
Saat matahari mulai terbenam, di situlah ia menunjukkan bahwa dirinya telah selesai melakukan hal yang ia lakukan di pagi, dan siangnya sehingga malam pun terbentuk.
Gelap? Yah ... itulah malam. Namun, hal itu tidak menghalanginya untuk melakukan tugasnya sebagai malam. Karena, setiap bulan purnama, ia akan selalu ditemani oleh sang rembulan yang membuat siapapun akan terpesona dengan keindahan dan kecantikannya. Begitulah Bulan sang rembulan yang menyinari di setiap malam yang gelap.
"Sayang ... kenapa kamu disini, masuk yuk! Udara malam ini begitu dingin sebaiknya kita masuk! Jika berlama-lama di luar kamu akan sakit." terdengar suara lembut yang berasal dari belakang gadis yang tengah berdiri di balkon kamarnya.
Yah ... itu adalah Herul. Orang yang telah menjadi suaminya saat ini. Gadis itu menoleh ke arahnya sembari tersenyum manis. "Iyah ...."
Mereka berdua pun akhirnya masuk ke dalam kamarnya dan tidak lupa menutup pintu balkon itu. Mereka berjalan menuju ranjang yang mereka berdua tempati.
Keduanya seperti malu-malu keong (ups ... malu-malu kucing) canggung, kaku, gerah, panas dll bercampur menjadi satu diantara keduanya.
"Sayang ...?"
"Kak Herul ...?"
Mereka berdua kembali terdiam sejenak saat keduanya memanggil satu sama lain dengan serempak. "Kamu duluan aja tidak apa-apa," ucap Herul sembari menggaruk tengkuknya yang mungkin menurut Karin tidak gatal.
"Hehehe ... tidak .. aku hanya memanggil kak Herul saja," sahut Karin dengan keringat dingin yang mulai keluar dari pelipisnya.
'Astaga ... kenapa disini panas sekali, padahal ini di malang tempat yang sangat dingin. Tapi kenapa aku malah kepanasan?' gumam Karin pada diri sendiri.
__ADS_1
"Oh, begitu?"
"Emm ... kak Herul sendiri mau ngomong apa?"
"Apakah kamu lapar?"
"Tidak, aku masih kenyang."
"Oh, baiklah. Kalau begitu apakah kamu ingin sesuatu?" Herul.
Karin kembali menggeleng. "Tidak ada."
"Lalu ... kita mau ngapain? Hehehe," ucap Herul yang mengusap tengkuknya.
"Yaudah ... kita tidur saja."
Mereka berdua pun akhirnya memilih untuk tidur. Mereka tidur dengan posisi membelakangi. Di sisi lain Herul nampak menutup matanya dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Sedangkan Karin ...? Gadis itu malah tidak bisa tidur. Ia masih membuka matanya sembari melirik ke berbagai arah dengan pandangan penuh tanda tanya.
'Apa kak Herul sudah tidur? Haaaiisss ... kenapa aku jadi begini sih?'
...****...
__ADS_1
Tok... tok... tok...
Tok... tok... tok...
Karin menggeliat saat mendengar suara ketukan pintu dari luar. Ia segera bangkit dari tidurnya lalu berjalan menuju pintu tersebut dan membukanya. "Eh, mama ... ada apa ma?"
"Maaf ya mengganggu tidur kalian," ucap wanita paruh baya itu yang tak lain adalah mamanya Herul.
"Tidak apa-apa ma."
"Begini ... mama ingin mengajak Herul ke supermarket karena mama ingin belanja sesuatu. Mama ingin mengajak papa tapi papanya malah gak ada," ujar sang mama mertua.
"Ah, bentar ya ma ... aku bangunin kak Herul dulu." Karin.
"Aku pulang ... sayang?"
Karin muncul dari arah dapur dan segera menghampiri sang suami yang berada di depan pintu. "Sudah pulang?"
Herul mengangguk. "Iya."
Karin melihat ke arah belakang gadis itu tidak melihat keberadaan mertuanya, ia pun kembali menatap sang suami. "Bang ...? Mama mana, kok gak keliatan?"
__ADS_1
"Oh, mama masih di depan tuh masih ngobrol sama tetangga. Nih, tolong simpan belanjaan ini."
"Oh, iya." Karin pun mengambil belanjaan yang dibawa oleh Herul lalu membawanya ke dapur.