
Hari berikutnya.
saat jam istirahat tiba.
" Hei Anak baru siapa namamu? Oh ya aku lupa nama mu inikan Rian." Ujar Rendi.
"Ada apa Ren? " Tanya Rian.
" Apa kau hari ini ada rencana?" Ujar Rendi
" Apa maksudmu? " Tanya Rian tak mengerti
" Aduh, anak ini " Jawab
" Rencana apa yang akan kau lakukan untuk mendekati Aluna?" Sambungnya.
" Apa maksudmu? "
" Cih gak usah sok sok an polos deh. Palingan lo dulu di sekolah lama juga gak terlalu benerkan." Jawab Rendi.
Rian hanya bisa diam.
Karena, yang sebenarnya terjadi justru ia selalu terkena bullying karena sifat nya yang juga suka berbicara sendiri.
Akan tetapi, Ia menyembunyikannya dari teman teman barunya kali ini.
Saat pertama melihat Aluna, Ia seperti melihat dirinya yang lama. Oleh sebab itulah Rian ingin mencoba merubah Aluna.
Karena Rian tak ingin ada orang lain yang merasakan penderitaan yang sama seperti apa yang ia rasakan.
Rendi tiba tiba menarik Rian menuju ke arah Aluna.
Aluna, Hanya terdiam sepi tak menanggapi apa yang dilakukan oleh Rian dan Rendi.
Rendi kemudian mendorong Rian hingga ia jatuh duduk tepat di sebelah Aluna.
Kemudian Rendi pun pergi.
Awalnya, Rian masih malu malu, akan tetapi, Ia mulai memberanikan dirinya untuk berbicara pada Aluna.
" Jadi, namamu Aluna ya," Ujar Rian tak ditanggapi.
" Apa kabar?" ( Tak ditanggapi.)
" apa kau suka makanan itu, kenapa kau memesannya setiap hari?" Tanya Rian sekali lagi yang juga tak ditanggapi sekali.
" Perasaan apa ini, kenapa atmosfer disini menjadi berbeda." Ujar nya dalam hati.
Bel berbunyi menandakan istirahat telah usai.
Aluna kemudian menuju ke kelas nya.
Dikelas.
Rian akhirnya memutuskan untuk berbicara pad Aluna.
" Hei, Kenapa kau selalu diam?" Tanya nya.
Aluna terdiam.
" Semua orang jadi selalu mengolok ngolok mu tau." Sambungnya.
Aluna tak mengatakan apapun dam terus saja diam.
Waktu terus berlalu.
Hingga, suatu ketika,
" Jadi anak anak,Tugas hari ini kalian harus mengerjakannya berkelompok. Masing masing kelompok cukup 2 orang saja. Dan cukup satu bangku." Ujar Bu Anggun.
" Baik bu," Jawab semua murid Bersamaan.
Bel berbunyi tanda waktu pulang telah tiba.
__ADS_1
Aluna kemudian langsung pulang.
Tanpa pikir panjang Rian langsung saja mengikuti Aluna kemanapun ia pergi.
Rian tak terlalu pandai untuk bicara jadi, ia hanya mengikutinya saja. Aluna yang merasa terganggu pun akhirnya mengutarakannya pada Rian.
" Hei, bisakah ku berhenti mengikutiku?" Ujar Aluna
" Aku tidak akan berhenti mengikutimu jika kau tidak mengatakan apa yabg akan kit lakukan untuk tugas kita." Jawab Rian.
" Aku akan mengerjakan tugasku sendiri, kau lebih baik juga mengerjakannya sendiri." Sahut Aluna.
" Tidak bisa! Bu Anggun telah menyuruh kita untuk mengerjakannya berkelompok" ujar Rian.
" apa kau anak sd?" mengapa kau begitu ngotot untuk mengerjakannya bersama ku?" Tanya Aluna.
" Aku hanya ingin berteman dengan mu." Jawab Rian.
Aluna terkejut mendengar jawaban itu, Karena selama ini tak pernah ada yang mau berteman dengannya. Ia juga selalu menyendiri. Ia takut, jika ada seseorang yang berhubungan dengannya nasibnya akan sama buruknya dengan orang orang terdekatnya dulu.
Aluna terdiam.
Lalu ia pergi menjauh dari Rian. Rian yang tak kenal putus asa kemudian mengejar Aluna.
Rian hanya merasa, Aluna kesepian sama seperti dirinya dulu, dan ia tak ingin ada orang lain yang merasakannya.
Rian terus mengikuti Aluna kemanapun ia pergi. Sampai akhirnya Aluna pergi kerumah sakit dimana ibunya dirawat. Rian yang tak tahu hal itu terus mengikuti Aluna.
Ia mengira, ini adalah sebagian dari kunjungan Aluna hari ini.
Aluna kemudian masuk ke sebuah ruangan.
Dimana ruangan itulah Tempat ibunya
dirawat.
Tanpa Rian tahu, Ia pun langsung masuk begitu saja ke ruangan itu.
Rian hanya bis terdiam.
Dokter datang dan menarik Rian keluar.
" Siapa kau? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya dokter menginterogasi.
" Aku adalah teman Aluna." Jawab Rian.
" Teman? apa kau bercanda? Aluna adalah anak yang sangat tertutup, Bahkan padaku. Bagaimana mungkin ia memiliki teman sepertimu?" Ujar dokter itu.
