
Karin pun tiba di taman Medan tempat saudaranya tinggal dan yang sudah pernah mengusirnya dari tempat ini. Jika Karin mengingat kembali masa waktu itu di mana sang kakak mengusirnya atas keputusannya untuk memilih jalannya sendiri. Karin betul-betul menangisi jalan perjalanannya yang begitu berat baginya.
Namun, ia tidak tahu harus kemana lagi selain tempat ini. Ia sudah tidak memiliki tujuan lain, jika ia mengetuk pintu di depannya ini. Apakah orang yang berada di dalam atau orang yang sangat di rindukannya akan membukakan pintu untuknya? Atau mereka akan mengusir kembali seperti waktu?
Karin pun mulai memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah itu, lalu beberapa saat pintu rumah tersebut terbuka dan menampilkan sosok laki-laki bertubuh tinggi besar tengah berdiri di depannya.
"Karin ...?" ucap laki-laki itu yang tak lain adalah Danum kakak Karin. Laki-laki itu menatap sang adik dengan tatapan dingin seperti es batu.
"Bang Danum." ucap Karin pelan. Ia sedikit takut bertemu dengan saudaranya karena ia sedikit malu dengan apa yang telah dilakukannya. Mungkin ia telah membuat orang di depannya itu kecewa akan dirinya.
__ADS_1
Danum pun tak banyak berkata, ia mempersilakan gadis itu untuk masuk dan memanggil mbaknya yang berada di dapur tengah memasak. "Mbak, kemarilah ada tamu."
"Iya sebentar."
Wenah pun muncul dari dapur dan terdiam sejenak di depan pintu dapur itu. Ia seakan tak percaya akan kehadiran orang yang sempat ia usir sebelumnya, dengan raut wajah yang sama dengan adiknya danum. Ia pun duduk dengan posisi bermuka masam. "Ada apa kamu datang kesini? Apakah kamu bertengkar dengan pasangan mu itu?"
"Kak!!!" tegur Danum pada sang kakak ia melirik tajam ke arah Wenah tak suka. Meskipun Danum sedikit kesal dan kecewa pada sang adik, namun ucapan dari sang kakak justru membuatnya tambah tidak suka. Mungkin laki-laki itu merasa bahwa kata-kata itu tidak pantas untuk diucapkan.
Karin hanya menunduk tak menjawab pertanyaan dari Danum kakaknya. Dirinya sedikit malu untuk menjawab! Apa yang harus ia jawab, apakah dirinya akan mengatakan bahwa ia dan suaminya (mantan) itu ingin mengajukan gugatan cerai nya atas perlakuan Musleh yang telah mengkhianatinya?
__ADS_1
"Orang bertanya itu di jawab! Jangan hanya menundukkan kepala!" ucap sang kakak. Danum mengalihkan kembali perhatiannya pada sang kakak. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, apakah Wenah tidak sesabar itu?
"Karin ... ada apa? Kenapa kamu hanya diam saja? Dan dimana suamimu itu kenapa dia tidak ikut kemari?" tanya Danum lagi. Lalu ia melirik ke arah koper yang di bawa Karin, ia ingat bahwa koper tersebut adalah koper milik sang adik yang ia bawa dari kampungnya.
"Lalu koper ini apa? Kenapa kamu juga membawanya kembali kemari?" sahutnya lagi sambil menahan diri. Ia merasa sang adik menyembunyikan sesuatu. "KARIN!!! Abang tanya, kenapa kamu membawa koper ini kembali kemari?"
"Aku... aku..."
"Cepat katakan!!!" ucap Wenah dengan lantang.
__ADS_1
"Aku dan Mus-musleh akan bercerai kak, bang," ujar Karin sembari menangis di depan kedua kakaknya. Gadis itu berlutut di kedua kaki sang kakak.
"APA?!" ucap kedua kakaknya serempak. Ucapan Karin membuat kedua kakaknya terkejut tak percaya.