Terjebak Cinta Bos Playboy

Terjebak Cinta Bos Playboy
Terjebak Cinta Bos Playboy_21


__ADS_3

Aresha menjerit dan detik itu juga, ia tersadar dari mimpinya, nafasnya terengah-engah, keringat dingin pun membasahi seluruh tubuhnya.


Namun ia lega, karena itu hanya mimpi, Aresha pun menoleh ke samping kanan dan terlihat Devan masih tertidur pulas.


"Syukurlah, kalau ini hanya mimpi," ucap Aresha.


Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, Aresha bergegas bangun dan langsung menuju ke kamar mandi, sementara itu, Devan mulai mengerjap-ngerjap kan matanya.


Selang beberapa menit, Aresha keluar dari kamar mandi, ia melihat sang suami yang sudah terbangun.


"Ayo buruan bangun, udah jam 6," ujar Aresha.


"Sebentar Sayang, 5 menit lagi," sahut Devan dengan suara serak bangun tidur.


Aresha menghela nafas, menatap tajam ke arah suaminya itu.


Namun tiba-tiba pintu kamar Aresha di ketuk dan itu membuat Aresha dan Devan kalang kabut.


"Aresha, kamu sudah bangun kan, ayah tau suami kamu juga masih di dalam," suara ayah Aresha terdengar dari luar pintu.


"Devan, ayo cepat pergi, nanti ayah bisa marah," pinta Aresha dengan sangat panik.


"Iya sebentar, kamu yang sabar dong," sahut Devan.


"Ayo kalian keluar, ayah sama ibu mau bicara," pinta sang ayah.


"Van gimana?" tanya Aresha panik.


Devan hanya mengangkat bahunya, pertanda jika ia kini pasrah, ia juga tau, tidak mungkin selamanya akan seperti ini terus, bertemu anak dan istri dengan sembunyi-sembunyi.


Kini semuanya telah berkumpul di ruang tengah, Devan dan Aresha duduk bersanding, ayah Aresha duduk menghadap putri dan menantunya, sementara itu ibu Aresha berdiri sembari menggendong cucunya.


"Ayah tau, selama sebulan ini kamu selalu datang ke sini, meski awalnya ayah tidak tau, tapi lama kelamaan ayah mengetahuinya," tutur ayah Aresha, yang membuat Devan dan Aresha terkejut.


"Jadi selama ini ayah tau, kalau Devan sering datang ke sini?" tanya Aresha.


"Iya, dan sekarang ayah dan itu jadi tau, kalau Devan memang pantas untuk kamu, dia pantas untuk menjadi suamimu," tutur ayah Aresha.


Senyum terukir di bibir Aresha dan juga Devan, keduanya merasa sangat bahagia mendengar penuturan dari sang ayah.


"Terima kasih ya Yah, Aresha minta maaf kalau Aresha sudah salah sama ayah," ucap Aresha, lalu memeluk sang ayah.


"Sama-sama, ayah juga minta maaf," sahut sang ayah.


"Terima kasih ya Yah, sudah percaya dengan Devan," sela Devan.


"Sama-sama, ayah juga berterima kasih, karena kamu sudah mau mencintai putri ayah yang satu ini," balasnya dengan tersenyum.


"Jadi Devan boleh ngajak Aresha dan Vanes pulang ke rumah?" tanya Devan, sedikit was-was.


"Tentu saja boleh, Aresha dan Vanes adalah tanggung jawab kamu, jaga mereka baik-baik ya," ujar ibu Aresha.


"Iya Bu, aku akan menjaga mereka dengan baik," jawab Devan.


"Sayang, sebentar lagi kamu akan pulang ke rumah ayahmu, rumahmu juga," kata ibu, lalu menciumi wajah cucunya itu.


Satu jam kemudian, semua barang-barang Aresha dan Vanes sudah selesai di bereskan.


"Gimana Sayang, sudah selesai semua?" tanya Devan, sembari menggendong Vanes.


"Sudah kok," sahut Aresha.


"Ya sudah, kita berangkat sekarang," balas Devan.


