Terbitnya Matahari

Terbitnya Matahari
eps. 22 ( Kecelakaan)


__ADS_3

" Oh ya, namaku Nino."


" Kalian pasti bertanya tanya mengapa aku memiliki sifat layaknya orang dewasa. bukan begitu? " Tanya nya.


Aluna dan Rian mengangguk bersamaan.


" Aku tahu aku masih anak anak. Bahkan, jika ditambah tahun kematian ku. Tapi, setelah ku mati, aku mengalami banyak hal. Aku tersesat di sebuah ruang untuk menunggu kapan balas dendam. Atau, memilih mengampuni orang yang telah membunuhku."


" Oh ya, Tentang gua itu, Sebenarnya, ia memang tak kokoh. Bahkan, semua wahana disini pun juga, tak memenuhi syarat untuk beroperasi. Tapi, seolah tertutup oleh hiasan hiasan semata, wahana disini tampak aman dan menyenangkan."


Nini berhenti sebentar. Rian dan Aluna hanya bisa mendengarkan.


" Orang itu, adalah orang terlicik yang kukenal di muka bumi. Sebelum orang orang itu datang kemari, mereka harus membuat perjanjian. Dan, mereka juga harus menandatangani kontrak tentang kematian."


" Apakah itu semacam asuransi jiwa?" Tanya Anggar memotong pembicaraan.


" Mungkin, tapi, isi dari kontrak itu terlalu menguntungkan untuk pemilik dari pulau ini.


Ia mengatur, jika sesuatu terjadi pada mereka, maka harta kekayaan mereka akan jatuh ke tangan pemilik pulau ini."


" Bagaimana mungkin? Itu tidak adil. Itu sangat curang!! " Sahut Aluna merasa kesal.


" Ya, tentu aku pun juga merasakan hal yang sama. Sangat tidak menguntungkan korban. Mereka yang telah mati, sama seperti ku, keluarga yang tersisa akan didatangi dan meminta pertanggung jawaban. Walaupun, itu secara paksa. Bahkan, jika hanya satu dua orang keluarga yang masih tersisa, mereka tak segan membunuhnya jika mereka menolak."


" Aku tak habis pikir! Bagaimana mungkin ada orang yang begitu jahat dan licik didunia ini." Sahut Aluna sekali lagi merasa geram.


" Itu, bukan seberapa. Aku tak tahu dia siapa. Karena, ia selalu berhasil sembunyi dan kabur bahkan, dari hantu seperti ku dan bahkan juga Reno. Seorang detektif yang dibunuh karena menyelidiki suatu hal. Dan, bahkan setelah kematiannya sis masih menjadi seorang detektif. Tapi bedanya, jika dulu dia mencari orang yang membunuh seseorang, kini, ia mencari seseorang yang membunuh dirinya."


" Jadi, kau kenal pada kakakku?" Potong Rian.


" Ya, kamu sudah pernah bertemu semua


belum nya di alam lain." Jawab nya.

__ADS_1


Tiba tiba Terdengar suara teriakan histeris dari salah satu wahana disana. Aluna dan Rian terkejut. Mereka lupa tentang misinya. Mematikan sistem dan mencari petunjuk.


Mereka, sudah terlambat. Setidaknya, itulah yang berada di pikiran mereka sekarang.


" Hei, kenapa kalian masih disini?" Sahut Reno yang tiba tiba saja sudah berada di depan mereka.


" Jangan hanya melihat ku. Ayo, kita masih memiliki waktu. Kita harus menyelamatkan mereka."


" Kita masih memiliki waktu." Sambungnya.


Reno berjalan terlebih dahulu. Walau, lebih tampak seperti melayang. Rian dan Aluna mengikuti di belakang.


" Tunggu, tapi bagaimana kita akan menyelamatkan mereka?" Tanya Aluna sambil masih terus berjalan.


" Kita ke gudang lama itu. " Jawab Reno singkat.


Aluna terdiam dan menambah laju jalannya.


Sesampainya disana, Reno menyuruh Rian dan Aluna mencari barang barang yang empuk.


Mereka bergegas ke arah wahana yang tampak akan rubuh itu. Kemudian mereka langsung saja menggelar semua yang bisa digunakan sebagai alat pelindung benturan.


Terdapat beberapa kasur bekas, tumpukan selimut, bantal. Mungkin, itu adalah bantal bekas dari para penjaga. Walaupun, mereka tahu, itu tak membantu banyak. tapi, mereka tetap yakin dengan apa yang mereka lakukan.


Para penjaga yang tadinya terlihat panik kemudian langsung masuk keruangan mereka masing masing. Lalu keluar membawa beberapa barang yang empuk. Lalu menumpuknya menjadi satu. Dengan barang yang di tata oleh Rian dan Aluna.


