
Laut masih tenang dengan gambaran ombak yang sangat luas namun juga menenangkan.
Menyisakan Aluna da Rian sendirian.
Dalam artian, mereka masih bersama Reno. Tapi terkadang, Reno acap kali menghilang dari pandangan Aluna. Entah pergi ke alam nya ataupun pergi entah ke mana.
Mereka masih terus menyusuri laut, Hingga hari hari pun berlalu.
Hingga, penantian dan perjuangan panjang mereka terbayar. Setelah mereka sampai ke sebuah pulau.
Yang pasti, bukanlah sebuah pulau biasa.
Aluna dan Rian terdiam sejenak lalu menepikan perahunya ke tempat yang sekiranya tidak terlihat. Mereka kemudian mempersiapkan alat seadanya.
Mereka berjalan masuk perlahan ke pulau itu.
Mereka terkejut bukan main, di dalam pulau itu ternyata terdapat sebuah taman hiburan yang amat luas, Megah dan, ya, tak dapat dijelaskan lagi.
mereka hanya berpikir bagaimana mungkin setelah sebuah pulau siksaan terdapat sebuah pulau hiburan?. Selepas penderitaan terdapat kegembiraan.
Mereka tak dapat masuk begitu saja. Orang orang yang masuk ke taman hiburan itu hanya orang orang yang sangat kaya raya.
Dengan pakaian mereka yang serba mewah. Berbeda sekali dengan Rian dan Aluna.
Mereka tamak lusuh. Maklumlah, sudah beberapa hari mereka belum berganti pakaian atau bahkan sekedar mandi pun belum.
Mereka masuk dengan menyusup. Mencari tahu siapa pemilik dari pulau itu.
Mereka melihat kebahagiaan itu, seolah seperti orang orang disana tak melihat apa yang terjadi di pulau yang seharusnya mereka lewati di perjalanan.
Aluna hanya tertegun menyaksikan kemegahan area bermain disana.
Rian yang melihat Aluna langsung saja menarik nya ke dalam sebuah gudang.
" Apa yang kau lakukan?" Tanya Rian.
" Ish, harusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan? "Aluna balik bertanya.
" Kau ini, tadi kau itu mencolok sekali. Aku hanya menarikmu agar kita tidak ketahuan." Jawab Rian
" Iya, iya, "Jawab Aluna.
Mereka hanya berdiam beberapa saat di gudang tua itu. Sambil menatap ke luar jendela kecil yang berada disana. Dengan tatapan getir. Sambil terus bertanya tanya siapa sebenarnya dalang dibalik semua ini.
__ADS_1
Yang pasti, orang itu tak memiliki kemanusiaan. Menjadikan orang lain sebagai kelinci percobaan membunuh orang demi kekuasaan semata. hanya itu yang ada dipikiran Aluna.
15 Menit berlalu sia sia. Mereka hanya termenung sambil memikirkan rencana dan larut dalam suasana.
Hingga, tak lama kemudian muncul suara samar samar yang di dengar Rian. Yang mengatakan
" Aku tahu kita harus kemana."
Aluna terkejut lalu tanpa pikir panjang bertanya.
" Kemana?"
Rupanya, itu adalah Reno. Yang sejak tadi menghilang. Memang, Rian tak bisa melihatnya. Tapi, dia bisa merasakan keberadaan kakaknya yang sudah mati itu tidak didekatnya lagi.
Rian langsung memegang erat tangan Aluna. Dan seketika, Rian dapat melihat kakaknya lagi yang persis berada di depan nya.
" Aku sudah tahu, dimana ruang kendali seluruh pulau ini." Ujar Reno.
" Dan, kabar baiknya lagi, aku telah memiliki rencana untuk bisa masuk kesana." Sambungnya.
Tentu saja itu mudah ia lakukan. Secara, Ia kan tak terlihat. Maka, dengan mudah nya Reno bisa masuk dan pergi ke segala tempat.
" Kita akan memasuki hutan, dibelakang gudang ini. Karena, tempat kendali berada disana. Di tengah hutan."
" Tapi, mengapa harus ditengah hutan? "Tanya Aluna memotong pembicaraan.
" Tentu saja, banyak orang pergi sia sia karena ini. " Sahut Reno lalu kembali ke topik pembahasan.
" Aku melihat sekilas, akan terjadi sebuah bencana di taman bermain ini. Atau lebih tepatnya, insiden di sebuah wahana."
" Wahana apa? " Aluna refleks bertanya memotong pembicaraan Reno.
" Jika tidak salah, di kincir ria." Jawab Reno.
" Apa kau yakin? Itu sepertinya wahana terfavorit disini. Jika hal itu terjadi, maka akan banyak korban yang berjatuhan." Sahut Aluna cepat. Ia menyadari lebih dulu bahwa wahana itu sepertinya ikon di taman bermain itu. Tepatnya pulau bermain itu.
