
Suasana menjadi tegang, semua terdiam dan menatap tajam ke arah Aresha.
"Devan, apa kamu tidak salah, dia itu hanya seorang sekretaris, apa yang bisa kamu banggakan dari dia," ujar Sely dengan nada sedikit mengejek.
"Tante benar, dia memang seorang sekretaris, tapi dia jauh lebih baik, dari sekian wanita yang selama ini aku kenal, termasuk juga anak Tante, kebanyakan dari mereka hanya memanfaatkan kekayaan yang aku punya, tapi dia tidak, maaf bukannya saya sombong," jelas Devan, yang membuat hati Alexa semakin panas.
Sementara itu, Aresha memilih untuk diam, ia takut jika ikut bicara, nanti akan memperkeruh suasana.
Alexa terus menatap tajam ke arah Aresha, dadanya naik turun menahan amarahnya.
"Baik, mungkin semuanya sudah jelas, karena sudah malam saya permisi, Aresha ayo," ujar Devan, lalu mengajak Aresha untuk pulang.
Devan dan Aresha pun segera bangkit dari duduknya.
Tak ada sahutan dari Alexa dan kedua orang tuanya, mereka semua terdiam.
Devan pun langsung menggandeng tangan Aresha melangkah keluar dari rumah megah keluarga Jonathan.
Alexa ingin mengejar Devan, namun ayah dan ibunya mencegahnya.
Sementara itu, Devan dan Aresha kini sudah dalam perjalanan untuk pulang.
"Pak, apa kita batalkan saja rencana kita," ujar Aresha memecah keheningan.
"No," sahut Devan singkat.
"Tapi pak, Alexa itu sangat mencintai bapak, dia pasti sangat kecewa," ungkap Aresha yang merasa tidak tenang.
"Semua yang sudah menjadi keinginan aku, tidak akan bisa ku rubah begitu saja, ini adalah keputusan terbaik ku, jadi tolong hargai keputusan ini," jelas Devan seraya menoleh ke arah Aresha.
Mendengar itu, Aresha memilih untuk diam, namun hatinya tidak tenang, ia takut kalau nanti Alexa akan berbuat yang tidak-tidak.
Setelah cukup lama dalam perjalanan, akhirnya mereka tiba di kos-kosan Aresha, ia pun segera keluar dari mobil.
"Besok pagi aku jemput, sekarang masuk dan istirahat lah," ujar Devan dengan lembut.
"Iya pak, terima kasih udah mau nganterin saya pulang," ucap Aresha tersenyum.
Devan pun tersenyum dan segera melajukan mobilnya, setelah itu Aresha memutuskan masuk ke dalam rumah dan bergegas untuk beristirahat.
Aresha merebahkan tubuhnya di atas ranjang, matanya menatap langit-langit kamarnya, pikirannya terus memikirkan kejadian yang ia alami dari pagi sampai malam.
"Aku masih belum yakin, kalau pak Devan beneran mau nikah sama aku, kalau pacar-pacarnya tau, bisa-bisa aku dikeroyok sama koleksi ceweknya pak Devan, mereka yang pacaran, tapi malah aku yang nikah.
Aduh, kalau mereka sampai macam-macam, pak Devan harus tanggung jawab." Ucap Aresha sembari menatap lurus ke atas. Lalu memejamkan matanya untuk bisa menenangkan pikiran nya.
Pagi telah menyapa, pagi ini Aresha bangun lebih awal, ia tengah bersiap-siap untuk segera pergi ke kantor.
Pukul 7 pagi, Devan telah standby di depan kos-kosan Aresha.
Setelah siap, Aresha bergegas untuk keluar dari rumah dan segera menuju ke mobil bosnya itu.
"Tumben bapak nggak pake dasi," ucap Aresha saat melihat penampilan bosnya yang sedikit berbeda.
"Iya, hari ini kita nggak ke kantor," jawab Devan sembari membukakan pintu mobil untuk Aresha.
Aresha pun segera masuk ke dalam, begitu juga dengan Devan, setelah itu mobil pun perlahan berjalan meninggalkan halaman depan kos-kosan yang Aresha tempati.
__ADS_1
"Terus kita mau kemana pak?" tanya Aresha.
"Kita mau ke butik," jawab Devan.
"Ngapain ke butik, bapak mau beli baju?" tanya Aresha heran.
"Nggak, kita mau fitting baju pengantin," jawab Devan.
"Apa pak, apa ini tidak terlalu cepat," jawab Aresha sedikit kaget.
"Ya nggak lah, ini mama yang minta," balas Devan meyakinkan.
Aresha hanya tersenyum, lalu ia memilih mengalihkan pandangan ke luar jendela.
Begitu juga dengan Devan, memilih fokus menyetir.
Setelah cukup lama dalam perjalanan, kini mereka tiba di sebuah butik yang cukup besar dan pastinya terkenal.
Aresha pun turun dari mobil, dan diikuti oleh Devan, setelah itu keduanya masuk ke dalam butik.
Setibanya di dalam, Aresha langsung di tuntun oleh pegawai butik untuk mencoba baju pengantin nya.
Setelah ia pake, Aresha pun keluar dan meminta pendapat dari Devan.
"Pak, gimana cocok nggak?" tanya Aresha, sembari memutar tubuhnya.