Setelah itu, mereka pun segera berpamitan kepada ayah dan ibu.

__ADS_1


"Bu, Yah, Aresha pulang dulu ya, Ayah sama Ibu hati-hati di rumah," pamit Aresha.


"Iya, kamu juga hati-hati di sana ya, sering-sering kabarin ibu," jawab ibu Aresha. Tak lupa mencium dan memeluk putri serta cucunya.


Aresha menganggukkan kepalanya, kemudian, Devan pun berpamitan dengan kedua mertuanya.


Selesai berpamitan, Aresha dan Devan bergegas naik ke mobil.


***


Satu jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah, Devan dan Aresha pun bergegas masuk ke dalam.


"Selamat datang kembali istriku tercinta, dan putri kecil ayah," ucap Devan, sembari membukakan pintu rumah.


Aresha hanya tersenyum, lalu masuk ke dalam.


Setelah di dalam, Aresha mengedarkan pandangannya, tidak ada yang berubah, semua letak barang-barang masih sama seperti dulu.


"Masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah," kata Aresha, dengan senyum yang mengembang.


"Seperti cinta aku ke kamu, tidak akan pernah berubah," sahut Devan, yang membuat Aresha terkekeh.


Tanpa menghiraukan sang suami, Aresha melenggang pergi naik ke atas, menuju kamar mereka.


"Sayang, kamu mu kemana?" tanya Devan.


"Mau ke kamar, aku capek mau istirahat," jawab Aresha, yang terus berjalan.


"Terus yang bawa barang-barang ini siapa?" tanya Devan, sembari menunjuk ke arah koper yang tergeletak di sampingnya.


"Kamu lah," sahut Aresha enteng.


Devan hanya menghela nafas, setelah itu ia segera membawa koper tersebut menuju ke kamar.


***


"Sayang, sekarang kamu tidur ya, biar nggak capek lagi," ucap Aresha, sembari membaringkan putrinya di atas ranjang.


Selang beberapa menit, Devan keluar dari kamar mandi, dengan hanya mengenakan handuk, tangannya sibuk menggosok-gosok rambutnya dengan handuk kecil.


"Sayang, Vanes sudah tidur?" tanya Devan, sembari berjalan ke arah ranjang.


"Sudah baru saja, makanya kamu jangan berisik," jawab Aresha, sembari merapikan selimut yang masih berantakan.


Mendengar itu, Devan mempercepat jalannya, lalu melempar handuk kecil yang ia pegang ke sofa.


"Kalau begitu, kita bisa mulai dong," goda Devan, sembari memeluk Aresha dari belakang.


Aresha sedikit terkejut, mendapat pelukan dari suaminya.


"Mulai ngapain? Mulai tidur?" tanya Aresha pura-pura tidak tau.


"Mulai itu Sayang? Masa kamu nggak ngerti sih," jawab Devan, seraya menciumi punggung Aresha.


Aresha tersentak, ia benar-benar tidak menyangka, kalau suaminya sekarang sudah berubah 180°, Devan yang dulu, bukanlah Devan yang sekarang.


"Kamu kenapa sih, sekarang kok tambah mesum?" tanya Aresha, yang merasa heran.


"Memangnya kenapa? Kamu suka kan, lagi pula mesum sama istri sendiri kan nggak papa," jawab Devan.


"Lagi pula selama sebulan ini, kita kan nggak pernah lakuin itu, ini kewajiban kamu sebagai istri, apa kamu mau durhaka sama suami," tutur Devan, yang membuat Aresha sedikit tersentak.


Kemudian Devan membalikkan badan Aresha agar menghadapnya, ia tatap lekat-lekat wajah cantik sang istri.


"Kamu sangat cantik, sampai-sampai aku tidak bisa melupakan wajahmu, bibirmu yang merah sangat menggoda, dan senyummu yang manis, membuatku diabetes, sampai-sampai aku tidak bisa bergerak saat berada di sampingmu," ucap Devan, dengan sorot mata yang membuat Aresha terdiam.