" Nah, maka dari itu, aku berharap kalian bisa ke pusat kendali menghentikan segala yang ada disana, Lalu dengan cepat menyusup kemudian mencari tahu tentang si pemilik." Jawab Reno menjelaskan.
" Baiklah, berapa waktu yang kami punya? " Tanya Rian mantap. Dia sepertinya siap apapun resikonya. Ia pasti akan berusaha menyelamatkan orang orang. Kegagalan yang terus dialaminya membuat beban pikiran bagi Rian.
" Kita tidak banyak, hanya ada sekitar 45 menit. " Jawab Reno.
Tanpa pikir panjang, kami langsung saja mengikuti arah langkah Reno. Sambil terus mengendap endap. takut bila ternyata ada penjaga yang berkeliling.
__ADS_1
Tapi, tiba tiba, Aluna melihat seorang anak kecil yang tengah berlari santai sambil menunjukkan tawa ria. Dia berlari persis didepan Rian dan Aluna. Seolah, ia sedang mengajak mereka bermain kejar kejaran.
Aluna sempat terkejut dan takut. Bila ternyata, anak itu tak sendirian, bila ternyata, ia bersama kedua orang tuanya. Lalu, mereka datang dan curiga pada mereka.
Tapi, setelah dilihat lihat, Aluna baru menyadari satu hal. Saat anak itu memegang tangan Rian, seolah, Aluna dapat melihat aura yang dipancarkan anak itu. Ia tampak lebih pucat dibandingkan dengan Rian.
Tak berselang lama, Aluna menyadari, anak itu adalah arwah. Sama seperti Reno. Terlihat, Anak itu juga berlari disekitar Reno dan berusaha mengajaknya bermain.
Rian yang melihat kejadian itu masih bingung. Kemudian ia menatap Aluna dengan penuh tanda tanya saat anak itu berlari mengelilingi Reno.
Seolah mengerti tatapan Aluna, Rian langsung paham, bahwa anak itu bukanlah anak biasa. Di adalah Roh.
Selepas Rian juga menyadari hal itu, tiba tiba anak itu telah berada di depan Aluna dan langsung menarik tangan Aluna untuk pergi.
Rian segera mengejar Aluna yang ditarik anak itu. Dan, Reno. Lagi lagi dia menghilang entah kemana.
Tak selang beberapa lama, Rian dapat mengejar mereka. Ia langsung memegang tangan Aluna dan mengikuti kemana Anak itu pergi.
Dan, ternyata, anak itu menariknya hingga ke sebuah gua buatan. Aluna dan Rian terkejut melihat hal itu. Sepertinya, itu adalah salah satu wahana di pulau tersebut yang tak lagi berfungsi dan terbengkalai. Mengingat, jaraknya tak terlalu jauh dari wahana yang lain.
Aluna dan Rian mulai memasuki gua buatan tersebut. Didalamnya, seperti terdapat sebuah aliran sungai kecil dan beberapa kapal yang nampak seperti rollercoaster tapi berada di air. Aluna dan Rian tak pernah melihat benda itu sebelumnya.
Mengingat, hidup mereka memang terlihat sedikit primitif dibandingkan teman teman mereka yang lain. Walaupun, memang tak bisa disebut sebagai teman.
Selesai melihat lihat, Aluna dan Rian kembali keluar dari gua. Mereka enggan masuk lebih dalam. Mereka takut bila sewaktu waktu gua buatan itu roboh. Sekitar sepuluh menit mereka menyusuri gua.
Mereka keluar, lalu di depan pintu gua sudah terlihat anak itu lagi yang terlihat sedang duduk duduk santai sambil menunggu Aluna dan Rian kembali dari dalam gua buatan itu.
Di dalam gua sebelum nya, mereka sudah berencana ingin menanyakan apa maksud anak itu mengajak mereka ke tempat wahana yang sudah terbengkalai itu.
Seolah sudah tahu apa yang ingin dikatakan Aluna, Anak itu lantas berseru,
" Duduklah, Aku sudah apa yang ingin kalian tanyakan. Akan aku jelaskan semuanya."
Rian dan Aluna terdiam sejenak, lalu, ikut duduk di depan anak itu. Nada bicaranya tak nampak seperti anak anak lagi. Kini, ia lebih serius.
Suasana lenggang sejenak. Mereka hanya saling menatap satu sama lain.
Hingga, tak berselang lama, Anak itu, atau bisa dibilang orang itu menarik nafas dalam dalam seolah ia akan bercerita sesuatu yang sangat teramat mengganjal di hatinya. Dan, mang benar yang diceritakannya adalah tentang kisah kematian nya.
Aneh sekali memang, disaat banyak orang menceritakan kisah hidupnya, orang itu malah menceritakan kisah kematiannya.
__ADS_1
Dan orang itu menceritakan semuanya, termasuk maksudnya membawa Aluna dan Rian ke sana.