Tentangku & Hatiku

Tentangku & Hatiku
Sindiran Kakak Ipar.


__ADS_3

Karin dan sang suami telah berada di dalam kamar mereka, mereka berdua sedang berbaring dengan saling berhadapan. "Bang ...," panggil Karin setelah beberapa saat berdiam dalam kediaman mereka berdua. Musleh, sang suami pun menoleh ke arah Karin.


"Iya, kenapa sayang ...?" balas panggilan Karin sembari mengusap kepala Karin lembut.


Karin menatap wajah suaminya dengan tubuh bergetar. Ia sebenarnya sangat malu bila bertatap muka langsung dengan wajah suaminya itu. Namun, Karin berusaha untuk menahan rasa malu tersebut. "Abang, betul ya umurnya enam belas tahun?" ucap Karin memulai pembicaraan.


Musleh terlihat mengalihkan pandangannya ke arah lain dan seperti sedang memikirkan sesuatu, sehingga beberapa saat ia menjawab. "Iya, Abang umur enam belas tahun sayang."


Setelah mendengar penuturan laki-laki di hadapannya, Karin yang awalnya memandang wajah sang suami lekat. Perlahan pandangan tersebut meredup seakan tak percaya bahwa suaminya itu benar-benar seorang brondong.


"Sayang ...?" panggil Musleh saat melihat Karin terlihat terdiam setelah mendengar jawabannya.


Karin pun yang mendengar panggilan suaminya itu menoleh. "Iya?"


"Sayang marah pada Abang? Sayang tidak suka ya bahwa sebenarnya Abang masih sangat muda daripada sayang?" ujar Musleh dengan suara sedikit lebih pelan daripada biasanya. ia bangkit dari posisi tidurnya dan terduduk sembari menundukkan kepala, setelah mengetahui perubahan istrinya itu.


Karin yang melihat sang suami bangkit dari tidurnya, ia pun ikut bangkit serta memposisikan dirinya agar sama dengan Musleh suaminya. "Abang."


"Maafkan, aku sayang. Aku tidak bermaksud untu-" ucapan Musleh terhenti saat tangan Karin menutupi mulutnya.


"Sstttt...! Abang jangan berkata begitu! Aku sama sekali tidak marah kepada Abang, aku hanya terkejut saja bahwa umur Abang lebih muda dua tahun dariku, itu saja. Karena aku tau umur bukanlah hal yang besar untuk dijadikan sebagai bahan pembicaraan di masalah pernikahan," ucap Karin menerangkan bahwa dirinya tidak pernah terbesit dalam pikirannya bahwa ia marah kepada suaminya itu.


Karin meraih tangan sang suami dan meletakkannya di atas paha-nya sembari tersenyum manis. "Aku sayang sama Abang," ucap Karin tulus kepada suaminya. Ia benar-benar mencintai seorang laki-laki di hadapannya itu.


Musleh pun membalas senyuman istrinya lalu menggenggam tangan Karin dengan erat. "Terimakasih sayang, karena sayang sudah menerima Abang dengan tulus."


Karin mengangguk. Lalu memeluk sang suami dengan pelukan hangat, Musleh pun membalas pelukan tersebut. Dan mereka berdua pun memutuskan untuk tidur karena pada saat itu jam sudah menunjukkan pukul sepuluh.

__ADS_1


Keesokan harinya ...


Karin bangun dari tidurnya lalu segera membersihkan diri, setelah lima belas menit kemudian ia pun selesai dan bersiap siap keluar menuju dapur untuk mengambil segelas air karena pagi itu tenggorokannya terasa sangat haus. Saat ia sudah memasuki dapur, ia melihat kakak ipar pertamanya sedang memasak, dengan ragu-ragu Karin menyapa kakak iparnya itu.


"Pagi akak." sapanya.


Satuna menoleh ke belakang melihat orang yang memanggilnya. "Iya pagi juga Rin."


Karin tersenyum saat kakak iparny membalas sapaannya. Lalu ia mengambil air untuk ia minum, sampai kakak iparnya bersuara kembali. "Kamu tidak menyiapkan sarapan pagi? Oh, iya lupa kamu kan tidak tau cara memasak."


Karin yang sedang berdiri di depan kulkas hanya kembali tersenyum. Sebuah senyuman kecil yang mengukir di wajahnya meskipun ucapan kakak iparnya itu sedikit menyinggung perasaannya.