Devan kagum, baru mencoba saja sudah terlihat cantik, apa lagi kalau sudah pake makeup.
"Cantik," ucap Devan dengan senyuman.
Aresha pun ikut tersenyum, setelah itu ia kembali ke ruang ganti.
Mereka telah tiba di restoran, Devan pun langsung menggandeng tangan Aresha dan masuk ke dalam.
"Aresha kamu mau makan apa?" tanya Devan.
"Terserah bapak aja sehat," jawab Aresha.
"Ya sudah, aku pesen dulu ya, kamu tunggu disini," ujar Devan, dan segera bangkit dari duduknya.
Saat Aresha tengah fokus dengan layar handphonenya, tiba-tiba seorang datang dan langsung menarik tangan Aresha menjauh dari meja yang di tempati.
Orang itu membawa Aresha keluar dari restoran, tepatnya di belakang resto tersebut.
"Heh, lepasin tangan aku, siapa kamu," ujar Aresha yang terus memberontak.
Setelah di belakang, orang itu pun melepas tangan Aresha, dan mendorongnya hingga terjatuh.
"Auh," ringis Aresha.
Aresha pun bangkit, dan mendongakkan kepalanya, seketika ia terkejut saat melihat orang tersebut, yang tak lain adalah Alexa.
"Alexa," pekik Aresha.
"Iya ini gue, lo kaget," ujarnya dengan senyum yang menyeringai.
"Alexa kamu mau apa?" tanya Aresha.
__ADS_1
"Gue mau kasih pelajaran buat lo, karena lo udah berani ngrebut Devan dari gue, jadi lo harus terima akibatnya, ngerti!" Bentak Alexa dengan amarah yang sudah memuncak.
Alexa langsung menjambak rambut panjang Aresha, lalu mendorongnya sampai terpentok ke tembok, setelah itu Alexa mengeluarkan benda kecil dan tajam, ia arahkan ke wajah Aresha, keringat dingin pun seketika keluar membasahi tubuh Aresha.
"Alexa tolong maafin aku, aku nggak bermaksud untuk ngrebut pak Devan dari kamu," ucap Aresha dengan suara yang gemetar.
"Gue nggak percaya dengan kata-kata lo ngerti!" Gertak Alexa.
Aresha mencoba untuk lari, namun ia bingung harus lari kemana, Aresha pun terus mundur, untuk menghindari Alexa yang terus menodongkan pisau tajamnya itu.
Sementara itu, Devan telah kembali, namun ia bingung, ia tidak menemukan sosok Aresha di kursi tersebut.
Tas dan handphone masih terletak di atas meja, mungkinkah Aresha pergi ke toilet, batin Devan.
Tapi hampir setengah jam, Devan menunggu Aresha tak kunjung kembali, sampai makanan yang telah dipesan sudah tersaji di atas meja.
Akhirnya Devan pun memutuskan untuk mencari Aresha.
"Maaf mba, mba liat cewek yang duduk disini nggak?" tanya Devan pada salah satu pelayan restoran.
"Tadi pergi kebelakang pak sama seorang perempuan," jawab pelayan tersebut.
"Terima kasih ya mba," balas Devan.
"Sama-sama pak," sahutnya.
Devan pun bergegas pergi kebelakang restoran tersebut.
"Aresha, kamu di mana," teriak Devan.
Alexa yang mendengar suara teriakkan Devan merasa panik.
"Inget, kalau lo sampai aduin ini ke Devan, gue pastiin nyawa lo bakal melayang, ngerti lo!" Ancam Alexa lalu mendorong tubuh Aresha sampai terjatuh.
Setelah itu Alexa bergegas pergi meninggalkan Aresha.
Sementara itu Aresha hanya bisa menangis, ia merasa takut dengan perbuatan Alexa terhadapnya.
Devan yang mendengar suara tangisan wanita yang ia cari, dengan segera mencari sumber suara tersebut.
Betapa terkejutnya saat melihat Aresha dengan kondisi yang amat memprihatinkan.
Rambut yang berantakan, bekas cakaran di lengan dan juga dadanya, baju yang sudah terkoyak dan sudut bibir yang mengeluarkan cairan merah.
Dengan segera Devan merengkuh tubuh ramping Aresha, agar bisa memberi keterangan, seketika tangisnya pecah saat berada di dekapan Devan.
Devan memilih untuk diam, tidak mungkin dalam keadaan seperti ini, ia langsung menanyakan siapa pelakunya, pasti Aresha masih merasa trauma.
"Maafin aku Sha, aku tidak bisa menjaga kamu," lirih Devan sembari mempererat dekapannya.
Aresha semakin terisak dalam tangisanya, ia tidak pernah membayangkan kalau kejadian ini akan menimpa dirinya.
Setelah Aresha cukup tenang, Devan pun mulai melepas pelukannya dengan perlahan, melihat kondisi Aresha seperti itu, ia tidak tega.
Devan pun melepas jasnya dan memakaikannya pada tubuh Aresha agar bisa menutupi tubuhnya, setelah itu ia putuskan untuk mengantarkan Aresha pulang.
"Sekarang kita pulang ya," lirih Devan dan dibalas anggukan kecil oleh Aresha.
__ADS_1
Devan langsung membopong tubuh Aresha dan bergegas menuju ke mobil.