaca-kaca.
Hatinya sungguh sakit saat mendengar suaminya menuduhnya sebagai seorang pencuri. Mencuri apa? Mencuri apa?
Musleh mengulurkan ponselnya ke arah Karin menunjukkan sebuah pesan yang terpampang di layar ponselnya itu. Karin pun langsung meraihnya dan melihat isi pesan tersebut. Dan betapa tidak percayanya gadis itu sehingga air mata yang di ditahan nya mengalir tanpa persetujuannya.
__ADS_1
"Kamu liat! Apakah kamu sudah melihatnya, hah? Aku tidak menyangka bahwa istriku akan berbuat hal memalukan seperti itu kepada keluarga ku. Kenapa kamu melakukan itu kepada ku Karin? KENAPA?" Teriak Musleh di bagian akhir.
"Dan kamu percaya dengan apa yang di katakan oleh kak Satiye? Apa kamu percaya kalau aku mencurinya?" ujar Karin lirih. Ia menangis dengan apa yang terjadi. Karin tidak percaya bahwa kakak ipar keduanya itu akan menuduhnya seperti.
"TENTU SAJA AKU MEMPERCAYAI KAKAK-KAKAK KU. Mereka yang merawat ku sampai sebesar ini kau tau, dan mana mungkin jika aku tidak mempercayai mereka!!"
"Hanya karena beras dan garam kau sampai menuduhku sebagai pencuci dan membentak ku seperti ini?" balas Karin dengan deraian air mata.
"Mereka memang saudara mu bang, tapi kamu juga harus ingat! Aku ini istrimu! Dan apakah kamu lebih mempercayai kakak-kakak mu itu yang menuduh aku mencuri beras dan garam mereka daripada percaya sama aku? Bang ... seharusnya kamu ingat akan satu hal, sejak kita bersama apakah aku pernah ada memasak di dapur? Apakah aku pandai memasak? Sehingga kamu percaya bahwa aku mencuri barang milik mereka?" balas Karin dengan perasaan kecewa.
Musleh pun terdiam mendengar penuturan istrinya itu. Ia baru menyadari akan hal tersebut dan menatap wajah istrinya yang sudah terlihat sembab oleh air mata yang telah mengalir di pipinya.
"Sa-sayang ...?"
Belum sempat laki-laki itu mendekati Karin. Karin telah lebih dulu menjauhinya sembari mengusap air matanya. "Jika Abang sudah mulai bosan terhadap ku, tolong! Tolong kembalikan aku kepada keluarga ku! Aku masih punya saudara disini." lirih Karin sembari kembali mengeluarkan air matanya.
Musleh tiba-tiba langsung memeluknya erat meskipun Karin berusaha untuk melepaskan pelukan tersebut. Namun kekuatan gadis itu tidak sebanding dengan kekuatan suaminya. "Maafkan aku sayang ... maafkan aku."
"Lepaskan aku ...," ucap Karin dengan lirihnya.
Satu setengah tahun kemudian ...
Hal itu terjadi kembali dan Musleh pun mulai ketahuan akan perselingkuhannya dengan gadis yang bernama "Kurnia Sari" yang bekerja klina di sebuah rumah Kondo yang berada disebelah kiri rumah yang di tempati oleh keduanya.
Hal itu di ketahui oleh Karin saat gadis itu pulang dari kerja nya. Kala itu hari Sabtu di mana Karin hanya bekerja setengah hari saja. Dia juga memang sengaja tidak menelepon sang suami untuk menjemputnya karena pada saat itu Musleh libur jadi Karin kasian takut sang suami akan kelelahan jika harus menjemputnya.
Jadi gadis itu memutuskan untuk pulang sendiri dengan menaiki taksi. Butuh waktu tiga puluh menit dari PT ke Pucung tempat ia tinggal karena pada saat itu tidak macet jadi lebih cepat sampainya.
