Tentangku & Hatiku

Tentangku & Hatiku
Aku Percaya.


__ADS_3

Malam itu pun mereka berkumpul di meja makan untuk makan malam. Mereka memakan makanan yang telah di sediakan di meja tersebut.


"Sayang... aku mau sayur itu," ucap Musleh sembari menunjuk ke arah mangkok yang berisikan sayur bening itu. Karin pun mengambilnya lalu memberikannya kepada sang suami.


"Makasih ya," ucap Musleh sembari tersenyum manis, Karin pun membalasnya tak kalah manis.


"Mus ... coba ini, jelas ini lebih enak daripada makanan yang kami beli dan istrimu itu," ucap sang kakak pertama yang membuat suaminya itu menyenggol lengan istrinya.


Karin melihat suaminya yang menatapnya, karena mengerti takut sang kakak marah kepada suaminya itu Karin pun lalu mengangguk kecil sembari tersenyum.


Musleh pun menyodorkan piringnya kepada sang kakak, lalu mengucapkan terimakasih. Musleh pun memakan pemberian Satuna lalu berkata. "Waaah, ini enak sekali kak, ternyata berbeda dengan sayur yang ku beli."


"Iyakan? Apa ku bilang lebih baik kamu suruh istrimu itu untuk belajar masak biar enak. Bahkan bisa menghemat biaya juga," ujar Satuna dengan tatapan tidak suka kepada gadis itu (Karin).


Karin pun hanya menunduk sambil terus memainkan sendoknya, ia sangat malu di hadapan para kakak-kakak dan adik iparnya termasuk Musleh suaminya. Ia merasa sangat tidak berguna sebagai istri dan sebagai keluarga di keluarga itu.


Mol selaku adik sekaligus adik ipar Karin hanya menggelengkan kepalanya heran atas sifat sang kakak yang memperlihatkan bahwa ia tidak menyukai gadis yang telah menjadi kakak iparnya itu.


Beberapa saat kemudian ...


Mereka pun selesai makan malam, dan setelah selesai membereskan meja makan mereka semua masuk ke dalam kamar masing-masing. Karin masuk dan melihat sang suami tengah terduduk di meja kecil di dalam kamarnya sembari memegang ponselnya.

__ADS_1


"Bang ...?" panggil Karin kepada suaminya yang masih berfokus pada ponsel tersebut.


"Emm ... kenapa sayang," balas Musleh tanpa mengalihkan pandangannya pada ponselnya.


"Abang sedang apa? Tumben sekali main hp sampai tidak menoleh panggilanku, seru kah?" tanya Karin yang penasaran akan suaminya yang tidak menatapnya.


"Aduh, sayang bisa gak sih kamu itu gak usah berlebihan! Apa aku harus menatapmu setiap kamu memanggil? Enggak juga kan, jadi jangan berlebihan mengerti!" ucap Musleh dengan wajah yang terlihat kesal pada sang istri.


Karin pun yang mendengarnya pun terkejut dengan balasan suaminya itu. Tidak biasanya suaminya itu akan berkata seperti itu terhadapnya. Karin akhirnya menunduk seraya berkata. "Maaf, aku tidak bermaksud bang."


"Haaaaaaah... yasudah aku mau keluar, apa kamu mau menitip sesuatu?" ujar Musleh sembari mengambil jaketnya dan segera memakainya.


Karin menggeleng. "Tidak, aku tidak ingin apa-apa."


"Memangnya Abang mau kemana?" tanya Karin dengan mendongakkan kepalanya.


"Mau kerumah teman," ucapnya singkat.


"Oh, yaudah hati ha-."


BRRUUK!!

__ADS_1


Belum selesai dengan kalimat Karin sang suami langsung menutup pintu kamarnya secara cepat. Dan membuat Karin terkejut karena pintu kamarnya di tutup secara kasar. "Abang kenapa sih kok tiba-tiba begitu, padahal tadi dia baik-baik saja."


Di luar Musleh sedang menaiki motornya dan hendak menghidupkannya namun ia merogoh kantong celananya. "Ponselku kemana? Astaga masih di kamar, gawat!"


Musleh buru-buru menuju ke dalam kamarnya dengan cepat dan segera membuka pintu tersebut. Saat membukanya ia melihat Karin sedang memegang ponselnya itu.


"Ah ... aku baru aja mau memanggil Abang karena ponselnya ketinggalan," ujar Karin sembari memberikan ponsel milik suaminya itu, "Ini bang."


"I-iya ... makasih kalau gitu, abang keluar dulu ya?" ucap Musleh dengan gugup.


Karin pun mengangguk kecil sembari mengantarkan suaminya itu sampai di depan pintu luar. Saat melihat sang suami telah menghilang dari pandangannya ia pun masuk ke dalam kamarnya dan segera mengunci pintu tersebut.


Karin pun terduduk dalam posisi tangannya di tekuk ke lututnya. "Ini tidak mungkin kan ...? Bang Mus tidak mungkin melakukan itu, suamiku tidak mungkin mengkhianati ku. Tidak! Aku harus percaya terhadapnya."


... ****...


Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas. Karin masih belum tidur ia menunggu sang suami pulang, namun tengah malam begitu sang suami belum pulang juga.


"Abang kemana ya kenapa dia belum pernah? Tumben sekali," gumam Karin khawatir akan suaminya.


Saat sedang dalam rasa khawatirnya, Karin mengingat akan isi chat ponsel suaminya yang tidak sengaja gadis itu lihat. Dimana ia melihat isi dalam pesan tersebut bahwa sang suaminya akan mengajak seseorang ke pasar malam. Yang entah pasar malam dimana yang ia maksud.

__ADS_1


Rasa khawatirnya tadi semakin membesar ia benar-benar takut jika hal itu benar benar terjadi. "Tidak! Tidak! Aku tidak boleh berpikiran yang tidak-tidak, yah ... aku tidak boleh seperti itu!" gumam Karin pada diri sendiri.


__ADS_2