
Setelah menceritakan semua tentang yang telah dialami oleh Karin, nampak Danum sang kakak marah mendengar penuturan Karin yang telah diperbuat oleh laki-laki itu.
"Brengsek!!!" umpat danum dengan mengepalkan kedua tangannya. Lalu pemuda itu hendak pergi meninggalkan keduanya, namun ditahan oleh Wenah.
"Mau kemana kamu ...? Jangan bilang kamu ingin memukul Musleh, danum?" ucap Wenah sembari terus memegangi tangan sang adik takut-takut sang adik akan berbuat hal yang tidak diinginkan.
"Lepas kak. Aku ingin memberikan laki-laki brengsek itu pelajaran, berani-beraninya dia membuat adikku menderita. Lepas kak lepas!!!"
"Kalau begitu bunuh mereka semua kalau begitu bang! Bunuh!" sahut Karin dikala dirinya telah tidak tahan melihat sang kakak yang begitu marah. Ia pun yang sedang berdiri, menundukkan kepalanya sembari menutup mata dengan kedua tangannya, ia menutupinya karena tidak ingin keduanya kakaknya melihat ia menangis. (bukankah itu malah terlihat ya?)
Danum yang tadinya tak terkontrol, melihat sang adik yang tengah menyembunyikan tangisannya. Amarahnya pun mulai terkontrol dan mulai menghampiri Karin lalu memeluknya erat.
"Bunuh saja mereka."
"Maafkan, Abang."
...****...
Tanggal 1 Mei 2017 ...
Tanggal itu bertepatan dengan tanggal hari ulang tahun Karin yang ke 20 tahun ia resmi bercerai dengan mantan suaminya (Musleh). Dan Karin pun memutuskan untuk mencabut semua dokumen yang terkait dengan mantan suaminya itu (permit ikut suami). Otomatis Karin pun hanya memegang paspor biasa (kosong).
Dan pada bulan itu juga tanggal 5 Mei Karin memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Madura dan berniat untuk tidak akan kembali lagi ke negara ini (Malaysia). Bukan karena ia membenci orang yang telah mengkhianatinya.
Namun, karena ia ingin bersama dengan bapaknya di kampung. Ia sudah berjanji akan pulang jika ia sudah menginjakkan kakinya di negara Melayu itu jika sudah dua tahun. Ia pulang seorang diri karena kedua kakaknya masih menunggu bulan Juli karena ada kepentingan yang harus dilakukan, jadi Karin memilih untuk pulang lebih dulu.
Beberapa hari kemudian ...
Karin berdiam di sebuah kursi yang berada diluar rumahnya, sambil menunggu kedatangan sang bapak. Gadis itu terduduk sembari memainkan ponselnya, saat sedang asyik bermain dilayar ponselnya, ia tidak sengaja melihat sebuah moment yang mungkin membuatnya sakit, kecewa ataupun marah.
Bagaimana tidak. Ia melihat orang yang masih dicintainya meng-upload sebuah foto dirinya dengan wanita lain yang tak bukan yang menjadi faktor hancurnya rumah tangganya itu. Tidak hanya itu, di dalam postingan tersebut Musleh menulis kata "Dia calon istriku yang sebentar lagi kita akan menikah"
Seperti sebuah tamparan keras bagi Karin. Orang yang benar-benar dicintainya itu akan menikah? Dengan wanita itu?
Karin hanya kembali menangis mengingat semua yang telah terjadi kepadanya. Ia tidak menyangka orang yang sangat dicintainya itu akan mengkhianatinya seperti itu. Sehingga air mata Karin tak lagi mengalir karena sebuah tangan mengusap lembut punggung nya.
Karin menoleh dan ternyata itu sang bapak yang tersenyum ke arahnya sembari berkata. "Tidak apa-apa nak, menangislah disini ada bapak. Tidak akan ada orang yang melihatnya."
__ADS_1
"Bapak," ucap Karin dengan gemetar. Ia pun memeluk orang tuanya.
"Tidak apa-apa, mungkin dia jodoh orang yang kamu pinjam nak," ucap Bapak menenangkan.
.
.
.
Tahun 2021 ...
Lima tahun sudah sejak perceraiannya dengan mantan suaminya, Karin menutup pintu hatinya kepada siapapun bahkan ia akan sangat membenci kehadiran seseorang yang mengajaknya menikah.
Beberapa orang pun sering tertamu kerumahnya untuk mengajaknya ke hubungan lebih serius (menikah). Namun, Karin selalu menolak orang yang datang kepadanya. Sehingga pada suatu hari Karin tidak sengaja bertemu dengan ...?
"Wati ...?" sapa seseorang yang memanggilnya.
Karin pun melihat ke arah orang tersebut sembari menatapnya dingin. "Siapa?"
Orang tersebut terlihat tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Aku Herul wat yang dulu kerja di Evenue 8 bangunan kuning, ingat tidak?"