Melihat hal itu, pengunjung lain mencoba untuk membantu. Mereka mengambil beberapa pakaian, bantal kecil yang mereka bawa. dan selimut. Walaupun nanti kotor, tapi mereka lebih mengutamakan keselamatan orang lain.


Barang bisa didapatkan dengan membeli. Dan membeli juga perlu uang. Uang bisa didapatkan dengan bekerja keras. Tapi, lain hal nya dengan nyawa. Siapa juga yang menjual nyawa?. Apa gunanya harta benda jika sudah tak bernyawa.


Walaupun, bukan mereka juga yang mati, tapi, menyaksikan orang orang mati didepan matanya sendiri seolah seperti mereka lah pembunuhnya.


Mereka bahu membahu. Tapi, tak lama, suara seperti besi patah terdengar. Mereka yang berada di wahana bertambah ketakutan. Apa lagi yang berada di paling atas.

__ADS_1


Mereka masih menyusun semua barang yang terkumpul. Bahkan, mereka juga mengumpulkan dedaunan kering. Ditambah, dengan beberapa kasur lainnya.


Nino melihat kejadian itu tersenyum lebar sambil memperhatikan mereka dari kejauhan.


Dan dibelakangnya, terlihat 2 sosok yang seperti, ayah dan ibu Nino. Aluna melihatnya. Dan di belakang mereka juga nampak orang orang yang lainnya. Mungkin, itu adalah orang orang yang telah tewas di wahana kereta bawah tanah itu 5 tahun yang lalu.


Mereka semua tamak sangat bahagia. Sepertinya, mereka senang karena mereka melihat sebuah kejadian yang amat langka. Dimana semua orang saling membantu. Bahu membahu membantu yang lain. Tak peduli derajat mereka. yang terpenting, merak yang diatas selamat.


Mereka tersenyum lebar kearah Aluna yang sedang memperhatikan mereka dengan tatapan lamat lamat karena tak begitu jelas.


Mereka seperti mengucapkan terimakasih lalu wush, bak angin, mereka sudah menghilang. Aluna seperti mengerti yang mereka ucapkan, Aluna kemudian ikut tersenyum sebelum mereka hilang.


Mereka bahu membahu membantu yang lainnya. Hingga, dikirannya tumpukan barang barang itu sudah cukup, Rian lalu berteriak.


" Hei!!! Kalian yang berada diatas sana!! Cepat meloncat lah."


Mereka awalnya ragu ragu untuk melompat. Tapi, setelah melihat salah seorang dari mereka yang tiba tiba terjun dari yang paling tertinggi dan dia selamat. Akhirnya yang lain juga ikut meloncat satu persatu.


Memang tak terlalu ampuh. Tapi, meraka paling hanya menderita luka ringan karena turun kebawah dengan cara terjun bebas.


Untung saja, di giliran itu, tak ada anak anak yang ikut. Jadi, semuanya selamat.


Tapi, sayangnya, suka cita itu berubah ketika melihat kincir ria itu roboh. Mereka yang berada di dekat nya dengan jarak radius 50 meter pasti akan terkena.


Memang, tingginya hanya 30meter.Tapi jika rubuh pasti puing puing itu akan berhamburan. Segera, mereka langsung berlarian kocar kacir kesana kemari. Rian mencoba mengarah kan orang orang untuk berlari kedalam hutan. Karena hanya tempat itulah yang aman. Karena, jika kincir ria itu menjatuhi wahana lain, maka, satu persatu wahana juga akan hancur.


Semua orang berusaha mencari tempat yang aman. Mereka berlari tak karuan. Mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri.


Tak seperti yang lain, Rian dan Aluna malah sibuk menyelamatkan yang lain. Rian mencoba sebisanya. Aluna juga membantu para anak anak. Rian juga mengarahkan agar semua orang berlari menjauh sejauh jauh nya dan masuk ke hutan namun harus tetap bersama. Karena Rian tak menjamin bahwa didalam hutan tak ada hewan buas.


Rian, dan Aluna selamat. Mereka adalah orang yang lagi paling akhir. Mereka masuk ke dalam hutan dengan Aluna yang menggendong seorang gadis kecil yang kakinya terluka.


Segera, orang tuanya yang sadar anaknya hilang langsung menghampiri Aluna dan Rian. Mereka menyerahkan gadis itu pada Seorang wanita itu. Sang gadis langsung memeluk ibunya dan ibunya merasa terharu.

__ADS_1


" Sekarang, apa yang harus kita lakukan?" Tanya seseorang yang membuat momen haru itu terhenti.


" Kita akan menunggu."


__ADS_2