Terjebak Cinta Bos Playboy

Terjebak Cinta Bos Playboy
Terjebak Cinta Bos Playboy_13


__ADS_3

Sekilas Aresha melirik ke arah Devan, ia masih tertidur pulas, Aresha sangat penasaran, ada apa dia nelfon malam-malam begini.


"Duh, di angkat nggak ya," ucap Aresha, yang merasa bimbang.


Saat Aresha ingin mengangkat telfon tersebut, tiba-tiba Devan menggeliat, sontak buat Aresha terkejut, dengan segera handphone yang ia pegang Aresha letakan di atas nakas.


Merasa terusik, Devan pun membuka matanya.


"Sayang, ada apa?" tanya Devan, dengan suara serak bangun tidur.


"Eh, nggak papa kok, tadi habis dari kamar mandi," ucap Aresha berbohong.


Devan hanya manggut-manggut, setelah itu ia mengambil handphonenya yang sedari tadi bunyi, Devan sedikit terkejut saat tau Alice lah yang menelepon nya.


Aresha merasa heran dengan raut wajah Devan yang seperti khawatir.


"Kenapa, kok nggak di angkat," ucap Aresha, lalu berbaring lagi.


"Bilang tuh sama pacar kamu, suapaya nggak ganggu orang lagi tidur," sambung Aresha. Lalu menutupi tubuhnya dengan selimut dan membelakangi sang suami.


Devan terlihat bingung, takut sang istri akan marah lagi, akhirnya ia meletakkan handphonenya di laci agar tak terganggu dengan suaranya.


Setelah itu Devan pun berbaring dan mencoba untuk memejamkan matanya kembali.


***


Sejak kejadian itu, di mana Devan dan Aresha berdebat di kantor, semua karyawan sudah tau jika bos mereka telah menikah dengan sekretarisnya.


Dan sejak itu juga, Devan dengan sangat terpaksa harus memberitahu para karyawan nya tentang pernikahan nya dengan Aresha.


Semua karyawan nya terkejut saat mendengar penjelasan dari sang bos, banyak yang senang dengan pernikahan bosnya itu, namun banyak juga yang tidak senang, terutama para wanita yang membenci Aresha.


Namun semua itu tidak menjadi masalah untuk Devan dan juga Aresha.


***


Genap dua bulan sudah usia pernikahan antara Devan dan Aresha.


Dan sudah satu bulan ini Aresha berhenti bekerja, Devan sengaja menyuruh istrinya berhenti bekerja, karena sangat tidak baik jika seorang istri bos masih bekerja menjadi sekretaris.


Devan juga sudah mencari pengganti Aresha, tapi kali ini ia memilih seorang lelaki yang menjadi sekretaris barunya, karena Devan tidak mau kalau akan terjadi kesalah pahaman jika Devan mempunyai sekretaris perempuan.


Pagi ini Aresha tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan juga suaminya.


Di sela-sela ia menyiapkan piring di atas meja, tiba-tiba perutnya terasa mual, dengan segera ia berlari ke belakang dan memuntahkan isi perutnya.


Hanya cairan bening yang keluar, dan sudah tiga hari ini Aresha seperti itu.


"Duh, aku kenapa sih, kok akhir-akhir ini perut aku sering mual," ucapnya seraya mengelap mulutnya dengan tisu.


Selang beberapa menit Devan turun dan segera menuju ke meja makan, melihat suaminya datang, Aresha bergegas menghampirinya.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Devan, sedikit khawatir.


"Aku nggak papa kok," jawab Aresha.


"Kok muka kamu pucet, apa kamu sakit?" tanya Devan lagi.


"Ah nggak, aku baik-baik saja, sudah sekarang sarapan dulu, nanti kamu kesiangan lagi," sahut Aresha, lalu mengalihkan pembicaraan.


Devan pun duduk, lalu Aresha segera mengambil kan suaminya itu makanan.


Selesai sarapan, Devan bergegas berangkat ke kantor.


"Sayang aku pergi dulu ya, baik-baik di rumah," ujar Devan berpamitan.


"Iya, kamu juga hati-hati, jaga hati dan mata," pesan Aresha.


"Pasti sayang," sahut Devan.


Aresha pun mencium punggung tangan suaminya, tak lupa Devan juga mengecup kening Aresha.


Setelan Devan pergi, Aresha bergegas membereskan meja makan, setelah itu ia memutuskan untuk pergi ke apotek.


30 menit kemudian, Aresha sudah tiba di rumah, dengan perasaan yang was-was Aresha mulai melihat alat tes kehamilan nya.


Dan setelah terlihat, terdapat dua garis di alat tersebut.


Aresha sedikit terkejut, dan entah apa yang ia rasakan saat ini, harus bahagia atau tidak.


"Hamil," desis Aresha.


"Aku bingung, aku harus bahagia atau tidak dengan kehamilan ini," ujar Aresha, yang benar-benar merasa bimbang.


