Tentangku & Hatiku

Tentangku & Hatiku
Apa Aku Terlalu Buruk?


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Karin dan Musleh telah berada di area parking untuk segera pulang setelah keduanya siap, mereka pun meninggalkan tempat parking tersebut.


Di tengah perjalanan menuju pulang, mereka berdua berhenti di sebuah kedai makan untuk membeli beberapa makanan untuk makan malam mereka. Setelah selesai, mereka pun pulang.


Sesampainya di rumah ...


Karin meletakkan bingkisan tersebut di meja makan dan masuk kedalam kamarnya untuk mengganti bajunya karena ia harus mengerjakan tugas rumah. Sebagai seorang istri yang baik, Karin ingin menunjukkan bahwa ia bisa melakukan pekerjaan rumahnya dengan baik. Namun, saat ia sedang mengelap kakak ipar pertamanya menghampirinya.


"Karin ...," panggil Satuna kakak pertama.


Karin menoleh ke belakang dan menemukan kakak iparnya memanggilnya. "Iya kak?" jawab Karin sembari tersenyum ke arahnya.


"Kamu kan sedang bersih bersih, jadi tolong dong itu mena yang berada di depan TV itu di lap sampai bersih! Kakak soalnya batuk-batuk karena debu yang ada di sana," perintah sang kakak ipar pertamanya dengan menunjuk-nunjukan jarinya.


Karin pun langsung mengambil lap nya dan langsung mengelap meja yang di tunjukkan oleh sang kakak ipar. Karin melakukannya dengan baik dan benar, saat gadis itu sedang mengelap. Kakak iparnya itu berujar kembali. "Karin suamimu mana?"


Karin menoleh untuk membalas ucapan sang kakak. "Ada di kamar kak, kayanya sedang mandi."


"Ada apa kakak mencari ku?" sahut Musleh dari balik pintu kamarnya, lalu menghampiri keduanya. Musleh pun melihat istrinya yang sedang membersihkan meja TV, lalu berkata. "Sayang ... apa yang kamu lakukan? Kamu kan sedang capek untuk apa melakukan hal itu, sudah berhenti melakukan itu!" ucap Musleh dengan pelan.


Namun, sang kakak malah berkata. "Heiiiih ... biarkan saja Mus istri mu melakukannya! Toh jika menjadi pasangan suami istri itu harus bisa membersihkan rumah. Iyakan Karin?"


Karin menoleh ke arah keduanya sembari tersenyum. "Iya, apa yang dikatakan oleh kak Satuna benar bang, lagipula aku tidak capek jadi ... aku baik-baik saja."


"Tap-"


"Sudah-sudah! Daripada kamu melarang istrimu yang lagi buat kerja lebih baik kamu duduk, ada hal yang ingin kakak bicarakan sama kamu. Sini duduk sama kakak biarkan istri mu itu." sang kakak meraih tangan Musleh untuk duduk bersamanya. Musleh pun duduk menurutinya sembari menatap sang istri, Karin pun hanya mengangguk kecil, gadis itu hanya memberi isyarat bahwa ia tidak apa-apa.


Musleh terlihat menarik nafasnya pelan lalu menghadap sang kakak. "Ada apa kak, kakak ingin berbicara apa?"


"Coba kamu liat foto ini, dia cantik kan?" ucap Satuna yang menunjukkan ponselnya ke arah Musleh.

__ADS_1


"Iya cantik."


"Iya kan, dia itu cantik. Anaknya juga pandai memasak," ucap Satuna dengan suara sedikit nyaring sehingga membuat Karin mendengarnya. Karin pun yang tadinya sedang mengerjakan tugas rumah malah harus terhenti saat ucapan kakak iparnya itu.


"Kamu tau tidak? Bahwa dia itu suka sama kamu Mus. Tadi juga kakak ingin menjodohkan kamu sama dia, tapi ... kamu malah milih istri mu yang tidak pandai memasak itu."


Degh~


Karin yang mendengar ucapan tersebut terkejut. Bagaimana bisa seorang kakak ipar berkata seperti itu di hadapannya. Apakah dia lupa tentang keberadaan Karin? Atau sang kakak memang sengaja mengatakan hal itu di depannya?


"Kakak ini bicara apa sih ada-ada saja," ucap Musleh sembari pandangannya mengarah ke arah Karin.


Karin menggenggam kain lap yang di pegangnya dengan erat. Ia berusaha untuk tidak menangis di depan kakak ipar dan suaminya itu, tapi perkataan sang kakak ipar sungguh membuatnya tidak kuat berada di tempat ia terduduk. Ia pun langsung berdiri untuk menjauh dari tempat itu.


