Tentangku & Hatiku

Tentangku & Hatiku
Maafkan Aku.


__ADS_3

"Sudah siap sayang ...?"


"Sudah."


"Oke, kita berangkat."


__________________


"Aku pulang," ucap Karin saat dirinya sudah sampai di depan pintu rumah. Ia pun memasuki area dapur lalu mengambil segelas air putih untuk ia minum. (iyalah minum thor, kau fikir mau dibuat apa?)


"Sudah pulang dik?" ucap mbak Wenah saat memasuki dapur, Karin menoleh ke arah sang kakak lalu mengangguk kecil sebagai respon.


"Bang Danum belum pulang mbak?"


"Belum, mungkin sebentar lagi dia bakal sampai," sahut mbak Wenah. Setelah itu terdengar suara pintu terbuka dan menampilkan sosok laki-laki bertubuh tinggi, gemuk sedang memasuki kamarnya, Karin yang melihat itu pun memanggil sang kakak.


"Bang Danum," panggil Karin. Danum pun menoleh ke arah sang adik, "Iya kenapa dik?"


"Apakah kalian tidak sibuk? Aku ada sesuatu yang ingin ku beritahu kalian."


"Apa itu?" tanya mbak Wenah, serta bang Danum yang telah menyipitkan mata.


****


"APA?!"


Karin tersentak ketika melihat reaksi kakak-kakaknya yang terlihat menahan amarahnya. Karin kala itu merasa takut akan ucapannya akan membuat kedua sang kakak marah kepadanya. Dan ternyata ...? Danum selaku kakak ke tiga dari kelima bersaudara, berdiri dan menatap sang adik tajam.


"Karin, apakah ucapanmu itu bercanda ...? Kamu fikir perkataan itu lucu menurut mu, hah?!" bentak Danum pada Karin.

__ADS_1


"Aku serius bang, aku juga sedang tidak bercanda," sahut Karin dengan gemetar.


"KARIN!" bentak kedua saudaranya bersamaan.


"Kamu tau apa yang akan kami lakukan kalau kamu berkata seperti itu lagi? Kamu jangan menakut-nakuti dan membuat lelucon yang tidak berguna seperti itu."


"AKU SEDANG TIDAK MEMBUAT LELUCON KAK, BANG! Aku serius."


Pyaaar!!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Karin, sehingga gadis itu dapat merasakan rasa panas yang menjalar di seluruh area pipi sebelah kirinya. Gadis itupun tidak mengatakan apa-apa lagi, karena Karin tau bahwa keputusannya itu telah membuat kedua kakaknya marah besar.


Beberapa saat setelah tamparan itu Danum kembali menatap tajam ke arah Karin, dan memegang kedua bahu sang adik dengan kuat. "Abang tanya sekali lagi, kamu tidak benar-benar akan hal itu, bukan? Katakan Karin, KATAKAN!"


Karin hanya menundukkan kepalanya sembari menangis di balik rambut yang menutupi wajahnya. "Bang Danum, aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Aku ingin menjadi mualaf bang."


BRAAKK!!!


Karin yang mendengar itu, langsung berlari ke arah sang kakak dan memohon sembari memegang lutut kakaknya itu. Namun Danum mengabaikannya, setelah kembalinya mbak Wenah. Rasa khawatir Karin meningkat saat sebuah tali pinggang yang di pegang sang kakak akan mengarah kepadanya.


"Karin, Abang tidak main-main akan ucapan Abang yang akan memukulmu. Katakan, apakah kau yakin dengan pendirian mu itu?" ucap Danum dengan mata yang memerah.


"Maafkan aku aku kak, bang. Maafkan aku."


Pyaaarr ... pyaaarr ... pyaaarr


Cambukan demi cambukan mendarat ke arah Karin, Karin mencoba untuk memohon ampun kepada keduanya kakaknya. Namun hal itu telah tak berlaku, kedua kakaknya terlalu marah atas keputusan Karin. Karin pun hanya menangis menahan sakit di seluruh tubuhnya, termasuk wajahnya yang terkena cambukan itu membuat luka tergores di bagian pipinya.


"Pergi kamu sekarang juga!!"

