Terbitnya Matahari

Terbitnya Matahari
eps. 8 ( Kepergian.)


__ADS_3

Lalu, tiba tiba Rian, Menghentakkan meja dan mengatakan


" Bu, saya ijin pulang terlebih dahulu. Mengemasi barang barangnya lalu Mengambil tas nya dan meninggalkan ruangan.


Sontak saja hal itu menambah kebingungan pada semua siswa di kelas. Mereka merasa iri karena Aluna dan Rian telah pulang lebih dahulu.


Rendi selaku ketua kelas yang tak mau teman nya mendapat gosip itupun menanyakan apa yang terjadi pada Aluna dan Rendi.


" Bu, katakan yang sebenarnya, apa yang terjadi?" Tanya nya.


" Kenapa Aluna pergi dan mengapa ibu tidak melarang Rian untuk pergi?" Sambungnya.


" Semuanya, Ibu turut berduka cita. Ibu Aluna ia meninggal dunia." Jawab bu Anggun.


Semua terkejut. Karena mereka pikir, Ibu Aluna sudah meninggal sejak lama.


Karena, saat dulu perkenalan siswa, Aluna hanya mengatakan ia anak yatim piatu.


Semua tak tahu bahwa Aluna masih memiliki seorang ibu angkat yang terbaring koma dirumah sakit. Kecuali Rendi.


Rendi yang mengetahui hal itu lalu meminta ijin untuk menyusul Aluna dan Rendi.


Tapi, Bu Anggun melarangnya karena memiliki sebuah alasan yang tak ia katakan.


Lalu pelajaran dimulai lagi.


Kelas terasa sangat sunyi dan hampa. Bu Anggun pun tampak tak semangat menerangkan pelajaran.


Kelas terasa seperti bukan kelas. Namun rasanya seperti mereka berada di dunia lain.


Tak ada yang tahu Aluna memiliki ibu angkat, jadi mereka pikir aneh saja. Dan terus memikirkan asumsi yang sebagian tak masuk akal.


Sementara itu.


Aluna tiba di rumah sakit.


Ia lari menuju ke ruang ibunya dirawat.


Diruangan itu,


Ia hanya melihat para dokter dan suster menundukkan kepala mereka.


Dan ibunya yang tertutup selimut.


Aluna mendekat, dan ia memeluk ibunya yang sudah tiada. Aluna menangis sejadi jadinya.


Tangisan, Yang tak pernah siapapun lihat sebelumnya. Ia terlihat seperti bukan Aluna, yang memiliki hati dingin dan terlihat tak punya hati.


Aluna menangis dokter dan suster terdiam. Tak ada yang berani menegur atau bahkan sedikit saja menenangkan Aluna.


Karena mereka tahu, betapa hancurnya hati Aluna. Ia kini tak punya siapa siapa lagi.


Rian yang tadi menyusul Aluna kini sampai di ruangan dimana Ibunya dirawat. Disana Ia melihat tangisan seseorang yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


Rian diam dan membisu. sama seperti dokter dan suster yang ada diruangan. Ia juga ikut menunduk. untuk menghormati mendiang.


Tak berselang lama, Rian mencoba mendekati Aluna yang mulai tenang.


" Hei, tenanglah " Ujarnya


" Kau tak perlu sedih, Masih ada aku disini." Sambungnya.

__ADS_1


Setelah mendengar kata kata itu, Aluna lalu meminta suster untuk merawat ibunya agar sesegera mungkin bisa dimakamkan.


Beberapa saat Aluna dan Rian menunggu.


Rian melihat ke arah Aluna, Ia melihat sosok Aluna yang berbeda sekarang. Aluna tampak lebih dingin dari sebelumnya.


Aluna menatap ke arah benda abstrak. Yang tahu tujuan.


" Aluna, Ikutlah dengan ku. Selesaikan masalah yang kau alami, Aku akan membantumu. Tapi, kau juga harus membantuku." Ujar orang yang selama ini terus mengikuti Aluna.


Aluna hanya diam memandang benda abstrak. Ia hanya diam bagai sebuah patung.


Para suster dan dokter telah selesai mengurus jenazah ibu Aluna.


Mereka lalu meletakkan nya di peti mati dan membawa ke pemakaman menggunakan mobil jenasah.


Sesampainya di pemakaman, Telah hadir banyak orang. Disana, ada guru dan teman teman sekelas Aluna yang hadir.


 


*Sebelumnya*....,


 


Setelah lama pelajaran yang begitu membosankan, datang kepala sekolah masuk ke ruang kelas dan menghampiri bu Anggun.


Kepala sekolah membisikkan sesuatu, lalu ia pergi lagi.


" anak anak, kalian bisa pulang lebih awal. tapi, sebelum itu kalian harus ikut ke pemakaman orang tuanya Aluna." ujar Bu Anggun setelah pak kepala sekolah pergi.


 


Semua terlihat senang dan juga merasa bingung.


 


Dengan rasa bahagia karena mereka bisa pulang lebih awal tapi juga rasa aneh karena, ibu Aluna? Bukan kah ia sudah tiada? hanya itu yang dipikirkan para siswa.