"Sayang? Kamu mau kemana?" ucap Musleh dengan menahan tangan istrinya karena sang istri terlihat membendung air mata.


"Aku mau ke kamar bang, tubuh ku lengket-lengket semua jadi aku ingin mandi," balas Karin tanpa melihat ke arah suaminya, ia pun melepaskan tangan tersebut dan langsung meninggalkan keduanya di ruang tamu.


"Mau kemana kamu Mus?"


"Aku ingin ke kamar kak."


"Udah ngapain sih kamu ngikutin istrimu mulu! Mending duduk sama kakak! Kita bicarakan tentang Dinda nama disamarkan)."


"Tapi Karin?"


"Sudah, kamu kan sudah dengar tadi kalau istri mu itu mau mandi. Jadi biarkan dia," sahut kembali sang kakak.


Musleh pun mengangguk. Ia kembali duduk untuk menemani sang kakak dengan pandangannya mengarah ke arah kamarnya.


Sedangkan di dalam kamar. Karin menutupi wajahnya dengan bantal agar suara tangisannya tidak terdengar oleh mereka, Karin tidak percaya akan mendengar perkataan itu. "Apa aku sebegitu buruknya kah?"

__ADS_1


...****...


Musleh memasuki kamar dan melihat Karin telah tertidur pulas di kasurnya dengan menutupi wajahnya dengan selimut. Musleh pun akhirnya menarik pelan selimut tersebut agar tidak menutupi wajah sang istri, ia mengelus rambut Karin lembut.


Karin pun terbangun. "Maafkan Abang sudah membuat sayang terbangun."


Karin pun menggelengkan kepalanya, lalu bangkit dan mengambil handuknya dan berniat untuk pergi ke kamar mandi. "Sayang ...." Musleh menahan tangan istrinya itu namun sang istri melepaskannya dan berlalu meninggalkan sang suami yang menatapnya.


Sedangkan di dalam kamar mandi. Karin menarik nafasnya pelan, ia berusaha agar tidak terlihat sedang menahan sakit di dadanya di depan suaminya. Karin mengusap wajahnya dengan kasar. "Apa yang aku lakukan?"


Tidak ingin terlalu memikirkannya. Karin pun membersihkan diri karena setelah itu ia harus mempersiapkan makan malamnya bersama sang suami dan kakak-kakak dan adik iparnya.


"Haaaaaaah ... kamu pasti bisa Rin, pasti bisa!" ucap Karin sembari menyemangati dirinya sendiri.


Beberapa saat Karin keluar dari kamar mandi dan melihat suaminya ada di depan pintu. Karin pun tersenyum kecil sembari menjauhkan dirinya dari depan pintu kamar mandi. "Abang mau masuk kan? silahkan."


"Sayang ...," panggil Musleh. Namun Karin mengabaikan panggilan tersebut dan segera menutup pintu kamarnya.


Setelah keduanya selesai, mereka menuju ke arah ruang makan. Karin dan kedua kakak iparnya ber-otak atik di dapur menyiapkan makan malam. Seperti biasa, Karin hanya memanaskan makanan yang dibelinya tadi waktu pulang bersama dengan suaminya.


Satuna dan Satiye saling pandang satu sama lain, sehingga Satiye menghampiri Karin saat ia telah selesai dengan masakan yang dimasaknya. "Dik, kamu beli apa tadi?"


"Ah, hanya beli sayur bening dan beberapa ikan dan ayam kak Sa," balas Karin dengan tersenyum kepada kakak ipar keduanya itu.


"Sepertinya enak ya, nanti kakak boleh tidak minta punyamu dik?" ucap Satiye sembari menelan ludah saat melihat makanan yang di beli Karin. Karena Satiye hanya memasak telur dan Maggie (mie) sebagai kuahnya.


"Tentu kak Sa. Kakak boleh mengambilnya," balas Karin. Ia tentu sangat senang jika makanannya akan ada yang mencobanya, meskipun itu hanya makanan yang ia beli dari luar.


"Ck, dik! Dik! Ngapain kamu minta ke Karin, kan kamu bisa buat sendiri! Kamu kan bisa membuatnya, tidak seperti Karin yang tidak pandai memasak." sindir Satuna dari belakang. Karin melihat ke arah Satiye kakak ipar keduanya. Satiye hanya mengusap punggung Karin.


"Tidak apa-apa, jangan dengarkan apa yang dikatakan oleh kak Satuna okey!" ujar Satiye berbisik kepada adik iparnya itu. Yang otomatis diangguki oleh Karin.

__ADS_1


'Setidaknya, masih ada orang yang mengerti ku.' batin Karin sembari tersenyum tipis ke arah kakak ipar keduanya itu.


__ADS_2