"Harusnya, kamu itu sudah pandai memasak. Atau setidaknya belajar gitu Rin biar suamimu itu tidak banyak mengeluarkan uang. Beli makanan di luar kan mahal! Dan satu lagi kamu itu harusnya pandai dalam urusan rumah tangga termasuk mengurus suamimu!" ucap kakak iparnya kembali. Ucapan itu terlihat jelas bahwa sang kakak ipar tengah menyindirnya dengan halus. Sehingga membuat Karin hanya menunduk dengan tatapan sendu yang terlihat jelas.


Karin hanya menunduk dan melihat gelas yang dipegangnya itu. Ia tidak tahu harus bagaimana saat berhadapan dengan sang kakak ipar. Namun ia tetap berfikir bahwa ucapan kakak iparnya itu termasuk menasehatinya, meskipun terlihat ada kata yang menyinggungnya. Sehingga Musleh muncul dan langsung meraih lengan Karin sembari berkata. "Sayang, sebaiknya kita berangkat!"


Saat ingin menuju ke arah pintu, sang kakak bersuara. "Heii, Mus ... kamu tidak mau sarapan pagi dulu? Akak sudah memasakkan nasi goreng, makanlah dulu daripada sarapan pagi diluar buang-buang uang."


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Musleh langsung menarik tangan sang istri untuk segera menaiki motornya. "Pegangan dengan erat sayang," ucap Musleh dengan dingin.


Karin pun hanya mengangguk mengikuti ucapan suaminya. Lalu mereka berdua pun melesat pergi meninggalkan pekarangan rumah tersebut.


Satuna yang melihat keduanya sudah pergi kembali bersuara. "Dasar! Anak jaman sekarang tidak tahu apa-apa. Menikah saja tidak tahu memasak, bagaimana bisa merawat suaminya coba?! ck."


...****...


"Bang, aku masuk duluan ya," ucap Karin saat mereka telah tiba di university.

__ADS_1


"Sayang, tunggu!" Musleh menahan istrinya, sehingga sang istri membalikkan badan ke arahnya.


"Kenapa? Apakah ada sesuatu yang lupa di bawa?" tanya Karin saat melihat suaminya menghentikan langkahnya.


"Tidak!" ucap Musleh sembari menuruni motornya, "Abang, hanya ingin masuk dengan sayang," sambungnya.


Karin pun mengangguk sembari menatap wajah suaminya lekat. Mereka berdua pun akhirnya melangkahkan kakinya menuju setor.


Sesampainya di tempat itu Karin melepaskan genggaman suaminya dan pamit untuk masuk. Musleh pun tersenyum sembari mengangguk. "Buat kerjanya, hati-hati ya."


Karin mengangguk dan tersenyum manis kepada sang suami. Ia pun masuk dan Musleh pun melanjutkan langkahnya ke arah kelasnya.


Siangnya ... Musleh menghampiri Karin yang sedang berada di lantai satu, ia melihat sang istri tengah menyapu bersama supervisor nya. "Sayang."


Karin menoleh dan menghampiri Musleh. "Kenapa Abang datang kesini, ada apa?"


Musleh menggeleng kecil seraya menangkup wajah Karin gemas. "Kenapa setiap Abang pergi jumpa sayang, sayang selalu tanya kenapa Abang datang, sayang tidak mau Abang datang jumpa sayang kah? Hm?"


"Heih ... bukan begitu, Abang kan sedang sibuk. Lagipula Abang harus bersama kawan-kawan Abang," balas Karin menjelaskan kesalahpahaman suaminya terhadapnya. Musleh hanya manggut-manggut saja tanpa mengalihkan pandangannya.


"Betulkah?"


"Em."


Musleh pun melepaskan tangannya yang menangkup wajah istrinya itu, lalu membelakanginya. "Sayang tidak cemburu kah jika Abang ada main dengan seorang wanita?"


Mendengar itu Karin menaruh penyapu nya yang sedari tadi ia pegang, lalu meraih kedua lengan sang suami agar menghadap kepadanya. "Abang ... aku percaya sama Abang. Jadi aku tidak perlu khawatir akan hal itu."

__ADS_1


"Sungguh?!" ucap Musleh memastikan. Karin pun mengangguk sembari berkata, "Emm ... aku percaya Abang."


Karin berkata seperti itu karena pada awalnya gadis itu memang percaya dengan apa yang di katakan oleh suaminya itu. Karin percaya bahwa sang suami tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan dirinya itu. Namun siapa yang akan menyangka bahwa ucapannya itu adalah asal mula mulainya sebuah masalah yang akan di hadapi nya.


__ADS_2