"Lebih baik sekarang aku belanja saja, keperluan di dapur sudah habis," putus Aresha.


Aresha pun segera bersiap-siap, setelah itu ia bergegas pergi.


Tidak di sangka, ternyata Aresha dan Alice datang ke supermarket yang sama, dan yang paling mengejutkan, Alice datang bersama Devan.


Karena sebelumnya Devan mendapat pesan dari Alice untuk menemaninya ke dokter kandungan, dan setelah itu Alice juga meminta Devan untuk menemaninya berbelanja.


"Hah, semua keperluan sudah aku dapat, sekarang apa lagi ya," ujar Aresha seraya berfikir akan belanja apa lagi.


Aresha kini tengah berjalan mencari susu untuk ibu hamil, dan saat ia menemukan nya, Aresha sangat terkejut saat melihat dua insan yang berada di tempat itu, seorang lelaki yang sangat Aresha kenal, tengah mendorong troli dan seorang wanita yang tengah memilih susu untuk ibu hamil, lebih terkejut lagi saat melihat perut wanita itu yang terlihat buncit.


Seketika persendian Aresha terasa lemas, nafasnya terasa sesak, air matanya pun seketika jatuh tanpa di minta.


Hatinya terasa tercabik-cabik, kepercayaan yang ia berikan kepada Devan, telah di sia-siakan begitu saja.


Merasa tidak tahan Aresha segera pergi dari tempat itu.


"Kamu tega, apa salah aku sama kamu, kenapa kamu selalu nyakitin aku, kepercayaan ku selalu kamu sia-siakan," batin Aresha di sela isak tangisnya.

__ADS_1


Setibanya di rumah, Aresha langsung melempar barang belanjaan nya ke lantai, setelah itu ia berlari menuju ke kamar.


"Aku harus pergi dari sini, sudah cukup kamu nyakitin aku, sudah cukup maaf yang selama ini aku berikan, semua itu sudah kamu sia-siakan, meski tanpa kamu, aku pasti bisa mengurus dan membesarkan anak yang ada di kandungan ku ini,"


ucap Aresha sembari membereskan baju-bajunya.


Setelah itu Aresha bergegas keluar dari rumah tersebut.


Meski tidak tau kemana arah dan tujuannya, tapi ia harus tetap pergi.


Pukul 5 sore, Devan sudah tiba di rumah, tanpa merasa curiga ia melangkah masuk ke dalam.


"Sayang aku pulang," panggil Devan sembari melangkah masuk.


"Sayang kamu di mana, Sayang," panggilnya lagu, namun tak ada sahutan.


Devan melangkah lagi ke dalam, di lihatlah belanjaan yang berserakan di lantai.


"Susu," desis Devan saat melihat susu untuk ibu hamil.


Tanpa pikir panjang, Devan berlari menuju ke kamar.


Namun hasilnya sama, ia tidak menemukan sosok istrinya itu.


"Sayang kamu di mana?" ujar Devan yang mulai putus asa.


Saat Devan duduk di tepi ranjang, ia tak sengaja ia melihat alat tes kehamilan milik istrinya yang tergeletak di atas meja.


Di ambilah alat tersebut, terdapat dua garis merah, dan itu tandanya positif hamil.


"Apa ini milik Aresha, itu tandanya Aresha hamil, tapi di mana kamu sekarang," ujar Devan dengan rasa kekhawatirannya.


Saat Devan akan keluar dari kamarnya, ia melihat secarik kertas terletak di atas meja rias, Devan pun segera mengambil kertas tersebut, lalu membaca isinya.


'aku minta maaf, aku harus pergi dari kehidupan kamu, aku capek dengan kebohongan yang kamu buat, dan juga dengan drama yang selama ini kamu mainkan, kamu sudah menyia-nyiakan kepercayaan yang aku berikan, semoga kamu bahagia dengan wanita pilihan mu itu.


Aresha.'


Dada Devan terasa nyeri setelah membaca ini surat dari istrinya itu.


Devan tidak menyangka kalau akan berakhir seperti ini, wanita yang sangat ia cintai kini telah pergi entah kemana.


Tanpa Devan sadari, air matanya menetes, setelah itu Devan bergegas keluar dari kamar dan berniat untuk mencari Aresha.


"Aku pasti bisa menemukan kamu, kamu harus pulang Sayang," ucap Devan sembari fokus menyetir.


Jalanan yang sudah gelap, menyulitkan Devan untuk mengetahui keberadaan istrinya itu.


"Sayang kamu di mana, aku minta maaf, aku sudah mengecewakan kamu," ucap Devan sembari terus menyetir.


Di lain sisi, Aresha tengah berjalan menyusuri jalan raya yang gelap dan juga sepi.

__ADS_1


Langkahnya sudah lunglai, badannya sudah begitu lemas, air matanya juga sudah mengering, lama-kelamaan pandangannya mulai buram, dan detik itu juga tubuhnya ambruk.


Brrruuuukkkkk.


__ADS_2