"Iya, ini aku."
Karin mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Kakak ngapain ada disini?"
"Aku emang orang sini wat, aku kerja di sini."
"Oh, baiklah."
Sejak pertemuan itu kami pun. Lebih tepatnya kak Herul yang selalu menampakkan dirinya sebagai sosok yang selalu hadir di saat aku masih belum bisa membuka hati.
Hingga suatu hari dia datang bertamu untuk bermaksud baik yaitu dia datang untuk melamar gadis itu. Saat Karin pun masih berada di tempat kerjanya. Danum selaku kakaknya, ia datang ke tempat kerja sang adik untuk menjemputnya.
Karin yang saat itu merasa memiliki perasaan tidak nyaman hanya menurut saja. Dan ketika sampai dirumahnya ia dikejutkan oleh kedatangan Herul beserta keluarganya, hal itu membuat Karin menyambut kedatangan laki-laki itu dengan dingin, gadis itu tau apa yang akan dilakukan pemuda tersebut.
Dan ternyata apa yang dipikirkan oleh Karin benar, bahwa kedatangan Herul beserta keluarganya datang untuk melamar gadis itu. Dan sontak hal itu ditolak mentah-mentah oleh Karin.
__ADS_1
"Maaf, saya tidak bisa menerima lamaran ini... permisi," ucap Karin. Setelah mengatakan hal itu ia pun pergi meninggalkan keluarga dan juga orang-orang yang datang bertamu itu.
Tok ... tok ...tok...
"Dik ...? Buka pintunya."
Karin pun membuka pintu kamarnya saat mendengar suara sang kakak.
"Dik ... kamu kenapa? hmm? Bukankah Herul orangnya baik?"
"....."
"Kakak tau kamu masih takut akan kejadian dulu, tapi dik... jika kamu terus-menerus seperti ini juga berdampak tidak baik untuk mu. Kakak mengerti dan faham akan rasa trauma mu, tapi percayalah, seberat apapun cobaan yang akan kita hadapi di masa depan Tuhan akan selalu melindungi," ujar Wenah sang kakak menasehatinya.
"Lagipula, apa kamu tidak menyesal jika melepaskan ketulusan Herul? kakak bisa melihat kalau kamu juga menyukainya kan?" ucapnya lagi. Karin yang sedari diam melirik ke arah sang kakak, mungkin apa yang dikatakan oleh saudaranya ada benarnya juga.
Malam harinya ...
Karin datang ke tempat Herul bekerja dengan perasaan campur aduk. Ia mencoba memberanikan diri untuk bertemu kembali dengan laki-laki itu.
"Kak ...?" panggilnya.
"Karin."
Mereka pun akhirnya duduk di samping kiri toko tersebut. Karin meminta maaf dan memilih untuk mengungkapkan isi hatinya bahwa ia telah memutuskan untuk hanya menganggap Herul sebagai temannya tidak lebih. Meski laki-laki dihadapannya itu menolak, ia berusaha keras bahwa ia akan menunggunya sampai kapanpun. Namun, Karin tetap dengan keras mengatakan bahwa ia tidak bisa menerimanya.
Hingga di bulan kedua tepatnya pada tanggal 24 Juni Karin menerima lamaran Herul yang ketiga kalinya. Entah apa yang membuatnya menerima lamaran tersebut.
Namun, yang jelas Karin telah membukakan hatinya untuk laki-laki yang dulu dan dua bulan lalu pernah ditolak nya. Dan tepat pada tanggal 1 Juli mereka berdua pun menikah dan menjalani kehidupan dengan baik. Meskipun pada awal-awal Karin sempat takut akan kejadian dulu akan terulang kembali.
Namun, itu semua dibantah oleh Herul bahwa itu tidak akan pernah terjadi.
Di saat malam hari dengan udara yang dingin menusuk kulit Karin duduk di balkon kamar nya. Ia terduduk sembari memandangi pemandangan kota Malang. Yah, saat ini ia tengah berada di kota tersebut lantaran untuk menemui kedua mertuanya. (Itung2 sambil honeymoon) Hahahaha.
"Sayang yuk ke dalam, udara malam ini begitu dingin nanti kamu sakit," ucap Herul saat dirinya memeluk Karin dari belakang dan menuntun sang istri untuk masuk karena udara malam itu begitu dingin.
...SELESAI ......
__ADS_1
Begitulah akhir dari cerita ini, dimana gadis bernama Karin pernah mengalami trauma yang mendalam atas rumah tangganya.
Namun, hal tersebut meruntuhkan tembok besar Karin (hati) di saat kedatangan Herul di kehidupannya. Seseorang yang dulu pernah ditolaknya waktu di negeri Jiran dulu. Namun siapa sangka orang yang dulu ditolaknya malah menjadi suaminya saat ini, dan menjalani kehidupan dengan baik bersamanya.