
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, saat itu juga Karin tetap menunggu kepulangan suaminya. Dengan perasaan campur aduk Karin tetap menunggunya, sehingga ia mendengar suara motor suaminya itu.
Karin cepat-cepat membuka pintu dan segera menuju ke arah suaminya. "Bang ... Abang sudah pulang?"
Musleh terkejut dengan kedatangan Karin yang tiba-tiba. "Astaga sayang, aku kaget tahu!" sahut Musleh sembari memegang dadanya.
"Aku hanya menunggu Abang pulang," ujar Karin dengan senyuman tipisnya. Ia merasa lega suaminya telah pulang namun ia juga penasaran kemana suaminya pergi hingga larut malam begini.
"Maaf sudah buat sayang khawatir, yasudah ayo masuk."
Mereka berdua pun masuk dan sesampai di kamarnya. Karin mencoba bertanya tentang kepergian suaminya itu. "Bang?"
"Emm."
"Abang pergi kemana sampai pulang jam segini?" tanya Karin pelan.
"Kan abang sudah bilang, Abang pergi kerumah teman, sudah deh gak usah banyak bertanya Abang capek mau istirahat! Kamu juga sebaiknya tidur," balas Musleh tanpa menoleh ke arah sang istri.
Karin menunduk sembari menggenggam kedua tangannya. "Abang tidak mengkhianati ku kan? Abang tidak sedang berselingkuh dengan perempuan lain kan?"
Ucapan Karin sukses membuat Musleh membuka matanya dan langsung bangkit dari tidurnya, menatap tajam wajah istrinya itu. "Karin!! Jangan bilang kamu membuka chat ponsel Abang tadi?" ucap Musleh dengan suara sedikit meninggi.
"Maaf bang, bukan aku sengaja membukanya, tadi saat aku ingin memanggil Abang karena ponsel Abang ketinggalan disini, tiba-tiba ponsel Abang berbunyi dan menunjukkan ada chat masuk dengan nama "Kurnia" dilayar ponsel abang dan dengan isi pesan yang membuat aku membukanya," ujar Karin jujur.
"Dengar!! Aku paling tidak suka jika ada orang yang membuka ponsel aku !!! Jadi sekali lagi aku lihat kamu berani menyentuh punyaku maka jangan salahkan aku jika aku menampar mu karena telah lancang membuka milik orang!" ucap Musleh dengan nada tinggi. Ia pun langsung menjauh dari hadapan Karin dengan membawa bantalnya.
"Abang mau kemana?" tanya Karin sembari menahan lengan suaminya.
Namun, suaminya malah menghempaskan tangannya. "Lepas! Aku mau tidur diluar, karena aku tidak suka tidur dengan orang yang sudah berani lancang menyentuh barang milik orang."
__ADS_1
BRAAKK!!!
Karin yang menahan air matanya agar tidak jatuh. Akhirnya terjatuh juga dari mata kecilnya. Apakah dia benar-benar lancang menyentuh barang suaminya? Apakah dia benar-benar tidak boleh menyentuh apapun termasuk milik suaminya? Karin terduduk ia menangis sesenggukan apakah perbuatannya telah membuat suaminya marah? Apakah suaminya harus semarah itu kepadanya sehingga suaminya tidur diluar?
Karin pun mengusap air matanya dan mencoba berdiri untuk menghampiri suaminya yang telah tidur diluar. Ia membuka pintu untuk menuju ruang tamu dan melihat suaminya telah berbaring di sofa.
Karin menghampiri suaminya. "Bang?"
Suaminya tidak menjawab panggilan Karin, laki-laki itu justru membalikkan badannya. Karin mendekati suaminya itu dengan mata yang berkaca-kaca. "Bang, maaf atas kelancangan ku tadi. Tapi aku benar-benar tidak sengaja melihatnya, aku hanya takut jika Abang akan menduakan ku itu saja bang."
"Maafkan aku ....," ucapnya lagi sembari menundukkan kepala. Ia benar-benar tidak ingin hal ini terjadi kepada rumah tangganya. Gadis itu hanya takut bahwa suaminya akan mengkhianati Pernikahannya yang telah berjalan lima belas hari itu.
