Tentangku & Hatiku

Tentangku & Hatiku
Hari Pernikahan.


__ADS_3

Karin dan Musleh sedang berada di tempat tinggal kedua saudara Karin. Mereka berdua ingin memberitahukan kepada saudara Karin perihal lamaran tersebut. Mereka berada di situ karena Karin meminta kekasihnya untuk meminta izin restu dari mereka berdua, meskipun mereka telah mengusir Karin dari rumah. Namun sepertinya kedatangan mereka membuat kedua kakaknya marah besar.


"Dengar Karin! Setelah apa yang kamu lakukan kepada kami, kamu masih datang kemari dan mengatakan bahwa kamu akan Menik dengannya?" bentak Wenah kakaknya dengan raut wajah marah besar.


Karin menarik nafasnya pelan, mencoba menahan diri agar air matanya tidak menetes. Lalu ia berdiri di hadapan saudara perempuannya itu sembari meraih tangan saudaranya, namun, sang kakak malah menepis tangan tersebut. "Mbak, aku datang kesini untuk meminta restu kalian untuk merestui kami berdua."


"Ck, dengar! Sejak kamu keluar dari rumah ini. Kami sudah tidak menganggap mu saudara kami!" ucap Wenah dengan tatapan tajamnya.


Karin menggelengkan kepalanya tidak percaya, ia meraih bahu sang kakak. "Mbak! Apa yang mbak katakan, hah? Kenapa mbak Wenah berkata begitu?"


"Karena kami sekeluarga sudah tidak menganggap mu sebagai saudara kami," ucap Wenah dengan dingin, "Dan kamu juga yang membuat hubungan antara kita menjadi seperti ini. Ini kemauan mu Karin... ini kemauan mu. Sekarang jika kamu hanya datang untuk meminta restu dari kami, kamu hanya akan membuang-buang waktu karena kami sudah tidak peduli lagi."


"Maaf mencela kak, tapi apakah anda patut berbicara seperti itu terhadap adik anda sendiri? Jangan karena adik anda telah memilih jalan lain, membuat kalian berdua tidak mengakuinya sebagai keluarga. Apakah anda tahu, bahwa perlakuan anda ini keterlaluan!?" ucap Musleh, di saat dirinya sejak tadi hanya diam menahan diri mendengar kekasihnya di perlakukan tidak baik oleh kedua saudaranya.


"Tau apa kamu tentang kami, hah? Ini semua gara-gara kamu! Gara-gara kamu, adik saya seperti ini," sahut Danum dengan mata yang membulat marah, menahan emosi.


"Maaf, bang jika perkataan saya membuat kakak dan Abang marah. Tapi saya mengucapkan hal ini karena saya tidak suka melihat kekasihnya saya malah tidak diperlakukan baik oleh saudaranya sendiri, apakah kalian tahu? Meskipun kalian membenci Karin, tapi Karin masih meminta saya untuk datang ke sini karena dia ingin mendapatkan restu dari kalian semua. Tapi rupanya kedatangannya malah tidak dihargai oleh saudaranya sendiri. Maka daripada itu, saya mohon maaf jika ucapan saya telah lancang, kamu mohon pamit," setelah mengucapkan kata-kata tersebut Musleh segera menarik tangan Karin dan mereka pun meninggalkan tempat tersebut.


Di perjalanan ...


Karin menangis di belakang punggung kekasihnya, ia merapatkan wajahnya pada punggung laki-laki itu sembari memeluknya erat. Musleh menoleh ke arah samping, ia tahu bahwa kekasihnya saat ini sedang kacau ia pun hanya membiarkan gadis itu menangis di belakang punggungnya.


Setelah beberapa saat kemudian. Mereka berdua sampai di tempat orang tua Musleh, mereka berdua pun akhirnya masuk dengan Musleh sudah mengelap air mata Karin.

__ADS_1


"Mama." panggil Musleh.


"Eh, Mus ... ayo masuk."


Setelah satu jam berbincang-bincang tentang masalah pernikahan. Akhirnya mereka berdua pamit untuk pulang, yah! Musleh dan keluarganya tidak tinggal di tempat yang sama, karena laki-laki itu memilih untuk tinggal seperti yang lebih dekat dengan university nya.