__ADS_1


"Kamu lagi muji aku, atau lagi ngejek aku," ujar Aresha kemudian.


Devan tersenyum, lalu tanpa menjawab pertanyaan sang istri, Devan langsung mengangkat tubuh Aresha, lalu di baringkan di atas ranjang.


Aresha hanya bisa pasrah, karena yang Devan katakan memang benar,


Perlahan Devan mencium bibir merah sang istri, dan setelah beberapa menit, hubungan itu pun terjadi.


(Sensor)


***


5 tahun kemudian, dan masa itu adalah masa-masa yang sangat menyenangkan, masa yang tidak dapat di lupakan.


Kini Devan dan Aresha sudah hidup bahagia, kebahagiaan yang selama ini selalu di uji, kini mereka telah mendapatkannya.


Masalah demi masalah kini telah berakhir, hanya ada kebahagiaan diantara mereka, terlebih saat Aresha di nyatakan hamil, hal itu membuat Devan sangat bahagia.


Saat ini, Devan dan Aresha tengah duduk santai di taman belakang rumah, sementara itu Vanes tengah asyik bermain dan berlari menikmati suasana sore hari.


"Sayang, kamu harus menjaga calon anak kita, kamu tidak boleh capek, jangan banyak pikiran, pokoknya semua yang kamu minta, aku pasti akan menurutinya, semua kebutuhan kamu juga akan aku penuhi," tutur Devan, yang membuat Aresha tersenyum sumringah.


Devan tidak ingin, kejadian di masa lalu terulang lagi, dan kali ini, Devan akan benar-benar menjaga Aresha.


"Iya, makasih ya Sayang, kamu udah perhatian banget sama aku, dan calon anak kita," ujar Aresha dengan tersenyum.


"Iya dong, aku tidak mau kejadian dulu terulang lagi," sahut Devan.


Saat Devan akan mencium bibir sang istri, tiba-tiba Vanes berlari ke arahnya.


"Ayah, Bunda," panggil Vanes.


Dengan segera, Devan menormalkan posisinya.


"Belum juga mulai, udah ada yang ganggu," gerutu Devan, Aresha hanya terkekeh mendengar suaminya menggerutu.


"Ingat, kita sekarang tidak hanya berdua, bahkan sebentar lagi kita jadi berempat," kata Aresha, mengingatkan sang suami.


"Iya, iya," sahut Devan, yang langsung memanyunkan bibirnya.


"Ayah, ayo main kuda-kudaan," rengek Vanes, seraya menarik-narik tangan ayahnya.


"Apa, kuda-kudaan, terus kudanya pakek apa?" tanya Devan yang memang tidak mengerti.


"Ayah dong, yang jadi kudanya," jawab Vanes, yang membuat Devan terlonjak kaget, sementara itu Aresha hanya tersenyum, menahan tawanya.


"Loh kok ayah sih, bunda saja ya," tolak Devan.


"Enggak mau, Vanes maunya ayah," kekeh Vanes.


Setelah hampir 20 menit berdebat dengan putrinya, akhirnya Devan pun mau menuruti keinginan putri tercintanya itu.


"Ya udah ayah mau, tapi jangan lama-lama ya," pasrah Devan.


Vanes hanya mengangguk, setelah itu, Devan pun berdiri lalu menggandeng putrinya, setelah itu ia mulai bermain dengan putri kecilnya itu.


Aresha tersenyum melihat tawa suami serta putrinya itu, keduanya terlihat sangat bahagia, Aresha pun ikut bahagia.


Sekarang senyum dan tawa menghiasi hari-hari Aresha dan keluarga kecilnya, tak ada tangis lagi diantara mereka.


TAMAT


Keluarga yang bahagia dan harmonis adalah keluarga yang saling memahami, menerima kelebihan serta kekurangan satu sama lain, saling mendukung, saling melengkapi dan mengutamakan kepentingan keluarga dari pada kepentingan pribadi.


Kebersamaan adalah kunci dari keluarga yang bahagia, sejatinya kebersamaannya itu bisa kita wujudkan dengan cara apapun.

__ADS_1


__ADS_2