"Tidurlah ... ini sudah malam sayang sepertinya capek," ucap Musleh di sela-sela matanya yang tertutup tanpa membalikkan badannya.
Karin mengusap air matanya yang telah mengalir di pipinya sembari berkata. "Ayo kita ke kamar bang," ucap gadis itu.
Laki-laki itu akhirnya bangkit dari tempatnya lalu menatap wajah istrinya yang telah mengeluarkan air mata. Musleh pun mengusap lembut pipi istrinya. "Maafkan Abang juga ya Abang tidak bermaksud membuat sayang menangis, ayo kita ke kamar."
"Pagi kak Rin." sapa Mol adik iparnya.
Karin menoleh ke belakang dan melihat adik iparnya sedang berdiri di belakangnya dengan piring yang berisikan nasi beserta beberapa lauk pauk. "Pagi Mol, kenapa makannya sambil berdiri? Duduklah di meja makan."
"Tidak apa-apa kak, aku hanya ingin makan di sini," ucap Mol sembari menyendok satu suap dan memasukkannya ke mulut sendiri, "Kak Rin... bang Mus mana?" ucapnya lagi.
"Oh, bang Musleh lagi keluar katanya mau beli roti cabai," balas Karin.
"Kak Rin aku hanya ingin mengatakan sesuatu kepada kakak."
Karin pun hanya tadinya sedang menyiram tanaman bunga langsung menoleh. "Apa Mol?"
__ADS_1
"Tapi janji ya, kak Karin jangan marah? Ataupun bertanya kepada Abang. Aku takut kak Karin kena marah Abang Mus," ujar Mol pada karin kakak iparnya.
Karin pun mengangguk kecil sembari menunggu kelanjutan ucapan sang adik ipar. "Iya kakak janji."
"Semalam aku tidak sengaja jumpa Abang Mus di pasar malam dengan perempuan lain, mereka juga sedang bergandengan tangan kak Rin. Awalnya aku kira akak, tapi dari lagat perempuan itu berjalan aku yakin itu bukan akak. Emm ... apa semalam kakak dan Abang Mus pergi pasar malam?"
Saat itu juga Karin terdiam dengan apa yang diucapkan oleh adik iparnya itu. Jadi benar apa yang ada di dalam pikirannya bahwa suaminya akan memduakannya? Ah, tidak! Tidak! Mungkin itu hanya teman dekatnya ataupun itu sepupunya.
"Kak Karin ...? Kak?"
Karin tersadar dari lamunannya. "Ah, iya dik... Maaf kak tiba-tiba termenung hehehe. Emm, tentang semalam kami tidak pergi mana-mana kok. Mungkin adek Mol salah lihat orang."
Mol menyipitkan matanya laki-laki itu seperti memikirkan sesuatu. "Benarkah? Hmm tapi aku memang nampak Abang Mus tapi karena kak Karin bilang kalian ada disini. Berarti aku memang salah lihat, maaf ya kak aku dah salah sangka."
"Tidak apa-apa." Karin pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti. Ia kembali teringat akan ucapan adik iparnya itu. Karin menarik nafasnya dalam lalu mengeluarkannya dengan pelan.
Beberapa saat kemudian. Musleh pun datang dan memanggil Karin untuk sarapan, Karin pun menghampiri suaminya itu dan mengambil bingkisan yang dibawanya.
"Adek Mol sini sarapan dengan kita dek, ayo sini." panggil Karin pada adik iparnya yang masih duduk di teras rumah.
"Iya Mol, duduk di sini aja ngapain kamu duduk di kursi situ," sahut Musleh.
Mol pun bangkit dari duduknya lalu menghampiri Keduanya. Mereka pun sarapan bersama pagi itu.
"Kak Satuna dan yang lainnya kemana?" tanya Musleh yang melihat rumahnya nampak sepi.
"Oh, kak Satuna dan yang lainnya keluar. Katanya mau makan diluar," ujar Mol.
"Kenapa kamu gak ikut Mol ...?"
__ADS_1
"Malas!" ucap Mol singkat.
Karin melihat adik iparnya itu dengan rasa kasian. Ia kasian karena Karin sering melihat adik iparnya itu seperti sedang diabaikan oleh kedua kakak iparnya.