...****...


Setelah sampai di tempat tinggalnya, Keduanya masuk dan duduk di meja ruang tamu. "Sayang ...? Kamu baik-baik saja?"


Karin mengangguk kecil dengan tatapan matanya menatap wajah laki-laki di sampingnya itu. Ia merasa sangat beruntung karena kekasihnya masih berada di sampingnya, meskipun permasalahan yang terjadi kepadanya. "Aku tidak apa-apa, aku masuk ke kamar dulu yah."


Karin pun masuk kamar dengan berjalan gontai, Musleh yang melihat hal itu merasa kasihan terhadap kekasihnya. Namun ia tidak tahu harus melakukan apa untuk membuat Karin kembali seperti semula.


Satu minggu kemudian ...


"Semua berkas-berkasnya akan segera kami kirim."


"Baik, terimakasih."


"Sama-sama."


"Sayang ...? Abang sudah tidak sabar menunggu hari pernikahan kita," ucap Musleh sembari tersenyum manis ke arah Karin.

__ADS_1


Karin membalasnya dengan senyuman tulus. "Saya juga bang."


"Hmm, baiklah, jom kita pulang," ucap Musleh sembari meraih tangan Karin menuju ke tempat parking. Karena mereka baru saja dari tempat kursus (kursus perkahwinan). Setiap orang yang akan menikah harus wajib melakukan kursus perkahwinan di negara Malaysia.


Karin hanya mengangguk kecil. "Emm."


Hari demi hari telah berlalu dan saat ini adalah hari yang di tunggu oleh kedua belah pihak. terutama Musleh yang sudah bersemangat untuk menunggu hari ini tiba. (entahlah, author tidak tahu kenapa laki-laki itu seperti itu).


Para tamu pun berdatangan ke acara tersebut yang di selenggarakan di Dewan (gedung pernikahan) yang terletak di Dewan Sifik Petaling Jaya sana. Dengan di hadiri oleh teman-teman Musleh, para keluarga Musleh dan termasuk teman-teman rekan yang bekerja di university termasuk Mak Bi supervisor nya.


Karin melihat-lihat sekeliling, seperti mencari keberadaan seseorang. Beberapa saat, gadis itu menundukkan kepalanya sembari tersenyum getir ke arah lantai. 'Ternyata, mereka benar-benar tidak datang.'


Musleh mengetahui istrinya sedang menundukkan kepala, ia dengan lembut menyentuh tangan Karin dan menggenggamnya dengan erat. "Sayang, baik-baik saja?"


Karin yang berusaha menahan tangisnya agar tidak keluar hanya mengangguk kecil sembari tersenyum tipis ke arah laki-laki itu. Ia memberitahu bahwa dirinya tidak apa-apa.


Musleh pun tersenyum meskipun ia tahu bahwa Karin hanya sedang menahannya.


Akhirnya setelah seharian penuh, acara pernikahan tersebut pun selesai. Mereka kembali ke tempat tujuannya, sebenarnya orang tua Musleh mengajak mereka untuk tinggal bersama dengan keluarga mereka. Namun Musleh menolak, ia berkata ingin hidup bersama dengan istrinya tanpa seseorang di dalam rumah tersebut. Sang mama pun tak banyak berkata mereka hanya menyetujui permintaan anaknya saja.


Setelah sampai di tempat tinggal mereka, mereka berdua memutuskan untuk membersihkan diri karena hari itu sudah sangat malam. Setelah keduanya selesai, mereka memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa di hari malam pertama mereka.


Di tengah malam, Karin tidak bisa tidur. Ia melirik ke arah laki-laki yang sekarang sudah menjadi suaminya itu. 'Kenapa, dia tidak menyentuhku? Apakah karena dia kelelahan, sehingga dia lupa?' batin Karin. Akhirnya Karin pun memilih untuk menutup matanya kembali agar ia bisa tidur dan merasa segar di pagi harinya.

__ADS_1


__ADS_2