Namun, saat gadis itu sudah berada di ujung depan rumahnya. Karin melihat suaminya sedang berciuman dengan seorang wanita yang bernama "Kurnia Sari" itu. Karin pun mengepalkan kedua tangannya dan segera menghampiri keduanya.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?" teriak Karin pada mereka.
__ADS_1
Refleks Musleh yang mendengar hal itu langsung menyudahi ciuman tersebut dan langsung berdiri hendak menghampiri Karin. "Karin aku bisa jelaskan! Ini--"
"Sudah cukup! Aku sudah tidak ingin mendengar apapun lagi." ucap Karin dengan perasaan hancur.
"Syukurlah, kalau kamu tidak ingin mendengar penuturan suamimu. Akan lebih senang juga kita kalian bercerai!" ucap Satuna dari arah dalam dan muncullah kedua kakak iparnya dengan tangan yang bersendekap.
"Kakak!!" bentak Musleh pada kedua kakaknya.
Karin tersenyum kecut melihat kedua kakak iparnya itu. "Baik, baik! Jika kalian ingin aku dan Musleh seperti itu. Aku akan mengabulkannya."
"Tidak! Aku tidak akan menceraikan mu Karin."
"Berhenti berbicara seperti itu. Seakan akan kamu mencintaiku dengan tulus!" ucap Karin, "Sekarang aku sudah membulatkan tekad ku untuk bercerai dengan mu Musleh! Aku akan segera mengajukan gugatan cerai kita," tegas Karin lalu ia melirik ke arah gadis yang bersama dengan suaminya itu.
Karin pun langsung menuju ke kamarnya dan menerobos kedua kakak iparnya itu. "Dasar! Tidak tahu sopan santun ada yang lebih tua akan di lewati begitu saja."
BRUUKK!!!
"Hiks ... hiks ..." Isak Karin pecah di dalam kamar itu. Ia memasukkan semua baju-bajunya ke dalam tas.
"Kak Karin ...? Kakak mau kemana kak?" ucap Mol yang tiba-tiba muncul.
Karin menoleh ke belakang dan menemukan Mol sudah menangisinya. Karin tersenyum seraya bangkit dari duduknya. "Jangan menangis Mol ... kakak baik-baik saja okey kakak hanya ingin pulang dek."
"Maafkan bang Mus sama kakak-kakak ku kak, aku gak tau akan terjadi seperti ini sama kak Karin. Aku sungguh gak tau kalau kakak di benci oleh kedua saudara ku... Maafkan Mol kak Karin," ujar Mol bersimpuh di hadapan kakak iparnya.
Karin yang melihat itu langsung membantu adiknya itu untuk segera berdiri. "Jangan seperti ini Mol, kamu gak salah apa-apa dek jadi gak usah meminta maaf. Kakak sungguh tidak apa-apa."
"Oh iya, daripada Mol menangis di hadapan kakak, lebih baik Mol bantu kakak membereskan barang-barang kakak biar cepat selesai. Mau kan bantu kak Karin?" pinta Karin pada adik iparnya.
Mol pun mengangguk dan membantu Karin untuk mengemasi barang-barangnya. Setelah selesai mereka berdua keluar dengan Mol yang mengantarkan kakaknya itu sampai di depan jalan sana.
__ADS_1
"KARIN!!" panggil Musleh. Laki-laki itu mencoba menghampiri istrinya namun, Mol segera mencegatnya. "Jangan berani-berani nya abang mendekat lagi dari kak Karin. Cukup sekarang Abang sakiti dia. Biarkan dia pergi! Aku tak habis pikir dengan Abang yang selalu lebih mengutamakan kak Satuna dan kak Satiye ketimbang kak Karin istri kakak sendiri!! Aku sebagai adik Abang merasa sangat kecewa atas kelakuan Abang yang sungguh memalukan, sekarang pergi. PERGI!!!" bentak Mol mengusir sang kakak dari sana.
Karin hanya melirik sesaat saat Musleh telah berjalan kembali menuju rumahnya. "Ternyata dia tidak benar-benar berusaha untuk mencegah ku." gumam Karin sembari mengusap air matanya.