Mereka sampai di pemakaman, dan masih menunggu kedatangan mobil jenazah dan Aluna.


Tak seperti yang lain, Rendi malah merasa cemas dengan keadaan Aluna.


Rendi mengetahui semua tentang Aluna dari kepala sekolah. Karena, berhubung dia dari dulu selalu jadi ketua kelas dan satu kelas dengan Aluna, Kepala sekolah berharap dengan memberitahu Rendi, ia bisa menjaga Aluna semampunya.


 


Sebab itulah Dari dulu Rendi selalu mencoba mendekati Aluna. Walaupun tak ada kemajuan atau apa pun.


 


Sampai, ia melihat potensi dari Rian. Meskipun, Sebenarnya Hati Rendi terkadang sakit ketika melihat Rian mencoba mendekati Aluna.


Ya, tapi semua itu hanya Rendi dan tuhan yg tahu.


Kembali ke pemakaman.


Aluna nampak begitu pucat. tak berbicara , hanya terus memandang ibunya yang tk bernyawa dimasukkan ke liang lahat.


Selesai pemakaman.


Rendi ingin sekali menghampiri Aluna.

__ADS_1


Ia melangkah menuju Aluna. Tapi dengan sigap Bu Anggun menarik tangannya. Dan membawa nya menjauh dari pemakaman.


" Rendi,kau sudah tahu tentang Aluna kan" Ujar bu Anggun.


" Iya, kepala sekolah pernah memberi tahuku sebelumnya. " Jawabnya


" kau sudah tahu masalahnya. Jadi ibu minta kau jangan dekati Aluna." sahut bu anggun


" Memangnya kenapa? "


" Sebenarnya, kami punya rencana untuk merubah Aluna, dengan menggunakan Rian."


" Apa maksud Ibu?" tanya Rendi.


" Rian sebenarnya, Dia pindah kemari bukan karena orang tuanya pindah pekerjaan dan harus ikut. Tapi, di sekolah lamanya dulu, ia sering dibully. Ya, kasusnya hampir sama seperti Aluna. Ia tak punya orang tua. Mereka telah meninggal sejak Rian kecil. Dan ia hanya tinggal bersama kakaknya. Tapi sayang, Kakaknya tak lama kemudian juga ikut meninggal." Jawab Bu Anggun.


"Mungkin kah Ibu punya rencana mereka saling dekat agar dapat mengerti kalau masih ada orang lain yang peduli?" Tanya Rendi.


" Ya, kau benar. Ibu kira, mereka punya masa lalu yang sama. Jadi, pasti mereka punya alasan untuk saling dekat." Jawab Bu Anggun


" Baiklah aku mengerti. Aku akan menjaga Rian saja. Agar ia tak kesepian." Jawab Rian.


Meskipun, Rendi senang jika ada yang bisa membantu Aluna. Tapi ia, juga merasa sakit, ketika, Rian mendekati Aluna.


Tapi, memang pada dasarnya Rendi itu play boy, Dia tak kan mengerti arti cinta yabg sesungguhnya sebelum ia merasakan arti kehilangan.


Jenazah ibu Aluna telah dikebumikan.


Semua guru dan murid juga telah pulang.


Kecuali Rian. Ia masih setia menunggu Aluna. Walaupun langit tampak mendung.


Hujan telah turun dengan begitu lebat.


Rian yang ingin beranjak pergi tapi, ia masih ingin menemani Aluna.


Dengan suara hujan dan kabut menutupi, Rian mendekat ke arah Aluna.


Rian melihat, wajah Aluna yang nampak sangat pucat masih terus memandangi batu nisan ibunya.


Rian tak habis pikir, Ternyata, ada orang yang hidupnya jauh lebih menderita dari pada dirinya.


 


" Aluna, kau tak perlu sedih. aku ada disini." Ujar nya .


" Apa kau bilang, lihatlah! Ibuku sudah tiada. Aku sendiri didunia ini." jawab Aluna.


" Biarkan yang sudah pergi.Kau tak perlu seperti ini." Ujarnya


" Lagi pula, dia sudah tak perlu menanggung penderitaan dan rasa sakit." Sambungnya.


" Aku tahu dia memang seperti mayat hidup. Tapi dia tetap saja ibuku. Aku sangat menyayanginya!" Jawab Aluna.


Aluna meneteskan air mata yabg tak terlihat karena hujan.


" Aku sendirian, aku kesepian tapi aku tak ingin orang lain menderita karena ku. Semua orang yang berada di dekat ku selalu pergi dan merasakan penderitaan. " Sahut Aluna tersedu sedu.


Itulah kali pertama Aluna mengeluarkan isi hatinya.


Rian tak tega. Ia hanya ingin melihat Aluna bahagia.

__ADS_1


Tanpa mereka ketahui, Di hujan yang begitu lebat nya terdapat Rendi yang sedari tadi menunggu Aluna. Dengan menggunakan jas hujan dan payung ia terus berdiri ditempatnya. Ia ingin melihat apakah yang dikatakan Bu Anggun benar.


Meskipun terasa sakit. Walau tak tahu arti dari rasa sakit itu sendiri. Rendi terus menatap kearah Rian dan Aluna.


__ADS_2