" Namaku Rian. Aku teman baru Aluna. Mungkin, hampir sih." Jawab Rian.
" Siapa wanita itu? Apa Aluna sering kemari? " Tanya Rian.
" Mungkin memang sedikit mustahil, Tapi baguslah jika kau temannya." ujarnya.
" Asal kau tahu, tak ada seorang pun yang dapat mendekati Aluna. Bahkan aku sendiripun tak bisa dekat dengannya." Sambung dokter.
" Memang apa yang sebenarnya terjadi? Dan, siapa wanita itu?" Tanya Rian.
mendengar pertanyaan Rian Dokter kemudian menarik Rian ke ruangan nya yang tak jauh dari ruangan ibu Aluna dirawat.
Dengan mengambil nafas yang panjang,
" Lima tahun yang lalu, Aluna masih memiliki Ayah dan ibu. Ya, walaupun itu adalah orang tua tirinya. Tapi, Perusahaan ayah nya mengalami kebangkrutan karena sebuah penipuan dan korupsi dari Bawahannya.
Hal itu membuat ayah Aluna menjadi frustasi dan akhirnya mabuk mabukan. Ia pun jug kerap memukuli Ibu nya Aluna. Hingga suatu ketika, ia mengalami koma dan ayah nya pun Tewas tertabrak karena lari dari kejaran polisi.
Hanya sejauh itu yang aku tahu. Yang lain nya Entahlah." Jelas dokter.
Rian yang mendengar hal itu pun terkejut.
Rian lalu semakin percaya bahwa ia sama dengan Aluna, karena mengalami nasib yang hampir sama.
Rian lalu meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Kemudian,ia pun kembali ke ruangan tempat dimana ibunya Aluna berada.
Ia membuka pintu. Dari celah pintu yang ia buka, Ia melihat Aluna terus memandangi ibunya yang bagai mayat hidup.
Rian akhirnya memutuskan untuk kembali pulang ke rumah nya. karena ia pikir, Alun tak mau diganggu oleh nya.
Waktu terus berlalu, sampai 1 minggu pun terlewat , Aluna dan Rian tak lagi saling berbicara.
Sampai, Rian lupa akan tugas yang harus ia selesaikan bersama dengan Aluna.
" Anak anak, Hari ini, kalian harus mengumpulkan tugas yang ibu susah berikan pada kalian. " Sahur Bu Anggun, guru mereka.
" Baik Bu....," jawab semua murid bersamaan.
Kemudian mereka menyerahkan tugas itu kepada Bu anggun.
Semua murid duduk kembali.
Bu Anggun kemudian memeriksa satu persatu tugas mereka dan memberikan nilai.
Akan terapi, ia tak menemukan Nama Aluna dan Rian yang satu kelompok.
" Rian, Aluna! Kenapa kalian tidak mengumpulkan tugas?" Tanya bu Anggun dengan nada sedikit meninggi.
" Maaf bu, saya lupa kalau ada tugas." Jawab Rian.
" Maaf. Saya kemarin tak ada waktu untuk mengerjakannya." Jawab Aluna ketus.
Memang, Aluna sangat dingin pada semua orang tak terkecuali pada guru gurunya.
baginya, semua orang itu sama. Hingga ia memperlakukan mereka juga sama. Yaitu, Ketus dan dingin. Jawaban yang singkat dan memberi arti mendalam.
" Rian, kamu masih anak baru disini. Jadi, ibu akan mengampunimu. Aluna, Tugas kamu mengajari Rian hal hal yang baik." sahut bu Anggun.
" Maaf, bu. Tapi saya yang salah saya lupa kalau ada tugas. Aluna juga sudah sering
mengingatkan saya dengan hal itu dan juga dia selalu mengajak saya untuk mengerjakan tapi saya menolak karena berbagai alasan maafkan saya bu! Saya janji, Minggu depan saya akan mengumpulkannya." Jawab Rian.
Aluna terkejut mendengar jawaban Rian yang mengatakan bahwa dirinya lah yang bersalah.
Aluna kemudian mencoba untuk mengatakan yang sebenarnya pada Bu Anggun.
Tapi ada kepala sekolah yang memanggilnya Lalu bu Anggun Keluar dari kelas untuk menemui kepala sekolah.
mereka kemudian berbincang bincang di luar kelas.
" Apa sebenarnya maumu? Kenapa kau membela ku? Dan kenapa kau menciptakan sebuah kebohongan yang sangat besar" Tanya Aluna pada Rian
" Hmm, kenapa ya...." Jawab Rian.
" Sudahlah tak usah kau bahas. Aku menolongmu kali ini. Maka kau harus menolongku lain kali." Sambungnya.
Aluna terdiam.
Bu Anggun kembali masuk ke ruang kelas setelah selesai berbicara pada kepala sekolah.
Menarik nafas panjang.
" Hari ini kita turut berduka cita ya Aluna." Ujar nya.
Semua murid bingung apa yang dikatakan oleh bu Anggun.
Kemudian, Aluna yang mendengar hal itu sadar akan apa yabg dikatakan bu Anggun.
" Bu, saya permisi pulang terlebih dahulu ada urusan." Sahut Aluna yang langsung mengambil tas dan keluar dari kelas.
Semua siswa masih kebingungan akan apa yang terjadi.
Lalu tiba tiba Rian...,
__ADS_1