Terjebak Cinta Bos Playboy

Terjebak Cinta Bos Playboy
Terjebak Cinta Bos Playboy_1


__ADS_3

Di sebuah rumah yang sangat mewah dan juga megah, terlihat seorang pria tengah berdiri di depan cermin, tangannya tengah berkutat dengan kain panjang yang melingkar di lehernya.


Namun hampir setengah jam, pria itu belum bisa memasang kain tersebut, ia begitu nampak kesulitan, padahal itu adalah perkara mudah, tapi semenjak Aresha dijadikan sekretaris pribadinya, pekerjaan sepele seperti itu menjadi sangat sulit.


"Aarght, susah banget sih, perasaan dulu bisa," erangnya seraya melempar kain tersebut, lalu dengan segera pria itu mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang.


[ Halo,cepat datang ke rumah sekarang, aku tunggu ]


Ucapnya lewat via telepon, lalu mematikan nya.


20 menit kemudian, seorang gadis lari tergesa-gesa dan tanpa mengetuk pintu, gadis itu masuk ke dalam rumah mewah tersebut.


"Lama banget sih," gerutu pria itu, yang tak lain adalah Devan.


"Astaga, aku udah ngos-ngosan kayak gini, masih mending mau datang, nggak menghargai banget jadi orang," gerutu gadis itu dalam hati, siapa lagi kalau bukan sekretaris pribadinya.


"Ada apa sih, pagi-pagi bapak udah nyuruh saya lari maraton," ujar Aresha kesal. Nafasnya pun masih ngos-ngosan.


Dengan perlahan, Devan pun berjalan mendekati Aresha, lalu melempar kain panjang tersebut yang sedari tadi ia pegang, dan tepat ke arah Aresha.


"Pakein dong," pinta Devan tanpa basa-basi.


Aresha hanya menghela nafas, lalu memutar bola matanya malas, di ambilnya kain panjang itu, lalu dengan segera melingkarkan di leher Devan.


"Sampai kapan sih, hidup Bapak tergantung sama orang lain terus, pake dasi aja nggak bisa," gerutu Aresha, tangannya sembari berkutat memasang dasi tersebut di leher bosnya.


Devan hanya tersenyum, ia terlalu fokus memandangi wajah cantik yang ada di depan matanya itu.


Tiba-tiba saja, suara cacing di perut Aresha berbunyi, dan itu membuat Devan menahan tawanya.


"Kamu belum sarapan?" tanya Devan. Dengan terus menahan tawanya.


"Gimana mau sarapan, masih pagi aja Bapak udah nyuruh saya ke sini," kesal Aresha.


"Ya udah sana masak, nanti kita sarapan bersama, aku juga belum sarapan," pinta Devan seraya berjalan lalu duduk di sofa.


"Sekarang Pak?" tanya Aresha memastikan.


"Tahun depan," jawab Devan.


Aresha pun bergegas menuju ke dapur, di lihatlah isi almari yang biasa untuk menyimpan bahan makanan, ada banyak jenis sayuran, daging dan lain sebagainya.


Sebelum Aresha memasak, ia melirik jam tangannya, dan waktu sudah menunjukkan pukul 06.15.


Akan sangat lama jika harus memasak sayuran, akhirnya ia putuskan untuk membuat nasi goreng, namun untuk bosnya itu, ia akan bertanya terlebih dahulu, Aresha takut jika selera bosnya, tidak sama dengannya.


"Pak, Bapak mau sarapan pake apa," teriak Aresha dari dapur.


"Apa aja, terserah kamu, apa pun yang kamu masak, pasti akan aku makan," jawab Devan sembari fokus pada layar handphonenya.


Aresha yang mendengarnya, sedikit terkekeh.


Dengan segera ia menyiapkan bahan, serta bumbunya.


Setelah semuanya siap, dengan cekatan Aresha memulai


"Jadi kalau saya masak racun, bapak akan tetap memakannya," ledek Aresha.


"Tentu saja, asalkan makannya sama kamu," balas Devan, yang membuat Aresha tersenyum kikuk.

__ADS_1


***


Kini Aresha dan Devan sudah tiba di kantor, Devan segera masuk ke ruangan nya, begitu juga dengan Aresha yang langsung duduk di kursi kerjanya.


Baru saja Aresha menghempaskan bokong nya di kursi, sang bos sudah berteriak memanggil nya.


Dengan kesal dan tergesa-gesa, Aresha berjalan menuju ruangan bos nya.


"Pak, saya itu belum tuli, jadi bapak nggak usah teriak-teriak," protes Aresha.


"Duduk," pinta Devan singkat.


Aresha pun duduk di kursi, dengan wajah yang di tekuk, seperti baju yang belum di setrika.


"Malam nanti temenin saya diner ya," ujar Devan santai.


"Apa pak, diner, bukanya malam nanti bapak ada janji sama Clara," ujar Aresha sedikit bingung.


"Iya, makanya kamu harus ikut, soalnya kalau cuma berdua, saya takut nanti Clara akan berbuat yang tidak-tidak," jelas Devan.


Aresha mengernyitkan dahinya, Aresha bingung dengan apa yang bosnya itu bicarakan.


"Maksud bapak?" tanya Aresha penasaran.


"Sudah jangan banyak tanya, nanti malam saya jemput jam 8," putus Devan.


Aresha hanya bisa mendengus kesal, setelah bosnya selesai bicara, ia kembali lagi ke meja kerjanya.


"Huh, nyebelin banget sih, kapan sih tuh playboy nggak maksa," gerutu Aresha penuh dengan kekesalan.


Waktu terasa begitu cepat, Aresha pun telah siap, kini ia tengah menunggu kedatangan bos nya itu.