__ADS_1


Karin membulatkan matanya, ia tak percaya akan ucapan sang kakak. Karin pun menggelengkan kepalanya cepat sembari membungkuk memohon ampun.


"Apa yang dikatakan mbak Wenah benar, sebaiknya kamu keluar dari rumah ini!!! Kami tidak butuh orang yang mengkhianati kepercayaan kita. Pergi kamu, pergi!!" ucap Danum dengan amarah yang memuncak. Ia pun menarik tangan Karin dan menyeretnya keluar dari rumah tersebut.


Karin mengedor pintu yang telah tertutup. "Mbak Wenah, bang Danum buka! Aku gak mau keluar dari rumah ini, hiks ... Aku akan tidak dimana kak, bang," ucap Karin lirih sambil mengetuk-ngetuk pintu rumahnya.


"Keluar kamu dik, kami kecewa sama kamu," teriak mbak Wenah dari dalam dengan isak tangisnya.


"Mbak, aku minta maaf. Tolong buka pintunya," ucap Karin sesegukan. Ia awalnya berfikir untuk membatalkan niatnya, karena tidak ingin membuat keluarganya kecewa. Namun, ia kembali berfikir bahwa ia telah berjanji akan niatnya. Hingga pada akhirnya setelah satu jam lebih Karin berada di depan pintu rumahnya. Ia pun memutuskan untuk pergi dan membawa tas yang berisikan seluruh pakaiannya.


Ia pun menghapus air matanya saat tiba di bawah bloknya itu. Dan segera berjalan menuju jalan raya, sampai suara klakson motor mengalihkan pandangannya.


"Sayang, sedang apa kamu disini? Dan ...? Apa ini? Kenapa kamu membawa tas mu? Heiii ... kamu kenapa menangis?" berbagai pertanyaan terlontar dari mulut laki-laki yang memanggilnya sayang. Siapa lagi kalau buat Musleh.


Musleh pun mematikan motor tersebut dan segera menghampiri Karin lalu memeluknya. Musleh memeluk tubuh Karin dan menenggelamkannya di dalam pelukannya untuk membiarkan gadis itu menangis.


"Bang Mus, hiks ...." panggil Karin dengan isak tangisnya.


Yang dipanggil hanya mengangguk, dan mengelus rambut sang kekasih. "Tidak apa-apa, disini tidak ada orang."


Karin pun mempererat pelukannya dan berusaha untuk tidak bersuara karena ia terlalu takut, jika tangisannya akan di dengar oleh orang lain termasuk kekasihnya itu.


Setelah beberapa saat, saat Karin telah tenang. Musleh pun memutuskan untuk membawa kekasihnya itu ke rumahnya.


Setelah sampai di tempat tinggal Musleh, Musleh membuka pintu kamarnya dan menyuruh Karin untuk masuk. Karin pun masuk dan duduk di kasurnya. Setelah Musleh menyimpan tas kekasihnya di belakang pintu kamar, ia pun menghampiri Karin. "Apakah, sayang sudah baikan?"


Karin yang melihat kearah Musleh, hanya mengangguk kecil. Ia pun terlihat sudah sembab akibat tangisannya yang membuat matanya menyipit. Musleh terlihat khawatir akan kekasihnya itu. Ia pun memeluk kembali gadis itu, agar gadis itu tenang.


"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja," ucap Musleh. Ia sebenarnya ingin mengetahui apa penyebab kekasihnya itu menangis seperti itu dan membawa tas miliknya. Tapi sepertinya ia juga tidak ingin banyak bertanya kepada Karin, ia tau bahwa kekasihnya itu sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Musleh melirik ke arah gadis itu, rupanya Karin telah tertidur di dalam pelukannya. Musleh pun segera membaringkan tubuh Karin ke posisi yang sebenarnya, ia pun menyelimuti gadis itu. Setelah itu Musleh pun keluar dan menutup pintu.


Saat dirinya sudah keluar dari dalam kamarnya, ia segera menuju ke arah dapur untuk mengambil air minum. Dia pun meneguknya dengan cepat. "Sebenarnya kamu kenapa rin ...?"


__ADS_2