"Pak, bapak sendiri aja ya, besok saya bisa terlambat ke kantor kalau jam segini belum tidur," bujuk Aresha, namun sayang, semua itu tidak mempan.


"Sekarang masuk, aku tidak suka penolakan," pinta Devan, sembari membuka pintu mobilnya.


Dengan terpaksa, Aresha pun masuk ke dalam, setelah itu, Devan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Tak butuh waktu lama, kini mereka telah tiba di sebuah resto yang sangat terkenal di kota Jakarta, Devan dan Aresha bergegas keluar dari mobil, dan segera masuk ke dalam resto.


"Awas ya pak, kalau pacar bapak marah, bapak harus tanggung jawab," ancam Aresha, sembari memanyunkan bibirnya.


"Kamu tidak perlu khawatir, ayo masuk," jawab Devan santai.


Keduanya pun telah berada di dalam, Devan langsung menarik tangan Aresha menuju kursi, yang telah ia pesan sebelumnya.


"Silahkan duduk," ujar Devan, seraya menarik kursi, untuk Aresha duduki.


"Nggak usah lebay deh pak," ketus Aresha, lalu duduk.


Devan hanya tersenyum, dan tak lama kemudian, seorang gadis dengan pakaian terseksi nya, datang menghampiri mereka berdua, ya siapa lagi kalau bukan Clara.


"Sayang, kok kamu datang sama dia sih," protes Clara.


"Masalah, jadi diner nggak, kalau nggak, aku mau pulang," ujar Devan cuek.


Clara langsung memanyunkan bibirnya, yang merah kaya darah itu, dengan sangat terpaksa, ia pun duduk.


Sementara itu, Aresha terkekeh melihat pasangan kekasih yang ada dihadapannya itu.

__ADS_1


Kini ketiganya tengah menikmati makan malam bersama, namun yang aneh dan buat Clara dongkol adalah.


Saat melihat Devan sang kekasih memperhatikan Aresha, sekretarisnya, bahkan bukan perhatian saja, tetapi sesekali Devan menyuapi Aresha, meski telah menolaknya, namun Devan tetap memaksanya, dan hal itu membuat Clara semakin marah, seperti kebakaran jenggot.


"Gimana Aresha, enak kan?" tanya Devan dengan senyum manisnya.


"Em, enak kok pak," jawab Aresha sedikit gugup.


Clara semakin dongkol ia yang kekasihnya saja tidak di perlakukan seperti itu, tetapi yang hanya sekretarisnya Devan perlakukan sangat romantis.


Saking kesalnya, Clara menusuk-nusuk makanan yang ada dihadapannya dengan garpu, Devan yang menyadari itu, justru semakin menjadi.


Setelah selesai makan, Devan memutuskan untuk pulang, lantaran besok harus meeting.


Kini ketiganya sudah berada di depan restoran, Clara merengek meminta di antar pulang oleh Devan, namun Devan menolak nya.


"Sayang anterin pulang ya, aku nggak bawa mobil," rengek Clara dengan manjanya.


"Clara, rumah kamu itu jauh, ini sudah malam, besok pagi aku ada meeting, jadi kamu pulang sendiri aja," tolak Devan, yang membuat Clara semakin kesal.


Devan pun segera menyetop taksi, untuk mengantarkan Clara pulang.


"Sekarang kamu masuk, taksi ini akan mengantarkanmu pulang," pinta Devan, seraya membuka pintu taksi tersebut.


"Tapi Van, aku maunya kamu yang antar pulang," bujuk Clara dengan wajah melasnya.


"Kamu mau pulang atau tidak, ini sudah malam, sebaiknya cepat masuk, aku yang akan membayar taksi ini,," tegas Devan.


Dengan terpaksa, Clara pun masuk ke dalam taksi, setelah itu Devan segera menutup taksi itu, lalu perlahan taksi itu pun melaju.


"Sekarang kita pulang, udah malam, ayo masuk," ajak Devan,pada Aresha.


Devan segera masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Aresha, namun Aresha memilih duduk di belakang, dan itu membuat Devan kesal.


"Kenapa di belakang, kamu pikir aku supirmu," kesal Devan.


Aresha pun berdecak kesal, dengan memanyunkan bibirnya, Aresha akhirnya pindah ke depan,namun tak di sangka, ia justru melangkah dari jok belakang ke jok depan, tanpa keluar lewat pintu terdahulu, Devan yang melihatnya, sangat heran dengan tingkah wanita ini.


"Heh, kenapa gak lewat pintu," tegur Devan.


"Bapak diem aja, yang penting saya kan pindah, jangan cerewet," semprot Aresha.


"Awas tuh rok nya nyangkut," ujar Devan berbohong.


"Ah, jangan bohong deh pak, awas kalau bapak ngintip," pekik Aresha.


Setelah Aresha pindah ke depan, ia langsung menyuruh Devan untuk segera melajukan mobilnya.


"Ayo jalan pak, udah malam tau, besok saya bisa terlambat," ujar Aresha seraya merapikan rok nya.


"Crewet banget sih jadi cewek," ketus Devan, lalu segera melajukan mobilnya.


Aresha hanya tersenyum, lalu lebih memilih mengalihkan pandangan,ke luar jendela.


"Besok jam 6 pagi, kamu harus sudah ada di rumah saya," ucap Devan tanpa menoleh.


Aresha yang awalnya tengah asyik menikmati indahnya malam hari, tiba-tiba mood nya berubah menjadi kesal, gimana nggak kesal, masa jam 6 pagi harus sudah standby di rumah bos playboy nya itu.


"Kenapa jam 6 pak, subuh aja sekalian," sindir Aresha.

__ADS_1


Ciiitttt,,, dengan tiba-tiba Devan mengerem mobilnya secara mendadak, dan itu membuat dahi Aresha terpentok.


__ADS_2